
Tiga hari kemudian Sasha minta lebih cepat untuk sekolah di asrama. Karena tidak berani ngomong sama om juga tantenya Nadiya, maka Sasha berbicara pada oma nya agar diantar ke asrama di mana Regan bersekolah.
Pagi-pagi sekali Ibu Monic menemui Prasetyo dan membicarakan soal keinginan Sasha untuk pergi ke asrama hari ini.
"Pras, Sasha mau ke asrama hari ini bagaimana, apakah kalian ada waktu untuk mengantarkan Sasha ke asrama sekalian mendaftarkan dia dan mengurus administrasi untuk sekolah di sana." Kata ibu Monic.
"Baiklah nanti Pras sama Nadiya akan antar ke asrama jika memang Sasha sudah siap untuk sekolah di tempat yang baru." Kata Prasetyo.
"Iya antar saja Pras mungkin dia sudah bosan dan supaya bisa lupa pada traumanya jika banyak teman maka dia akan merasa lebih bahagia." Kata ibu Monic.
"Sasha kemarilah om mau bicara sama kamu." kata Prasetyo memanggil Sasha.
"Iya Om." Kata Sasha sambil berjalan mendekati omnya.
"Sasha apakah benar kalau kamu sudah siap mau sekolah hari ini?" Tanya Prasetyo dengan lembut kepada Sasha.
"Iya Om Sasha mau sekolah hari ini, Sasha bosan di rumah, dan Sasha teringat terus pada mami."
"Baiklah nanti kalau Tante Nadiya sudah selesai masak dan kita sudah sarapan kamu siap-siap ya, nanti Om sama Tante akan antar kamu ke asrama." Kata Prasetyo kepada Sasha.
"Ya Om kalau begitu Sasha mandi dan siap-siap dulu ya Om." Kata Sasha masuk ke dalam kamarnya dan akan mandi juga beres-beres.
"Nadiya apakah masakannya sudah siap?" Tanya Prasetyo yang melangkah ke dapur dan melihat istrinya sedang masak.
Kemudian Prasetyo langsung memeluk istrinya dari belakang.
"Lepaskan Pras nanti ikannya gosong loh, sudah kamu tunggu di sana saja jangan ganggu aku masak, nanti malah ikannya jadi gosong." Kata Nadiya sambil melepaskan pelukan Prasetyo.
Tiba-tiba saja Ibu Monic masuk ke dapur dan ingin melihat apa yang dimasak Nadiya, kemudian dia kaget melihat kelakuan Prasetyo, akhirnya Ibu Monica hanya senyum-senyum saja dan tidak jadi mengganggu mereka.
Ibu Monic sangat maklum dengan kelakuan Prasetyo karena ini adalah pengalamannya yang baru saja menikah sehingga dia selalu bergairah di mana-mana.
Saat itu dilihatnya Prasetyo sedang mencium bibir Nadiya, padahal Nadiya lagi menggoreng ikan Gurami. Prasetyo memang selalu bergairah setiap kali melihat Nadiya. Dia tidak mempedulikan situasi dan kondisi. Nadiya kadang-kadang kesal dengan ulahnya yang suka tidak pada tempatnya itu.
"Baiklah aku akan membantumu biar cepat selesai, aku akan menggoreng ikan dan kamu bisa mencuci beberapa mangkok yang kotor."
"Baiklah kalau kamu mau membantu."
"Oh ya nad nanti habis sarapan kita akan mengantar Sasha untuk sekolah di asrama." Kata Prasetyo memberitahu Nadiya.
"Kok lebih cepat? Bukannya kita akan mendaftarkannya minggu depan biar Sasha istirahat dulu." Kata Nadiya sambil mencuci piring.
"Iya ini karena permintaan Sasha, dia sudah bosan di rumah dan juga kesepian, dia terus teringat pada mamanya, jadi untuk menghilangkan traumanya, lebih baik dia lebih cepat sekolah, dan berkenalan dengan teman-teman yang baru, sehingga kesedihannya akan berkurang, dan bisa melupakan trauma nya." Kata Prasetyo memberikan penjelasan kepada Nadiya.
