
Prasetyo membukakan pintu untuk Nadiya. Nadiya dengan cepat masuk kedalam mobil dan duduk dengan nyaman. Disusul oleh Prasetyo, kemudian dia langsung menyalakan mobil dan melaju dengan pelan.
"Sekarang kita akan kemana?" Kata Prasetyo lebih bersahabat dan tidak bernada kaku.
"Kerumah sakit."
Satu jam kemudian mereka telah sampai dirumah sakit. Dan Nadiya langsung masuk kedalam kamar putranya karena kebetulan Ardy sedang keluar entah kemana.
"Mami......." Regan langsung memanggil maminya begitu melihat Nadiya datang dan Regan sudah bisa duduk sambil sandaran. Keadaan Regan sudah lebih baik saat ini.
"Iya sayang. Mami kangen sekali sama kamu sayang....." Kata Nadiya sambil mencium keningnya dan memeluknya dengan pelan dan hati-hati.
"Papi sedang bertemu dokter....." Kata Regan polos.
"Iya sayang.....Regan sudah makan siang belum?" Tanya Nadiya sambil melihat piring yang terletak disampingnya masih utuh sepertinya Regan belum makan.
"Belum...." Kata Regan sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, kalau Regan belum makan. Sekarang makan dulu ya biar mami yang suapin...."
"Iya mami......" Regan mengangguk senang karena akan disuapi makan oleh maminya.
Sementara dari jauh Prasetyo terus mengamati perubahan sikap Nadiya saat sedang bersama putranya. Wanita bertopengkah dia? gumam Prasetyo. Saat ini karakter Nadiya persis seperti yang diceritakan Tuan Alex. Tidak seperti biasanya kaku dan seperti gunung es. Senyum menghiasi wajah cantiknya saat berbicara pada putranya.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu dan datang membawa selembar kertas dari dokter.
Ceklek!
Matanya langsung melihat Regan dan menatap dua orang yang bersamanya. Yang satu adalah istrinya dan yang satu lagi? Pasti bodyguard mesumnya, siapa lagi? Gumamnya. Kemudian Ardy duduk disamping Prasetyo dan tidak menegur Nadiya.
Ardy terus mengamati Nadiya yang sedang menyuapi putranya dari tempatnya duduk. Ardy sebenarnya ingin berbicara pada Nadiya tentang siapa yang akan menjaga Regan setelah kejadian ini, tapi dia tidak ingin membuat keributan didepan putranya Regan. Apalagi Regan sedang makan dengan sangat lahap dan terus bercerita tentang imajinasinya pada Ibunya. Pemandangan itu mengingatkan pada Nadiya yang dia rindukan, bukan Penyihir yang dingin dan berbuat sesuka hatinya.
Setelah selesai menyuapi Regan maka Nadiya merapikan piring bekas makanya dan menoleh kesofa dimana Ardy duduk disana. Jantungnya berdegup kencang saat matanya bertemu dengan tatapan Ardy. Tapi kemudian Nadiya mengalihkan pandangannya pada Regan, karena diapun tidak ingin membuat keributan didepan putranya.
Suasana menjadi hening didalam ruangan kamar itu karena Regan sedang istirahat dan tertidur pulas. Mengetahui putranya sedang tidur, Ardy berjalan mendekati Nadiya dan menarik tanganya kemudian membawanya keluar dari ruangan itu. Prasetyo yang melihat kejadian itu langsung berdiri akan menyelamatkan Nadiya. Tapi Nadiya memberi isyarat untuk duduk kembali dan menjaga putranya Regan. Prasetyo pun duduk kembali sambil sudut matanya mengawasi Ardy yang menarik lengan Nadiya dengan sedikit kasar.
__ADS_1
"Ikutlah denganku kita perlu bicara." Kata Ardy saat mereka ada diluar kamar Regan.
"Lepaskan tanganku! Aku bisa jalan sendiri!" Hardik Nadiya sambil menarik tanganya dari cengkeraman Ardy.
Kemudian Nadiya berjalan dibelakang Ardy. Nadiya juga sedang memikirkan tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Jika dulu dia lari dan bersembunyi sekian lama. Tapi saat ini takdir mempertemukan mereka. Dan masalahnya tidak hanya itu saja. Siapa yang akan merawat Regan sekarang? Bibinya sudah tiada. Dan dia harus mengurus perusahaan papinya yang sedang bermasalah akibat ulah Joan dan Karina serta ibu tirinya, Sofia.
Tidak mungkin dia mengajak Regan bersamanya setiap hari. Dan jikapun harus memperkerjakan baby sitter butuh waktu lama untuk adaptasi dan itupun jika Regan mau dan cocok dengan baby sitternya. Nadiya berjalan sambil terus berfikir apa yang sebaiknya dia lakukan terutama agar pekerjaanya tidak terganggu dan Regan ada yang mengasuhnya.
Ardy berjalan keparkiran mobil ditaman bersebelahan dengan rumah sakit. Kebetulan dia parkir mobilnya dibawah pohon yang rindang. Sehingga saat siang hari pun tidak kepanasan akibat terik yang menyengat.
Ardy membukakan pintu untuk Nadiya dan menyuruhnya masuk kedalam, kemudian menyusul dia juga masuk kedalam dan menyalakan mobil agar tidak panas saat berada didalamnya. Ardy sedikit membuka jendelanya agar ada sirkulasi udara didalam mobil.
Hening sesaat......
Kemudian Ardy mengatakan sambil menatap tajam pada wajah Nadiya dan mengatakan apa yang akan dia lakukan pada Regan setelah pulang dari rumah sakit.
"Aku akan membawanya bersamaku. Biarkan dia tinggal denganku."
Nadiya diam sesaat.
