
Pengawal Nadiya mendekatinya dan akan menghajar Ardy karena tidak mengijinkan Nadiya melihat putranya.
"Jangan!" Nadiya mencegahnya. "Biarkan saja. Dia hanya sedang marah. Aku tidak ingin putraku melihat keributan antara papi dan maminya. Antarkan saya pulang. Besok kita kesini lagi." Nadiya mencoba membuka pintu tapi ternyata masih dalam keadaan terkunci. Akhirnya Nadiya memutuskan untuk pulang dan menengok ayahnya.
Pengawal itu membuka pintu mobil untuk Nadiya dan mulai menjalankan mobilnya. Kemudian Nadiya pergi kerumah Bibi dan Wisnu untuk mengucapkan rasa turut berdukanya atas musibah yang menimpa mereka berdua.
"Sekarang kemana Bu?" Tanya pengawal yang duduk disamping Nadiya.
"Kita kemakam Wisnu dan bibi."
"Baiklah Bu."
Setelah sampai dimakam Wisnu, Nadiya menabur bunga dan menumpahkan kesedihannya karena kehilangan dirinya. Tak lupa dia juga mendoakan Wisnu agar damai disisiNya. Hal itu juga dia lakukan dimakam Bibi yang sudah menjaga Regan sejak masih didalam kandungan.
Kesedihan dan rasa kesepian menghancurkan hatinya. Dia merasa saat ini benar-benar hancur dan frustasi. Wisnu yang biasa menghiburnya dan juga Bibi yang sudah seperti ibunya sudah tiada. Dan alasan hidup lainya yang saat ini tidak ada disampingnya, yaitu putra kesayangannya.
Nadiya benar-benar merasa frustasi dan kehilangan alasan untuk bertahan. Akhirnya setelah satu jam berada diatas tanah yang masih merah itu pengawal Nadiya mendekatinya karena khawatir padanya. Dan mengajaknya pulang sekalian menengok Tuan Alex.
Beberapa jam kemudian Nadiya sudah sampai dirumah sakit.
Ceklek! Nadiya membuka pintu dan dia lihat ayahnya sedang asyik ngobrol dengan seseorang.
"Nah ini yang ditunggu sudah datang." Kata ayah Nadiya sumringah dan sepertinya kesehatannya makin membaik.
"Papa....maafin Nadiya baru datang karena Nadiya baru saja pulang dari luar kota."
"Iya papa tahu. Sekretaris kamu pernah kesini menengok papa, katanya kamu yang berpesan padanya." Kata Tuan Alex.
__ADS_1
Nadiya tersenyum dan memeluk papanya.
"Ini kenalkan Prasetyo. Anak dari sahabat papa yang tinggal diAmsterdam. Dia pengusaha sukses dan CEO PT Asia." Kata Tuan Alex yang sepertinya sudah menemukan calon yang cocok untuk Nadiya.
"Nadiya." Nadiya mengulurkan tangannya dan Prasetyo menjabatnya dengan erat dan kuat.
"Saya sudah banyak mendengar tentang kamu Nadiya. Ternyata apa yang dikatakan om tentang dirimu sangat menarik perhatianku. Kamu adalah wanita yang sangat smart." Kata Pras memuji Nadiya pada pertemuan mereka yang pertama kali.
"Terimakasih."
Ternyata Nadiya lebih cantik dan smart dari dugaan Prasetyo sehingga membuatnya tertarik untuk lebih mengenalnya secara mendalam.
"Ayo sana kalian jalan-jalan dan makan diluar papi mau istirahat." Kata Tuan Alex yang memberikan kesempatan untuk Prasetyo supaya lebih mengenal Nadiya.
Tuan Alex belum menjawab dan Prasetyo yang malah menjawabnya.
"Ayuk Nadiya kita jalan-jalan diluar. Om biar istirahat dulu." Prasetyo tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengenal Nadiya lebih dekat. Entah kenapa melihat Nadiya pertama kali sudah membuatnya tertarik dan merasa Nadiya adalah wanita yang dia impikan selama ini.
"Baiklah. Pa...Nadiya pergi dulu." Kemudian setelah berpamitan Nadiya beranjak pergi diikuti oleh Prasetyo. Tuan Alex mengangguk sambil tersenyum kepada mereka berdua. Pasangan yang serasi. Sama-sama bersemangat dan smart.
"Kita akan kemana?" Tanya Prasetyo.
