Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Siapa dibalik kecelakaan itu


__ADS_3

"Kalian sedang cari apa?" Tanya Elis yang melihat ketegangan diwajah beberapa pegawainya dan mereka sedang sibuk mencari sesuatu diloker dan lemari penyimpanan berkas.


"Kami mencari berkas proyek XXX. Tuan Ardy ada disini dan menanyakan berkas itu."


"Ohh...Kenapa tidak ada yang bertanya pada saya? Berkas itu saya simpan dirumah." Kata Elis sambil geleng-geleng kepala dan berjalan masuk keruanganya.


Kemudian setelah menutup pintu, Elis tiba-tiba teringat sesuatu dan membuka pintunya kembali.


"Hai, tadi kami bilang Tuan Ardy ada disini? Benarkah?"


"Iya Bu. Tuan Ardy ada disini sekarang. Kemarin saya mendapat telepon untuk mengambil berkas itu. Dan setelah saya cari ternyata tidak ada. Saya jadi gemetaran. Syukurlah kalau berkas itu aman ditempat ibu."


"Baiklah, apakah Tuan Ardy kekantor hari ini?"


"Kurang tahu saya Bu."


"Ok. Nanti kalau Tuan Ardy datang, tolong beritahu saya. Ada yang mau saya bicarakan."


Kata Elis sambil menutup pintunya kembali.


Dua jam kemudian pegawai itu mengetuk pintu ibu Elis.


"Ya. Masuk." Sahut Elis dari dalam.


"Tuan Ardy sudah datang Bu. Dan sekarang ada didalam ruanganya."


"Baiklah, terimakasih."


Kemudian Elis merapikan beberapa berkas yang sedang dikerjakan diatas meja. Sesaat kemudian dia sudah berdiri didepan pintu ruangan Ardy.


Dan kemudian dengan perlahan mengetuk pintu. Tok! tok! tok!


"Masuk." Ardy menyahut tanpa menoleh.


"Ada apa?" Sambil matanya tetap melihat pada layar komputer yang ada didepan matanya. Saking fokusnya dia tidak tahu jika itu Elis. Dia pikir paling pegawainya yang mengantarkan berkas pekerjaan.


Elis berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan kemudian berdiri disamping Ardy. Ardy menoleh kebadanya dan naik kewajahnya.


"Elis?" Tanya Ardy terkejut.


Elis tersenyum padanya. Senyumnya begitu manis tapi sangat disayangkan semua itu tetap tidak menarik hati Ardy dan membuatnya mencintainya.


Elis kemudian duduk di sofa dan menatap sahabatnya sambil memikirkan kata yang tepat untuk memulainya.

__ADS_1


"Aku mendengar kabar jika Nadiya akan menikah dalam waktu dekat. Apakah kamu juga sudah mengetahuinya?"


Ardy langsung terperanjat karena topik yang dibicarakan Elis. Kemudian Ardy menutup layar komputernya dan menoleh kearah Elis. Memainkan sudut bibirnya juga kedipan matanya.


"Apakah kau juga mendengar kabar itu? Bagaimana menurutmu? Apakah aku harus bahagia atau harus sedih mendengar kabar istriku yang sudah move on dari diriku?" Pertanyaan Ardy yang tidak mungkin dijawab oleh Elis membuat muka Elis menjadi aneh.


Aku yang bertanya, tapi sekarang aku juga yang harus menjawabnya. Gumam Elis.


"Tapi kalian sudah bercerai bukan? Jadi menurutku tidak ada yang salah dengan pernikahan mereka bukan?" Kata Elis hati-hati takut salah bicara, karena jawabanya ambigu dan sangat sensitif.


Dia juga tidak tahu apakah Ardy sudah melupakanya atau masih mencintainya. Buktinya Ardy bahkan tidak punya hubungan spesial dengan siapapun saat ini.


"Apakah menurutmu begitu? Mudah sekali bagi wanita untuk melupakan pasangannya yang dahulu setelah menemukan penggantinya gitu? Apakah semua wanita seperti itu.


Tujuh tahun bersama dan kenanganya hilang begitu saja?


Dalam hitungan bulan bahkan sudah move on dan mencari kekasih yang baru?


Apakah para wanita seperti itu?


Aku tidak tahu....tapi mungkin kamu bisa membantuku menjawab pertanyaan yang membuatku gelisah." Kata Ardy sambil melihat keluar jendela.


