
"Iya akan ada acara diluar kota." Terdengar berisik di Aula Kantor.
"Bos ikut?" Tanya Seorang pegawai kantor.
"Sepertinya iya. Tapi acaranya dari pagi sampai sore. Diusahakan sore kelar." Jawab yang lainya.
Beberapa orang bersiap untuk pergi. Dan mereka mulai berkemas. Ada peninjauan langsung kelapangan sehingga pekerjaan tidak bisa dilakukan di kantor.
Beberapa team pergi dari pagi hingga sore hari.
Ardy juga berkemas, dan berangkat lebih pagi. Setelah berpamitan dia bergegas melakukan mobil dan langsung menuju Apartemen. Baru kemudian kekantor.
Ardy sudah melarang Elis ikut. Tapi apa boleh buat dia memaksa, selain itu dia adalah anak dari Tuan Adam, sehingga Ardy tak bisa mencegahnya untuk tidak ikut dengannya.
Hal ini tentu menyenangkan bagi Elis, bagaimana tidak? Moment bersama Ardy adalah salah satu dari kesekian hal yang selalu dirindukanya.
Tidak tepat memang.
Tapi jika rindu hadir, siapakah yang bisa menghentikannya. Tidak bisa diatur seperti cuaca yang tiba tiba menjadi mendung dan mendadak hujan.
Hanya bisa dirasakan saat tetesannya mengenai kulit dan membasahi hatinya.
"Siappp pak!" Jawab Elis saat Ardy ngoceh menasehatinya untuk tidak melakukan banyak hal yang mengganggu kesehatanya.
Mereka sampai lebih awal ditempat yang dituju.
Elis turun dari mobil dan membawa gitarnya. Menyingkir supaya tidak mengganggu orang yang mondar-mandir disekitarnya.
Dia duduk dibawah sebuah pohon. Memakai topi, jaket kuning, dan sepatu kets.
Mulai memetik gitar dan bersenandung, sambil sesekali melirik Ardy yang sibuk memberikan instruksi kepada bawahannya.
Angin berhembus menyibakkan rambutnya. Dia terus bersenandung dan menikmati setiap petikan gitar yang terdengar lembut ditelinga.
Ardy telah selesai kemudian berbalik dan duduk disamping Elis. Matanya bersinar melihat cara Elis mainkan gitarnya.
Dia mendekat dan mengambil gitar dari tangan Elis. Tanganya mulai lincah memainkan sebuah lagu kesukaannya. Lagu tentang rahasia hatinya yang mengalun melalui lagu yang dinyanyikannya lirih.
"Dua wanita berharga dalam hidupnya, mengisi dan memberi warna bagi perjalanan dan juga menjadi kelemahanya." Begitulah kira-kira salah satu lirik lagunya.
Elis mulai menyandarkan kepalanya dan sesekali bersenandung jika dia mengingat lirik lagunya.
"Segalanya seperti mimpi, dan tak kumengerti.
Waktu berjalan menyesatkan hati.
Kenangan yang mengantarkan pada persimpangan jiwa.
Hati yang terus bergetar sulit tereda.
Ketidakberdayaan menjadi alasan bagi jiwa yang rapuh untuk bersembunyi.
Sampaikan pada hati ini jangan terus memaksa.
__ADS_1
Jiwa bisa rapuh karenanya.
Hati menjadi tak bertuan karena rindu yang tertahan.
Angin jangan kau bawa badai lalu menenggelamkannya.
Kau takkan sanggup melihat kehancurannya."
Salah satu bunyi bait lagunya. Ardy begitu tampan saat menyanyi dan bermain gitar.
Sulit melawan pesonanya, dan meredakan gemuruh dalam jiwa karena terbawa suasana.
"Aku ingin terus memandangimu, setiap jam, setiap menit, detik, seharian....". Gumam Elis tanpa disadarinya.
"Kamu mengatakan sesuatu?"Tanya Ardy mendengan bisikan ngga jelas.
"Ohh, Ngga! Aku tidak mengatakan apa-apa." Elis gelagapan seperti meminum air saat berenang."Untung saja! Apa yang baru saja dia katakan? mengalir begitu saja.
Apalagi suasana membuatnya tak mampu mengendalikan dirinya.
Ohh Tuhan.....Tak mampu kusingkirkan dan sulit kujelaskan kebingungannya ini". Hatinya bicara pada jiwa yang masih waras ini. Gumamnya lagi.
Jangan sampai matanya mengendalikan hatinya, dan hatinya mengendalikan jiwa yang kesepian ini.
Atau segalanya akan berubah, takkan ada yang tersisa, selain kecewa dan kesepian yang tertinggal pada akhirnya.
Elis menghela nafas panjang dan berat. Masih menyandarkan kepalanya pada Ardy. Tak ingin ada yang mengganggunya. Biarkan burung berkicau melihatnya. Biarkan semut-semut menggigit jempol kakinya.
Semua itu tak berarti baginya. Hanya rindu yang terperangkap yang saat ini memenuhi seluruh jiwanya.
Asal Ardy jangan beranjak dari tempat duduknya.
krucukkkkkkk, krucukkkkkkk!?!?!?
"Wah bunyi apaan tuh?" Tanya Ardy
"Hihihi." Elis mengangkat kepalanya."Perutku. Lapar ni cacing-cacing." Katanya manja sambil mengusap perutnya.
Ardy tersenyum melihat kelucuannya. Ardy berdiri, mengulurkan salah satu tangannya. Elis meraih tangan Ardi dan berdiri dengan cepat. Mereka berjalan menuju Restoran terdekat, dan meninggalkan gitarnya pada seorang karyawan ya.
