
Hari pertama Arya bekerja.
Dia sudah berangkat pagi-pagi sekali sebelum jam kantor di mulai. Hanya ada security dan penjaga saja kemudian Arya duduk di depan kantor karena saat itu kantor belum dibuka. Tidak lama kemudian sekretaris Nadiya dan danar datang, barulah kantor dibuka.
Kemudian Arya mengangguk kepada sekretaris itu juga Danar yang saat ini sudah menjadi wakil CEO.
Siapa dia orang culun ini? bisik Arya di dalam hati.
Kemudian sekretaris itu melangkah masuk diikuti oleh Danar, saat security sudah membuka pintu utama.
Sekretaris Nadiya kemudian melihat Arya dan mengingat bahwa dia adalah orang yang kemarin datang dan melamar pekerjaan untuk accounting, akhirnya sekretaris itupun memanggilnya untuk ikut masuk ke dalam dan untuk mengikutinya.
Sekretaris itu kemudian masuk ke sebuah ruangan dan di sana lah nanti Arya atau Ardi akan bekerja sebagai staf biasa bersama pelamar yang lainnya.
Arya kemudian masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di meja kerjanya.
Kemudian sekretaris Nadiya mengambil beberapa berkas untuk diserahkan kepada Arya.
Arya kemudian mengangguk kepada sekretaris itu.
"Baiklah Pak Arya, karena saat ini dalam masa percobaan maka disinilah kantor pak Arya. Nanti satu bulan kemudian jika sudah resmi terpilih menjadi Accounting ibu Nadiya, maka kantor Pak Arya berada didepan Ibu Nadiya."
"Baik Bu...." Kata Arya.
Tidak lama kemudian ibu Nadiya serta Pak Prasetyo masuk ke dalam kantornya.
"Apakah pegawai yang kemarin melamar sudah masuk?" Tanya Nadiya.
"Sudah Bu." Jawab Sekretaris itu penuh hormat.
"Baiklah. Nanti tolong kamu panggilkan Danar kemari." Kata Nadiya.
Tidak lama kemudian danar masuk ke dalam ruangan CEO itu.
"Apakah ibu memanggil saya?" Tanya Danar.
"Ya danar, saya akan cuti 3 hari ini, jadi nanti tolong kamu handle semua pekerjaan dan jika ada hal yang perlu saya ketahui kamu bisa hubungi saya langsung." Kata Nadiya kepada Danar.
"Baik bu."
Saat bel makan siang berbunyi kemudian semua pegawai berhamburan keluar dari kantor dan mereka akan makan siang.
Arya tidak buru-buru keluar, dia masih berdiri di depan kantor nya dan melihat ke ruangan Nadiya. Tidak lama kemudian Nadiya berbicara kepada Prasetyo dan kemudian keluar dari kantor nya bersamaan.
Arya melihat mereka dengan tatapan sinis. Namun kemudian Nadiya menoleh kebelakang dan tersenyum padanya.
Arya kemudian membalas senyumnya dan berjalan dibelakang Nadiya juga Prasetyo. Arya mendengar jika Nadia akan cuti 3 hari dan mereka akan pindah dari apartemen ke rumahnya yang baru. Arya sangat penasaran dan ingin mengikuti Nadiya serta Prasetyo namun tidak bisa karena siang ini juga Nadiya dan Prasetyo akan ke rumah barunya.
"Sial! aku tadinya mau mengikuti mereka. Tapi bagaimana caranya aku masih bekerja dan ini adalah hari pertamaku, tidak mungkin aku izin untuk suatu urusan keluarga. Lagi identitas ku di KTP ku kan aku masih perjaka jadi aku belum berkeluarga." Kata Arya.
Nadiya dan Prasetyo masuk ke dalam mobil yang terparkir tepat di depan pintu utama. Tampak Prasetyo membukakan pintu untuk Nadiya dan Nadiya kemudian tersenyum manis padanya.
"Terimakasih." kata Nadiya pada Prasetyo.
Dari jauh Arya melihat kemesraan mereka membuat hatinya menjadi terbakar. Arya kemudian menendang sebuah batu kecil yang ada di depannya. Tidak lama kemudian Arya kemudian masuk ke dalam kantin dan mendekati sekretaris Nadiya.