"Oooh baiklah kalau memang Sashanya sudah siap untuk sekolah, itu lebih bagus sehingga dengan kesibukannya dan teman yang baru akan membuat hatinya menjadi bahagia." Sambung Nadiya.
Setelah semua dapur menjadi bersih dan makanan sudah matang maka Nadiya menyiapkannya di meja makan dan memanggil Ibu Monic serta Sasha untuk sarapan bersama.
Setelah sarapan selesai Nadiya membereskan meja makan, cuci piring kemudian dia mandi di kamarnya diikuti oleh Prasetyo.
"Aku akan mandi denganmu." Kata Prasetyo yang sudah bergairah dari tadi entah apa sebabnya.
Nadiya tidak menjawabnya dan melangkah kekamar mandi. Sampai dikamar mandi Nadiya melepaskan semua bajunya dan tiba-tiba Prasetyo sudah mendekapnya dari belakang. Nadiya sangat kaget dan saat tanganya akan memutar shower Prasetyo menggendong tubuh Nadiya membawanya keluar dari kamar mandi tanpa handuk.
Sontak saja Nadiya meronta karena saat itu dia sudah melepas semua baju yang menempel ditubuhnya. Dan rasanya tidak nyaman tanpa pakaian sehelai pun. Tapi apalah daya dia menikah dengan berondong yang usianya lebih muda enam tahun dari Nadiya. Sehingga darah mudanya lagi ganas-ganasnya, tanpa mengenal waktu dan tempat. Prasetyo sangat senang dan semakin tidak bisa menahan keinginanya yang sudah memenuhi ubun-ubunnya, hehehe...dia pun tersenyum dan mulai beraksi.
Tidak perlu dijelaskan aksinya, namanya juga darah muda pasti sedikit liar. Nadiya harus bisa mengimbanginya karena itu adalah konsekuensi menikah dengan Pria yang usianya lebih muda, mereka mudah bergairah dan menggebu-gebu tanpa menghiraukan waktu.
Tapi kan Nadiyanya juga sudah berpengalaman, hehehe....jadi dia juga tahu bagaimana cara memanjakan dan menjinakkan suaminya yang belum berpengalaman itu, OPS! hehe..
Akhirnya setelah aksi olahraga pagi diatas ranjang merekapun berkeringat, dan dengan cepat Nadiya membalut tubuhnya dengan kemeja Prasetyo dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Prasetyo masih ngos-ngosan dan tersenyum melirik pada Nadiya yang berjalan kekamar mandi.
"Dia memang hebat! Dan sudah berpengalaman, tidak salah aku memilih nya, aku benar-benar puas, hehehe....tidak kusangka dia selihai itu..." Gumam Prasetyo.
__ADS_1
Nadiya yang gregetan dengan keinginan Prasetyo yang terus menerus, memilih untuk menggunakan siasat rahasia agar dia tidak candu terus-menerus dalam urusan yang satu itu. Dan benar saja Prasetyo terlihat sangat puas dan menikmatinya.
Nadiya kemudian memutar shower dan mandi dengan air hangat. Setelah itu keluar untuk mengganti baju. Dia terkejut saat melihat suami brondongnya malah tertidur setelah olahraga pasutri itu.
"Pras! Bangun....ayo mandi...katanya mau antar Sasha ke Asrama." Kata Nadiya membangunkan Prasetyo.
"Oh iya ya, aku hampir lupa. Ya sudah aku akan mandi sekarang."
Kemudian Prasetyo berjalan kekamar mandi tanpa sehelai baju, dan pemandangan itu membuat Nadiya geleng-geleng kepala. Prasetyo memang sudah ngga ada malu-malu nya sama sekali.
"Baiklah kalau sudah siap kita akan berangkat sekarang ya." Kata Nadiya dan Prasetyo yang sudah rapi.
"ya Om." Ternyata Sasha juga sudah siap.
"Oma mau ikut tidak?" Tanya Sasha.
"Tidak Sasha, Oma mau kesalon, kan sudah ada om Pras juga Tante Nadiya yang akan menemani Sasha." Kata Ibu Monic.
