Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Tiada maaf bagimu


__ADS_3

Ardy sedang tertunduk disamping putranya yang masih terbaring lemah. Penuh penyesalan karena tidak menemukanya lebih awal. Dan membiarkan Nadiya mengasuhnya seorang diri. Dan Ardy juga ngga habis pikir ibu seperti apa Nadiya itu? Yang bahkan tidak mencari dan mengetahui kondisi putranya.


Putranya sedang bertaruh antara hidup dan mati. Tapi Nadiya bahkan tidak mencarinya atau menghubungi polisi. Ini sudah satu Minggu bagaimana jika saat itu dia tidak ada disana, dan menolong putranya. Pasti aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri terutama Nadiya. Aku takkan membiarkan putraku diasuh oleh ibu yang tidak bertanggung jawab *seperti dia.


Aku menyesal berhenti mencarinya dan mempercayai Nadiya pasti akan mengasuh putranya dengan baik. Tapi lihatlah apa yang ada di hadapanku? Putraku sedang lemah tak berdaya tapi ibunya bahkan tidak mencarinya dan mempedulikanya. Bagaimana jika aku terlambat sedikit saja untuk menolongnya, aku takkan bisa melihatnya lagi di dunia ini. Dan aku tidak akan pernah memaafkanmu Nadiya untuk kelalaianmu ini*.


Sementara ditempat lain Nadiya pergi kekantor polisi untuk menanyakan tentang apa yang telah terjadi. Dan kenapa handphone Wisnu bisa ada disana. Dan dimana Wisnu, Bibi juga putranya berada?


"Silahkan duduk!" Seorang polisi mempersilakan Nadiya untuk duduk.


"Terimakasih." Jawab Nadiya.


"Begini, sopir, asisten dan seorang anak yang diketahui namanya Regan telah mengalami kecelakaan." Kata polisi dengan tenang dan pelan.


"Kecelakaan!?" Nadiya sangat terkejut dan bertanya dengan nada yang sedikit tinggi.


"Iya betul ibu. Sekarang anak ini dirawat dirumah sakit AAA. Dan kedua orang yang bersamanya sangat kami sesalkan karena meninggal ditempat kejadian."


"Apa!?" Kali ini suaranya lebih tinggi dan berdiri dari tempat duduknya.


"Mungkin bapak salah identitas. Mana mungkin itu bisa terjadi. Saya tidak percaya. Mereka pasti orang yang lain dan bukan orang yang bapak maksud." Nadiya sudah terlihat panik dan airmatanya tak terbendung lagi.


"Tenang ibu Nadiya. Anak ibu diselamatkan oleh seorang lelaki dan kondisinya sudah membaik." Polisi itu meyakinkan Nadiya bahwa identitas yang dia temukan di TKP benar adanya.


"Tapi itu tidak mungkin, Bibi.... huhuhuhu, Wisnu.... huhuhuhu." Nadiya menangis jika memang yang dikatakan polisi adalah benar.


Pantas saja saat pulang kerumah semuanya masih sama seperti saat dia meninggalkanya. Dan debu serta halaman yang sangat berantakan seperti sudah ditinggalkan penghuninya.


"Kenapa.....aaa....tidak ada yang memberitahuku? Jika mereka kecelakaan tentu saya akan pulang dan....." Nadiya menyesali karena terlalu sibuk dan percaya pada bibi serta Wisnu yang akan merawat putranya dengan baik. Sehingga tak sekalipun dia menelpon mereka karena pekerjaan yang terlalu sibuk.

__ADS_1


"Dan.....dimana anak saya dirawat pak?"


"Dirumah sakit AAA." Polisi itu mengulangi alamatnya.


"Baiklah pak, saya permisi dan terimakasih." Nadiya menangis dan berlari kemobilnya kemudian dengan cepat menuju rumah sakit AAA.


Nadiya tidak sabar ingin melihat kondisi anaknya.


Sampainya dirumah sakit. Nadiya langsung mencari kamar dimana putranya dirawat.


Klek! Nadiya membuka pintu. Tanpa mempedulikan laki-laki yang sedang duduk menunggu putranya, Nadiya langsung mendekati putranya dan menangisi keadaanya.


Nadiya tidak melihat jika Ardy ada disana. Sampai tiba-tiba Ardy meraih tangannya dan mendorongnya menjauh dari putranya.


