Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Skandal di surat kabar lama


__ADS_3

Saat mengetahui bahwa yang dia sekap adalah Ardy maka Nadiya langsung membalikan badannya dan memunggunginya.


Aku harus segera melarikan diri sebelum Ardy benar-benar mengenali wajahku.


"Pengawal! Hajar dia!" Nadiya memanggil kedua pengawalnya dan dengan cepat menarik tangan Wisnu kemudian melarikan diri dari tempat itu.


Ardy kaget saat tiba-tiba kedua pengawal itu menyerangnya dan kemudian mereka melarikan diri saat Ardy akan mengejarnya. Kedua pengawal itu menutup pintu dari luar agar tidak terdengar oleh sekuriti apartemen. Ardy yang merasa kesakitan tidak bisa mengejar kedua pengawal wanita itu.


Padahal tadi Ardy hampir menarik tangan wanita itu sebelum akhirnya dia berhasil melarikan diri. Wajahnya memakai riasan tebal tapi sekilas mirip sekali dengan Nadiya. Tapi mana mungkin itu Nadiya, caranya berdandan dan berpakaian, tidak sedikitpun seperti karakter Nadiya.


Ardy terkapar dilantai sendirian setelah kedua orang yang tak dikenalnya menghajarnya.


Sesaat wajah wanita itu mengingatkanya pada Nadiya. Wanita yang sudah lama dia cari dua tahun yang lalu. Berulang kali Ardy menyusul dan menemui ayah mertuanya tapi saat dia kesana Nadiya ada di Paris. Dan sekalipun tak pernah bisa menemui apalagi berbicara padanya.


Karena setiap usahanya untuk menemui Nadiya tak pernah membuahkan hasil, Ardypun berhenti mencarinya. Dan sekarang karena menahan kerinduan pada kekasih hatinya Ardy bahkan mengira wanita mesum itu adalah istrinya. Ardy tersenyum pahit. Hemmmm.....


Sementara Nadiya berjalan tanpa menoleh kebelakang sekalipun dan terus mempercepat langkahnya. Wisnu setengah berlari mengikuti langkah CEO itu.


Dan membukakan pintu untuknya. Nadiya masuk dan langsung duduk sambil menyandarkan kepalanya. Wisnu terus mengamati perubahan pada wajah CEO yang tidak seperti biasanya. Nafasnya terdengar tak beraturan oleh Wisnu. Tapi Wisnu hanya diam tak berani menanyakanya. Atau dia bisa kehilangan pekerjaannya. Sudah menjadi kebiasaan dari CEO yang hanya memberikan perintah bukan menjawab pertanyaan. Apalagi pertanyaan yang berhubungan dengan privasi atau sikapnya. Lebih baik diam dan tetap waspada pada perubahan sikapnya tanpa mendalami dan bertanya apa yang terjadi.


Dua jam Wisnu berada didalam mobil dan berkeliling tak tentu tujuan. Karena Nadiya hanya mengatakan jalankan mobilnya.


"Jalan!"


"Kemana Bu?"


"Sudah jalan saja. Tidak usah banyak bertanya!"


Tapi sebagai sopir CEO yang setiap hari bersamanya sedikit banyak Wisnu tahu apa yang harus dia lakukan saat CEO itu memberinya perintah yang tidak lengkap. Dia hanya butuh suasana yang tenang saat ini. Tanpa terganggu dengan siapapun atau dengan laporan apapun dari anak buahnya.


Kemudian Wisnu membawa CEO itu berkeliling di area taman yang luas kemudian dipinggir pantai tanpa berhenti dan turun dari mobil. Setidaknya pemandangan itu akan membuat suasana hati CEO itu lebih baik. Dan mengembalikan moodnya.


Nadiya kembali mengingat kejadian dua jam yang lalu. Maafkan aku. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk melarikan diri dari penglihatan mu. Semoga kamu tidak terluka parah. Aku tahu kamu pasti akan melawan anak buahku. Dan kamu akan baik-baik saja.

__ADS_1


Kemudian setelah moodnya kembali tenang Nadiya memberikan perintah pada Wisnu untuk kembali kekantor.


"Kembali kekantor!"


"Baik Bu...."


Suasana dikantor sedang berisik saat itu. Saat seorang pegawai membawa salah satu surat kabar lama dan membuat geger semua yang ada didalam kantor tersebut. Sampai tiba-tiba salah satu pegawai memberi isyarat.


"Dia datang!"


Semua yang ada didalam ruangan langsung pura-pura bekerja tanpa ada yang berani bersuara. Mereka hanya saling melirik satu dengan yang lainya. Dengan langkah yang tegak dan anggun CEO Nadiya masuk melalui pintu utama. Kepalanya tegak dan matanya lurus memandang kedepan.


