Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Malam yang bersalju


__ADS_3

"Lihatlah Pras salju mulai turun." Kata Nadiya dari dalam mobil.


"Iya ternyata lebih cepat dari dugaan kita." Kata Prasetyo.


"Bisakah kita turun sebentar." Kata Nadiya sambil tersenyum penuh kabahagiaan.


"Baiklah aku akan memarkir mobilnya disana." Kata Prasetyo sambil membuka kunci pintu mobil.


Nadiya langsung turun dari mobil dan menikmati Salju yang mulai turun disepanjang jalan yang mereka lewati.


"Indah sekali." Kata Nadiya, sedangkan Prasetyo hanya tersenyum melihat kelucuan Nadiya. Pemandangan seperti itu sudah sering dilihat oleh Prasetyo karena dia tinggal diluar negeri.



"Saljunya mulai tebal sebaiknya masuklah kedalam mobil" Kata Prasetyo.


"Tunggu sebentar lagi. Kata Nadiya yang mulai memejamkan mata sambil berdiri dan menikmati setiap salju yang jatuh mengenai kulitnya. Rambutnya menjadi putih karena salju menutupi rambut hitamnya.


"Lihatlah rambutmu." Kata Prasetyo.


"Kau juga." Kata Nadiya.


"Masuklah sebelum kita terjebak dan tidak bisa kembali." Kata Prasetyo.


"Baiklah. Ayo kita masuk." Kata Nadiya sambil menggandeng tangan Prasetyo.


Prasetyo dengan cepat melajukan mobilnya agar tidak terjebak saat salju mulai tebal dan menutupi jalan raya.



Pohon dan mobil yang terparkir mulai tertutup salju.


"Sepertinya kita harus cepat sampai." Kata Prasetyo.


"Iya. Cepatlah Pras. Aku takut badai mulai turun sebelum kita sampai rumah." Kata Nadiya mulai khawatir.


"Semoga saja tidak." Kata Prasetyo sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Hati-hati Pras." Kata Nadiya sambil berpegangan.


Prasetyo mengangguk.


"Syukurlah kita sebentar lagi sampai. Kata Prasetyo kemudian sambil memperlambat laju mobilnya.


"Syukurlah kita sampai sebelum badai salju datang." Kata Nadiya sambil melayangkan pandanganya keatas. Dan dia sangat terkejut saat dilihatnya sesuatu yang sangat indah.



"Lihatlah Pras pemandangan itu sangat indah sekali." Kata Nadiya sambil menunjuk kearah bukit.


"Mana?" Tanya Prasetyo sambil melihat wajah Nadiya yang sedang terpesona oleh sebuah cahaya yang sering terlihat di musim dingin. Cahaya itu berwarna-warni seperti pelangi yang terurai.


"Aku masih ingin disini. Kamu masuklah lebih dulu." Kata Nadiya sambil mengambil beberapa foto.


"Ayo kita foto bersama." Kata Nadiya.


"Baiklah. Ambil tongsisnya?" Kata Prasetyo.


"Ada dibagasi mobil." Kata Nadiya.


"Nih. pasang handphonenya." Kata Prasetyo sambil menyerahkan tongkat tersebut.

__ADS_1


Kemudian Nadiya melihat beberapa gambar foto yang baru saja mereka ambil. Nadiya kemudian senyum-senyum sendiri melihat hasil jepretan dan beberapa ekspresi Prasetyo yang aneh.


Kemudian Prasetyo menurunkan semua belanjaanya dari mobil dan memasukanya kedalam rumah.


Saat sadar bahwa Nadiya terlalu asyik dengan handphone nya, maka Prasetyo memanggilnya.


"Kemarilah, bantu aku. Sebentar lagi akan ada badai." Kata Prasetyo.


"Iya, aku datang." Kata Nadiya sambilenyimpan ponselnya.


"Setelah ini aku akan memasak untukmu." Kata Prasetyo sambil memikirkan masakan apa yang cocok dimakan saat musim dingin seperti ini.


"Bagaimana kalau aku memasak Locro." Kata Prasetyo.


