Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Roda kehidupan


__ADS_3

Semua orang bisa punya niat jahat saat didepan matanya ada kesempatan. Dan hal seperti ini bisa terjadi dan dialami siapapun. Termasuk Sandra dan Nadiya.


Sandra dalam posisi terhimpit hutang, dan dia tahu, jika Nadiya sedang hilang ingatan.


Kesempatan itu dia gunakan untuk mewujudkan mimpinya.


"Tante akan mengantar kalian kesekolah." Kata Sandra kepada Edsel dan juga Eiden.


"Ya Tante. Bekalnya sudah belum?"


"Sudah Tante siapkan, jangan lupa dibawa."


"Ayo kita berangkat sekarang, pamitan dulu sama Oma."


Lalu Edsel dan juga Eiden berpamitan pada Oma.


"Nanti saya akan sekalian belanja kesupermarket, setelah itu langsung menjemput mereka berdua." Kata Sandra pada Oma.


"Ya." Jawab Oma sambil mencium kedua cucunya.


Prasetyo turun dari tangga.


"Sarapan dulu Pras. Oma sudah siapin untuk kamu dan Regan." Kata Omanya sambil menatap putranya yang terlihat kurus.


"Tidak Oma. Saat duduk disana aku akan terus teringat pada Nadiya. Aku bahkan tidak bisa makan, aku akan makan dikantor saja."


"Ya sudah kalau begitu."


Kata Oma dengan hati yang sedih mengenang Nadiya dan juga melihat putranya yang terus saja berduka.


Segala cara sudah dicoba, bahkan pencarian dilakukan sekali lagi atas desakan Prasetyo.


Namun hasilnya tetap sama. Nadiya tidak ditemukan disepanjang aliran sungai itu.


Prasetyo lalu berpamitan pada Omanya tanpa sarapan.


Regan juga turun dari atas.


"Regan, sarapan dulu...kau sudah terlihat kurus begitu." Kata Oma membujuknya.


"Tidak Oma. Regan akan sarapan dikantor saja. Oh ya Oma, Regan Minggu depan akan kembali ke Amerika."


"Pergilah, dan raihlah mimpimu disana. Kau harus belajar dengan benar, agar kau bisa sukses dimasa depan."


"Iya Oma. Sekarang Regan akan mengurus semuanya dulu, dan menyelesaikan syuting."


Oma mengangguk.


Mereka semua sudah pergi.


Rumah itu kembali sepi.


Oma lalu melihat foto Nadiya didinding dan berbicara pada foto itu.


"Sejak kepergianmu, rumah ini menjadi kehilangan tiangnya. Tidak ada canda dan tawa. Suamimu bahkan tidak pernah duduk dirumah dalam waktu lama kecuali tidur. Dia tidak sarapan dan jarang duduk dimeja makan bersama kami. Rumah ini telah berubah. Rumahnya masih sama. Tapi suasananya sangat berbeda."

__ADS_1


Oma lalu mengusap airmatanya dan naik kelantai tiga.


***


Sandra mengantarkan anak-anak Nadiya hingga masuk ke gerbang sekolah.


Setelah itu dia meninggalkan mereka dan dia pergi keapartemenya.


Dia memegang sebuah kartu yang diberikan Prasetyo padanya.


Dengan kartu ini dia bisa membayar sebagian hutangnya kepada pemilik apartemen.


Dia lalu menelpon pemilik apartemen yang dia sewa.


"Saya akan membayar satu bulan dulu. Nanti siang saya transfer." Kata Sandra dari dalam apartemennya.


"Ya baiklah."


Sandra lalu mengambil sebagian bajunya didalam lemari apartemen itu. Setelah itu dia berbelanja di supermarket untuk kebutuhan satu Minggu.


Dia membeli semua yang biasa dibeli oleh Nadiya. Prasetyo mempercayakan kebutuhan rumah tangga padanya.


Dan bahkan memberikan kartu debit untuk kebutuhanya juga kebutuhan kedua putranya.


Kesempatan itu digunakan oleh Sandra untuk membayar hutangnya sebagian. Separo uang yang diberikan Prasetyo dia gunakan untuk membayar hutang. Dan separo lagi dia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.


Sandra tersenyum lalu keluar dari supermarket.


"Aku harus menjemput anak-anak." Kata Sandra. Dia lalu bergegas masuk kemobil dan kembali kesekolah mereka.


***


"Om akan pulang sore ini. Apakah ada yang perlu om lakukan untukmu?" Tanya Arya pada Sasha putrinya.


