Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Dalam penyekapan


__ADS_3

Nadiya terpana melihat seorang Pria berjaket kulit yang berdiri didepan pintu.


aku seperti pernah melihatnya?


Gumam lelaki itu. Itu adalah wanita yang mengikuti saat dipasar.


Orang itu kemudian menatap Nadiya dan saat Mereka bertatapan, maka dengan cepat laki-laki itu membalikan badanya dan tidak jadi masuk kedalam pesta.


Aku tidak ingin berurusan dengan wanita


Gumam Pria itu sambil menaikan bahunya.


Namun Nadiya yang penasaran karena mukanya mirip dengan Ardy, maka dia langsung mengikuti  pria itu hingga keluar ruangan.


Nadiya masih berfikir bahwa pria itu mirip sekali dengan Ardy.


Apakah Ardy masih hidup?


Lalu yang kita kuburkan itu siapa? Apakah tulang belulang itu milik orang lain?


Dua kali aku melihatnya, dan dia sepertinya menghindari ku, dan itu membuatku semakin mencurigainya.


Aku akan mengikutinya. Nanti akan aku jelaskan pada Prasetyo jika aku sudah mengetahui siapa dia dan kenapa wajahnya mirip sekali dengan Ardy. Atau apakah itu memang Ardy? Mereka terlihat sangat mirip.


Pria itu menoleh sekali dan dia lihat wanita itu masih mengikutinya.


Kemudian pria itu mempercepat langkah kakinya dan Nadiya juga semakin mempercepat langkahnya.


Tidak terasa mereka semakin jauh dari tempat acara pesta itu diadakan.


Dan Nadiya juga menyadari bahwa dia sudah terlanjur jauh dari tempat pesta itu.


Akhirnya Nadiyaya memutuskan untuk tetap mengikuti orang itu karena sudah terlanjur jauh juga dari tempat pesta itu.


Orang berjaket kulit itu kemudian menelpon seseorang dan entah apa yang mereka bicarakan.


"Kau lakukan perintahku sekarang!" Kata orang itu pada anak buahnya.


"Baik bos."


Pria itu kemudian memasukan ponselnya disaku celananya.


Tidak lama kemudian disebuah jembatan penyeberangan saat Nadiya berlari ngos-ngosan mengejar orang itu kemudian sebuah mobil berhenti tepat disampingnya.


Ciiiiitttt.


Suara rem mendadak dari mobil yang tepat berhenti disamping Nadiya berjalan.


Nadiya belum sempat melihat wajah keduanya, dan kedua lelaki tidak dikenal itu langsung menariknya kedalam mobil dan menutup matanya.


"Lepaskan aku! Siapa kalian? Kenapa kalian memasukan aku didalam mobil kalian!?" Teriak Nadiya yang duduk di bangku tengah diapit oleh dua pria.


Orang itu kemudian mengikat muka Nadiya dengan kain hitam sehingga Nadiya tidak bisa mengenali mereka. Hanya gelap, meskipun Nadiya membuka matanya, namun semuanya gelap.


Tangan Nadiya diikat diatas pangkuannya.


Salah satu dari mereka mengenali jika Nadiya adalah wanita yang wajahnya sering ada dibeberapa surat kabar.


"Dia orang kaya." Bisik orang disamping Nadiya kepada salah seorang temannya.


"Kalian sudah menutup mukanya?" Tanya pria berjaket yang akan masuk kedalam mobil.


"Sudah bos."


Dan orang yang Nadiya curigai sebagai Ardy itu kemudian masuk kedalam mobil bersama anak buahnya. Dia duduk disamping sopirnya.


"Bawa kemarkas." Perintah pria berjaket itu kepada sopir yang duduk disampingnya.


Lalu Nadiya berteriak minta tolong.


"Toolooongg!"


Namun karena sudah sangat malam dan jalanan itu sepi maka teriakannya tidak ada yang mendengarkannya.


"Mereka menahan ku didalam mobil. Siapa saja tolonggg keluarkan aku dari sini."


"Tutup mulutnya! Dia berisik sekali." Kemudian mulut Nadiya dilakban sehingga Nadiya tidak bisa berteriak minta tolong.