Kemudian Ardy meneruskan perkataannya.
Nadiya masih diam.
Suasana menjadi hening.
Kamu boleh datang kapanpun sesuka hatimu. Tapi aku tidak ingin dia tinggal bersamamu. Nadiya mengulangi perkataan Ardy yang terdengar Egois. Dari caranya berbicara Nadiya tahu jika musibah kecelakaan yang terjadi pada Regan akan dijadikan alasan untuk memutar balikan fakta. Dan akan memojokkan Nadiya dan menganggap ini adalah kelalaianya.
Dan Nadiya tahu jika hal seperti ini dibawa keranah hukum untuk memperebutkan hak asuh anak, maka hal itu hanya akan merugikan posisi Nadiya. Dan Nadiya tahu jika dia meributkan hak asuh anak maka yang paling menderita adalah putranya sendiri. Dan dia tidak ingin hal itu terjadi dan melukai perasaan putra kesayangannya. Sekali lagi dia akan mengorbankan perasaanya demi kebahagiaan putranya.
Nadiya berpikir apakah dia akan keberatan atau tidak dengan permintaan Ardy yang akan merawat Regan mengingat posisi Nadiya yang tidak diuntungkan saat ini untuk berdebat.
Jika Nadiya tidak keberatan maka semuanya akan menjadi lebih mudah tanpa ada keributan.
Setelah Nadiya pikir secara mendalam maka diapun akhirnya mengambil kesimpulan bahwa saat ini dia tidak bisa merawat Regan dengan baik. Apalagi jika dia harus keluar kota selama beberapa hari dan bahkan kadang sampai satu Minggu.
__ADS_1
Kepada siapa dia harus menitipkan Regan jika dia sedang pergi keluar kota. Ayahnya sedang sakit dan dirawat dirumah sakit. Dan dia adalah pemimpin perusahaan besar dan mengurus ribuan karyawan. Tidak mudah baginya membagi waktu antara pekerjaan dan waktu untuk putranya.
Sedangkan saat ini putranya sedang dalam masa pemulihan. Harus ada yang mendampinginya selama 24 jam dan mengajaknya berbicara juga bermain.
"Baiklah. Regan boleh bersamamu." Setelah perpikir secara dewasa dan demi kebaikan Regan maka Nadiya membiarkan Ardy membawanya.
"Yah begitu lebih baik." Jawab Ardy dengan wajah sumringah.
"Jadi sampai disini masalah selesai. Aku tidak mau ada penyekapan dan penculikan lagi. Aku ingin semua masalah kita diselesaikan baik-baik dan bukan lari dari masalah." Kata Ardy dan sedikit menyindir Nadiya dengan menyinggung soal penyekapan yang dilakukan oleh anak buahnya.
"Siapa juga yang lari dari masalah." Nadiya membuang muka saat Ardy menyinggung soal penyekapan yang memalukan itu. Apalagi saat itu Ardy hanya menggunakan pakaian dalam karena baru saja selesai mandi.
"Hanya dia yang peka yang tahu bahwa lari dari masalah hanya dilakukan oleh anak ababil." Jawab Ardy yang tatapanya seperti menelanjangi Nadiya. Nadiya tetap membuang mukanya dan tidak menatapnya sama sekali.
"Apa? Jadi kamu menyebut aku labil. Dan tidak dewasa, gitu?" Nadiya membalikan wajahnya dan mereka sekali lagi bertatapan tanpa sengaja. Nadiya dengan cepat mengalihkan wajahnya dari tatapan tajam mata Ardy.
"Aku tidak mengatakanya. Aku hanya bilang masalah tidak akan selesai jika tidak duduk bersama dan berbicara. Bukan bersembunyi dan melarikan diri." Jawab Ardy dan matanya tetap menatap dekat wajah yang penuh dengan riasan yang begitu sempurna. Sangat elegan sebenarnya seandainya Ardy mau mengakui rasa kagumnya pada kecantikan Nadiya.
"Hhhh aku tahu kemana arah pembicaraanmu itu." Jawab Nadiya ketus dan kesal harus duduk berdua didalam mobil bersama orang yang sudah menyakiti hatinya.
"Bagus jika kau tahu. Aku tidak usah repot-repot menjelaskanya padamu."
"Ohh jadi kamu masih mengira bahwa aku adalah penyebab dari semua ini?" Entah kenapa tiba-tiba suara Nadiya menjadi sangat tinggi dan membuat Ardy kaget.
"Seandainya lebih terbuka maka pasti ada jalan yang lebih baik." Jawab Ardy lebih tenang karena kaget saat Nadiya meninggikan suaranya.
"Sudahlah! Untuk apa membicarakan sesuatu yang telah berlalu. Itu hanya akan membuka luka lama kembali." Nadiya ingin segera pergi dari hadapannya. Tapi tiba-tiba tangan Ardy memegang punggung tanganya yang dia sandarkan pada pahanya yang terbuka karena roknya pendek.
"Bagaimana kabarmu sekarang?" Katanya dengan lebih lunak dan tidak dengan nada menyalahkan.
"Seperti yang kamu lihat. Aku bukan Nadiya yang kamu kenal dulu. Aku sudah berubah. Dan aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang." Jawab Nadiya sambil menarik tanganya dari pegangan Ardy.
"Bagus. Kalau kamu bahagia. Aku juga senang mendengarnya."
"Bagaimana dengan dirimu sendiri? Apakah kamu bahagia dengan hidupmu saat ini?" Nadiya balik bertanya spontan. Dan dia sangat menyesali pertanyaan yang barusan terlontar begitu saja dari mulutnya tanpa disadarinya.
__ADS_1
"Tidak!" Jawab Ardy singkat dan jelas.
Susanana menjadi hening.