
Didepan pintu saat akan membuka gerbang untuk olahraga ibu Monik menemukan sebuah foto dan secarik kertas.
Itu adalah foto Nadiya dan Ardy saat masih bersama didalam rumah itu. Dan secarik kertas itu adalah kertas dari dokter yang mengatakan jika Nadiya pernah mengalami kanker kandungan, dan tipis kemungkinan untuk bisa hamil.
Entah dari mana dan siapa yang menaruh foto itu dihalaman rumah Nadiya. Dan ibu Monic langsung shock saat melihat gambar serta kertas itu. Kemudian ibu Monic langsung masuk kedalam dan menggenggam foto serta kertas itu tanpa bicara.
Didalam kamarnya ini Monic duduk dan memikirkan tentang rumah ini yang dulu pernah ditempati Nadiya bersama suaminya. Tapi apakah Prasetyo mengetahui jika dulu ini adalah rumah Nadiya? Dan dia juga sedang berfikir tentang keinginanya untuk mempunyai seorang cucu yang hingga saat ini belum ada tanda-tanda kabar baik dari Nadiya.
Aku akan manggil Prasetyo, gumam ibu Monic.
Kemudian ini Monic melangkah keluar kamarnya dan menemui Prasetyo. Saat itu Prasetyo juga sudah rapi dan baru saja keluar dari kamarnya.
"Pras...mami ingin bicara." Kata ibu Monic. "ikutlah Mami ke kamar."
Kemudian Prasetyo mengikuti ibunya di belakangnya dan masuk ke dalam kamar itu Monic.
"Ada apa mi? Mami terlihat sangat khawatir?" Tanya Prasetyo.
Ibu Monic berpikir sejenak.
Kemudian menarik nafas dan memberikan foto itu kepada Prasetyo.
Prasetyo memicingkan matanya dan melihat foto itu lebih dekat lagi.
"Nadiya? Ini rumah Nadiya? Kenapa Nadiya tidak pernah menceritakanya? Aku bahkan sudah pernah mengajaknya kemari sebelum kita pindah, tapi Nadiya tidak mengatakan apapun." Kata Prasetyo.
"Apakah menurutmu Nadiya sengaja menyembunyikannya?" Tanya ibu Monic mulai tidak suka dengan cara Nadiya yang tidak terbuka dalam berumah tangga.
"Entahlah mami. Prasetyo hanya melihat Nadiya agak canggung saat masuk rumah ini. Seharusnya dia mengatakanya dari awal. Jika ini adalah rumahnya yang dulu dia tempati bersama Ardy." Kata Prasetyo yang kecewa dengan sikap Nadiya.
Lalu ibu Monic juga memberikan sebuah kertas catatan dokter kepada Prasetyo.
"Apa ini mami?" Tanya Prasetyo.
"Lihatlah." Kata Ibu Monic.
"Ini catatan dokter. Siapa yang sakit?"
"Istrimu?"
"Nadiya?" Tanya Prasetyo sambil membaca kertas itu.
Hhhhhhmmmmm
Ibu Monic tersenyum kecut. Kenyataan bahwa kemungkinan dia akan mendapat cucu dari putra semata wayangnya sangatlah kecil.
"Nadiya pernah operasi kanker kandungan?"
"Apakah Nadiya juga tidak pernah menceritakanya?"
Prasetyo menggelengkan kepalanya.
"Bukankah kamu sudah lama mengenalnya sebelum kalian memutuskan untuk menikah?"
"Iya mi. Tapi Prasetyo tidak pernah menanyakanya, Nadiya juga tidak pernah cerita soal itu."
"Tidak baik jika dalam memulai suatu hubungan terdapat banyak rahasia." Kata Ibu Monic. "Kalian harus saling terbuka."
Prasetyo diam saja.
"Kamu adalah anak mami satu-satunya, mami ingin kamu bahagia. Dan terlebih kamu masih muda...bukankah seharusnya kamu mulai memikirkan soal keturunan? Bicarakanlah pada Nadiya, pergilah kedokter dan lakukan program kehamilan. Nadiya sudah tidak muda lagi, jika kalian terus menundanya mami khawatir Nadiya tidak akan bisa memberimu keturunan?"
Prasetyo kemudian menoleh kearah maminya.
glek
Prasetyo baru menyadari banyak hal yang tidak dia ketahui sepenuhnya tentang Nadiya.
__ADS_1
Keturunan?
Kanker kandungan?
Rumah ini?