"Masakan apa itu? Aku belum pernah makan makanan itu." Kata Nadiya.


"Locro adalah sup kental terbuat dari biji jagung yang direndam air jeruk nipis, kentang, daging, kacang-kacangan, dan bawang, lalu disantap dengan roti kering. Hidangan ini awalnya dikenalkan oleh masyarakat suku asli yang tinggal di Andes di masa kekaisaran Inca dan kini menjadi populer di wilayah utara Argentina." Kata Prasetyo.


"Apakah kau bisa memasaknya?" Tanya Nadiya.


"Tentu saja. Aku pernah belajar masak dari Chef ternama, tentu saja aku bisa memasaknya." Kata Prasetyo


"Aku juga akan memasak berbagai masakan yang enak disantap saat musim dingin." Kata Prasetyo.


"Apalagi yang akan kamu masak?"


"Shepherd's pie. Makanan ini terbuat dari daging, kentang, keju, saus, dan bawang. Umumnya, sajian ini dibuat menggunakan daging kambing atau domba, tapi koki di Amerika memvariasikannya menggunakan daging sapi yang lebih ekonomis. Bahkan, ada pula yang membuatnya tanpa daging." Kata Prasetyo sambil menutup pintu rumahnya setelah selesai memasukan semua barang belanjaan mereka.


Sementara Nadiya mulai membereskan satu persatu dan merapikanya kedalam lemari pendingin.


"Aku akan mulai menyiapkan bahan makananya. Jika kau mau kau boleh membantuku." Kata Prasetyo.


"Kau boleh duduk disana dan melihatku masak." Kata Prasetyo.


"Baiklah aku akan duduk disana dan siapa tahu aku bisa belajar beberapa masakan musim dingin darimu." Kata Nadiya.


"Apakah kau tahu tentang cheese fondue?" Tanya Prasetyo.


"Aku pernah menndengar nama itu." Kata Nadiya.


"Cheese fondue awalnya berasal dari daerah pegunungan Alpen dan kini dikenal sebagai makanan tradisional Swiss. Di musim dingin, orang Swiss akan menghabiskan malam sambil menyantap roti dan kentang yang dicelupkan ke dalam keju panas. Mereka juga gak lupa untuk melengkapinya dengan teh atau anggur putih." Kata Prasetyo menjelaskan tentang beberapa jenis masakan yang terkenal dari beberapa Negara saat musim dingin.


" Ada juga Solyanka merupakan sup panas yang hadir dalam berbagai variasi resep. Ada yang menggunakan daging, sea food, sosis, hingga resep tanpa daging. Kemudian, ada juga yang menambahnya dengan wortel, kol, dan sayuran lain. Namun, semuanya disajikan dalam larutan kaldu yang sama dan ditambah acar mentimun dan tomat. Kamu juga bisa menambahkan topping kulit lemon, sour cream, dan zaitun." Kata Prasetyo.


"Yang barusan kau katakan sepertinya sangat enak. Bisakah kau juga membuatkanya untuku?" Pinta Nadiya.


"Baiklah tapi jangan lupa tidak gratis." Kata Prasetyo mulai kumat usilnya.


"Maksudmu?" Tanya Nadiya bingung.


"Kemudian Prasetyo mengedipkan mata kepada Nadiya dan berjalan mendekatinya sambil membisikan sesuatu ketelinga Nadiya. Kita akan membuat malam ini menjadi bergairah." Kata Prasetyo kemudian satu cubitan melayang kelenganya.


"Aduh! Sakit!" Kata Prasetyo.


"Tapi Nadiya tidak mengindahkannya, dan dia langsung turun dari tempat duduknya dan mencuci tanganya.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Prasetyo.


"Aku akan memasak Tteokbokki." Kata Nadiya.


"Kau bisa?" Tanya Prasetyo penasaran.

__ADS_1


"Akan aku coba." Kata Nadiya.


