
Sasha mengirim pesan kepada Jack jika dia akan pulang ke negaranya hari ini. Setelah berkemas dan memasukkan semua bajunya kedalam koper, Sasha lalu membuka lacinya.
Ada kalung ibunya, didalam laci. Hampir saja dia lupa untuk membawanya. Saat itu lehernya kemerahan sehingga dia melepas kalung itu. Itu adalah hadiah dari Sarah, ibunya, saat dia berulang tahun.
"Mami, aku sangat merindukanmu." Kata Sasha.
Sasha berniat jika sampai dinegaranya dia akan langsung mengunjungi makam ibunya.
Dreeetttt!
Handphonenya bergetar, sepertinya ada pesan masuk. Itu pesan dari Jack.
Sasha melihat isi pesan itu. Lalu setelah itu Sasha pergi keluar dari Asrama dan pergi ke kafe didekat rumah sakit.
Jack sudah menunggu disana.
Sasha berjalan dengan senyum menghias dibibirnya.
"Duduklah!" Kata Jack sambil menarik kursi untuk Sasha.
"Kau mau minum apa?" Tanya Jack sambil membuka menu makanan.
Setelah itu Jack memesan minuman untuk mereka berdua.
Vano yang tahu jika Jack akan menemui Sasha dikafe yang berseberangan dengan kamarnya lalu berdiri. Saat ini keaadanya sudah lebih baik. Bahkan dia akan pulang siang ini.
Akhirnya Vano keluar dengan menutupi sebagian wajahnya dengan masker dan juga dia memakai kacamata. Wajahnya tidak bisa dikenali oleh siapapun.
Vano sampai dikafe dimana Sasha dan Jack duduk disana.
Vano juga duduk tidak jauh dari meja Sasha.
Dia memesan minuman dan membaca sebuah surat kabar. Sebagian wajahnya tertutup oleh surat kabar. Namun dia memasang telinganya agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Sudah lama dia tidak mendengar suara Sasha hingga semalam dia memimpikannya.
"Kenapa kau ingin pulang secepat ini?" Tanya Jack yang kecewa karena Sasha pulang secepat ini.
"Aku akan kemakam ibuku. Aku merindukan mereka." Kata Sasha sambil melayangkan pandangannya jauh kedepan.
"Aku juga akan pulang, tapi tidak sekarang." Kata Jack.
"Kita akan bertemu disana." Kata Sasha sambil melihat kemeja yang tidak jauh darinya.
Deg.
Vano langsung menaikan surat kabar dan mengangkatnya tinggi hingga menutupi seluruh mukanya.
Namun Sasha yakin jika yang dia lihat itu Vano. Tadi surat kabar yang dia pegang sempat merosot dan sepintas wajahnya terlihat oleh Sasha.
"Vano?" Gumam Sasha hingga terdengar oleh Jack yang ada didepannya.
"Siapa?" Tanya Jack penasaran.
"Aku melihat Vano." Kata Jack yang menoleh kesekelilingnya.
Sasha lalu berdiri dan berjalan pelan mendekati Vano.
Dia berdiri tepat dihadapan Vano.
Vano yang menyadari ada Sasha didepanya lalu memegang erat surat kabar itu hingga tetap menutupi wajahnya.
Deg.
Jantungnya berdegup kencang.
Vano bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Sasha masih berdiri dan hanya memperhatikan hingga dia mengenali jam tangan yang biasa dipakai Vano.
__ADS_1
Tidak salah lagi, itu jam tangan Vano. Pasti dia Vano. Gumam Sasha dalam hati dan masih ragu untuk bertanya padanya.
Deg.
Jantung Sasha juga berdetak sangat kencang saat dia yakin pria yang ada didepannya itu Vano.
Sasha lalu menarik nafas panjang dan menghempaskan ya berulang kali.
Deg.
Vano makin merasa jantungnya hampir copot karena Sasha masih tidak beranjak dari hadapannya.
"Vano....." Panggil Sasha.
Vano diam saja.
"Vano..... Kau Vano bukan?"
Vano masih tidak mau menjawab tapi malah semakin meninggikan surat kabar yang sedang dia pegang.
Karena Vano tidak mau menjawab, Sasha semakin yakin jika itu dia.
Jika orang lain tentu akan menjawab dan mengatakan "Sorry, saya buka Vano."
Sasha semakin gregetan karena Vano tetap tidak mau menjawabnya.
Sasha lalu mengambil surat kabar yang saat ini dipegang oleh Vano. Mereka saling tarik menarik hingga surat kabar itu sobek.
