
Vano datang ke warung Sasha dan akan membeli sesuatu. Dia lapar sekali malam ini, karena tidak ada penjual yang lewat sama sekali. Dan dia dari kemarin juga sibuk sehingga tidak bertemu Sasha.
Namun dia kaget, saat yang melayaninya bukan Sasha, melainkan artnya.
"Dimana Sasha nya mbak?"
"Ibu Sashanya lagi didalam."
"Ohh,"
Vano menganggukkan kepalanya tapi matanya seakan ingin menerobos dinding pembatas itu dan ingin melihat Sasha.
Sampai beberapa lama dia disana, Sasha tetap tidak keluar akhirnya Vano pulang kerumah kontrakannya.
Dia kecewa karena tidak bisa bertemu dan melihat Sasha.
***
Hari ini Nadiya sangat sibuk mengadakan pesta untuk Eiden dan Edsel. Dia sudah mengatur semuanya dibantu oleh orang dikantornya.
Acaranya sengaja diadakan dirumahnya, dia juga mengundang Jeslin.
"Pa, Saya akan kerumah Nadiya. Putra kembarnya ulang tahun, nanti mungkin akan pulang agak terlambat."
Vano yang baru saja sampai dan mendengar kata Nadiya langsung terpikir mungkin Sasha juga ada disana.
"Vano ikut Tante?" Jeslin nampak terkejut karena untuk pertama kalinya Vano memanggilnya dengan lebih hangat.
Selama ini mereka seperti orang asing dan jarang bicara.
"Ohh, ya sudah, ayo jika kau mau ikut."
"Tumben kau mau ikut?" Kata Papanya.
"Iya pa, Vano penasaran dengan anak kabar Tante Nadiya. Lagian ada Regan juga disana. Sudah lama Vano tidak bertemu dengannya." Kata Vano.
Regan memang pulang satu Minggu karena ingin hadir diulang tahun adik kembarnya. Dan bukan hanya itu saja, bagaimanapun dia kangen dengan Sasha karena selama ini mereka seperti adik kakak.
Apalagi setelah Regan tahu mereka satu ayah, maka Regan ingin menemui Sasha tanpa sepengetahuan ibunya.
Didalam mobil Vano tidak banyak bicara, dia merasa canggung dengan tantenya, karena sejak pernikahan papanya memang Vano tidak akrab dan jarang menyapanya.
__ADS_1
"Sudah sampai, turunlah." Kata Jeslin.
Vano lalu turun tanpa menunggunya, dia lalu masuk saat dipintu dilihatnya Regan sedang berdiri sendirian.
Regan juga senang bertemu dengan Vano, karena Regan ingin tahu kabar tentang Sasha.
"Gimana kabar lo?"
"Gue baik. Lo sendiri gimana? Masih betah disana?"
Regan tersenyum tipis.
"Duduklah disini bro!"
Mereka lalu duduk dan ngobrol tentang banyak hal.
"Lo tahu dimana Sasha?" Tanya Regan tiba-tiba kepada Vano. Karena Regan belum sempat diberi tahu oleh Prasetyo jika dia sudah bertemu dengan Sasha. Regan baru saja sampai.
"Ya, Gue bahkan mengontrak rumah didekatnya agar bisa terus mengawasinya?"
"Jadi kalian sudah bertemu?"
"Ya, hanya saja, Sasha menghindar dan tidak mau bertemu denganku."
"Kue ini untuk mami dan....ini untuk Tante...." Kata Edsel yang memberikan potongan kue pertamanya kepada Nadiya setelah itu kepada Sandra.
Semua orang bertepuk tangan dan Nadiya kaget saat Sandra mendapat kue dari kedua anaknya.
"Selama mami tidak ada, Tante Sandra yang merawat kami. Jadi kue ini untuk Tante, terimakasih Tante...."
Nadiya kaget anaknya bisa sedewasa itu. Siapa uang mengajarinya?
Tentu saja ada yang mengajari mereka, jika tidak mana mungkin mereka bisa berbicara seperti itu.
Prasetyo senang melihat Sandra bahagia. Prasetyolah yang mengajari Edsel dan juga Eiden untuk berterima kasih kepada Sandra.
Sandra juga sangat bahagia karena ternyata dia diundang di acara ulang tahun anak yang pernah dikandungnya itu.
Nadiya terlihat kecewa dan merasa was-was, melihat tingkah laku Sandra.
Acara sudah selesai dan Sandra menginap dirumah mereka, rencananya esok pagi dia baru akan pulang karena saat ini haru sudah larut malam.
__ADS_1
Sandra keluar untuk mengambil minuman, diruang makan nampak gelap karena semua orang sudah tertidur.
Tiba-tiba Prasetyo juga merasa haus dan dia menuju ke dapur juga yang bersebelahan dengan meja makan untuk mengambil air minum.
"Siapa?" Tanya Prasetyo.
"Nadiya?"
"Bukan, saya Sandra."
"Ohh Sandra,"
"Saya haus, jadi saya kedapur untuk mengambil minuman."
"Ohh iya, silahkan."
"Terimakasih pak, bapak sudah mengundang saya dihati spesial Edsel dan Eiden."
"Ya, sama-sama."
"Praasss!" Tiba-tiba Nadiya memanggilnya.
"Kamu dimana?" Tanya Nadiya dari lantai tiga.
Mendengar suara Nadiya, Sandra langsung lari kekamarnya yang berada dilantai dua. Dia tidur diruang tamu.
Nadiya lalu turun dan melihat Prasetyo sedang minum.
"Kau disini? Kenapa lampunya tidak dinyalakan?"
"Ohh, tidak perlu. Aku hanya haus, ayo kita naik lagi." Prasetyo lalu mengajak Nadiya naik keatas.
"Aku tidak akan menggendongmu, aku sudah tidak kuat lagi,"
"Aku juga bukan anak kecil lagi yang harus kau gendong." Kata Nadiya kesal.
Tiba-tiba Prasetyo sudah mengangkatnya dan dia menggendongnya hingga kekamarnya.
Nadiya tersenyum karena ternyata Prasetyo masih kuat menggendongnya.
"Hai! apakah berat badanmu turun?"
__ADS_1
"Tentu saja! Aku berolahraga setiap hari." Gurau Nadiya lalu mencubit hidung Prasetyo.
Mereka lalu masuk kamar dan menutup pintunya.