
Nadiya membuka surat kabar itu dan membaca judul dihalaman paling depan. Tentu saja akan ditulis dengan huruf tebal dan ukuran yang cukup besar.
Ini berita luar biasa dan bahkan koran akan laris dalam satu hari. Berita seperti ini memang mempunyai daya jual dan bisa dikomersilkan.
Apalagi jika bukan tentang gosip dan aib yang akan menggemparkan publik. Dengan nama keluarganya yang dikenal banyak orang, dan nama baik juga keluarga yang harmonis saat ini, tentu jika ada sesuatu yang dirahasiakan, maka publik akan semakin penasaran.
Siapa yang sudah menjual berita murahan seperti ini?
Wajah Nadiya merah padam karena marah yang teramat sangat. Rahasia yang dia tutupi selama ini, akhirnya sekarang tersebar seantero negeri.
Memang bukan masalah jika dia hanya orang biasa. Namun masalahnya semua orang mengenal namanya dan dia dianggap wanita yang sempurna selama ini dalam pandangan publik.
Wajah yang cantik, suami yang muda dan tampan, harta dan bisnis yang besar. Dia begitu dianggap sebagai wanita yang beruntung dan tiada cela.
Begitu melihat berita ini, maka publik langsung gempar dan bahkan saat ini rumahnya sudah ramai dengan para wartawan pencari berita.
Nadiya tidak peduli jika dunia akan gelar dengan berita ini, tapi yang dia khawatirkan adalah nama baik Prasetyo, dan juga ibu Monic yang selama ini tidak tahu tentang kenyataan ini.
Hari ini Nadiya tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika dia mengetahui dari surat kabar, dan bukan dari dirinya dan juga Prasetyo.
Ada penyesalan dalam dirinya karena hingga saat ini dia merahasiakan kehamilanya. Dan sekarang sudah terlambat untuk mengatakanya pada ibu mertuanya, karena berita itu sudah tersebar.
Nadiya duduk dimeja makan dengan mengigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Sementara ibu Monic bangun karena terdengar suara berisik dari luar gerbang rumahnya. Diapun membuka jendelanya dan langsung turun kebawah untuk menanyakan kenapa mereka berkumpul dirumahnya.
Ibu Monic keluar tanpa melihat Nadiya yang sedang duduk diam dimeja makan dengan koran ditanganya.
"Pak, ada apa? Kenapa mereka kesini pagi-pagi seperti ini?" Tanya ibu Monic pada satpam dirumahnya.
"Itu nyonya, ada berita heboh dikoran." Terang satpam sambil menunjukan koran yang dia pegang.
Bahkan satpam dirumahnya juga tertarik dengan gosip majikannya, dia membacanya hingga mencarinya di internet.
"Berita apa maksudmu?" tanya ibu Monic sambil mengambil koran dari tangan satpam.
Ibu Monic membaca judul koran itu dan membawanya masuk kedalam. Wajahnya terlihat sangat shock, dia tidak menyangka jika Nadiya dan Prasetyo nekat melakukan tindakan seperti itu tanpa bertanya dulu padanya.
"Mereka benar-benar keterlaluan!" Ibu Monic sangat marah.
Dia lalu melempar koran yang dia pegang didepan Nadiya yang sedang duduk.
"Apa maksudnya ini? Jelaskan?!" Kata ibu Monic sambil menatap tajam wajah Nadiya.
"Apakah berita ini benar? Kenapa nama kalian bisa ada diberita gosip murahan seperti ini? Kalian keterlaluan!" Kata ibu Monic dan Nadiya diam saja karena merasa bersalah.
"Mana Prasetyo!? Dia harus menjelaskan semua ini!?" Ibu Monic terlihat sangat marah dan matanya memerah karena saking marahnya.
__ADS_1
Prasetyo turun dari lantai atas dan akan melihat apa yang terjadi dibawah. Dia mendengar keributan dan atas dan juga teriakan maminya. Dia bingung saat maminya marah-marah pada Nadiya yang terlihat diam saja tanpa berkata apapun.
"Kemari! Dan baca ini!!" Kata ibu Monic saat melihat Prasetyo.
Prasetyo lalu melihat berita besar dikoran dan menatap Nadiya dan juga ibu Monic.
"Apakah berita ini benar? Katakan jika ini hanya gosip! Katakan jika ini tidak benar dan cepat klarifikasi! Ini sangat buruk, apalagi Minggu ini banyak proyek yang sedang ditawarkan. Sebelum kau kehilangan banyak hal, cepat keluar dan katakan pada para wartawan itu. Ini berita bohong! Cepat, sebelum dimanfaat kan mereka untuk menjatuhkanmu! Kalian ini kelewatan!" Ibu Monic menarik Prasetyo keluar namun Prasetyo tidak bergeming.
"Apa yang harus diklarifikasi? Berita ini memang benar! Kami melakukannya!" Kata Prasetyo.
"Apa? Apa yang kau lakukan? Cepat katakan, keluar dan katakan ini berita bohong!" Kata ibu Monic.
"Kami menggunakan ibu pengganti untuk Edsel dan juga Eiden. Ini benar, dan bukan berita bohong." Kata Prasetyo dengan lemah.
"Apa!? Kalian benar-benar melakukanya? Kalian menggunakan rahim orang lain untuk Edsel dan juga Eiden? Kenapa kau melakukanya hah!? Kenapa tidak tanya dulu dan cari solusi yang lain? Kau tahu, cara seperti itu masih ditentang oleh sebagian orang? Kalian benar-benar membuatku marah! Mami tidak mau tahu, selesaikan masalah ini dan jangan sampai berdampak pada perusahaanmu. Sebentar lagi ada pemilihan CEO, atau orang lain akan menggeser posisimu! Mereka akan menggunakan ini untuk menggantikan posisimu, apakah kau tidak pikirkan itu sebelum melakukanya? Para pemegang saham akan menekanmu, tapi kau bahkan tidak peduli pada posisimu saat ini?"
Nadiya dan Prasetyo hanya diam saja. Mereka juga tahu, dampak dari tersebarnya berita ini pasti akan berdampak pada nama Prasetyo dan juga posisinya.
Para pemegang saham bisa menekan dirinya dan mengganti posisinya dengan orang lain selama berita ini tidak bisa ditangani dengan baik.
"Dan kau! Mami tidak menduga kau tega menyembunyikan masalah ini dari mami. Mami menganggapmu seperti putri mami sendiri. Tapi kau, bahkan telah membuat nama keluargaku menjadi tercoreng dan menjadi buah bibir mereka. Mami tidak menduga kau seperti ini. Lakukan sesuatu, aku tidak mau tahu jika sampai Prasetyo kehilangan posisinya, dan jika itu sampai terjadi maka itu karena salahmu."
Ibu Monic lalu pergi keatas dan masuk kekamarnya.
__ADS_1
Dia berdiri didekat jendela dan menelpon suaminya.