Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Noda yang tertinggal


__ADS_3

Regan menelpon Prasetyo. Saat ini Prasetyo sedang duduk didalam kantornya. Dia lebih sering menghabiskan waktu dikantor, daripada dirumah.


"Om, apakah om sudah bertemu Sasha?"


"Tidak. Om tidak bertemu dengannya sejak saat itu."


"Sasha ada disini om."


"Apa? Bagaimana dia sampai kesana?"


"Entahlah om. Mungkin ada orang lain yang membantunya?"


"Apakah dia baik-baik saja?"


"Ya. Dia terlihat baik."


Regan lalu menutup teleponnya dan memikirkan sesuatu.


Om Prasetyo belum bertemu dengan Sasha. Artinya Sasha kesini karena ada orang lain yang membantunya.


Mungkin Vano yang telah membantunya. Mereka bersahabat.


Sudahlah!


Aku tidak mau memikirkannya.


Regan lalu membuka laptopnya dan melihat beberapa file yang sudah lama tidak dia buka.


Tidak lama kemudian Madina masuk, karena dia dikasih tahu salah seorang temannya, jika Regan sudah datang.


"Hai Regan? Bagaimana liburanmu? Kau tidak membalas pesanku sama sekali." Kata Madina lalu duduk disamping Regan.


"Aku tidak tahu jika kau mengirim pesan. Banyak hal yang terjadi dan aku sangat sibuk."


"Semuanya baik-baik saja kan?" Tanya Madina.


"Aku ingin sendiri. Bisakah kau tinggalkan aku sendiri?" Kata Regan yang sedang ingin sendirian.


Madina menatap aneh pada Regan. Madina lalu mengangkat bahunya dan keluar dari kamarnya.


"Oke, kau mungkin lelah. Kalau begitu aku akan keluar."


"Tutup pintunya." Kata Regan tanpa menoleh.


Ada apa dengannya?


Dia terlihat aneh. Dia juga tidak menanyakan kabarku?


Dia terlihat kurus banyak.


Sampai didepan halaman asrama Madina bertemu dengan Sasha. Setahu Madina mereka tinggal satu rumah.


"Apakah kau sudah bertemu Regan? Dia terlihat kurusan. Tapi saat aku mau menemaninya dia malah mengusirku. Dia menjadi aneh."


"Aku tidak tahu. Itu masalah privasi mungkin. Kami jarang bertemu sekarang. Kami sudah tidak satu rumah sekarang." Kata Sasha.


"Kalian tidak tinggal serumah lagi? Lalu kau tinggal dimana?"


Sampai dikamar


"Aku tinggal sama om ku yang lain."


"Kau punya banyak sekali om."


"Tapi bukan om, om, kan?"


"Enggaklah!"


"Hehe...." Madina tertawa lalu mereka berjalan kekamarnya.

__ADS_1


Sampai dikamar, Sasha merasa badannya tidak enak dan perutnya mulai mual.


"Hueeekkkk! Hueeekkkk!"


Diapun langsung lari ke wastafel dan tidak bisa menahan mual diperutnya.


"Sasha, apa kau sakit?"


"Ayo kita kedokter!"


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa mual." Kata Sasha lalu dia merebahkan dirinya diatas ranjang.


"Apakah aku perlu membeli obat?" Tanya Madina.


"Tidak usah. Nanti juga akan baikan."


"Ya sudah, kalau begitu aku akan membeli makanan dulu ya?"


Sasha mengangguk, dilihatnya Madina keluar dari kamarnya dan akan membeli makanan untuk mereka berdua.


Tidak lama kemudian Madina sudah pulang dan langsung membuka makanannya.


Aroma bawang dan harum menyengat terasa sekali diruangan itu.


Sasha langsung menutup hidungnya dan lari kekamar mandi lagi.


"Hueekk! Hueeekk! Huueeek!"


Dia benar-benar muntah disana. Wangi makanan itu membuatnya tidak bisa menahan mual dari perutnya.


Sasha lalu mengelap mulutnya dengan tissue. Entah kenapa dia merasa kepalanya jadi pusing dan sampai di luar kamar mandi, dia langsung pingsan.


"Sasha!" Teriak Madina.


Madina langsung berteriak minta tolong, dan kebetulan Vano dan Jack ada disana.


Mereka lalu membawa Sasha keruang perawatan. Ada Elena disana yang siap memeriksanya.


Diana lalu menutup pintunya. Dia sudah lumayan berpengalaman. Jadi sedikit banyak dia tahu gejala yang dialami Sasha.


Elena terkejut saat dia tahu apa yang dialami Sasha.


Sasha membuka matanya.


