
Tidak terjadi apapun, meskipun setiap melihat surat kabar dipagi hari, Nadiya selalu berdebar-debar.
Dia masih saja khawatir dengan orang asing yang mengetahui rahasianya. Sekali saja rahasia itu terbongkar, maka kantornya, rumahnya dan sekolah anaknya akan dipenuhi wartawan.
"Ayo kita sarapan bersama. Hari ini kita akan berekreasi bersama." Kata Prasetyo sambil menggandeng Edsel dan juga Eiden.
"Asyyiikkk!" Teriak mereka bersamaan.
"Baiklah, sekarang kalian makan, biar mami ambilkan lauknya. Kalian makan sendiri ya," Nadiya lalu mengambil nasi dan lauk untuk mereka sarapan.
"Aku mau minum susu aja."
"Tidak. Hari ini kalian harus sarapan. Perjalanan kesana lumayan jauh. Jadi sebaiknya kalian makan dulu."
Akhirnya mereka menurut tanpa banyak bertanya lagi. Dengan cepat mereka menghabiskan makannya dan langsung menuju kemobil.
"Papi....ayo...." Teriak Edsel dan juga Eiden.
Nadiya dan Prasetyo berpandangan lalu tersenyum.
"Mereka sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk melihat-lihat binatang." Kata Nadiya
Prasetyo lalu bangun dan berpamitan pada Oma jika mereka akan pulang agak terlambat.
"Oma ikut saja ya?" Kata Nadiya yang merasa sedih harus meninggalkan Oma sendirian dirumah.
"Tidak, kalian saja. Oma dirumah saja."
"Baiklah, kami pergi dulu Oma."
Mereka lalu menuju kebun binatang, karena Edsel dan Eiden ingin melihat binatang dan berjalan-jalan dialam bebas.
Sementara Oma tersenyum bahagia karena bisa leluasa seharian mengunjungi Sasha dan bayinya.
Edsel dan Eiden sudah besar, dan sekarang Oma sering kangen pada cicitnya dari Sasha.
"Oma mau kemana?" Tanya bibi Parti.
"Oma mau keluar, dan nanti siang tidak usah memasak. Oma juga akan makan diluar dan akan pulang sore hari."
Oma lalu keluar dan naik taksi keapartemen Sasha. Dia sengaja tidak ikut karena sudah lama tidak pergi menemui Sasha, dia sudah seperti cucu perempuan baginya, sehingga dia tetap menyayanginya meskipun harus seperti main petak umpet dengan Nadiya, menantunya.
"Oma? Oma kemari dengan siapa?"
__ADS_1
"Oma datang sendiri. Semua orang sedang pergi ke kebun binatang, Edsel dan Eiden ingin pergi kesana."
"Mari masuk Oma, Aaron juga sedang main. Aaron....lihat siapa yang datang?" Kata Sasha lalu mendekati anaknya."
Aaron berjalan tertatih sambil memberikan mainan untuk Oma buyutnya. Dia tertawa saat melihat Oma buyutnya.
"Aku dengar suamimu tiap hari pulang larut malam, kenapa dia pulang selarut itu?"
"Dia bekerja lembur Oma."
"Apakah tiap hari harus lembur? Jika dia butuh pekerjaan lain, bekerjalah dikantor Prasetyo."
"Sudah pernah Sasha bicarakan, tapi dia terlalu malu untuk bekerja di perusahaan Om Pras."
"Kenapa harus malu jika memang pekerjaan yang sekarang dia bekerja, membuatnya kelelahan. Kau bahkan tiap hari harus begadang menunggunya pulang."
Sasha lalu tersenyum dan senang karena Oma sangat perhatian padanya. Tapi dia baru saja berumahtangga, dan dia menganggap ini adalah ujian pertama, sehingga dia harus sabar.
Sementara Prasetyo dan Nadiya sudah sampai di kebun binatang. Mereka berjalan disepanjang jalan yang disampingnya banyak jenis binatang yang dilindungi.