"Tidak om. Banyak teman Sasha disini. Mereka bisa diandalkan."


"Kalau butuh apa-apa, hubungi om, om pasti akan membantumu. Kau tahu kan, kau sudah om anggap seperti putri om sendiri."


"Iya om." Kata Sasha lalu mengantarkan omnya hingga keparkiran mobil.


"Om, terimakasih....berkat Om, sasha menjadi selamat dan bisa kembali kesini."


Kata Sasha saat Arya akan pergi.


Arya mengangguk dan berpesan pada Sasha untuk menjaga dirinya baik-baik.


Tiba-tiba Vano datang dengan koper dan melihat Sasha dari kejauhan. Dia sudah pulih seperti sedia kala. Hanya tinggal kemo beberapa kali lagi.


Dan berkat Jack, dia bisa mengembalikan kepercayaan dirinya hingga bisa kembali kekampus lagi.


Awalnya dia sudah putus asa dan malu bertemu teman-temannya. Namun, karena nasehat Jack, akhirnya Vano kembali kekampus.


Sasha melihat Vano dari kejauhan.


Dia tersenyum saat melihat Vano sudah kembali. Dan keadaanya sudah lebih baik daripada saat dia bertemu dirumah sakit.

__ADS_1


"Vano, apa kabar?" Tanya Sasha saat vano menghampirinya.


"Sudah lebih baik. Kau sendiri apa kabar? Bagaimana liburanmu?" Tanya Vano karena Sasha juga liburan kenegaraannya.


Tiba-tiba raut wajah Sasha menjadi muram. Dia menyesali liburannya yang penuh duka. Harusnya banyak hal indah yang terjadi, namun yang terjadi justru sebaliknya.


Andaikan dia tetap disini dan tidak pulang, maka semuanya tidak akan terjadi. Asal usulnya yang terbongkar, dan juga kehormatannya yang telah ternodai.


"Menyenangkan!" Sasha hanya menjawab singkat.


Dia juga tidak mau berlama-lama ada didekat Vano. Dia merasa malu pada dirinya sendiri karena sudah ternoda. Dan dia tidak bisa memaafkan dirinya untuk kelalaiannya itu.


Aku tidak layak lagi...


Aku sudah tidak sama seperti aku yang dulu.


Aku tidak layak, ada didekatmu.


Sasha lalu memalingkan mukanya dan meninggalkan Vano.


"Aku akan kekamarku."


"Ya." Kata Vano sambil memperhatikan gerak gerik Sasha yang terlihat aneh.


***


Nadiya duduk di teras rumah Sandra. Dia sedang membantu ibu Sandra membersihkan bawang merah yang baru saja dibeli dari pasar.


Ibu Sandra akan memilih bawang merah yang masih keras dan besar untuk dijemur.


Dan yang sudah mulai busuk akan dibuang.


Setelah kering maka semua bawang itu akan diiris lalu digoreng.


Karena Nadiya tidak ingat siapa dirinya dulu dan bagaimana kehidupan sebelumnya, maka dia membantu keseharian ibunya Sandra.


Semua foto Sandra sudah disimpan didalam lemari oleh ibunya atas perintah Sandra.


"Hari ini pesanan banyak. Nanti ibu akan menggoreng semuanya. Apakah kau bisa membantu mengirisnya?" Tanya ibu Sandra.


Nadiya mengangguk dan tersenyum.


"Hari ini ibu dapat pesanan 20 toples dari kota. Nanti sore ibu akan mengantarnya. Berkat kau ada disini. Rejeki ibu jadi lancar terus."


Nadiya lagi-lagi hanya tersenyum.


"Sekarang ayo, kita makan dulu. Ibu sudah siapkan semuanya."


Nadiya lalu masuk dan makan bersama ibunya Sandra.


Tidak ada televisi dirumah Sandra. Karena televisinya rusak dan belum diperbaiki. Sehingga mereka tidak tahu jika yang saat ini ada dirumahnya adalah seorang CEO yang mengalami kecelakaan.


Ibunya Sandra juga jarang menonton berita apalagi koran, karena terlalu sibuk mengurus rumah dan pergi ke pasar. Begitu juga suaminya, yang seharian sibuk diladang.


Mereka memakai hp model lama yang tidak bisa mengakses berita terkini. Sehingga Nadiya benar-benar tidak diketahui keberadaanya.

__ADS_1


Dia juga tidak diijinkan kepasar karena Sandra melarangnya.


Hanya dokter yang masih suka datang mengunjungi Nadiya satu Minggu sekali, itupun atas perintah dari Sandra.


__ADS_2