"Kau sepertinya sedang hamil. Jika aku lihat dari gejalanya. Denyut nadimu juga melemah." Kata Elena kepada Sasha saat dia sudah membuka matanya.


Dari luar Vano dan Jack yang mendengar itu langsung saling berpandangan.


Vano menatap Jack, dan berpikir jika Jack yang telah melakukanya.


Jack juga menatap Vano dan berfikir jika Vano yang sudah melakukanya.


"Hamil?" Tanya Sasha kaget dan menatap Elena sambil menggelengkan kepalanya.


"Ini tidak mungkin."


"Maksudmu? Apakah kau....maksudku, Jack atau Vano?" Kata Elena pelan sambil menatap Sasha.


Setahu Elena, Sasha dekat dengan mereka berdua. Tapi Elena cepat menutup mulutnya. Dia sudah kelewatan karena mencampuri urusan pribadi Sasha.


Harusnya dia tidak bertanya hal seperti itu padanya.


Apakah Sasha tersinggung?


Sasha lalu menangis dan Elena memeluknya.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Hanya saja jika ini benar, kau harus membuat keputusan. Siapa ayahnya."


Vano dan Jack masuk kedalam. Mereka lagi-lagi saling berpandangan.

__ADS_1


"Kau!?" Mereka saling bertatapan dan saling menuduh.


Mereka bersamaan menggelengkan kepalanya.


"Tidak!" Jawab mereka berdua.


Sasha lalu berlari kekamarnya dan menangis diatas tempat tidurnya.


Vano dan Jack saling bertatapan. Mereka ingin mengejar Sasha namun Elena mencegahnya.


"Biarkan dia sendiri. Jangan sekarang. Dia mungkin juga shock mendengar kabar ini."


"Ah, kau dokter belum jadi, pasti kau salah deteksi. Mana mungkin dia hamil." Kata Vano.


"Lo takut? Lo kan yang sudah melakukannya?" Serang Elena balik.


"Lo jangan main nuduh orang sembarangan dong! Gue sudah lama ngga ketemu Sasha. Tanya sama dia!" Kata Vano menunjuk Jack.


"Bukan gue. Gue juga sudah lama ngga ketemu Sasha. Kita juga belum pacaran." Kata Jack.


"Ini nih! Giliran dia hamil, ngga ada yang mau ngaku! Apa perlu gue laporin kekantor polisi?" Kata Elena kesal.


"Sueeerrr! Gue ngga ngelakuin sejauh itu." Kata Vano sambil mengangkat jarinya.


"Gue juga enggak! Biar ada petir deh kalau gue sampai melakukanya!" Kata Jack.


"Ah, ya sudah! Kita akan buktikan nanti. Aku tidak percaya pada kalian." Kata Elena dengan ketus.


"Jangan beritahu siapapun tentang masalah ini." Kata Vano.


"Ya, lebih baik kita rahasiakan. Sasha sepertinya masih terpukul. Dan, kita juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Kata Jack.


"Lagian, ini kan hanya perkiraan Elena saja. Jadi bisa iya, bisa tidak?"


"Lo, meremehkan aku?" Kata Elena.


"Ya, bukannya begitu. Intinya semua ini belum pasti. Jadi sebaiknya kita jangan bahas lagi. Apalagi jika terdengar oleh Sasha. Dia akan sedih." Kata Vano.


***


Didalam kamar, Sasha masih menangis dan hatinya sangat terpukul. Dia tidak menyangka akan hamil karena perbuatan Andro.


Selama ini dia tidak pernah berpikir sejauh itu. Dia berpikir masalahnya sudah selesai saat dia tidak bertemu lagi dengan mereka.


Namun ternyata ada janin didalam rahimnya?


Apa yang harus dilakukannya?


Dan bagaimana dengan janin didalam rahimnya ini?


Haruskah dia biarkan janin ini tumbuh dan membesar?


Atau dia bisa menghilangkannya karena ini masih sangat awal?


Tapi, apa salahnya?


Dia tidak berdosa, haruskah aku membuangnya?


Aku harus merahasiakan semua ini. Aku sangat malu jika berita ini tersebar. Bahkan aku tidak punya pacar. Tapi aku hamil karena kelalaianku sendiri dan tidak mawas diri.


Aku begitu bodoh dan ceroboh!


Aku percaya bahwa mereka orang yang baik. Aku tidak punya rasa curiga sedikitpun.


Harus aku apakan janin ini?


Kenapa kau ada? Kenapa kau harus hadir? Saat aku akan memulai hidup yang baru. Saat aku akan melupakan semuanya dan membuka lembaran baru?


Kenapa kau harus ada disini?

__ADS_1


Kata Sasha sambil memukul perutnya dengan kedua tangannya.


__ADS_2