Semuanya disimpan oleh Nadiya. Ternyata hubungan mereka menyimpan banyak rahasia yang tidak diketahui oleh Prasetyo.
glek
Prasetyo menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
Kemudian Prasetyo menyimpan foto juga kertas itu dan tidak memberitahukanya pada Nadiya.
Nadiya baru saja keluar dari kamar mandi, dan berpapasan dengan Prasetyo.
Nadiya tersenyum pada Prasetyo dengan senyuman termanis, karena saat ini Nadiya mulai bisa menerima Prasetyo dan masa lalunya perlahan mulai dia lupakan.
Tapi Prasetyo tidak membalas senyumannya dan malah langsung masuk kedalam kamar dan mengambil kopernya.
Ada apa dengannya?
Gumam Nadiya sambil mengeringkan rambutnya. Nadiya duduk didepan meja riasnya sementara Prasetyo duduk dikasur sambil melihat ponselnya.
Nadiya kemudian melirik kearah Prasetyo.
Kenapa dengannya?
Dia terlihat berbeda. Tadi pagi baik-baik saja, bahkan setelah mandi Prasetyo membangunkan Nadiya dengan mesra. Biasanya saat Nadiya duduk didepan kaca riasnya sambil mengeringkan rambutnya, Prasetyo akan menggodanya dan memeluknya. Ada apa dengannya? Tiba-tiba dia bersikap aneh.
Hingga turun kebawah dan sarapan pagi Prasetyo tidak banyak bicara. Terutama pada Nadiya, hal itu membuat perasaan Nadiya menjadi tidak nyaman dan terus menerka-nerka.
Apakah aku melakukan kesalahan padanya?
Tapi setelah bercinta kami bahkan masih sempat bermesraan, dan semuanya baik-baik saja. Nadiya kemudian mengingat kembali apa yang sudah dilakukanya satu jam yang lalu. Tidak ada. Nadiya mandi dan Prasetyo duduk di kasur. Setelah Nadiya selesai mandi, Prasetyo baru saja dari luar, dan dari situ semuanya berbeda dan terasa aneh.
Nadiya mulai menyiapkan untuk sarapan yang sudah dia pesan melalui go food.
Dimeja makan itu biasanya mereka akan bercerita dan berkelakar, juga Prasetyo yang akan menatap Nadiya dengan mesra. Namun tidak untuk saat ini.
Meja makan itu sepi dan hanya terdengar suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring saja. Semuanya diam. Ibu Monic juga diam tidak banyak berbicara. Bahkan setelah selesai makan ibu Monic langsung naik keatas tanpa mengatakan apapun.
Sementara Prasetyo makan hanya sedikit dan tidak berbicara apapun kepada Nadiya.
Ada apa dengan mereka?
Apakah mereka bertengkar? Kenapa tidak ada yang berbicara kepadaku saat ini? Aku menjadi tersiksa dengan kesunyian ini.
Prasetyo kemudian mengambil Tasnya dan masuk kedalam mobil.
"Aku berangkat ya Nad?" Kata Prasetyo yang naik mobil untuk berangkat kekantornya.
Tanpa mencium kening Nadiya seperti biasanya Prasetyo melangkah keluar rumah dan diikuti pandangan bingung oleh Nadiya.
Prasetyo kemudian menyalakan mesin itu tanpa menoleh kebelakang meskipun hanya sekali. Padahal saat ini Nadiya berharap Prasetyo menoleh dan tersenyum manis seperti biasanya.
glek
Namun Nadiya hanya bisa menelan salivanya.
Ada apa dengan kalian, aku benar-benar tidak mengerti. Kemarin semuanya masih baik-baik saja, dan tidak ada apa-apa. Dan dalam satu malam semuanya menjadi diam seribu bahasa. Mereka sepertinya tidak menganggap ku ada saat ini. Tidak satupun dari mereka yang mencoba mengatakan padaku tentang masalah yang membuat mereka diam seribu bahasa.
Padahal hari ini adalah hari pertama Prasetyo masuk dikantornya yang baru. Prasetyo sudah mulai berkantor di kota Jakarta. Namun Nadiya pikir Prasetyo akan mengajaknya hari ini untuk peresmiannya. Namun ternyata dia malah berangkat sendiri. Padahal Nadiya sudah rapi dan bersiap untuk pergi denganya. Nadiya juga sudah cuti tiga hari dari kantornya.
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?
Dengan langkah gontai Nadiya kemudian masuk kembali kedalam rumah dan langsung membereskan meja makan.