"Boleh saya duduk di sini kata Arya kepada sekretaris Nadiya.
"Silakan Pak Arya." Kata Sekretaris Nadiya.
"Terima kasih." Kata Arya kemudian memesan makanan dan makan satu meja dengan sekretaris Nadiya. Mereka nampak terlihat basa-basi berbicara tentang hari pertama Arya bekerja di kantor Nadiya.
🌹🌹🌹
Di apartemen Prasetyo.
Semua barang-barang nampak sudah dipacking di dalam kardus berukuran besar. Semua kardus itu sudah disusun rapi dari tadi malam oleh Nadiya dan Prasetyo serta dibantu oleh ibu Monic. Mereka rencananya akan membawa semua kasus itu siang ini juga.
"Apakah semuanya sudah siap Nadiya?" Tanya Prasetyo. Kebetulan letak apartemen dengan komplek itu jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit.
" Sudah Pras! Semua ini tinggal dibawa ke dalam mobil saja." Kata Nadiya.
"Apakah kalian sudah memesan mobilnya?" Tanya Ibu Monic yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Sudah Mami, sebentar lagi mobilnya akan datang karena sudah dekat di lampu merah belakang apartemen." Kata Prasetyo.
"Baiklah, Mami akan siap-siap." Kata Ibu Monic kemudian masuk kembali kedalam kamarnya.
Tidak lama kemudian sopir itu menelpon dan Nadiya mengatakan agar naik ke apartemen mereka. Sopir itu membawa teman dua orang untuk mengangkat barang-barang dari apartemen menggunakan lift barang dan dimasukkan ke dalam mobil box.
"Apakah semua barang sudah masuk dan tidak ada yang tertinggal?" Tanya Nadiya kepada Prasetyo.
"Sudah semua." Kata Prasetyo.
Ibu Monic, Prasetyo juga Nadiya kemudian mereka semua turun menggunakan lift sampai ke lantai bawah. Prasetyo kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melaju ke rumah yang baru dibelinya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai dikomplek itu.
Sesampainya di sana Ibu Monic juga terpana melihat desain dari rumah itu yang sangat unik dan bagus.
Hemmm....
__ADS_1
"Pras, Rumah ini bagus sekali." Kata ibu Monic.
"Ya Mami, Prasetyo juga langsung tertarik saat pertama kali melihatnya disurat kabar. Ternyata memang benar-benar bagus, kebetulan orang itu mau pindah ke luar negeri sehingga dia menjual rumahnya." Kata Prasetyo kepada maminya.
"Iya baguslah! dan beruntung tidak keduluan orang lain sehingga kamu bisa langsung membelinya." Kata Ibu Monic.
"ya Mami. Yuk kita masuk kedalam...." Ajak Prasetyo, sementara Nadiya masih mematung didalam mobil.
deg
Semakin lama Nadiya justru semakin takut masa lalunya akan terbongkar di depan Ibu Monic. Walau bagaimanapun Prasetyo sedikit-banyak sudah tahu tentang masa lalunya itu, tapi tidak dengan ibu Monic.
Semoga saja tidak ada yang membuat masalah dan menceritakan kembali masa lalunya. Terutama para tetangga yang tinggal disekitar komplek itu.
Saat Nadiya turun dari mobil, tiba-tiba dua orang yang tetangganya lewat dan tersenyum melihatnya.
"Bukankah itu Bu Nadia?" Kata temannya yang sedang berjalan di sebelah kiri.
Sulit sekali memang menghindar dari interaksi bersama orang lain. Apalagi jika sudah terkenal dan namanya diketahui banyak orang. Termasuk beberapa kehidupan pribadi yang mudah menjadi konsumsi publik. Jejaknya tidak mudah hilang.
"Iya jeng. Bukankah rumah itu sudah dijual sama mantan suaminya?"
"Dulu dijual sama suaminya, dan sekarang dibeli sama suaminya yang baru, aneh ya? lihat itu kan suaminya Bu Nadiya?"
"Iya masih muda ya?"
"Iya lihat itu ganteng sekali dan tidak kalah tampan dengan suaminya yang dahulu."
