Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Tipu daya Vano


__ADS_3

Sasha mencium aroma seperti bau anyir. Semakin lama bau itu semakin menyengat. Jantung Sasha berdetak semakin kencang. Matanya mencari-cari dari mana bau itu berasal.


Tiba-tiba sebuah bayangan putih keluar dari sebuah jendela diujung lorong. Sasha melihatnya namun tidak dengan Vano. Dia sepertinya tidak ada takut-takutnya sama sekali oleh kabar yang beredar tentang arwah seorang perempuan yang terus saja berkeliaran.


"Vano! Ayo kita pergi dari sini." Kata Sasha.


"Tunggu sebentar lagi. Ini masih sore." Kata Vano.


"Tidak Vano. Perasaanku tidak enak. Sebaiknya kita kembali ke asrama saja."


"Oke! Tapi....aku ingin menciummu sekali saja." Kata Vano.


"Tidak Vano. Aku merasakan sepasang mata terus mengawasi kita."


"Tidak ada siapapun disini Sasha." Kata Vano sambil mengunci kepala Sasha dan merengkuhnya hingga wajah mereka sangat dekat.


"Jangan Vano!" Kata Sasha.


"Sekali saja." Kata Vano dan berusaha mencium bibir Sasha yang seksi.


Eehhhh!


Sasha mengelak.


"Ayolah! Kamu hidup di era milenial. Ini hal biasa. Semua temanmu melakukanya." Kata Vano.


"Tidak Vano! Lepaskan!" Kata Sasha dan berlari menjauh dari tempat itu saat dia berhasil lepas dari dekapan Vano.


Sasha terus berlari dan tidak menengok kebelakang.


"Sasha tunggu!" Teriak Vano dan akan mengejar Sasha. Namun tiba-tiba kakinya seperti ada yang menahanya.


Vanopun berusaha lepas dari jeratan itu. Ternyata itu adalah akar sebuah pohon yang sepertinya hidup dan bisa berjalan kemana-mana.


"Apa ini?" Kata Vano dan diapun menunduk kebawah.


Vano berusaha melepaskan kakinya dari akar itu.


"Lengket sekali. Seperti berlendir." Kata Vano.


Dan akar itu tadinya hanya mengikat kaki kanannya saja. Dan saat kaki kanannya terlepas sekarang akar pohon itu malah mengikat kedua kakinya.


"Apakah ini akar betulan atau hanya ilusi?" Batin Vano.


"Apakah aku sedang tidur lalu bermimpi? Dan ini adalah bagian dari mimpi itu? Ini tidak nyata bukan? Seseorang! Toloooong!"


"Akar sialan!"


"Bagaimana mungkin akar ini bisa selengket itu? Dan berlendir lagi! Menjijikan!" Umpat Vano.


Tiba-tiba sebuah asap mengepul dilorong dan semakin lama asab itu seperti menggumpal membentuk manusia. Ada sepasang mata mendelik kemerahan diantara gumpalan asap itu.

__ADS_1


Asap itu kemudian berjalan perlahan dan mendekati Vano.


Nafas Vano menjadi sesak karena tidak bisa bernafas. Asap itu membuat dadanya sesak dan semakin lama semakin membuat pandanganya kabur.


Saat ini tidak ada yang bisa dilihat Vano selain kabut putih itu. Dimana-mana hanya terlihat kabut putih.


"Bagaimana ini? Akar ini benar-benar tidak mau lepas dari kakiku. Nafasku semakin sesak. Apakah ini gangguan dari arwah gentayangan itu? Tapi aku tetap tidak percaya. Bagaimana mungkin ada arwah penasaran dizaman yang serba modern ini? Lagian ini di Amerika. Disini tidak ada istilah hantu berkeliaran. Dan bisa hidup kembali."


Nafas Vano semakin terengah-engah saat akar itu berjalan naik keatas tubuhnya dan melilit lehernya.


Tiba-tiba Regan datang dan mencari Sasha.


"Vano!" Kata Regan berteriak. Regan tidak melihat apapun selain Vano yang sedang berdiri dan seperti berusaha melepaskan sesuatu dilehernya.


"Tolong aku!" Kata Vano saat tiba-tiba ilusi itu hilang.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Regan sambil matanya menyapu sekeliling dan mencari sosok Sasha.


"Ada yang aneh disini."


"Tidak ada apa-apa!" Kata Regan sambil berjalan meninggalkan Vano sendirian.


"Regan tunggu!" Panggil Vano sambil berlari dibelakang Regan.


"Kau yakin tidak melihat apa-apa?" Tanya Vano.


"Tidak. Dimana Sasha? Bukankah tadi dia bersamamu?" Tanya Regan.