__ADS_1
Satu persatu dia mengangkat piring dan mangkok lalu mencucinya.
Dia menyalakan air wastafel dan karena melamun airnya terkena tanganya dan muncrat mengenai wajahnya. Kemudian perlahan Nadiya membersihkan percikan air itu dan tersentak dari lamunannya.
Ada apa denganku? Kenapa aku merasa tidak nyaman begini?
Akhirnya Nadiya mengelap piring-piring itu dan menaruh dirak piring kering. Perasaan tidak nyama terus saja bergelayut didalam hatinya. Tiba-tiba sebuah piring jatuh karena tidak pas saat menaruhnya.
Pyarrr
Hhhhhh
Nadiya kaget dan menunduk kebawah. Dia lihat kakinya berdarah karena piring itu jatuh tepat mengenai jempol kakinya. Jempolnya terluka karena serpihan piring itu menggores dan membuat kulitnya berdarah.
Hhhhsssttt
Nadiya meringis kesakitan.
Ibu Monic yang mendengan sebuah piring jatuh kemudian turun kebawah dan melihat kaki Nadiya yang berdarah.
Kemudian dengan cepat ibu Monic menolong Nadiya dan memapahnya keluar dapur dan duduk disofa.
"Ada apa Nadiya? Dan kakimu berdarah? Darahnya lumayan banyak."
Terdengar ibu Monic yang baru saja masuk kedapur terlihat sangat khawatir saat melihat darah dijempol kaki Nadiya.
"Haruskah mami telepon Prasetyo?" Tanya Ibu Monic.
"Tidak usah ibu." Kata Nadiya. Ini hanya luka kecil." Kata Nadiya.
"Baiklah ibu akan mengambil kotak obat untuk mengobati lukanya." Kata Ibu Monic sambil berjalan dilemari kecil dekat pintu masuk rumah. Disana kemarin dia menyimpan kotak itu.
Kemudian dengan perlahan-lahan ibu Monic membersihkan lukanya dengan air hangat dan membersihkan serpihan piring itu hingga tidak ada yang menempel disana. Setelah itu memberikannya obat merah dan menutupnya dengan kain kasa dan plester.
Effffsstt
Nadiya menahan perihnya dan meringis kesakitan.
"Sakit dan perih ya?" Tanya Ibu Monic sambil mengernyitkan alisnya.
"Sekarang sudah lebih baik mi. Terimakasih mi." Kata Nadiya sambil berjalan akan kedapur untuk membersihkan sisa pecahan piring itu.
"Istirahat saja Nadiya, biar mami yang membersihkan serpihannya." Kata ibu mertuanya. Nadiya jadi merasa tidak enak hati pada ibu mertuanya.
"Tapi mi...."
"Sudah ngga papa. Kamu istirahat saja." Kata ibu Monic.
Tidak lama kemudian ibu Monic keluar dan duduk disamping Nadiya.
"Nadiya...."
"Iya mi." Jawab Nadiya pelan.
"Kapan kamu dan Prasetyo akan kedokter untuk program kehamilan? Tidakkah kalian ingin memiliki anak?" Tanya ibu Monic tanpa menyinggung kertas yang tadi dia temukan dihalaman rumah.
"ehhhmmm...itu..." Nadiya gelagapan dan masih ragu untuk menjawab pertanyaan ibu mertuanya.
"Kehadiran seorang anak sangat penting untuk sebuah rumah tangga. Anak memberikan ikatan yang lebih kuat dan kebahagiaan dalam hubungan kalian berdua." Kata Ibu Monic.
"Ehhhmmm...Nadiya belum berbicara pada Prasetyo soal ini, mi."
"Bicaralah padanya saat nanti dia pulang dari kantor. Dan mulailah untuk melakukan program kehamilan, karena ....usia..." Ibu Monic tidak meneruskan kalimatnya, karena takut menyinggung perasaan Nadiya.
Glek
Nadiya kaget saat mendengar kata usia yang disebutkan Ibu Monic. Ya, jelas saja usia Prasetyo dan Nadiya terpaut banyak. Prasetyo masih muda dan Nadiya sudah 36 tahun. Jadi kesempatan Nadiya untuk hamil lagi hanya sisa sedikit saja jika mereka terus menundanya. Apalagi Nadiya pernah mengalami kanker kandungan. Setidaknya mereka harus konsultasi dulu kepada dokter sebelum memutuskan untuk hamil.
__ADS_1