"Iya jeng. Memang ganteng dan masih muda."
"Yuk kita samperin bu Nadiya."
"Apa kabar Bu Nadiya?" Sapa tetangganya.
"Baik bu Laras bagaimana dengan ibu sendiri?"
"Kami juga baik. Oh ya bu Nadiya itu apakah itu suami Bu Nadiya? Yang baru saja masuk kedalam rumah?" Tetangga kepo itu memberanikan diri untuk bertanya.
"Iya betul Bu Laras." Jawab Nadiya.
"Sepertinya dulu rumahnya sudah dijual ya Bu Nadiya?"
"Eh...ooo iya. Iya kebetulan suami saya suka dengan desain nya jadi dibeli lagi."
"Iya lagian kan Pak Ardy meninggal ya bu Nadiya dan tinggal rumah ini sebagai kenangannya." Celetuk tetangganya.
glek
"Baiklah kalau begitu kami tinggal dulu ya Bu Nadiya, kami mau ke pasar beli sayuran."
"Baiklah silahkan ibu-ibu...."
Nadiya kemudian cepat-cepat masuk sebelum ibu yang lain juga mengenalinya dan bertanya tentang ini dan itu.
"Nadiya, tolong bantu angkat ini Nadiya." Kata Prasetyo.
"Pras ini mau taruh di mana?"
"Taruh dipojok saja. Pojok sana dulu aja besok baru kita beres-beres, sekarang lebih baik kita istirahat dulu."
"Oh ya, bagaimana kalau kita pesan makanan dulu. Untuk kita makan siang karena dapurnya juga masih berantakan dan kita tidak bisa memasak sekarang." Kata Nadiya.
"Iya beli aja." Kata ibu Monic.
"Mami mau makan steak aja."
"bagaimana denganmu Pras?"
"Iya aku juga sama."
"Baiklah kalau begitu aku pesan dulu ya?" Kata Nadiya
Kemudian dia memesan makanan go-food.
tet tet
Handphone Arya tiba-tiba berbunyi. Waktu istirahat masih setengah jam lagi dan ada yang memesan makanan diantar ke komplek yang dulu pernah dia tempati.
gimana ya?
ambil tidak ya?
Baiklah aku ambil aja, lumayan buat tambahan makan nanti malam, kata Arya.
pencet....okay...
Akhirnya Arya langsung meluncur ke tempat makanan yang menjual steak itu.
"Halo... selamat siang Bu,15 menit lagi akan saya antar makanannya." Kata Arya.
__ADS_1
"baiklah."
"ke alamat ini kan Bu?"
"Iya betul."
Kemudian Arya terbengong dan berpikir.
*I*ni kan alamat rumahnya yang dulu dia tempati bersama nadiya. Kenapa harus mengantar makanan ke sana? Dan aku harus kembali teringat kenangan pahit itu.
*Ta*pi Baiklah aku akan kesana cuma sebentar ini, hanya mengantar makanan setelah itu aku pulang.
Akhirnya Arya mengantri di depan kasir untuk mengambil pesanan makanan itu.
Setelah selesai membayar, kemudian Arya meluncur ke orang yang memesan steak itu.
Dulu ini adalah makananku sehari-hari dan sekarang aku harus berpikir ulang untuk membeli makanan seperti ini, apalagi saat ini aku tidak punya duit. Terpaksa aku hanya makan nasi warteg dan gorengan saja.
Gajiku 1 bulan juga tidak mungkin untuk membeli makanan yang mahal seperti ini.
*secara, ini satu porsi aja sudah Rp 85.000. Gaji ku kan sekarang masih kecil, karena aku hanya menjadi staf biasa.
Dan aku sehari makan 3 kali. Belum buat bayar kosan dan biaya lain-lain. Terpaksa aku harus menahan keinginan ku, nanti jika aku sudah diangkat menjadi accounting, baru aku bisa menikmati makanan yang lezat ini*.
tin tin!
Arya sudah sampai di depan rumah lamanya dulu. Kemudian dia memarkir motornya di depan rumah itu persis.
Ternyata rumah ini sekarang menjadi mewah dan bagus batin Arya.