"Emmm...." Nadiya sebenarnya sedang malas jalan kemanapun. Pikiranya sedang kalut karena musibah juga Ardy yang sudah bertemu dengan Regan. Banyak sekali yang sedang berkecamuk didalam dadanya. Tapi demi menyenangkan papanya, terpaksa Nadiya jalan sama Prasetyo. Lelaki asing yang baru dia temui.
"Baiklah aku yang memutuskan. Kita akan makan ice cream saja. Aku pernah kesana dan ice creamnya pasti bikin kamu ketagihan." Kata Prasetyo bersemangat dan senyumnya itu, jika saja Nadiya adalah wanita lain maka sudah pasti akan klepek-klepek melihat cowok tinggi semampai, hidung mancung bibir tipis dan mukanya indo banget. Kakeknya keturunan Jerman dan kebetulan ibunya orang Inggris namun ayahnya orang Jawa sehingga wajah Prasetyo sangat tampan mewarisi kakek dan ibunya.
__ADS_1
"Ehmm...Baiklah. Mari kita kesana." Nadiya berjalan sambil sesekali menoleh pada Prasetyo yang tinggi melampaui dirinya. Apakah dia yang dimaksud papa? Nadiya jadi teringat pada percakapan beberapa waktu lalu dengan ayahnya perihal jodoh untuk dirinya.
Prasetyo melangkah kedepan dan memesan ice cream untuk mereka berdua. Kemudian mereka duduk berhadapan dipojok dekat pintu keluar. Disana ada pohon Cemara yang dihias sangat cantik dan indah. Prasetyo sengaja memilih tempat didekat pohon cemara yang indah.
"Kok diam saja. Sepertinya pikiran kamu sedang tidak ditempat ini." Kata Prasetyo yang dari tadi memergoki Nadiya seperti sedang melamun.
"Tidak." Kata Nadiya yang tidak ingin membuka masalahnya pada orang lain. Apalagi orang asing yang baru dia kenal. "Saya sedang berfikir apakah papa yang memanggil anda kemari?"
"Oh ya. Sebelumnya maaf. Aku tidak mau kamu memanggil 'anda' padaku. Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Jadi panggil saja seperti aku adalah temanmu. Bukankan aku kesini jauh-jauh hanya untuk menjadi teman dan jika mungkin menjadi sahabatmu? Bukan atasanmu atau salah satu klienmu. Okey!?"
Kata Prasetyo dengan tenang dan suaranya dalam. Dia begitu terlihat dewasa dan pandai mencairkan suasana.
Nadiya tersenyum dan sedikit kemerahan pada pipinya yang halus.
"Ehmmmm...Baiklah saya...ehmmm aku tidak tahu jika papa memanggilmu secepat ini."
"Pasti kamu sangat terkejut. Aku sudah sering mendengar tentang dirimu dan......sedikit kisah yang sudah kamu lalui. Papamu menceritakan padaku dan aku sangat bahagia saat papamu memintaku datang untuk lebih mengenalmu. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan wanita seperti dirimu." Sudah menjadi kebiasaan Prasetyo untuk berbicara terus terang tentang apa yang dia rasakan saat pertama kali bertemu dengan Nadiya. Dia bukanlah tipe lelaki yang jaim dan terlalu lama memendam perasaan. Dia tipe yang jujur dan lebih suka terbuka pada wanita yang dikaguminya.
"Kamu akan menyesal karena mengenal diriku, aku mungkin bukan wanita seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak sebaik itu. Aku punya dua sisi kehidupan yang berbeda." Kata Nadiya datar tanpa ekspresi.
"hhhhhh aku yakinkan padamu seribu kali. Tidak akan terucap kata menyesal dari bibirku sedikitpun. Aku sangat bahagia dipertemukan dengan wanita seperti dirimu. Jadi.....biarkan aku mengenalmu lebih dekat...." Kata Prasetyo sambil mengeluarkan seikat bunga mawar yang berwarna-warni dari dalam paper bag yang sudah dia persiapkan untuk Nadiya.
"Ini untukmu....untuk perkenalan kita dan bunga yang berwarna-warni adalah lambang kehidupan yang akan kita jalani."
Nadiya sangat terpukau dengan kejutan bunga yang indah dari Prasetyo. Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dirinya diperlakukan begitu romantis oleh seseorang. Tapi kemudian ekspresinya berubah dari bahagia menjadi datar kembali.
"Terimakasih." Nadiya menerima bunga itu meskipun bingung dengan makna warna warni yang dimaksud Prasetyo. Dan 'kehidupan yang akan kita jalani' apa maksud perkataannya.
__ADS_1