Sampai tiba-tiba kakinya tersandung selembar surat kabar yang tercecer dilantai saat tadi pegawainya berebutan untuk melihat beritanya.


"Siapa yang menjatuhkan ini!?"


Semua diam dan tak ada yang berani mengakuinya. Jantung mereka seperti kuda yang sedang lari maraton. Wajah mereka semua menjadi pucat. Dan mereka berharap CEO Nadiya tidak melihat isi beritanya.


"Jika penyihir itu melihatnya, habislah kita......" Celetuk salah seorang pegawai pada temanya yang kebetulan meja kerjanya berdekatan.


Suasana tetap hening. Para pegawai saling melempar pandangan satu dengan yang lainya. Tidak ada yang mau dipecat dari tempat kerjanya. Meskipun mereka menyebutnya penyihir tapi soal gaji CEO ini sangat loyal apalagi pada pegawai yang rajin dan pekerja keras.


"Saya hitung Satu, Dua Ti......."


Tiba-tiba Danar yang baru keluar dari kamar kecil berjalan mendekati CEO tersebut apalagi saat melihat surat kabar yang dia bawa ada ditangan CEO itu.


"Itu punya saya....Saya yang membawanya karena tadi hujan....tapi mereka semua berebutan ingin melihatnya....Entah apa yang mereka ributkan dari berita disurat kabar ini." Kata Danar menjelaskan. Semua pegawai menjadi panas dingin dan gregetan dengan Danar yang mereka panggil oon tapi sangat jujur dan pemberani.


"Kenapa kalian berebut dan membuat keributan didalam kantor!? Kalian bosan bekerja disini!?" Kata Nadiya dengan suara lantang.


Mereka tetap diam. Dan suasana menjadi hening. Kemudian Nadiya memberikan surat kabar lama itu kepada Danar. Danar menyimpanya dilaci mejanya.


Saat akan melangkah kedalam ruanganya Nadiya mendapat telepon jika kondisi ayahnya memburuk. Setelah mendengar kabar itu Nadiya bertolak lagi dan meninggalkan kantornya untuk menjenguk ayahnya dirumah sakit.

__ADS_1


Setelah kepergian CEO itu dan tak terlihat lagi mobilnya semua pegawai mengelilingi Danar dan membuat Danar ketakutan.


"Ke...kenapa kalian berkumpul disini?"


"Heh Kamu pegawai baru yang sok dan menjadi kesayangan penyihir itu. Kenapa kamu tadi bilang kami membuat keributan? Kamu sudah bosan hidup!?" Kata salah seorang pegawai perempuan yang tomboi dan sok jagoan.


"Ti....tidak. Siapa yang bilang begitu? Kalian kan memang ribut-ribut dan melanggar salah satu aturan yang dibuat ibu...."


"Aturan apa maksudmu!?" Katanya sambil mendekatkan wajahnya pada Danar.


"Aturan untuk menjaga ketenangan. Karena kalian ribut, pekerjaanku jadi terganggu!"


"Kamu pegawai baru sok rajin! Sudah! Mana surat kabar itu!" Kata temanya sambil melotot.


Kemudian Danar dengan gemetar mengambil surat kabar yang tadi dia simpan didalam laci. Salah satu pegawai merebut surat kabar itu dengan kasar dan mencari halaman yang tadi mereka lihat. Mereka belum selesai membaca beritanya dan keburu CEO Nadiya datang.


Danar duduk dimeja kerjanya dan bengong dengan kelakuan teman-temannya yang sangat tertarik dengan berita koran lama. Mereka suka bilang aku telmi, padahal mereka yang telmi dan meributkan berita yang sudah basi.


Mereka saling berpandangan dan melotot setelah membaca seluruh isi berita tersebut.


"Gue tidak menyangka ada skandal yang begitu besar didalam perusahaan kita." Kata salah seorang temanya. Dan kedengaran oleh Danar. Tapi dia tidak peduli dan tetap melanjutkan pekerjaannya.


"Penyihir itu ternyata memiliki skandal yang tidak pernah aku menduga hal itu bisa terjadi padanya." Dan yang lainya ikut berkomentar. Mereka kemudian bergosip hingga jam pulang kantor berbunyi.


Bersambung.......


----------------------


Hai, Kak! 😀😀😀


Terimakasih atas dukungan dari kalian pembaca setia dan untuk kalian yang sudah Fav, memberikan Like dan juga meninggalkan komentar.


Tanpa dukungan dari kalian apalah arti dari karya ini.....

__ADS_1


Dan Author mengucapkan maaf pada kalian semua jika dalam penulisannya masih banyak kesalahan dan kekurangan, juga cerita dan episode yang akan lumayan panjang dan kadang membosankan.


Sekali lagi terimakasih dan salam sayang dari Author 😘😍😍


__ADS_2