Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Luka lama


__ADS_3

Malam harinya Prasetyo mengajak Regan untuk pergi kesebuah tempat yang menyenangkan.


Disana Regan bisa bermain sepuasnya. Itu adalah tempat biasa para Pria menghabiskan waktu setelah seharian sibuk bekerja.


"Kau suka?" Tanya Prasetyo kepada putra sambungnya.


"Suka om. Apakah om sering datang kemari?" tanya Regan sambil duduk didekatnya.


"Satu Minggu sekali om suka kemari. Ini tempat bagi pria untuk mencari imajinasi." Kata Prasetyo sambil menepuk bahu Regan.


"Maksud Om?"


"Kau nanti juga paham setelah menikah," kata Prasetyo sambil berdiri.


"Kita main sekarang!"


"Ayo, siapa takut." kata Regan sambil berdiri dan berjalan disamping Prasetyo.


Regan lalu berdiri disamping meja bilyard dan mulai memainkan permainannya.


Disana hanya ada laki-laki dan tidak ada perempuan. Bahkan pramusaji yang melayani mereka juga para pria.


Nadiya pernah video call dengan Prasetyo saat dia pulang terlambat, dan dia lihat semua pramusajinya laki-laki, tidak terlihat satupun perempuan disana.


Hal itu membuatnya tenang dan membiarkan Prasetyo menghabiskan waktunya disana saat dia butuh refreshing.


Dikamar Sasha.


Nadiya sudah merencanakan untuk membuat Sasha bagian dari keluarganya. Dan saat ini seorang pengacara sedang menunggu dikantor Nadiya.


Hal ini sudah dibicarakan dengan Prasetyo, dan dia menyetujuinya. Mereka merasa iba dengan Sasha yang sendirian dan tidak punya siapapun.


Dan mereka akan membuat Sasha menjadi bagian dari keluarganya secara tertulis dan resmi.


Nadiya lalu masuk kekamar Sasha dan mencari berkas dilaci.


Dilaci meja belajar yang biasa dia gunakan rupanya tidak ada. Akhirnya Nadiya mencari dilaci didekat tempat tidurnya.


Setelah suratnya ketemu maka, nanti kalau Sasha sudah pulang, akan dibicarakan denganya.


Nadiya menarik laci itu hingga terbuka. Dan saat itu tanganya mulai mencari berkas dan tanpa sengaja matanya tertarik pada sebuah figura kecil yang tertutup.


Perlahan-lahan, Nadiya lalu membalikkan figura itu,


Deg.


Jantungnya berhenti sesaat.

__ADS_1


Tanganya menjadi beku dan kaku.


Nafasnya menjadi memburu.


Wajah itu.


Wajah yang sangat dirindukannya tapi juga sangat dia benci.


Wajah yang yang telah mengubah seluruh perjalanan hidupnya.


Tangannya menjadi gemetar karena tidak pernah menduganya.


Praaaangg!


Figura itu terjatuh dan pecah.


Tepat saat itu Prasetyo pulang dan mendengar sesuatu yang pecah dari kamar Sasha, Prasetyo lalu masuk kedalam.


Nadiya masih berdiri seperti patung.


Kakinya berdarah dan terluka.


Prasetyo yang melihat darah dikakinya lalu mendekatinya dan bingung melihat sikapnya.


"Kakimu berdarah Nadiya!" kata Prasetyo lalu mengambil kotak obat didekat tempat tidur Sasha.


"Ada apa? Kenapa? Apa yang terjadi?"


Nadiya lalu menunjukan sebuah figura foto yang jatuh kelantai.


Prasetyo mengambil figura itu.


Prasetyo lalu menatap figura yang sedang dia pegang.


Matanya tertuju pada wajah Sarah dan juga Sasha yang sedang tersenyum bahagia. Foto itu diambil saat mereka ada di Amerika.


Terlihat dari background yang mudah dikenali oleh Prasetyo. Dia tinggal lama diluar negeri sehingga dia hafal beberapa tempat yang ada disana.


"Ini foto Sarah dan Sasha. Sarah adalah ibunya Sasha. Apakah kau tidak tahu? Dan kenapa kau terkejut seperti itu?" Tanya Prasetyo menatap wajah Nadiya yang membeku.


"Kau kenal ibunya?" Tanya Nadiya sambil berusaha mengatur nafasnya.


"Tentu saja. Mereka lama tinggal dirumah kami di Amerika. Ibu yang membawa mereka kerumah." kata Prasetyo lalu menaruh figura itu kedalam laci.


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?"


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Tapi aku harus segera mengobati kakimu. Kakimu tergores pecahan kaca."

__ADS_1


Prasetyo lalu membersihkan luka Nadiya dan mengobatinya.


"Aku akan menyuruh bibi untuk membersihkan kamar ini." Kata Prasetyo.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakanya?" Tanya Nadiya berusaha menahan air matanya.


"Mengatakan apa? Katakan dengan jelas. Sebenarnya ada apa? Kau tiba-tiba jadi sedih dan aneh seperti ini?" Tanya Prasetyo sambil memapah Nadiya kekamarnya.


"Ayo kita kekamar dulu. Ini biar dibersihkan sama bibi."


Nadiya lalu rebahan dikamarnya. Sedangkan Prasetyo keluar memanggil bibi Parti untuk membersihkan kamar Sasha.


Nadiya sendirian dikamarnya dengan kesedihan yang sangat dalam. Dia begitu terpukul dan terluka.


Luka itu kembali terasa setelah sekian tahun berlalu.


Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Sasha adalah anak dari selingkuhan suamiku? Dan aku merawatnya dari dia masih kecil?


Prasetyo bahkan mengenal ibunya dan mereka tinggal satu rumah. Aku merawatnya, anak itu....adalah darah daging Ardy?


Bagaimana aku tidak tahu semua ini setalah bertahun-tahun? Kenapa aku tidak pernah bertanya siapa ibunya?


Dan jika aku tahu, aku tidak akan menerimanya....wajah itu masih terasa menyakitkan setiap kali aku mengingatnya.


Dan setelah tahu jika Sasha adalah putri dari perselingkuhan suamiku? Aku tidak mungkin bisa menerimanya...


Aku tidak sanggup melihat wajahnya, karena diwajahnya ada perselingkuhan Ardy dan Sarah, sahabatku...


Prasetyo tidak mengetahui semua ini. Haruskah kukatakan padanya? Atau haruskah aku memaafkan kesalahan ibunya dan menerima putrinya.


Tidak!


Aku tidak bisa dihantui oleh kesedihan dimasa lalu lagi.


Aku tidak ingin setiap kali melihat Sasha hatiku menjadi tergores.


Berapa lama?


Berapa lama aku sanggup berpura-pura?


Aku harus melakukan sesuatu. Aku akan terus berada dititik yang sama setiap kali luka itu terbuka.


Aku akan kembali berada diduka yang sama setiap kali melihatnya.


Tidak!


Aku tidak mau hal itu terjadi dan rumah tanggaku menjadi terkoyak.

__ADS_1


__ADS_2