"Ya. Tadi dia disini, namun sekarang dia sudah kembali ke asrama." Kata Vano.


"Kami hanya berjalan-jalan saja. Lagian ngapain kamu khawatir? Sasha sudah tidak bersamaku sekarang. Dan dia baik-baik saja diasramanya."


"Jauhi Sasha. Dia tidak cocok denganmu." Kata Regan.


"Tapi Sasha sendiri tidak keberatan."


"Kau tidak dengar? Jauhi Sasha!" Ulang Regan.


"jiiihhhj! Kakak bukan, pacar bukan......" Gumam Vano.


"Apa kau bilang?"


"Ngga! Slow aja gaes!" Kata Vano.


Regan kemudian berlari kecil ke asrama Sasha. Saat masuk dia bertemu dengan Madina. Merekapun saling bertatapan. Namun Regan tidak menghiraukanya karena saat ini dia sedang mengkhawatirkan Sasha.


Madina hanya berdiri terdiam dan membiarkan Regan berlalu didepanya. Jantungnya berdesir saat mencium bau parfum yang dipakai oleh Regan.


Madina memendam rasa sukanya dan tidak berani mengatakanya. Dia hanya bisa memandang tanpa berani mengungkapkan. Madina takut jika selama ini kebaikan Regan hanyalah perhatian sebagai teman biasa dan tidak lebih dari sekedar sahabat.


Tidak lama kemudian Regan kembali setelah menemui Sasha. Dan setelah mastikan jika Sasha ada dikamarnya dan baik-baik saja, Regan kemudian pergi meninggalkan kamar Sasha.

__ADS_1


Regan melintas lagi dihadapan Madina. Dan Madina tidak bisa menahan diri untuk tidak memanggilnya.


"Regan!" Panggil Madina.


Reganpun menoleh dan menatap Madina.


"Ya? Kau memanggilku? Ada apa?"


"Apakah kau sudah makan?" Tanya Madina. Saat ini hari menjelang sore. Dan biasanya mereka makan disore hari dan tidur lebih cepat. Sehingga pagi hari sebelum fajar terlihat mereka sudah bangun untuk joging.


"Belum." Jawab Regan.


"Makan bareng yuukkk!" Kata Madina dan berharap Regan menganggukan kepalanya.


Sejenak terlihat Regan berfikir dan memutar bola matanya.


"Baiklah." Kata Regan.


Senyum pun mengembang diwajah Madina. Madina kemudian berjalan disamping Regan.


"Kamu satu kamar kan dengan Sasha?" Tanya Regan.


"Iya. Kenapa?" Tanya Madina.


"Apakah Sasha suka keluar malam-malam?" Tanya Regan. Karena jika sampai terjadi apa-apa dengan Sasha seluruh keluarganya pasti menyalahkanya. Tak terkecuali maminya.


"Setahuku tidak. Cuma saat ini Sasha sedang dekat dengan Vano. Dia menjadi lebih pendiam." Kata Madina.


"Kau juga tahu?"


"Tentu saja." Vano sering mengantarkanya hingga kepintu asrama.


"Aku tidak menyukainya." Kata Regan.


"Setahuku dia bukanlah cowok baik-baik. Dia memang ganteng dan lumayan terkenal diantara para wanita. Belum lagi, ayahnya yang berpengaruh. Tentu beberapa wanita ingin menjadi istrinya dan menantu seorang gubernur."


"Kau juga pernah dekat dengannya bukan?" Tanya Regan sambil memasukkan kedua tangannya kesaku celananya.


"Ya. Sebelum aku tahu kelakuanya."


"Aku khawatir dengan kedekatan mereka." Ungkap Regan.


"Maksudmu Sasha?"


"Ya. Dia lumayan keras kepala. Dan diam-diam masih suka menemui Vano." Kata Regan.


"Sebaiknya kau peringatkan adikmu itu. Bukankah aku pernah bercerita hampir semua kekasih Vano dicampakkan setelah menjadi korbannya."


"Aku tahu. Itulah yang membuatku khawatir jika sehari saja tidak melihat Sasha. Aku khawatir dia nekat."


"Kalau nekat sih tidak mungkin. Hanya saja aku khawatir jika Sasha benar-benar jatuh cinta pada Vano, dan patah hati setelah mengetahui kebenarannya." Kata Madina sambil duduk disebuah kafe.

__ADS_1


"Jika kau melihat hal yang mencurigakan pada Sasha. Bisakah kau beritahu aku?" Tanya Regan sambil menatap tepat dibola mata Madina.


"Tentu...." Jawab Madina sambil berusaha menyelami isi hati Regan melalui kedua matanya.


__ADS_2