
Pagi harinya Sasha berpamitan pada Nadiya akan bertemu seseorang.
"Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Nadiya yang sedang menyiapkan sarapan untuk Prasetyo.
"Tidak usah Tante, Sasha pergi sekarang ya Tante..." Kata Sasha kepada Nadiya.
"Hati-hati...." kata Nadiya pada Sasha yang sudah pergi dari ruang tengah.
Regan baru saja turun dari tangga dan rambutnya masih acak-acakan.
"Kemana dia pagi-pagi mi?" Tanya Regan pada Nadiya.
"Ada urusan katanya." Kata Nadiya lalu mengambil segelas susu yang sudah disiapkan bibi Parti untuk Regan.
"Minumlah." kata Nadiya.
"Aku lagi ngga mau minum susu mami." Kata Regan beralasan. Dia ingin langsung sarapan saja.
"Ini sudah terlanjur dibikinin gimana? Siapa yang mau minum susu ini?"
"Aku yang akan meminumnya." Kata Prasetyo dari tangga.
"Om!" Regan menoleh kearah suara itu." Pagi om." Sapa Regan.
"Pagi semua.....!" sapa Prasetyo pada orang-orang yang disayanginya.
"Kau mau minum susu?" Tanya Nadiya, karena biasanya Prasetyo pasti sarapan dulu. Dan akan minum susu saat malam hari akan tidur.
"Hari ini aku tidak ikut sarapan. Aku akan meminum susu saja. Apakah ada bekal untukku? Aku akan makan nanti dikantor." Kata Prasetyo sambil mengambil beberapa berkas dilemari buku.
"Aku akan menyiapkanya untukmu." Kata Nadiya sambil tersenyum.
Nadiya lalu mengambil termos nasi untuk membawakan Prasetyo sarapan.
"Ini...." kata Nadiya sambil menyerahkan termos nasi itu kepada Prasetyo, setelah dia meminum susu yang tidak diminum oleh Regan.
"Kau ada acara malam nanti?" Tanya Prasetyo kepada Regan.
"Tidak ada om."
"Kau mau ikut dengan om? Ini sangat menyenangkan." Kata Prasetyo sambil menaruh gelas kosong diatas meja.
__ADS_1
"Boleh juga om." Kata Regan lalu mulai sibuk dengan makanan diatas meja makan.
Dia sangat lapar rupanya.
Nadiya lalu mengantarkan Prasetyo hingga kedepan pintu.
"Aku akan pulang awal malam ini." Kata Prasetyo sambil mencium kening Nadiya.
"Baiklah, aku akan masak lebih awal." Kata Nadiya.
"Ok." Prasetyo lalu masuk kedalam mobilnya dan menaruh termos nasi didekatnya.
Nadiya melambaikan tangan padanya dan menatapnya hingga satpam membukakan pintu untuk majikannya.
Nadiya lalu masuk kedalam dan duduk bersama Regan.
"Kenapa kaki mami?" Tanya Regan saat melihat Nadiya berjalan sedikit pincang.
"Terpeleset dikamar Eiden."
"Apakah terpeleset karena ulah mereka berdua?" tanya Regan sambil melihat maminya. Dia sudah selesai sarapan. Dia makan sangat cepat.
Nadiya tersenyum pada putra pertamanya.
"Tidak. Mereka hanya anak-anak. Masa kenakalan mereka akan hilang sebentar lagi?"
"Tidak bisa begitu dong mi. Bagaimana jika kaki mami patah? Apakah mereka sulit dinasehati? Om Pras terlalu memanjakan mereka." Kata Regan kesal.
"Sudahlah, kau dulu juga nakal sama seperti mereka saat seusia mereka." Kata Nadiya sambil menatap wajah putranya.
"Ahk mami juga selalu membela mereka. Pantas saja mereka menjadi sangat nakal." Keluh Regan karena maminya juga tidak terima jika Edsel dan Eiden dibilang nakal.
"Mereka sebaiknya tinggal di asrama." kata Regan dan langsung dijawab oleh Omanya.
"Siapa yang akan tinggal diasrama?" Tanya Oma yang tiba-tiba muncul dari bawah.
"Pagi Oma! Dari mana Oma?"
"Kau pikir darimana? Oma berolahraga setiap hari agar bisa berumur panjang. Biar sehat dan bisa melihat kau punya momongan."
"Waahhhh oma memang hebat. Oma terlihat lebih muda dari usia Oma. Pasti itu karena Oma rajin berolahraga."
__ADS_1
"Ahk kau pandai merayu. Kau sudah dewasa sekarang. Tapi Oma tidak pernah melihat jalan dengan perempuan. Apakah kau tidak punya kekasih?" Tanya Oma pada Regan.
"Tadi kau bilang apa? Kau bilang akan membawa cucuku keasrama?"
"Ngga Oma. Regan hanya bercanda," kata Regan yang takut jika Omanya akan marah karena niat Regan tersebut.
"Kau akan menjauhkan kedua cucu kesayanganku di sisa usiaku ini?" Kata Omanya sambil mengambil minuman diatas meja.
"Ngga Oma. Mana berani Regan menjauhkan Oma dari Edsel dan juga Eiden."
"Mereka masih anak-anak, wajar jika mereka nakal. Kau dulu juga nakal seperti mereka. Kau hanya tidak ingat. Tanya pada mamimu?" tanya Oma pada Regan.
"Iya. Regan mau jalan keluar dulu," kata Regan yang sengaja menghindar dari Omanya.
"Udara pagi ini sangat menyegarkan!" kata Regan sambil berjalan keluar dari ruang tengah.
Nadiya hanya tersenyum melihat tingkah Regan.
"Apakah Prasetyo sudah berangkat?"tanya Oma pada Nadiya.
"Iya. Ngga sempat sarapan tadi. Dia sangat buru-buru dan hanya minum susu." Kata Nadiya sambil mengambilkan piring untuk ibu mertuanya.
"Pantas saja aku tidak melihatnya." kata Oma sambil menyantap sarapan yang sudah disediakan Nadiya.
"Kau ngga sarapan Nadiya?" tanya Oma.
"Nadiya keatas dulu Oma. Melihat apakah mereka sudah siap?"
"Apakah mereka sekolah hari ini?" tanya Oma pada Nadiya.
"Pagi Oma!" Sapa Edsel dan juga Eiden.
"Eh, mereka malah sudah turun," kata Nadiya yang tadinya akan naik tapi ngga jadi.
"Selamat pagi!" kata Nadiya kepada kedua putranya sambil memeluk mereka berdua.
"Mami udah sembuh?" tanya Eiden menatap mamanya dekat sekali.
"Sudah sayang." kata Nadiya sambil mengajak keduanya untuk duduk dimeja makan.
"Pagi Oma!" Sapa keduanya pada Omanya.
__ADS_1
"Pagi sayang!' kata Oma sambil mengelus kepala kedua cucu mereka.
Mereka adalah cucu yang paling dicintai oleh ibu Monic melebihi apapun didunia ini. Dia bahkan suka kesal dengan Regan yang suka memarahi kedua cucu kesayangannya itu.