Tidak lama kemudian seseorang keluar dan membukakan pintu.
glek!
Arya sangat kaget sekali.
Karena yang membukakan pintu adalah Nadiya, mantan istrinya. Namun untunglah helm masih menutupi kepalanya sehingga Nadiya tidak tahu jika aku yang mengantar makanan ini.
"ini sisanya tidak usah dikembalikan, untuk abang makan siang saja, kata Nadiya."
Ardi mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Nadiya.
Kemudian Nadiya menutup pintu dan masuk kedalam untuk makan steak itu bersama dengan suami dan ibu mertuanya.
Hhhhhh.... dengus Ardy.
Ternyata mereka membeli rumah yang dulu aku tempati bersama Nadiya. Aku tidak percaya jika Nadiya bisa tinggal di rumah itu sementara dulu kita mempunyai banyak kenangan manis saat masih bersama. Suaminya pasti tidak tahu jika itu dulu adalah rumah Nadiya, karena aku sempat menjualnya kepada orang lain.
Baiklah jika begitu, aku sekarang tahu bahwa mereka tinggal di sini.
Mudah sekali bagi Nadiya untuk melupakan kenangan nya bersamaku yang sudah dilewati bertahun-tahun. Dan sekarang dia kembali ke rumah itu tanpa merasakan sesuatu sedikitpun. Tidakkah dia ingat sedetik saja masa lalunya bersamaku?
dasar wanita!
Ardy tersungut sambil menendang batu didepanya.
Mudah sekali kamu melupakan kenangan itu saat kau sudah mendapatkan pengganti aku!
Kemudian Ardy menoleh sekali lagi ke arah rumah itu, dan setelah itu dia menyalakan mesin motornya, lalu melajukan motornya dengan kencang ke arah kantor nya supaya tidak terlambat.
Sementara Nadiya membuka makanannya dan menyiapkannya untuk mereka bertiga makan.
"Cepat juga ya sekarang ada go-food. Jadi kita tidak perlu keluar dan kita tinggal memesan jadi lebih praktis." Kata ibu Monic.
"Iya Ibu, ada aplikasi itu sangat membantu kami, ketika kami sedang malas memasak maka kami tinggal pesan saja. Tanpa keluar rumah dan makanan sudah datang sendiri." Kata Nadiya.
"Iya ya, sekarang ada go-food jadi restoran juga menjadi pemasukannya bertambah."
"Iya Ibu, jadi ini saling menguntungkan untuk penjual dan juga untuk pembeli." Kata Nadiya.
"Ini makanannya juga lumayan enak. Di mana kamu memesan steak Ini Nadiya?"
"Dekat kok mi, keluar komplek belok kanan, disitu menjual berbagai jenis makanan dan banyak restoran berjejer bersebelahan."
Prasetyo yang terdiri dari jendela lantai atas tadi sempat melihat kelakuan aneh dari yang mengantarkan makanan itu.
Prasetyo membatin bahwa dia pernah melihat postur tubuh itu? Dan gelagat serta lelaguannya, Prasetyo seperti mengenalinya.
Namun itu tidak mungkin, batin Prasetyo, dia kan sudah meninggal, mana mungkin aku melihat pengantar makanan itu seperti mirip sekali dengan Ardi. Gumam Prasetyo di dalam hati.
Ardy kan sudah tiada dan seandainya masih hidup mana mungkin dia menjadi ojek online. Dia adalah CEO ternama ini pasti hanya perasaanku saja.
Aku terlalu takut bahwa Nadiya akan meninggalkanku dan satu-satunya ancaman yang selalu menghantuiku hanyalah Ardi. Saat seseorang dibakar cemburu maka dia akan menjadi gelap mata dan hal itu pernah ditakutkan oleh Prasetyo terhadap Ardi.
Sudahlah aku ini benar-benar bodoh.
Masa aku menganggap orang yang sudah tiada bisa hidup kembali. Kami jelas-jelas mengantarkan saat penguburannya. Dan polisi juga sudah mengumumkan kljika dia sudah tiada. Jadi untuk apa aku menghawatirkannya kembali.
"Pras ayo cepetan makan. nanti keburu dingin."
__ADS_1
"Ya ni lagi mau turun."