Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Cemas


__ADS_3

Prasetyo menjemput Edsel dan juga Eiden disekolah. Dia juga bingung kenapa Nadiya tiba-tiba ada urusan mendadak dan tidak bisa dihubungi.


Prasetyo bahkan harus membatalkan rapatnya karena harus menjemput Edsel dan juga Eiden. Ternyata hari ini Edsel dan Eiden ada les tambahan disekolah. Terpaksa Prasetyo menunggu mereka hingga satu jam disekolahnya.


Sampai dirumah, Nadiya juga belum pulang. Prasetyo mulai khawatir karena Prasetyo menelpon orang dikantornya dan ternyata Nadiya juga tidak ada disana.


Prasetyo lalu menelpon Jeslin dan Nadiya juga tidak ada dibutiknya.


"Kemana dia?"


Prasetyo lalu membuka laptopnya dan menyelesaikan beberapa pekerjaan kantornya yang tertunda.


Berulang kali dia melihat jam ditanganya, dia merasa ada yang tidak benar hari ini. Nadiya pergi dari pagi hingga sekarang tidak pulang.


Dia juga tidak menanyakan apakah anaknya sudah pulang atau belum? Apa yang terjadi sebenarnya?


Prasetyo memegang kepalanya yang tidak berat. Dia lalu menutup laptopnya dan berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Dia melihat keluar jendela kalau-kalau Nadiya sudah pulang.


"Jika kau mengkhawatirkannya, kenapa kau tidak menelponnya." Kata Omanya saat masuk membawakan minuman untuk Prasetyo.


"Pras sudah menelponnya mi, tapi tidak diangkat."


"Mungkin dia meninggalkan handphonenya dimobilnya." Kata Oma yang juga cemas karena Nadiya tidak biasanya pergi seharian seperti ini tanpa pamit.


Di sebuah restoran, Nadiya sedang kalut karena rahasia itu sudah diketahui oleh orang lain dan sewaktu-waktu bisa terbongkar kapan saja.


Dia bahkan tidak memikirkan apapun selain bagaimana caranya agar dia menemukan orang itu. Dan bagaimana caranya agar rahasia itu tidak tersebar.


"Bagaimana jika dia nekat menyebarkannya? Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa? Siapa dia? Seandainya aku tahu siapa orang itu? Aku menjadi tidak tenang." Kata Nadiya sendirian dengan lirih.

__ADS_1


Beberapa pramusaji yang melihatnya berbicara sendiri mulai berbisik-bisik.


"Wanita itu sudah duduk dari tadi siang. Dan tidak beranjak dari tempat duduknya hingga sekarang. Haruskah kita mengusirnya sekarang? Kita sudah mau tutup." Kata salah seorang yang terus mengamati Nadiya dari tadi.


"Maaf Bu, kami mau tutup? Apakah ibu...."


Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya Nadiya segera bangun dan meninggalkan uang lima ratus ribu.


"Tapi Bu, ini terlalu banyak."


"Untuk kalian sisanya." Kata Nadiya lalu pergi tanpa berkata apapun lagi."


"Waaahhh, ternyata dia sangat baik. Lihatlah, kita bisa makan yang enak pulang kerja nanti!" Kata pegawai itu nampak senang.


Sementara Nadiya berjalan dengan gontai masuk kemobil hingga sampai dirumahnya dengan pikiran yang tidak menentu.


"Kau baru saja pulang? Kau darimana?" Prasetyo bertanya dan menatap wajah Nadiya yang nampak cemas dan kalut.


"Ya. Mereka ada les tambahan. Aku menunggu hingga satu jam disana."


"Maaf, aku lupa jika mereka ada les. Aku jadi membuang waktumu untuk menunggu disana."


"Tidak masalah. Aku juga sudah membatalkan rapatku karena kau mengabari dengan mendadak."


"Maaf, aku juga tidak tahu jika kau ada rapat, dan kau harus membatalkan rapatmu."


"Ok. Lupakan itu. Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau darimana? Aku menelpon dikantormu kau tidak ada disana. Aku juga menelpon Jeslin, kau juga tidak ada ditempatnya. Kau darimana?"


"Aku...."

__ADS_1


Nadiya diam sejenak. Dan dia berfikir, haruskah dia beritahu Prasetyo tentang kejadian tadi siang?


Tapi jika tidak, maka kenapa aku pulang selarut ini? Aku hanya menghabiskan waktu duduk disebuah restoran dan terus mengkhawatirkan apa yang akan terjadi besok.


Prasetyo masih menunggu jawaban Nadiya dan menatapnya lekat.


"Aku bertemu orang yang tidak aku kenal. Dia meminta sejumlah uang yang besar padaku. Dia tahu soal Edsel dan juga Eiden. Aku sangat khawatir dan takut, dia akan menyebarkan berita itu. Dan akan mempengaruhi psikologis mereka."


"Lalu kau memberikan uang yang dia minta? Kenapa kau tidak beritahu aku? Kau selalu melakukan segalanya sendiri? Bagaimana jika mereka menyekapmu dan mereka menyakitimu? Kau selalu begitu!"


Prasetyo kesal karena Nadiya tidak memberitahukan apa yang terjadi tadi siang dan menemui orang tidak dikenal sendirian.


Prasetyo khawatir dengan keselamatan Nadiya. Dan Prasetyo juga kesal karena Nadiya selalu satu langkah didepannya tanpa berdiskusi dengannya.


"Maafkan aku, saat itu aku tidak bisa memikirkan apapun selain rahasia itu dan keselamatan Edsel dan juga Eiden. Dia ada di sekitarku. Dia bahkan tahu apakah aku sedang duduk atau aku sedang berdiri."


"Kau harusnya memberitahuku. Aku akan menghajarnya."


"Dia mengancamku untuk datang sendiri dan tidak mengatakan pada siapapun."


"Dan kau menurutinya?"


"Aku minta maaf...."


"Dia akan terus memerasmu, jika kau tidak melawannya. Orang seperti itu tidak akan pernah puas. Kau harus membuatnya jera. Lain kali, jika dia mengancammu lagi, kau harus beritahu aku."


"Baiklah. Aku mau mandi sekarang." Nadiya lalu pergi kekamar mandi.


Sementara Prasetyo mondar-mandir dan memikirkan tentang apa yang baru saja dikatakan Nadiya.

__ADS_1


Siapa dia?


Darimana dia tahu tentang Sandra?


__ADS_2