"Antar mami kesalon saja ya Pras. Mami ngga ikut ke Asrama. Kalian berdua saja yang antarkan Sasha. Drop mami kesalon kemudian nanti jika kalian pulang dari Asrama kalian jemput mami ya disalon." Kata Ibu Monic.
"Oma ngga usah ikut ngga papa kan Sasha, karena sudah ada om Pras juga Tante Nadiya." Kata ibu Monic.
"Iya Oma ngga papa." Kata Sasha sambil menenteng koper kecilnya.
"Baiklah ayo kita berangkat sekarang." Kata Nadiya sambil mengunci pintu.
Akhirnya Prasetyo turun menggunakan lift dari lantai Apartemen keparkiran mobil. Setelah itu Prasetyo mengantarkan ibu Monic ke Salon Kecantikan terlebih dahulu.
"Dada Oma....." Kata Sasha.
Kemudian Ibu Monic mencium kening Sasha dan mengatakan padanya untuk belajar dengan baik. Setelah itu Prasetyo melajukan mobilnya ke Asrama di Pantai Indah Kapuk. Karena disana ada sekolah internasional yang baru dibangun lengkap dengan berbagai fasilitas juga Asrama untuk beberapa siswa yang rumahnya jauh dan memilih untuk menginap.
"Dulu di sini adalah rawa-rawa, sebelum menjadi perumahan yang mewah seperti sekarang ini." Kata Nadiya.
"Benarkah?" Tanya Prasetyo.
"Benarkah tante? Apakah sekarang keranya juga masih ada di sana? Sasha pengen liat sebelum ke asrama." Kata Sasha penasaran setelah mendengar cerita dari Nadiya.
"Baiklah letaknya nggak jauh dari sini kok, kalau kita ke asrama kita ke kanan, kalau mau melihat kera ambil ke kiri Pras, nah di situ nanti ada rawa-rawa tuh di pintu masuk dekat patung kuda laut, nah kita akan ke situ dan kita bawa makanan seperti kacang kering maka keranya akan keluar.
"Nanti kalau keranya keluar, malah bahaya kamu ini mah." Kata Prasetyo yang takut sama semua jenis binatang berbulu.
"Tidaklah! Mereka jinak kok, aku sering melakukan itu, dan mereka tidak menyakitiku." Kata Nadiya.
"Ngga ah! Aku ngeri, aku takut sama kera sakti." Kata Prasetyo. "Aku ngeri sama bulunya juga ekornya." Katanya sambil begidik.
"Wah Om ini penakut! Ya sudah tante Sasha sama tante aja yang turun, untuk melihat kera itu, biar Om tunggu di mobil saja." Kata Sasha.
"Baiklah kita turun sebentar yuk, coba kita lihat apakah karanya masih banyak atau tidak, karena sudah lama tante juga tidak ke sini, Tante dulu sering sering kesini saat Regan masih kecil dan belum terlalu banyak perumahan di sini." Kata Nadiya.
Kemudian Nadiya dan Sasha berjalan mendekati rawa-rawa itu dan di sana memang masih ada beberapa kera yang bergelantungan lompat ke satu pohon dan ke pohon lainnya, kemudian Nadiya memberikan 1 bungkus kacang yang tadi sempat dia beli, sebelum mampir ke rawa-rawa itu, dan mereka semua berebut untuk mengambil makanan itu."
"Wow keranya sangat banyak tante, saya sangat suka." Kata Nadiya.
"Sudah puas kan lihatnya, kalau begitu kita masuk yuk kasihan om Pras nya menunggunya sudah terlalu lama." Kata Nadiya.
"Iya Tante, tapi lain kali kita ke sini lagi ya Tante, Sasha suka lihat kera-kera itu keluar dari rawa-rawa."
"Iya nanti kita akan kesini lagi bersama Regan juga, sudah lama dia juga tidak kesini." Kata Nadiya.
"Baiklah tante."
"Ayo Om, kita sekarang ke asrama." Kata Sasha.
Kemudian Prasetyo melajukan mobilnya putar balik dan mereka menuju ke sekolah internasional yang ada di sana.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menelpon Regan dulu ya biar dia keluar." Kata Nadiya kemudian mengambil handphonenya dari tas kecilnya.