Dara dan Tuan Adam sedang dalam perjalanan, tiba-tiba mobil mereka mogok dijalan yang begitu sepi. Tuan Adam turun dari mobil, dan memeriksanya. Kemudian menelpon langganannya untuk segera datang, dan memperbaiki mobilnya.
Dara ikut turun dan menghampirinya. Berdiri disamping mobil sambil melihat sekitarnya. Sepertinya kita ada diantara hutan belantara.
Lumayan jauh dari warga. Merinding rasanya. Mana sudah sore lagi. Matahari mulai tak terlihat tertutup rindangnya pepohonan.
Tuan Adam menutup teleponnya, dan mendekati Dara yang mengamati beberapa pepohonan yang terlihat menyeramkan.
"Mari, kita tinggalkan mobilnya, coba cari penginapan terdekat." Kata Tuan Adam karena tak mungkin menunggu disitu sedangkan hari mulai malam.
Dara mengangguk, dan berjalan disamping Tuan Adam. Mulai terdengar suara binatang-binatang kecil bersahutan tanda siang segera berlalu. Karena saking merinding akibat susanana dan kegelapan kaki dara tersandung hingga terkilir.
"Aduh!!!!!" Erangnya. Dan sempoyongan. Dengan sigap Tuan Adam memegang Dara dengan salah satu tangannya.
__ADS_1
"Hati-hati Dara." Spontan tuan Adam menangkapnya sehingga Dara tidak nyusruk ketanah.
"Ada yang sakit?" Tanya Tuan Adam? Khawatir. Dan kasihan juga karena mereka harus mengalami ini. Apalagi Dara harus ikut berjalan kaki bersamanya beberapa kilometer. Pasti dia kelelahan.
"Iya Tuan. Seperti nya kaki saya terkilir." Jawabnya sambil meringis kesakitan.
"Baiklah. Mari saya bantu kamu berjalan?" Terlihat ada lampu dari kejauhan. Sepertinya ada penginapan."
Dara sumringah dan tak sabar ingin rebahan. Kakinya pegal-pegal semua setelah berjalan beberapa kilometer.
Tuan Adam merangkul dara. Terasa ada yang hangat menyentuh dadanya. Tangan dara merangkul leher Tuan Adam. Bagian dadanya tampak menempel lekat di dada Tuan Adam.
Darah Dara tiba-tiba berdesir. Dara menarik nafas panjang. Kehangatan dalam pelukan Tuan Adam membuatnya lupa akan rasa sakit dikakinya.
Dara menikmati setiap langkah dan kehangatan yang jarang didapatkan dari suaminya.
Tuan Adam masih memeluk dan merangkul dara sampai mereka tiba di penginapan kecil. Sepertinya penginapa ini milik warga sekita kampung terdekat. Begitu kecil dan lampunya redup.
Mereka masuk dan disapa sama pemilik penginapan tersebut. Penginapan ya nampak sepi tapi saat ditanya apakah ada dua kamar kosong. Pemilik mengatakan hanya tersisa satu kamar kosong. Karena dia tidak punya banyak persediaan kamar.
Tuan Adam mengangguk dan mengikuti pemilik penginapan. Mereka sampai pada sebuah kamar dengan ukuran 3×4 meter kira-kira.
Tuan Adam masuk dan menerima kunci dari pemilik. Sambil merebahkan Dara di ranjang, Tuan Adam memesan makanan yang disediakan pemilik penginapan.
Pintu ditutup dari dalam. Dara juga tidak banyak bertanya kenapa harus satu kamar.
Kenyataanya memang hanya tersisa satu kamar. Tak mungkin dia membiarkan Tuan Adam menginap diluar penginapan.
Nanti bisa diatur bagaimana mereka tidur. Tak ada yang dipikirkannya saat ini selain rebahan menghilangkan pegal dikakinya.
Tuan Adam pergi ke kamar kecil untuk membersihkan diri. Semetara Dara masih rebahan karena buat berjalan kakinya terasa sakit.
Dara terpana saat melihat Tuan Adam keluar dari kamar kecil dan hanya mengenakan kaos saja.
Rupanya dia melepas semua jas dan kemejanya akibat kepanasan dalam perjalanan tadi. Nampak gagah dan sedikit bulu menumbuhi dadanya yang masih kekar.
Dara tertegun dan dengan cepat mengalihkan perhatiannya.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Tuan Adam mempersilahkan seseorang menaruh makananya didekat ranjang. Kemudian pintu ditutup dan dikunci dari dalam.
Dara mengambil HPnya dan memberitahu suaminya jika dia ngga pulang. Acara kantor sampai dua hari, sehingga dia harus menginap.
Tuan Adam berjalan mendekatinya. Mengambilkan Dara minuman dan makanan yang tersedia. Diapun sudah menahan lapar dari tadi. Tak tahan rasanya membiarkan makanan itu lebih lama lagi. Mereka dengan cepat melahap dan menghabiskanya.
Tak ada suara, sesekali Tuan Adam melihat dara dan tersenyum. Kadangkala Dara yang mencuri pandang dan melirik sambil mengunyah makananya.
Tak ada yang dikatakan.
Apa yang harus dibicarakan?
Dan darimana memulai percakapan?
Haruskah ia mengeluh karena kejadian ini.
__ADS_1
Atau sebenarnya dalam hati Darapun menikmati kejadian tak terduga ini? Entahlah.