
Dirumah sakit.
Saat ini Ibu Monic sedang dalam perawatan disebuah rumah sakit. Beberapa dokter langsung memberikan perawatan dan juga penanganan.
Badannya mulai dipasang selang infus. Seorang dokter spesialis jantung yang pernah merawat Ibu Monic pun mengenali pasiennya.
Ternyata dokter itu mengenali wajah ibu Monic.
"Dia pernah menjadi pasienku." Kata seorang dokter kepada suster disampingnya.
"Aku akan memeriksa jantungnya." Dokter itu kemudian mendekat dan memeriksa kesehatan jantung dari Ibu Monic.
"Dia pingsan bukan karena virus melainkan serangan jantung." Kata Dokter itu kepada suster disampingnya.
Kedua anak buah Nadiya akhirnya bisa menemukan rumah sakit yang merawat ibu Monic. Dan langsung memberitahu Bosnya jika Ibu Monic dirawat dirumah sakit tidak jauh dari rumah sakit dimana Nadiya dirawat.
"Baiklah. Aku akan menghubungi dokter keluarga. Kalian langsung kerumah saja dan lihatin anak-anak." Kata Nadiya.
"Baik bos." Kata kedua orang itu kemudian mereka segera menuju rumah Bosnya untuk menjaga Edsel dan juga Eiden.
Sampai dirumah Nadiya.
Mereka kemudian memencet bel dirumah Nadiya, dan tidak lama kemudian Arya membukakan pintu untuk mereka.
"Siapa kalian?" Tanya Arya.
"Kami anak buah ibu Nadiya. Kami kesini atas perintah Ibu Nadiya dan jika kau membutuhkan bantuan kami maka katakanlah."
"Aku tidak membutuhkan bantuan kalian. Pergilah. Aku bisa mengurus semuanya sendiri."
"Kau ini sombong sekali." Kata kedua anak buah Nadiya yang tidak menyukai kesombongan Arya.
"Aku bisa mengurus mereka berdua." Kata Arya.
"Kami akan tetap disini. Terserah kau butuh bantuan kami atau tidak. Yang penting kami hanya mengikuti apa kata Ibu Nadiya." Kata kedua anak buah Nadiya dan nyelonong masuk kedalam.
"Tutup pintunya!" Kata Arya saat sadar bahwa kedua anak buah Nadiya sudah berada didalam gerbang.
"Oooommmm!" Panggil Edsel.
"Hai! Kalian lagi?" Sapa Edsel. "Om, mau jagain kami ya?" Tanya Edsel dan Eiden bersamaan.
Mereka hanya mengangguk pelan.
"Hihihi...ini sangat menyenangkan!" Kata Eiden.
"Ayo kita bermain!" Ajak Edsel kepada kedua anak buah Nadiya.
"Kalian saja. Kami capek, mau istirahat."
"Kalian harus mau bermain dengan kami. Kata mami, kalian harus menjaga kami bukan?"
"Iya. Kau ini, kecil-kecil lagaknya sudah kayak bos saja." Kata seorang temanya.
"Ayo om kita main!" Kata Edsel tidak mempedulikan jika mereka enggan bermain dengannya.
"Ya sudah, kalian bermain saja. Om mau pesan makanan untuk kalian berdua." Kata Arya sambil melihat layar hpnya.
__ADS_1
"Oke Om..." Merekapun mengambil bola dan mulai bermain bersama anak buah maminya.
Dirumah sakit.
Prasetyo masih dirawat dan belum sadarkan diri. Nadiya masih terus berharap agar kondisi Prasetyo lekas membaik
"Dokter...bagaimana keadaan suami saya dokter?" Tanya Nadiya kepada dokter yang baru saja memeriksa suaminya.
"Jantungnya mulai stabil. Dan harusnya malam ini Pak Prasetyo sudah siuman." Kata Dokter kepada Nadiya.
"Syukurlah jika keadaanya mulai membaik." Kata Nadiya sambil mengucapkan terimakasih kepada Tuhan karena suaminya sudah melewati masa kritis.
Nadiya terus melihat jarum jam dan terus memperhatikan detik demi detik dan menunggu Prasetyo sadar dari komanya.
Detik berputar dan menit pun telah berlalu. Malam semakin larut namun Prasetyo masih diam tanpa bergerak sama sekali.
Nadiya lalu berjalan mendekati Prasetyo meskipun Dokter melarangnya.
Perlahan-lahan Nadiya memegang jemari Prasetyo dan saat itulah tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi. Jari tangan Prasetyo mulai bergerak dan terasa oleh tangan Nadiya yang saat itu sedang memegang jari suaminya.
"Pras....kau sadar. Kau telah sadar Pras....syukurlah, akhirnya kau terbangun dari koma. Aku sangat takut, aku pikir kau tak kan kembali lagi." Kata Nadiya sambil menangis terharu.
"Dokteerrr!" Panggil Nadiya.
Dokter yang kebetulan akan masukpun dengan cepat berjalan mendekati pasiennya.
Prasetyo mulai membuka matanya dan samar-samar dia lihat dokter lalu matanya beralih kewajah Nadiya.