"Jangan memberi makan sembarangan! Kau baca tulisan disana? Tidak boleh membeti makan sembarangan." Kata Nadiya menasehati Edsel dan juga Eiden.
"Iya mami."
Mereka menghabiskan waktu disana hingga sore hari. Sepanjang jalan, Nadiya merasa seperti ada yang terus memperhatikan gerak-geriknya.
Nadiya lalu menoleh ke sekeliling dan tidak melihat siapapun yang mencurigakan. Apakah ini hanya perasaanya saja.
Orang asing itu sepertinya membuatnya tidak tenang setiap kali berada diluar rumah.
"Kau mencari sesuatu?" Tanya Prasetyo saat dilihatnya Nadiya menoleh kesana kemari.
"Tidak!" Kata Nadiya lalu mengajak mereka pulang karena dia merasa lelah dan juga khawatir pada keselamatan Edsel dan juga Eiden.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Lain kali kita datang lagi." Kata Prasetyo saat dilihatnya Edsel dan juga Eiden cemberut bahkan tidak terlihat lelah sama sekali.
Sampainya dirumah, Oma ternyata belum pulang. Karena Oma berfikir jika Nadiya dan Prasetyo akan pulang malam.
"Bi....Oma kemana?" Tanya Nadiya.
Nadiya berjalan kedapur untuk mengambil minuman untuk Prasetyo.
"Oma pergi dari tadi pagi, tapi belum pulang." kata bibinya.
__ADS_1
"Pras, sebaiknya kau telpon Oma, Nadiya khawatir."
"Baiklah," Prasetyo lalu menelpon maminya.
"Mami sedang diperjalanan pulang." Kata Prasetyo setelah berhasil menghubungi maminya.
"Kemana mami pergi?" tanya Nadiya. "Sekarang mami sering keluar, apakah mami punya teman baru?"
"Mungkin...." kata Prasetyo yang tahu jika maminya menemui Sasha di apartemennya.
Nadiya lalu naik kelantai tiga dan memandikan Edsel dan juga Eiden.
"Kalian mandi sama-sama saja. Mami akan buka airnya." Kata Nadiya.
"Iya mami." Edsel lalu masuk dan disusul oleh Eiden.
Nadiya lalu keluar dan menatap keluar dari jendela kamarnya.
Omanya turun dari taksi dan Nadiya merasa lega, karena ternyata Oma baik-baik saja.
Tiba-tiba Nadiya melihat seseorang naik motor dan nampak berhenti lama didepan gerbang rumahnya.
Dia sepertinya tidak ingin masuk kedalam. Dia berhenti agak jauh dan tidak melakukan aktivitas apapun.
"Mami! Kami sudahan!"
Nadiya lalu berlari kekamar mandi dan dengan telaten mengajak Edsel dan Eiden keluar dari kamar mandi.
"Hati-hati, keringkan dulu kaki kalian. Lantainya licin." Kata Nadiya lalu melihat keluar jendela lagi. Dan orang itu masih saja ada didepan rumahnya dengan motornya.
Dengan cepat Nadiya memakaikan baju untuk Edsel dan juga Eiden.
Nadiya lalu turun kebawah dan keluar untuk melihat orang yang mencurigakan itu. Namun begitu Nadiya keluar, orang itu lalu pergi dengan cepat.
Wajahnya tertutup helm, sehingga dia tidak bisa melihat dan mengenali orang itu.
"Kau berlari, siapa yang kau lihat?" Tanya Prasetyo saat dia lihat Nadiya berbalik tidak lama kemudian.
"Tidak ada. Aku pikir ada tamu yang mau datang."
"Apakah kau ada janji?"
"Ehh, ehm, tidak."
__ADS_1
Prasetyo lalu melihatnya dengan aneh. Nadiya lalu naik keatas lagi dan melihat dari jendela kamarnya.
Orang itu tidak kembali. Dia benar-benar sudah meninggalkan halaman rumahnya.