Elis kaget dengan sikap Ardy yang ternyata masih sangat mencintai Nadiya. Padahal Elis berharap jika Ardy sudah move on sebagai mana Nadiya juga move on.


Karena sebenarnya diam-diam Elis jatuh cinta pada Ardy bahkan saat dia masih menjadi suami Nadiya.


Tak mungkin dia mengungkapkanya karena dia lihat cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.


"Mudah untuk kau katakan tapi melupakan seseorang yang kamu cintai tidaklah mudah seperti kata pepatah hanya butuh satu hari untuk mencintai, tapi dibutuhkan bertahun-tahun untuk melupakan." Kata Ardy sambil berdiri didekat jendela kantornya.


"Tapi untuk apa kamu masih menyimpan rasa itu, bukankan Nadiya satu Minggu lagi akan menikah, dan dia akan punya kehidupan baru bersama orang lain?"


Kata Elis heran dengan Ardy yang meskipun sudah bercerai tapi masih saja menyimpan perasaan terhadap mantan istrinya.


"Apakah menurutmu pernikahannya akan terjadi? Bagaimana kalau gagal?"


"Persiapannya sudah 99 % jadi mereka sudah mempersiapkanya dengan matang, aku tidak yakin mereka akan membatalkanya."


"Dan satu persen itu sangat berarti bagiku. Satu persen itu akan membuat Nadiya kembali padaku."


"Oke. Kita lihat saja nanti. 99% atau 1% yang akan terjadi." Kata Elis sambil berdiri dan berpamitan pada Ardy.


"Hai...kamu mau kemana?" Kata Ardy yang melihat Elis tiba-tiba akan pergi. Biasanya dia akan duduk dikantornya seharian.

__ADS_1


"Kemana saja....menuruti keinginan hati. Sama seperti dirimu." Kata Elis sambil melenggang pergi meninggalkan ruangan Ardy.


🌹🌹🌹


Sementara Nadiya dan Prasetyo sedang fitting baju pengantin yang sudah didesain khusus untuk Nadiya.


Satu bulan lalu sudah di coba namun ada beberapa bagian yang perlu dimodifikasi dan ditambahkan aksen mutiara juga beberapa payet dibagian leher.


Padahal secara keseluruhan Nadiya sudah sreg dengan model baju rancangan desainer ternama yang sudah sering wara-wiri membuatkan baju untuk beberapa artis kelas atas dan beberapa pejabat dikota itu.



"Bagaimana menurutmu?" Tanya Nadiya sambil memperlihatkan gaun yang dia pakai.


Mata Prasetyo berbinar dan sangat takjub melihat Nadiya dengan gaun yang pas untuknya.


"Perfect, sangat cantik dan anggun...."


"Terimakasih." Kata Nadiya.


"Apakah ada yang perlu dimodif?" Tanya Nadiya sambil menatap mata Prasetyo.


"Aku rasa tidak. Semua sudah sempurna dan indah. Gaun ini sangat sempurna untukmu." Kata Prasetyo sambil mengamati wajah Nadiya yang sangat cantik dengan rambut disanggul keatas.


"Oke kalau begitu kita akan menemui mami di mall setelah dari sini." Kata Prasetyo yang baru saja mendapat pesan dari maminya.


"Baiklah. Aku akan bersiap-siap." Kata Nadiya.


Nadiya dan Prasetyo dalam perjalanan didaerah yang begitu sepi. Karena kebetulan dia tidak melewati jalan utama untuk menghindari kemacetan.


Namun tiba-tiba sebuah mobil menabraknya hingga mobil mereka oleng dan menabrak pohon disampingnya.


Brakkkkkk!!!


Pengendara itu sepertinya mengincar pengemudi karena saat akan menabrak dia hanya menabrak bagian kanan mobil saja.


Tidak ada orang disana karena suasana jalan yang sepi.


"Darah! Ada darah! Pras.....Pras....." Kata Nadiya pelan dengan sisa-sisa kesadaranya sementara darah mengucur dari keningnya. Kemudian dia menelpon anak buahnya dan mengirimkan lokasi kecelakaan yang menimpanya.


"Pras.....bangun Pras....Kamu bisa mendengarkanku? Aku mohon Pras....bangunlah....kamu akan baik-baik saja."


Kata Nadiya kemudian dia sendiripun tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Sementara tidak lama kemudian polisi datang bersamaan dengan anak buah Nadiya.


__ADS_2