Saat itulah muka Prasetyo menjadi aneh dan memejamkan matanya kembali. Dan tidak lama kemudian Prasetyo membuka matanya dan bertanya kepada dokter pertanyaan yang membuat hati Nadiya hancur berkeping-keping.
Dokter yang saat itu ada disamping merekapun langsung menyadari jika Prasetyo mengalami gangguan ingatan akibat koma.
Panas yang sangat tinggi membuat beberapa pembuluh darah diotaknya bermasalah, dan juga koma dalam beberapa hari telah membuat ingatannya hilang.
"Dokter! Apa yang terjadi dengan suami saya? Kenapa dia bertanya seperti itu kepada saya? Saya adalah istrinya." Kata Nadiya dengan mata berkaca-kaca.
Dokter kemudian mengajak Nadiya untuk menjauh dari Prasetyo. Dan diruangan berbeda, dokter kemudian menjelaskan tentang apa yang saat ini dialami Prasetyo memang dialami juga oleh beberapa pasien yang mengalami koma. Meskipun tidak semua pasien akan mengalami hilang ingatan. Satu dari lima puluh pasien sering kehilangan beberapa memori dalam jarak dekat.
Mereka bahkan lupa jika mereka telah menikah. Tapi mereka ingat sepuluh hingga 15 tahun sebelumnya. Mereka tidak kehilangan memori sepenuhnya. Mereka hanya kehilangan sebagian dari kisah hidup mereka.
"Apa yang harus saya lakukan dokter?" Tanya Nadiya dengan cemas.
"Kita hanya bisa mengikuti apa yang Pak Prasetyo ingat. Dan kita tidak bisa memaksakan apa yang dia lupa. Karena jika otaknya bekerja terlalu keras, maka bisa berakibat fatal."
"Lalu...siapa saya dokter?"
"Katakan bahwa ibu adalah istri dari temannya, dan saat ini sedang menjenguknya." Kata Dokter itu kepada Nadiya.
"Tapi saya adalah istrinya."
"Benar, ibu adalah istrinya. Tapi Pak Prasetyo tidak mengingatnya. Dan jika kita terus memaksanya untuk mengingat semuanya maka akibatnya sangat buruk dan bahkan Pak Prasetyo bisa kehilangan seluruh ingatannya untuk selamanya." Kata Dokter menjelaskan.
"Baiklah dokter. Saya akan melakukan seperti yang dokter katakan."
Nadiya kemudian mengusap airmatanya dan berjalan mendekati Prasetyo.
"Hai, kau sudah kembali? Apa yang dokter katakan?" Tanya Prasetyo kepada Nadiya.
__ADS_1
Belum sempat Nadiya menjawab, Prasetyo sudah bertanya lagi.
"Dan siapa kau?"
Nadiya mulai menangis namun dia tahan dan mencoba menarik nafas panjang dan melepaskanya perlahan.
"Aku adalah istri dari temanmu."
"Temanku? Siapa dia?"
"Vino."
"Vino?"
"Ya....teman kuliahmu."
"Ohhh. Lalu bagaimana kau bisa ada disini?"
Nadiya mulai gelagapan dan mengarang cerita kembali.
"Aku tinggal dirumahmu. Dan karena kau sendirian dirumah sakit maka aku menemanimu?"
"Kau tinggal dirumahku?"
"Ya. Kau yang menyuruh kami tinggal dirumahmu, karena kita sedang bekerja sama dalam bisnis. Dan Ibumu sangat menyukai anak-anakku sehingga ingin agar kami tinggal dirumahmu?"
"Ohh begitu. Lalu dimana ibuku?"
"Ibumu sedang dirumah sakit. Saat ini sedang dalam perawatan dokter." Kata Nadiya dengan airmata yang hampir tumpah saking sudah tidak mampu dia bendung lagi.
Suaminya tidak mengenalinya, padahal saat ini Nadiya ingin sekali memeluknya dan mencium keningnya. Tapi dengan cerita palsu maka semuanya akan berubah. Dia tidak bisa sedekat itu kepada suaminya sendiri.
"Kenapa aku disini? Dan kepalaku pusing. Aku tidak bisa mengingat beberapa hal."
"Kau terkena virus dan koma. Itulah sebabnya kau lupa pada beberapa moment kehidupanmu."
"Ohhh. Pantas saja aku tidak bisa mengingat apapun. Tapi kau bisa membantuku untuk mengingat semuanya bukan?"
"Ya tentu saja."
"Dimana Vino?"
"Dia sedang keluar negeri. Ada banyak pekerjaan disana."
"Jadi kalian sudah berapa lama tinggal dirumahku?"
Nadiya diam sejenak. Dan mulai mengingat kapan pertama kali bertemu dengan Prasetyo hingga akhirnya mereka menikah.
"Tujuh tahun."
"Jadi kita sudah seperti keluarga?" Tanya Prasetyo sambil mencoba mengingat sesuatu.
"Ya. Kita sudah seperti keluarga."
"Aku tidak bisa mengingat apapun." Kata Prasetyo sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
Lalu tiba-tiba dia pingsan kembali.
__ADS_1