Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Yang terlupakan


__ADS_3

"Maaf saya khilaf." Sambil menutup badan Sarah dengan selimut jingga.


Wajahnya tertunduk entah apa yang dipikirkan dalam hatinya. Penyesalan atau hal lainya. Tanganya menggenggam jari jemari Sarah dan mencium dengan kedua bibirnya yang lembut.


Sarah menatapnya tanpa berkata apa-apa. Hanya bahasa jiwa yang bisa dimengerti oleh keduanya.


"Banyak yang mengagumimu Ar. Termasuk aku." Kata Sarah seperti berbisik.


Tapi Ardi mendengarnya meskipun Sarah cuma berbisik, karena mereka sangat dekat saat itu. Ardy menatapnya dan tersenyum hangat padanya.


"Benarkah? Aku tak percaya." Kata Ardy. "Justru sebaliknya. Banyak yang mengagumimu, termasuk aku?"


Mereka saling memuji serasa dunia hanya milik berdua, dan hanya mereka yang ada, tak ada yang lainya, tak ingat apapun juga.


"Entah sejak kapan aku mulai mengagumimu." Kata Sarah jujur dan terbuka.


"Sejak pertama kali melihatmu, kau telah menguasai jiwaku." Ardy membalasnya lebih romantis. Mereka sedang saling merayu atau saling menyadari kesalahan. Entahlah.


"Kamu sangat tampan Ar"


"Kamu juga sangat cantik, banyak wanita yang kutemui, tapi entah kenapa kamu begitu istimewa."


"Kamu merayuku Ar?"


"Tidak." Kata Ardy menatap bibir Sarah. "Kamu terlalu memujiku."


"Tapi itu kenyataan Ar." Kata Sarah sambil melihat kearah jendela. "Nadiya sangat beruntung memilikimu."


Sontak nama Nadiya disebut membuat Ardy ingat padanya. Dan melepaskan pegangan tangannya. kemudian berpamitan pada Sarah.


Sarah hanya terpana dan bengong melihat Ardy saat dirinya menyebut nama Nadiya.


Sarah mengangguk saat melihat Ardy memberi isyarat padanya untuk pergi. Sarah masih mengamati punggung Ardy yang pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Ardy berjalan menuju rumahnya yang letaknya memang didepan rumah Sarah. Dengan cepat membuka pintu dan memanggil nama Nadiya. Tapi suasana rumah nampak sepi, tak ada yang menyahut panggilanya.


"Nad? Apa kamu dirumah?" Ardy memanggil dan mencari kesetiap ruangan namun tak menemukan Nadiya dimana-mana.


Kemudian Ardy teringat hpnya yang mati karena kehabisan baterai. Ardy mencari charger dan segera mengisi daya baterai nya. "Mungkin ada pesan dari Nadiya," gumamnya.


Ardy memegang kepalanya dan merasa pikun karena tak mengisi baterainya dari kemarin sore.


Sekarang hpnya sudah menyala dan bisa dibuka. Kemudian Ardy melihat beberapa pesan masuk dan laporan panggilan tak terjawab.


Semua pesan dan panggilan itu adalah dari Nadiya. Istrinya yang sempat terlupakan dan terabaikan karena pesona Sarah. Dengan cepat Ardy berlari keluar rumah dan menyalakan mobilnya.


Melesat menuju rumah sakit dimana istrinya dirawat. Ardy bahkan dari kemarin berada dirumah sakit ini. Tapi dia bahkan tak tahu jika istrinya dirawat dirumah sakit yang sama dengan Sarah. Ardy menyesal tak membuka hpnya dari kemarin.


Setelah sampai Ardy langsung menuju resepsionis, untuk mencari tahu dimana istrinya dirawat. Ardypun kemudian berjalan dengan cepat sambil mencari ruangan Nadiya. Setelah ketemu ruangan yang dicari, Ardy berhenti sejenak dan tertegun saat menyadari istrinya dirawat disamping ruangan Sarah. Dimana Ardy menginap menemani Sarah semalam.


"Ohh. Keterlaluan sekali aku ini. Aku berdua sementara kamu sendirian disini? Maafkan aku Nad." Gumamnya.