Nadiya mencoba melepaskan diri dari kedua pria yang memeganginya. Namun usahanya sia-sia. Mereka kemudian membawanya turun dari mobil mereka.


Mereka mengikat Nadiya pada sebuah kursi dan menyalakan lampu gudang.


Seorang anak buahnya membisikan sesuatu kepada bosnya.


"Dia adalah wanita kaya raya. Wajahnya sering ada disurat kabar. Dan dia adalah istri dari CEO Prasetyo. Lebih baik kita memanfaatkanya untuk mendapatkan uang."


"Kita bisa meminta imbalan yang pantas dengan statusnya."

__ADS_1


"Yang kau katakan ada benarnya juga." Kata Pria berjaket kulit itu.


"Apakah aku harus mengeledahnya? Kita harus mendapatkan nomor telepon suaminya."


"Tidak usah!"


"Tinggalkan kami berdua. kamu tunggulah diluar." Kata bosnya itu."Lepaskan lakbanya."


"Nyonya Prasetyo! Istri dari CEO Terkaya hahaha apakah kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?"


"Tidak! Dan aku tidak peduli siapa dirimu. Lepaskan saya. Kau tahu siapa saya?" Balas Nadiya juga menggertaknya.


"Ya...ya ..ya aku tahu siapa anda Nyonya...mana mungkin aku tidak tahu."


"Apa maumu?" Tanya Nadiya marah karena dia disekap tanpa sebab yang jelas, dan siapa mereka?


"Bukankah seharusnya saya yang bertanya kepada anda? Kenapa anda mengikuti saya? Kita belum pernah bertemu. Tapi anda sudah mengikuti saya dua kali. Pertama dipasar dan kedua kalinya hari ini. Hahahaha...."


"Aku pikir kau adalah ....." Nadiya tidak mengatakan kalau dia mirip mantan suaminya.


Kenapa juga aku harus mengatakanya? Untuk apa?


"Kau adalah temanku..." Kata Nadiya masih dengan mata terikat sehingga dia tidak bisa melihat wajah orang yang menyekapnya yang wajahnya sangat mirip dengan Ardy. Namun ternyata itu bukan suara Ardy. Suara mereka berbeda. Sekarang Nadiya yakin bahwa itu buka Ardy.


"Teman?....ya mungkin aku adalah salah satu dari temanmu. Dan karena wajah kami mirip makanya itu membawa keberuntungan bagiku dua kali."


"Maksudmu...."


"Maksudku adalah...berapa nomor suamimu?"


"Tidak akan kuberi tahu."


"Baiklah maka kau akan menginap disini." Kata Pria berjaket itu.


"Polisi akan membebaskanku."


"Ya. Itu jika mereka tahu anda ada disini? Jika mereka tidak tahu dimana anda maka bagaimana mereka akan menolong anda."


"Prasetyo pasti akan membebaskanku dari sini."


"hahaha.... apakah dia tahu jika Anda ada di sini nyonya Nadiya?"


Orang berjaket kulit itu kemudian tertawa terbahak-bahak karena kebodohan Nadiya.


Sementara Nadiya diam saja dan yang dikatakan Pria berjaket itu benar. Prasetyo tidak tahu jika sekarang dia sedang menjadi tawanan.


Setelah Nadiya berpikir akhirnya dia memberikan nomor ponsel Prasetyo kepada pria berjaket itu.


"Lebih baik aku berikan nomor ponselnya aku juga tidak ingin menginap di sini kurang ajar mereka malah menawanku." Gumam Nadiya berbisik.


"Apakah Anda mengatakan sesuatu nyonya Prasetyo?"


"Tidak!"


"Silahkan tulis di sini nomor suamimu, Aku akan segera menghubunginya dan dia bisa menjemputmu kemari." Perintah pria berjaket itu.


123456789


Kemudian pria berjaket itupun menelpon Prasetyo yang saat itu sedang kebingungan mencari Nadiya yang tidak ditemukan di pesta.


"Halo apakah ini Tuan Prasetyo?"


"Ya, ini dengan siapa?"