"Pergi dari sini!" Kata Ardy marah dan sinis padanya. Lihat caranya berpakaian seperti model yang hanya peduli pada penampilan dan dirinya sendiri. Melihat penampilan Nadiya seperti itu, rok pendek dandanan yang glamor, perhiasan dimana-mana, Ardy menatapnya dengan sinis dan merendahkan.


"Hah! Untuk ini kamu pergi dariku?" Sambil melihat pakaian dan perhiasan yang dipakai Nadiya. Ardy mengira Nadiya pergi darinya hanya untuk uang dan kekayaan.


Nadiya hanya diam dan terus menatap putranya dari jauh. Berharap Ardy melepaskan pegangannya dan membiarkanya melihat dan memeluk putranya. Airmatanya makin deras penuh penyesalan.


"Lepaskan aku. Aku adalah ibunya. Aku ingin menemuinya." Kata Nadiya memohon.


"Tidak. Kamu bukan ibunya. Ibu seperti apa yang tidak mencari anaknya dan tidak tahu kondisinya. Ibu seperti apa? Tanya pada dirimu sendiri? Ibu macam apa yang bahkan tidak tahu jika anaknya hidup atau mati...." Ardy mengatakan itu sambil menangis dan menahan amarah.


"Aku tidak tahu....jika mereka mengalami kecelakaan."


"Ya! Tentu saja kamu tidak akan tahu. Kamu sibuk arisan, kesalon, spa, dan kesana kemari sama pengawal-pengawal bodohmu itu. Kamu terlalu sibuk bersenang-senang dengan uangmu kamu bahkan lupa jika anakmu adalah hartamu yang paling berharga." Ardi berkata sambil terus mencengkeram tangan Nadiya dan memepetnya ditembok.


__ADS_1


"Kamu salah paham Ardy. Biarkan aku melihatnya. Dia akan tenang jika aku ada disampingnya."


"Sudah terlambat. Pergi dari sini! Dia tidak membutuhkanmu lagi! Pergi......"


"Ardy aku mohon.......Aku adalah ibunya. Kenapa kamu tidak mengerti...." Nadiya menangis dan terus memohon.


Tapi Ardy tidak menghiraukanya. Dia mendorong Nadiya hingga keluar dari ruangan dimana Regan dirawat.


"Ardy.....biarkan aku masuk. Aku mohon....." Nadiya terus memohon dan meratap dipintu.


Ardy langsung menutup pintu dan menguncinya.


Ardy duduk dan menangisi nasib putranya. Dia bukan ibumu. Dia adalah orang asing. Ibumu tidak seperti itu. Ibumu wanita yang sangat baik dan sederhana. Dan yang bersamamu itu wanita penyihir yang bahkan menyuruh pengawalnya untuk menghajar suaminya sendiri. Aku yakin dia bukan ibumu. Ibumu tidak seperti itu.....Aku tidak akan membiarkan putraku menjadi seperti dirinya. Yang dingin dan tidak berhati. Wanita yang egois. Aku akan merawatmu dan menjagamu dengan baik. Aku tidak akan membiarkanya mendekatimu....


Ardy berbicara pada putranya dengan kesedihan dan kehancuran melihat perubahan sikap Nadiya. Hatinya sangat hancur melihat Nadiya yang sudah berubah, tidak berhati dan egois. Bahkan yang lebih menyedihkan ternyata wanita yang menyekapnya dan memukulinya tidak lain adalah istrinya sendiri.


Aku tak percaya ini? hhhhhh.....


Tiba-tiba tangan Regan bergerak perlahan dan matanya terbuka.


"Papi......." Ternyata dia mengenali ayahnya.


"Regan kangen papi......papi tidak mau menemui Regan. Papi marah sama Regan ya? Regan ada dimana?" Kata Regan yang sudah lama menahan kerinduan pada ayahnya. Dan tak menyangka saat dia membuka mata ayahnya sudah ada disampingnya. Bibirnya tersenyum bahagia melihat ayahnya.


"Papi disini sayang.....Kamu ada dirumah sakit....Kamu akan segera sembuh dan papi akan terus menjagamu." Kata Ardy sambil menciumi punggung tangan putranya.


"Papi janji ngga ninggalin Regan lagi?" Tanya Regan polos.


"Tidak sayang. Papi janji. Regan nanti pulang kerumah papi ya? Dan kita akan main bola bersama. Regan suka?" Kata Ardy menghibur putranya.

__ADS_1


Regan mengangguk dan menggenggam tangan papinya.



__ADS_2