"Halo Regan ini Mami, Mami mau datang ke asrama kamu, bersama keponakan Om, katanya dia mau sekolah disini sama kamu, kamu keluar dulu sebentar ya Regan?" Kata Nadiya.
"Ya Mami, Regan tunggu di dalam foodcourt ya Mami." Kata Regan.
"Iya Mami sudah mau sampai nih, Sudah masuk gerbang." Kata Nadiya.
"Baiklah mami Regan juga sudah ada di foodcourt." Kata Regan.
" Yuk kita kesana! Regan sudah menunggu di foodcourt, nanti biar Om Pras biar menyusul, Kata Nadiya yang turun dari mobil bersama Sasha.
Kemudian dari jauh mereka melihat Regan yang melambaikan tangannya.
Sasha juga melambaikan tangannya bersama Nadiya, saat dilihatnya Regan kemudian mendekat dan mereka berpelukan.
"Halo apa kabar?" Sapa Regan ceria.
"Baik, bagaimana dengan Regan?" Tanya Nadiya.
"Regan juga baik mami."
"Oh ya kenal kan ini, Sasha keponakan Om yang dari Amerika."
"Halo Sasha, Selamat datang di sekolah kami, Semoga kamu betah di sini ya?" Kata Regan.
"Iya terima kasih." Kata Sasha.
"Ya sudah, yuk kita menemui teacher disana dan kita akan ke ruang administrasi untuk mendaftarkan sekolah Sasha, sehingga dia bisa langsung masuk hari ini juga." Kata Nadiya.
"Ya Mami, ayo Sasha." Kata Nadiya.
Sebenarnya dalam hati Sasha membatin, Dia sepertinya pernah melihat Regan tapi entah di mana, dia lupa kapan dan dimananya.
Regan juga membatin dalam hati, sepertinya pernah melihat Sasha tapi dimana dia juga lupa.
Akhirnya mereka ingat dan saling berpandangan satu sama lain.
"Bukankah kita pernah bertemu saat di Paris?!" Kata mereka bersamaan. hehehe...
"Apakah kalian pernah bertemu?" Tanya Nadiya yang melihat mereka berdua tertawa cekikikan.
"Iya Tante, Regan rasa pernah melihatnya di Paris waktu liburan bener kan?" Kata Sasha pada Regan.
"Iya benar aku pernah membantunya mencari kalung dan saat aku menemukannya kamu sudah pergi" Kata Regan.
"Oh iya, waktu itu aku tidak sempat berpamitan sama kamu, karena ibuku sudah datang untuk mengajakku ke suatu acara." Kata Sasha.
"Aku menemukan kalung itu dan aku masih menyimpanya, nanti aku akan memberikannya padamu." Kata Regan.
"Terima kasih Regan, itu adalah hadiah dari ibuku. Ibuku belum sempat membelikannya dan untunglah kamu menemukannya, sehingga aku punya kenang-kenangan, kalung itu sangat berarti untuku." Kata Sasha.
"Baiklah nanti kalau sudah selesai melakukan administrasi, aku akan memberikan kalung itu padamu." Kata Regan.
"Apa kamu menyimpan kalung Sasha? Kok kamu tidak bilang sama mami Regan?" Kata Nadiya.
"Iya Regan menyimpannya tapi Regan lupa bilang sama Mami, hehehe." Kata Regan.
"Ya sudah tidak apa-apa, nanti kamu jangan lupa kasihkan ke Sasha ya." Kata Nadiya.
"Kalian ini jodoh ya, beruntung kalian pernah bertemu dan sekarang kalian akan belajar bersama-sama di sini." Kata Nadiya.
"Iya mami." Kata Regan.
"Kalian harus saling membantu dan saling menolong di sini ya, apalagi Sasha termasuk murid yang baru dan belum terbiasa di sini karena dari kecil dia di Amerika, jadi bahasa Indonesianya masih belum paham betul jadi Regan kamu harus membantu dan membimbing nya ya." Titah Nadiya pada putranya.
__ADS_1
"Iya mami." Jawab Regan sambil berjalan bersama keruang administrasi.