"Tidak usah banyak bertanya, kalau kau ingin istrimu selamat cepatlah pergi ke alamat ini jangan bawa polisi dan siapkan sejumlah uang satu miliar."


"Bagaimana aku bisa percaya jika istriku bersamamu. Apa kau sedang menipuku atau memeras ku?"


"Hahaha... apakah kau lihat istrimu ada disampingmu saat ini?" Kata lelaki berjaket itu.


Kemudian Prasetya berfikir Iya ke mana dia? Apakah dia keluar dari ruangan ini dan seseorang menculiknya? Dalam hati dia membatin.


"Aku ingin mendengar suaranya Jika benar istriku ada bersamamu maka aku akan menyiapkan uang seperti yang kau minta." Kata Prasetyo yang khawatir jika benar Nadiya saat ini ada ditangan para penjahat.


"Pras tolong aku.... aku ditawan oleh mereka... cepatlah ke sini aku sudah tidak tahan disini.... kepalaku pusing." Kata Nadiya sambil menangis karena menyesali perbuatanya.


"Kurang ajar! Cepat lepaskan istriku."


"Semudah itu Tuan Prasetyo. Sabar, jika ada uang maka semuanya akan baik-baik saja, benar begitu bukan. Kita akan melakukan barter! Aku tunggu setengah jam, kau kesini lah, siapkan uang itu dan aku akan melepaskan istrimu. Kami bahkan tidak menyentuhnya. Istrimu baik-baik saja. Tapi jika berusaha menipuku, maka kau tidak akan melihatnya selamanya. Karena dia akan bersenang-senang bersama kami." Kata penjahat itu.


"Aku akan mengirim alamatnya melalui SMS jika anak buah ku melihat dan mencurigai bahwa kau membawa teman atau polisi maka kau tidak akan melihat istrimu lagi." Ancam penjahat itu.


Kemudian Prasetya menutup teleponnya dan dia segera menghidupkan mesin mobilnya keluar dari tempat parkir dan setelah itu dia langsung menuju kantornya. Untung dia saat ini membawa kunci ganda kantornya dan dia langsung membuka brankas dan disitu ada uang tunai sejumlah yang diminta oleh penjahat itu.


Untung dia menyimpan uang tunai untuk kas di kantor sehingga dia tidak perlu ke bank malam-malam begini juga tidak ada bank yang akan buka.


Akhirnya Prasetyo memasukkan sejumlah uang itu ke dalam koper kecil dan setelah itu membawanya kepada alamat yang dikirim oleh penjahat itu melalui SMS.

__ADS_1


Prasetyo kemudian mencari gudang dimana dia ditahan karena disitu terdapat banyak gudang dan dia tidak tahu di gudang mana Nadiya ditahan saat ini.


drt drt drt


Handphone Prasetya berbunyi kemudian dengan cepat ia mengangkatnya.


"Letakkan uangnya di tempatmu berdiri saat ini aku sedang mengawasimu, anak buah ku akan mengambil uangmu dan kau bisa membawa pulang istrimu."


"Cepat letakkan uangmu! Aku sedang mengawasimu, anak buah ku akan mengambil uang itu dan saat kau menoleh kau akan melihat istrimu sudah kami bebaskan."


Prasetya kemudian meletakkan koper itu dan seseorang menaiki motor langsung mengambil uang itu sehingga Prasetyo tidak bisa melihat siapakah orang itu.


Dan saat Prasetyo menoleh Nadiya sudah ada di belakangnya dan dalam kondisi mata yang tertutup dan tangan terikat.


"Pras......" Nadiya berteriak.


Prasetyo langsung berlari mendekatinya dan memeluknya, kemudian dia membuka kain yang menutupi matanya juga ikatan di tangannya.


Nadiya kemudian menangis dalam pelukan Prasetyo dan menyesali apa yang sudah dilakukannya.


Hanya demi rasa penasarannya tentang sosok yang mirip dengan mantan suaminya dia akhirnya harus membuat Prasetyo kehilangan sejumlah uang dalam 1 malam.


"Kenapa kamu bisa sampai bertemu dengan orang jahat itu Nadiya? Bukankah kamu ada di pesta bersamaku?" Tanya Prasetyo.


