
Dua asisten rumah tangga yang dipesan Nadiya sudah datang. Mereka langsung dipersilahkan masuk oleh seorang satpam penjaga rumah Nadiya.
"Ini kamar kalian," kata Nadiya sambil menunjukan kamar mereka.
"Terimakasih Non." Kata kedua asisten itu.
"Dan ini untuk kalian makan. Kalian istirahat dulu saja hari ini. Kalian bisa mulai bekerja besok," kata Nadiya
sambil memberikan kotak nasi kepada mereka.
Merekapun masuk dan Nadiya menutup pintunya agar mereka beristirahat.
"Siapa?" tanya Prasetyo yang baru saja turun dari lantai atas.
"Asisten rumah tangga yang mami pesan," kata Nadiya sambil mengambil tas kantor milik Prasetyo. Lalu Nadiya mengajaknya untuk kemeja makan dan sarapan sebelum berangkat kekantor.
"Semoga mereka betah ya Pi, tinggal dirumah kita. Rumah menjadi berantakan jika tidak ada yang membantu bersih-bersih," kata Nadiya.
"Iya, honey. Mulai sekarang mami, tidak perlu repot-repot lagi mengurus rumah ini. Biarkan mereka yang mengurus semuanya." kata Prasetyo.
"Iya Pi."
"Kemana Sasha? Kenapa dia tidak sarapan bersama kita?" tanya Prasetyo.
"Dia kemakam ibunya." kata Nadiya
"Regan dimana?"
"Masih tidur," kata Nadiya.
***
Arya sedang duduk dimakam Leo dan juga makam Sarah. Makam mereka bersebelahan, dan Arya entah kenapa dia teringat pada anak yang dilahirkan Sarah, sehingga membuatnya ingin mengunjungi makamnya.
Setelah berdoa Arya berdiri dan ada Sasha dibelakangnya.
"Sasha?" kata Arya dengar sangat terkejut, dia tidak menyangka akan bertemu putrinya disini. Padahal dia memang sangat merindukanya.
"Om?"
"Bagaimana kabarmu?" tanya Arya sedikit gugup karena saking senangnya. Sayangnya semua kerinduan itu tidak bisa dia wujudkan dengan memeluk putrinya.
"Baik om."
"Sudah lama kita tidak berjumpa. Om dengar kamu kuliah di Amerika?" tanya Arya karena dia lama tinggal bersama Nadiya saat itu.
"Iya om. Ini lagi libur akhir tahun. Jadi Sasha pulang kemari."
"Ya sebaiknya berkumpul bersama keluarga." Sekarang Arya menjadi lega karena ternyata putrinya baik-baik saja.
" Om pergi dulu." kata Arya lalu pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Sebenarnya dia masih ingin lama berbicara dengan putrinya, namun dia ada pekerjaan penting sehingga tidak bisa berlama-lama disana.
Di tetap bisa menemuinya, karena dia bersama Nadiya.
Arya yakin jika Nadiya belum tahu siapa Sasha sebenarnya. Dan Arya merasa semua akan baik-baik saja selama Nadiya tidak tahu siapa Sasha.
Sasha lalu duduk didekat pusara ayah dan ibunya.
Disana dia berdoa dan berbicara kepada mereka.
Sasha tahu jika Nadiya dulu adalah teman ibunya. Dan karena cinta segitiga hubungan mereka menjadi rusak.
Sasha mengetahui semua itu dari om Joan. Namun cerita yang didapat Sasha tidak lengkap. Dan bahkan hanya untuk membuat Nadiya menjadi terdakwa.
Sementara keuntungan ada di pihak Joan.
Sasha masih harus mencari siapa suami Nadiya sebelum Prasetyo. Karena dialah ayah biologis Sasha.
Namun Sasha juga melihat di surat kabar lama dan juga berita di media online jika Ardy meninggal dalam kebakaran.
Berarti semua sudah tiada. Ibu, ayah sambung, dan juga ayah biologisnya.
Padahal sebenarnya Ardy masih hidup dan saat ini menggunakan identitas Arya.
Sasha belum mengetahui semua itu. Dia masih harus menyembunyikan identitasnya dari Nadiya.
Karena jika Nadiya tahu, mungkin semua akan berbeda. Dan semua akan berubah dalam sekejap.
Sasha mencurahkan sebagian perasaannya yang dia pendam disamping makam ayah dan ibunya.
Didekat maka ada sebuah restoran. Sashapun berhenti dan makan disana.
Tiba-tiba dia dikagetkan oleh beberapa temannya semasa SMA.
"Hai, kalian?"
"Kapan kau sampai disini. Kemarin kita chatting dan kau masih di Amerika." Kata temanya.
"Kemarin aku sampai disini." kata Sasha.
Merekapun akhirnya bergabung dan makan bersama.
Mereka bercerita karena sudah lama tidak bertemu secara langsung. Biasanya mereka berbicara melalui handphone.
"Nanti malam kita ngedate yuk!" ajak salah satu temannya."
"Boleh juga." kata temannya.
"Dimana?"
"Dicafe biasa. Kau masih ingat kan?" tanya temanya sambil menatap Sasha.
__ADS_1
"Ok," jawab Sasha sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Sampai ketemu nanti malam." kata Sasha sambil pergi lebih dulu meninggalkan teman-temannya.
***
Sampai dirumah Sasha bertemu dengan Edsel dan juga Eiden didekat gerbang. Mereka sedang bermain bola.
Dan Sasha tertawa karena masih ingat apa yang dia lakukan pada kedua bocil itu dua tahun yang lalu.
Usia mereka sekarang sudah 7 tahun. Sasha sendiri usianya sudah 20 tahun.
"Kemari!" Panggil Sasha.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Sasha sambil jongkok.
"Main bola. Kau mau main bersama kami?" tanya Edsel.
"Boleh."
Sasha lalu bermain bersama mereka, dan menghilangkan sejenak penatnya.
Regan keluar dengan sebuah jus minuman.
"Apakah kau tidak ada kerjaan, hingga bermain seperti anak kecil?" kata Regan.
Sasha berlari mendekatinya.
Dan langsung mengambil jus dari tangan Regan. Jus itu belum diminum dan masih utuh.
"Ambil sendiri dibelakang," kata Regan.
Namun Sasha lebih dulu mengambilnya dari tanganya.
Ssruuupuuut!
Sasha langsung menghabiskanya dalam waktu sekejap.
Rupanya bermain bersama kedua adik tirinya membuatnya kehausan.
Regan hanya bengong saja melihat minuman itu sudah habis.
"Kau sengaja mengambilkan itu untuku bukan?" Tanya Sasha.
"Enak saja!" Kata Regan lalu masuk kedalam dan mengambil lagi jus yang baru saja dibuat oleh bibi yang baru saja bekerja.
Arya ada digerbang dengan beberapa berkas ditanganya.
Dia akan mendirikan Kafe disamping hotel milik Nadiya. Dan tanah itu merupakan bagian dari hotel.
Arya sekarang sedang membawa berkas-berkas yang diperlukan untuk proyek tersebut.
__ADS_1
Regan dan Sasha melihatnya dari kejauhan.
"Om Arya?" Gumam Sasha pelan.