
Vano bekerja dikantor temannya Andro, dengan penuh tekanan dan pulang setiap hari hingga larut malam.
Itu sengaja dilakukan Andro agar rumah tangga Sasha tidak harmonis dan bahagia. Dia sengaja membuat kehidupanya sulit dengan memanfaatkan kebencian mertuanya padanya.
"Kau akan membayar setiap pukulan yang dilakukan ayahmu." Kata Andro saat dia tahu jika orang yang memukulnya itu ternyata adalah ayahnya.
Dan saat ini dia sedang menjalani hukuman didalam penjara.
Andro lalu menelpon temannya.
"Apakah dia masih disana?" Tanya Andro pada temannya yang saat itu membantu menaruh obat diminuman Sasha.
"Masih. Kau bilang aku harus membuatnya lembur setiap hari."
"Bagus! Kerja bagus bro! Bikin dia tidak punya waktu untuk anak dan istrinya!"
Vano benar-benar tidak tahu jika semua itu dilakukan untuk balas dendam. Yang Vano tahu adalah dia bekerja dan bahkan lembur agar bisa mendapatkan uang yang banyak untuk kebutuhan keluarga kecilnya.
Sejak hari ayahnya marah padanya, dia sudah tidak mendapatkan bantuan sepeserpun dari orang tuanya.
Vano meringis merasakan sakit perut yang melilit hingga dia mengernyitkan dahi berulang kali.
Rupanya karena terlalu banyak pekerjaan yang diberikan, membuatnya telat makan dan bahkan dia kadang harus melewatkan jam makan malamnya.
Karena sudah tidak tahan, Vano segera minta ijin untuk pulang lebih cepat.
"Pulanglah. Apakah perlu saya antar?" Kata temannya Andro yang mulai panik saat melihat wajah Vano pucat.
Dia takut jika terjadi apa-apa dengan Vano dikantornya atau dia meninggal tiba-tiba, maka kantornya akan berurusan dengan polisi.
"Tidak! Saya bisa pulang sendiri." Vano lalu berjalan keluar kantor dan menuju motornya.
"Gunakan mobil saja. Kau bisa memakainya, itu inventaris dari kantor." Kata atasanya.
"Baiklah." Vano lalu masuk kedalam mobil itu.
Sampai didepan pintu apartemennya, tiba-tiba Vano pingsan, dan Sasha yang baru saja memberikan susu untuk anaknya kaget melihat kejadian itu.
"Vano!"
"Bi! Tolong jaga Aaron, saya akan kerumah sakit!" Teriak Sasha lalu memapah Vano.
"Iya non."
Sasha langsung menuju rumah sakit. Sesampainya diruang UGD, dokter lalu meriksa Vano, sedangkan Sasha menunggunya diluar.
Dokter mengatakan jika ada masalah dengan bekas operasi didada Vano. Dan dokter lalu membawanya keruang khusus.
Bingung dan mondar-mandir diluar, membuat Sasha berfikir untuk menghubungi mertuanya.
"Aku tidak mungkin menelpon mereka. Lebih baik aku pergi kerumah mereka saja. Dan memberitahu segalanya. Mereka berhak tahu, apa yang terjadi sebenarnya," gumam Sasha.
Sasha lalu pergi kerumah papanya, dia juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan Vano, sedangkan keluarganya tidak tahu menahu.
__ADS_1
Semarah apapun orang tua, tapi saat mendengar anaknya dirawat dirumah sakit, maka mereka juga tetap merasa khawatir.
Sasha berdiri didepan pintu dan saat itu mertuanya sudah rapi, sepertinya mereka akan keluar makan malam.
"Kau!" Tanya papanya kaget saat melihat Sasha ada didepan pintu.
"Iya om...."
Mertuanya melihatnya dengan tatapan tidak suka. Pasti akan meminta uang, batin papanya.
"Katakan! Ada apa kau kemari dan, mana suamimu yang keras kepala itu?" katanya dingin.
"Saya kemari karena saat ini Vano dirawat dirumah sakit dan belum sadar."
"Dirumah sakit? Sakit apa dia?" papanya mulai khawatir.
"Ayo kemobil, kita segera kesana."
Mereka semua masuk kedalam mobil papanya. Dan Sasha meninggalkan mobilnya dirumah mertuanya.
Sasha lalu menceritakan jika Vano menderita kanker payudara. Dan dia melakukan operasi hingga kemo saat masih kuliah di Amerika. Vano merahasiakan semua ini dari semua orang karena dia malu dan tidak mau orang menjadi iba setiap kali menatapnya.
"Apa!? Kanker payudara? Putraku menderita kanker dan dia tidak memberitahu kita. Jadi dia menyimpan penderitaan itu sendirian?"
Papanya terlihat memegang kepalanya dan matanya menatap kosong ke depan.
Dia terlihat syok dan kaget mendengar pernyataan Sasha tentang apa yang dialami Vano selama ini.
Sementara jeslyn juga kaget, dia juga tidak menyangka jika Vano terkena kanker payudara.
Dengan tergesa-gesa papanya langsung masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang di mana Vano dirawat.
Saat itu Vano sudah siuman dan dia kaget saat papanya ada di sana.
Papanya lalu memegang tangan Vano dan memeluknya.