Nadiya tidak berani mengatakan kepada Prasetyo bahwa dia mengikuti orang tidak dikenal karena itu sangat konyol dan Prasetyo pasti akan marah kepadanya karena dia keluar dari pesta tanpa memberitahunya apalagi mengikuti orang yang wajahnya mirip dengan Ardy. Itu akan sangat menyakitinya.


Nadiya kemudian menetes kan airmata dari kedua sudut matanya. Prasetyo dengan penuh kasih sayang menghapus air mata istrinya. Dan memeluknya.



Aku tidak boleh jujur kepadanya atau aku akan malu dan tidak bisa menatap matanya setelah malam ini.


"aku tadi aku...."


"Sudah Nadiya, nggak papa jika kau tidak bisa bercerita kepadaku, maka sudah nanti saja yang penting saat ini kamu sudah selamat dan ayo kita pulang! Kita langsung pulang ke rumah saja tidak usah balik lagi ke pesta itu."


Nadiya kemudian mengangguk dan air matanya menetes melihat kesabaran Prasetyo. Airmatanya menetes semakin deras dan tak terbendung lagi.


Aku sangat bersalah kepadanya tapi aku juga tidak bisa mengatakan kenapa aku sampai bertemu dengan pria misterius.


Dua kali aku mengikutinya dan dua kali pula Prasetyo menyelamatkanku.


Semoga aku tidak menemui pria itu lagi.


"Ayo kita masuk ke dalam mobil Nadiya!" Ajak Prasetyo.


Nadiya kemudian masuk ke dalam mobil dan dia diam menatap lurus ke depan sambil melamun.


"Sudah jangan melamun, yang penting kamu tidak diapa-apain kan sama penjahat itu, aku sangat khawatir takut kau kenapa kenapa."


"Salah satu anak buahnya mengenaliku, kemudian dia hanya menginginkan tebusan darimu Dan dia menutup mata ku, sehingga aku tidak bisa melihat siapakah dia yang sebenarnya."


"Ya sudah tidak apa-apa, kita tidak perlu berurusan dengan mereka lagi yang sudah terjadi biarlah terjadi, tidak usah disesali lagi dan tidak perlu di ingat ingat kembali." kata Prasetyo.


Kemudian Nadia mengangguk dan tersenyum kepada Prasetyo dan perlahan-lahan Nadiya menyandarkan kepalanya di bahu Prasetyo.


"Apakah aku mengganggumu menyetir?"


"Tidak Nadiya, aku senang kau melakukan ini."


"Sandarkan di bahuku kau juga boleh tidur dalam perjalanan kita pulang."


" O ya Nadiya apakah kau sudah menerima surat dari dokter itu? Aku lupa menanyakannya padamu."


"oh iya aku menerimanya, tapi aku belum membukanya aku masih menyimpannya."


"Ya sudah besok saja kita membukanya."


"Iya baiklah." Kata Nadiya.


"Pras jangan ceritakan apa yang baru saja terjadi kepada Mami, aku tidak ingin Mami menjadi khawatir dan Mami pasti akan bertanya banyak hal kepada kita.."


"Ya, yang kau katakan itu benar Nadiya, lebih baik Mami tidak mengetahuinya, toh kamu sudah pulang dengan selamat."


"Mami akan khawatir jika dikasih tahu aku baru saja menjadi tawanan, dan kau kehilangan uang satu miliar."


"lain kali kau tidak boleh pergi sendirian Nadiya kau harus selalu disisiku atau jika kau ingin pergi sendiri kau harus membawa bodyguard."


"Ya baiklah."


Hai, Kak! 😀😀😀


Terimakasih atas dukungan dari kalian pembaca setia dan untuk kalian yang sudah Fav, memberikan Like dan juga meninggalkan komentar.


Tanpa dukungan dari kalian apalah arti dari karya ini.....


Dan Author mengucapkan maaf pada kalian semua jika dalam penulisannya masih banyak kesalahan dan kekurangan, juga cerita dan episode yang akan lumayan panjang dan kadang membosankan.

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih dan salam sayang dari Author 😘😍😍


__ADS_2