" Aku tahu tentang Tteokbokki, makanan ini terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan bumbu gochujang yang memberinya rasa pedas manis. Kudapan ini populer sebagai street food khas Korea yang bisa kita temui sepanjang tahun, tapi jadi lebih populer di musim dingin. Kini, tteokbokki hadir dengan berbagai varian, seperti daging, sea food, kecap asin, dan keju." Kata Nadiya yang pernah melihat resep itu dibuat di televisi.


"Baiklah sementara aku menyelesaikan masakan ini, kau siapkan bahan untuk Tteokbokki."


"Okay, chef."


Dua jam kemudian masakan mereka sudah selesai dan terhidang dimeja makan yang tidak jauh dari tempat tidur mereka.


"Wow, semua masakan ini baunya sangat harum." Kata Nadiya sambil menata makanan diatas meja.


"Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya." Nadiya meneruskan kalimatnya.


"Pras!" Panggil Nadiya.


"Ya tunggu. Aku akan mandi sebentar, badanku terasa lengket." Kata Prasetyo sambil menarik Nadiya dan menggendongnya.


"Sambil menunggu makananya hangat mandilah sebentar bersamaku." Kata Prasetyo yang langsung menggendong Nadiya.


Kemudian menurunkanya dibawah shower dan langsung mengucurkan airnya hingga mereka basah berduaan. Sebelum Nadiya mengelak maka dengan cepat Prasetyo memutar shower itu hingga baju mereka basah. Akhirnya terpaksa Nadiya mandi bersamanya.


"Ayo cepatlah, nanti makananya keburu dingin." Kata Nadiya.


"Ya. Tolong bersihkan punggungku.Tanganku tidak sampai." Kata Prasetyo.


"Ya baiklah." Kemudian setelah membantu Prasetyo membersihkan punggungnya, Nadiya juga memakai sabun untuk dirinya sendiri. Dan dalam hitungan menit dia sudah selesai mandi sampai akhirnya tangan kekar Prasetyo mendekapnya dan mengunci mulutnya dengan sangat kuat. Tanganya juga nakal menyentuh setiap bagian tubuh Nadiya dibawah shower yang masih mengalir.


"Sudah." Kata Nadiya yang mundur satu langkah.


"Sebentar lagi." Kata Prasetyo.


"Makananya nanti keburu dingin." Kata Nadiya sambil cepat mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya.


"Baiklah." Prasetyo kemudian juga mengambil handuk dan mengeringkan rambut juga badanya.


Dengan cepat Nadiya memakai baju tidur dan menyiapkan juga untuk suaminya yang berjalan dibelakangnya.


"Pakailah ini." Kata Prasetyo yang mengambil sebuah baju pemberian maminya yang disimpan Nadiya. Nadiya menatap Prasetyo dan mereka saling bertatapan.


"Ini?" Tanya Nadiya.


"Iya. Aku ingin melihatmu memakai baju yang seksi ini." Kata Prasetyo. Akhirnya setelah dia berpikir sejenak, diapun menganggukkan kepalanya dan memakai baju itu.


"Sempurna." Puji Prasetyo.


"Kamu sangat cantik dan anggun. Kemarilah." Kata Prasetyo yang sudah selesai memakai bajunya.


Saat Nadiya mendekat Prasetyo langsung mencium keningnya dan dengan cepat beralih ke bibirnya lalu lehernya dan memberikan tanda kepemilikan dibawah telinga Nadiya.


"Ayo kita makan." Kata Prasetyo setelah puas mencium Nadiya yang sangat seksi dan mempesona dengan baju pemberian maminya.


Mereka duduk bersama sambil menikmati beberapa masakan yang baru saja dimasak Prasetyo.


"Aku akan mencoba yang ini dulu." Kata Nadiya.


Dalam waktu sekejap makanan itu telah habis oleh mereka berdua. Mereka sepertinya sama-sama hobi makan. Dan setelah itu Nadiya membuka tirai dan melihat pemandangan diluar dari dalam jendela rumahnya.



Saljunya semakin tebal saja, sehingga beberapa pohon dan rumah atapnya berubah menjadi putih tertutup oleh hujan salju.

__ADS_1


__ADS_2