Krreeeerkkkk!
Vano dan Sasha saling berpandangan karena tidak sengaja kacamata Vano terlepas akibat tarik menarik Surya kabar itu.
Deg.
Jantung Vano hampir copot. Dia juga bersiap menerima kemarahan Sasha. Identitasnya terbongkar.
Deg.
"Kau......"
"Kau disini?"
Sasha menatapnya dengan tajam dan terlihat sangat marah.
"Kau disini dan bersembunyi dari kami? Kenapa?"
Sasha menatapnya dengan tatapan yang membuat Vano membeku tak berkutik.
"Aku......"
"Kau jahat!" Teriak Sasha.
Lalu Sasha memukul dada Vano berulang kali. Vano menahan sakit karena yang dipukul Sasha adalah dada yang baru saja dioperasi.
Dan tiba-tiba Vano meringis kesakitan dan memegang dadanya.
Lalu dia terduduk dan Sasha hanya berdiri bengong dan menyaksikan semuanya.
Dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia pikir saat ini Vano hanya berakting.
Jack lalu mendekat dan menyadari jika Vano sedang kesakitan.
Tadinya Jack tidak yakin jika itu Vano, dan berpikir Sasha salah orang. Dia baru saja akan mentertawakan kebodohan Sasha yang mengira orang itu adalah Vano.
Namun ternyata itu memang benar-benar Vano.
Bagaimana mungkin Vano ada diantara mereka. Dan bukankah tadi dia ada dikamar sedang berbaring.
Nekat!
__ADS_1
Dia memang nekat!
Gumam Jack dengan kesal.
Lalu Jack membantu Vano berdiri dan mengajaknya kerumah sakit.
Jack membawa Vano kerumah sakit dan langsung menemui dokter yang menanganinya untuk memeriksakan bekas lukanya.
Sasha dan Jack menunggu diluar. Sasha masih bingung dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Jack mondar-mandir dan khawatir terjadi sesuatu dengan Vano.
"Apakah kau memukulnya dengan keras?" Tanya Jack bertanya pada Sasha.
Sasha mengangguk.
Dan tertunduk.
"Biasanya dia juga tidak kenapa-kenapa jika aku memukulnya seperti itu." kata Sasha yang membela dirinya ditengah rasa bersalah.
Jack lalu memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Dia habis operasi."
"Operasi?" Sasha kaget saat mendengarnya.
"Dia terkena cancer payudara." Kata Jack pelan dan terpaksa dia katakan yang sebenarnya.
Apalagi saat ini dia sedang menunggu Vano yang tidak sadarkan diri. Jika dia kenapa-kenapa dan Sasha tidak tahu semuanya maka, Jack akan sangat menyesal sekali.
"Apa!?" Sasha menyesal sekali karena tidak tahu tentang hal itu.
"Kenapa dia sembunyi dariku? Apakah itu alasan dia pergi? Dia ada disini?" Tanya Sasha mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Benar. Dia tidak ingin ada yang tahu tentang penyakitnya."
"Oh my God. Kenapa dia menyembunyikanya dariku?" Sasha menatap Jack.
"Dia malu jika orang tahu dia menderita cancer payudara. Karena didunia ini jarang sekali pria yang terkena penyakit ini. Biasanya wanita yang terkena cancer payudara." Ungkap Jack dengan tertunduk.
"Aku menyesal telah memukulnya. Kenapa tadi aku marah hingga memukulnya. Dan kenapa dia diam saja? Harusnya dia katakan saja yang sejujurnya." Kata Sasha dan matanya mulai basah oleh airmata yang mulai keluar dari pelupuk matanya.
Jack duduk sambil melihat lantai yang kosong.
"Kau juga menyembunyikan ini dariku bukan?"
"Aku terpaksa melakukanya. Dia yang memintanya."
"Jadi selama ini kau tidak ada dikamarmu karena kau menemaninya?" Tanya Sasha mencoba mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Benar."
"Dan saat kita bertemu dirumah sakit, sebenarnya kau sedang bersamanya bukan?"
"Benar."
"Kau juga bersandiwara padaku....?" Tanya Sasha lalu berlari keluar dari rumah sakit itu.
"Sasha.....!" Jack berteriak namun tidak bisa berlari menghentikanya.
Dia tidak bisa meninggalkan Jack yang sedang koma.
Dia sendirian.
Jack memegang kedua keningnya yang menjadi berat. Lalu dia memukul tembok dibelakangnya.
Buuukkkk!
Duuukkkk!
__ADS_1
Dia tidak tahu harus apa?