Ardy kemudian bergegas keruangan Nadiya. Dilihatnya Nadiya sedang berbaring menghadap pintu. Begitu menyadari Ardy datang Nadiya langsung membalikan badan dan memunggunginya. Maklum Nadiya pasti kesal karena Ardy datang terlambat.


Ardy sangat mengenal sifat istrinya jika sedang kesal. Dia tak kan berbicara dan bahkan tak mau menatapnya. Diam seribu bahasa sudah menjadi kebiasaanya saat marah.


Perlahan Ardy mendekatinya dan membalikan badan Nadiya. Tapi Nadiya kekeh tak mau membalikan badannya. Badanya menjadi kaku seperti kayu. Ardy kemudian meraih tangan Nadiya dan menggenggamnya. Serta menaruh jari jemari Nadiya pada bibirnya yang lembut.


"Maafkan papa sayang."


Nadiya masih tak bergeming. Nadiya masih enggan menggerakkan badannya. kecewa masih membuatnya tak mau menatap Ardy.


"Jangan marah ya sayang....hp papa lowbat dan papa....."Ardy berpikir sejenak, sebelum melanjutkan kata-katanya, "Ketiduran dikantor." Tak ingin berbohong tapi apalah dayaku. gumamnya. Jika ia jujur, badai akan menggoyahkan keyakinan Nadiya.


Dimulai dengan satu kebohongan, maka akan ditutup dengan kebohongan yang lainya. Jika Nadiya tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ardy takkan sanggup menerima konsekuensinya. Yaitu kehilangan kepercayaan Nadiya yang tulus mencintainya.


Nadiya mulai membalikan badannya, dan mau menatap suaminya. Sedikitpun Nadiya tak pernah meragukan kesetiaan dari suaminya. Karena memang tak pernah terjadi hal yang menodai kesucian ikatan mereka. Sudah Nadiya putuskan sejak menikah untuk mempercayai apapun yang dikatakan suaminya. Sehingga selama berumah-tangga jarang terjadi pertengkaran diantara mereka berdua.

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak dan mendengar alasan Ardy yang masuk akal maka kemarahan Nadiyapun berangsur menghilang. Dan kekesalannya telah luluh setelah melihat ketulusan Ardy.


"Kamu sudah ngga marah lagi kan sayang? Maafin papa ya?"


"Iya pa." Kata Nadiya sambil bersandar pada lengan Ardy.


Ardy masih menggenggam erat jemari Nadiya. Kemudian membelai rambutnya yang menutupi kening. Dan mencium keningnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Apa kata dokter ma?"


"Sepertinya mama harus menjalani beberapa perawatan lebih detail pa. Ada sesuatu didalam kandungan mama. Tapi masih menunggu persetujuan papa."


"Baiklah papa akan segera menemui dokter sekarang."


Nadiya mengangguk.


"Iya pa."


Setelah mendapat persetujuan, dokterpun memeriksa Nadiya lebih detail.


Beberapa jam kemudian hasil lab nya keluar dan mereka harus kembali diperiksa satu Minggu lagi.


Nadiya akan diperiksa lagi dan dokter akan melihat efek dari obat yang diberikannya.


Setelah mendapat ijin dari dokter, Nadiya dan Ardypun pulang kerumah mereka. Ardy memarkir mobilnya dihalaman rumah. Sarah mendengar suara mesin mobil berhenti dan melihat dari jendela kamarnya. Membuka tirainya sedikit dan mengintip kehalaman rumah Nadiya.


Matanya menatap Ardy dan Nadiya yang berpelukan dan berjalan mesra masuk kedalam rumahnya. Ardy memeluk erat pinggang Nadiya lalu kepala istrinya bersandar pada bahunya. Sarah seperti sedikit tak suka pada pemandangan yang dilihatnya. Rasa iri mulai menyusup dalam sanubarinya.


"Tiduran saja ma, biar papa yang siapin makanan buat mama." Kata Ardy. "Mama kan tadi tidak makan saat dirumah sakit. Papa pesenin makanan ya?"


Nadiya mengangguk sambil membaringkan badannya disofa.


Ardy menyiapkan piring dimeja makan sambil menunggu pesanan datang. Beberapa saat kemudian seseorang mengetuk pintu rumah mereka.

__ADS_1


"Mungkin itu pesanannya datang pa"


"Iya ma. Biar papa yang bukain pintunya."


__ADS_2