Vano kaget dan bingung kenapa sikap apanya bisa berubah yang tadinya marah dan mengabaikannya sekarang tiba-tiba menjadi hangat dan memeluknya.
Terlihat Papanya mengusap matanya yang perih karena sedih melihat keadaan putra satu-satunya.
Sementara dari arah belakang papanya, muncul ibu tirinya dan juga Sasa.
Vano juga bingung bagaimana Sasa dan kedua orang tuanya bisa datang bersamaan, dan tidak terlihat sedikit pun mereka baru saja bertengkar.
Vano menatap ayahnya, lalu ibu tirinya dan juga Sasha, dia juga tidak tahu apa yang terjadi dengannya, kenapa dia tiba-tiba ada di rumah sakit.
Sasha lalu mendekat dan menceritakan jika Vano baru saja pulang kerja dan pingsan saat mau masuk ke apartemennya.
"Kau memang anak nakal, keras kepala! Kenapa kau menyembunyikan penyakit itu dari keluargamu sendiri? kau pikir kau hebat hah!?"
Vano diam saja.
"Kenapa kau tidak memberitahu kami, sehingga kami bisa membantumu dan meringankan penderitaan mu kata Papanya kesal.
__ADS_1
"Maafkan Vano pa, saat itu Vano sedih dan tertekan. Vano juga tidak berani mengatakan kepada siapapun, karena Vano malu dan Vano tidak ingin orang melihat Vano sebagai laki-laki yang cacat."
"Cacat apa maksudmu? Sembarangan kalau ngomong!" Kata Papa nya.
"Vano mandul pa. Vano tidak bisa memberikan papa cucu."
"Jika kau mandul, kenapa kau punya anak dengan dia?" kata Papanya menoleh kearah Sasha.
Sasha menggelengkan kepalanya, berharap Vano tidak mengatakan apapun tentang anaknya dan biarkan seluruh dunia tahu, jika itu adalah anaknya Vano.
Vano mengerti isyarat Sasha, tadi dia kelepasan berbicara. Vano berfikir dia harus meralatnya.
"hehehe, iya tadinya Vano berfikir jika tidak bisa punya anak, tapi setelah itu Vano punya anak dengan Sasha dan Papa punya cucu."
"Jika kau mengatakan dari awal apa masalahnya dan tidak menyembunyikannya dari kami, maka tidak akan ada masalah seperti ini, kau juga akan mendapatkan dokter terbaik dan Papa tidak akan melakukan kesalahan dengan menambah penderitaan mu." Papanya terlihat menyesal dengan apa yang sudah berlalu.
Dia sangat marah dan kecewa hingga mengusir Vano dan mengambil semua barang pemberiannya.
"Maafkan Vano pa, saat itu Vano masih kekanak-kanakan dan belum dewasa." Vano juga menyesal karena tidak berterus terang sejak awal.
"Kapan kau akan dewasa?"
"Kau sekarang berani melawan papamu dan tetap keras kepala."
"Sekarang tidak lagi pa."
Papanya lalu menemui dokter dan membayar biaya perawatan Vano, dia tahu jika Vano dan istrinya tidak punya uang.
Dokter sudah mengijinkan Vano untuk pulang dan rawat jalan. Yang penting satu Minggu kedepan, Vano tidak boleh bekerja terlalu berat.
Vano harus banyak istirahat.
Setelah itu Vano lalu pulang ke apartemennya dan Papanya memberikan sebuah kartu untuknya.
"Pakai ini untuk kebutuhanmu, jangan bekerja lagi, kau bahkan bekerja lembur setiap hari, kau begitu keras kepala dan tidak mau datang ke rumah untuk meminta maaf."
"Terimakasih pa. Sebenarnya Vano sudah mendapat pekerjaan."
"Jangan keras kepala. Dokter bilang kau harus banyak istirahat. Jadi jangan bekerja dulu. Gunakan kartu ini untuk kebutuhan keluargamu."
Terpaksa Vano menerima kartu dari papanya.
Kemudian Jeslin mendekati Sasha dan Vano. "Besok datanglah untuk makan malam ke rumah, ajak anak mu juga." Kata Jeslyn kepada mereka.
"Iya Tante, Om," kata Sasha tersenyum hangat kepada mertuanya.
"Kamu masih ingin memanggil kami dengan om dan tante? Apakah kau bukan keluarga kami juga sekarang?" Kata Papanya Vano.
"hehehe, iya pa,ma, besok kami akan datang ke rumah." Kata Sasha tertawa kecil.
"Ya sudah, sekarang Vano istirahatlah dan jangan bekerja dulu, kau dengar kata dokter, kau harus banyak istirahat, kau tidak bisa bekerja dengan keras dan makan makanan yang bergizi mengerti!" Papanya menasehatinya sebelum pergi.
"Iya pa." Vano beristirahat dikamarnya ditemani oleh Aaron, sementara Sasha mengantarkan mertuanya hingga kedepan pintu apartemen.
__ADS_1
Andro ternyata juga ada disana dan menatap Jeslin dan juga Sasha. Dia seperti tidak suka menatap keakraban mereka.
Terlebih pada Sasha dan suami Jeslin. Andro lalu membalikkan badannya saat mereka lewat. Mereka tidak menyadari keberadaanya disana.