
Ardy sangat lelah setelah ada pekerjaan tambahan, yaitu bertemu dengan Leo. Harusnya dia pulang lebih awal malah jadi terlambat. Nadiya yang melihat suaminya sangat lelah langsung mengambil tas kantornya dan menaruh jasnya. Kemudian menyiapkan makan malam untuk suaminya.
"Papa mandi dulu ma." Kata suaminya.
"Iya pa." Nadiya mulai menata piring dimeja makan dan duduk menunggu suaminya disana. Kebetulan sebelum mandi Ardy menaruh handphone diatas meja makan. Melihat hal itu Nadiya bermaksud menyimpanya.
Tapi tiba-tiba terdengar pesan masuk. Dan ada nama Sarah disana. "Sarah?" Bisik Nadiya dalam hati. Nadiya tak mengerti kenapa Sarah mengirim pesan pada suaminya. Kenapa tidak padanya? Karena setahunya mereka tidak pernah terlihat dekat, atau ada hubungan pertemanan. Suaminya bahkan tak begitu mengenal Sarah.
Dilihatnya suaminya masih belum turun dari lantai dua, kemudian dengan cepat Nadiya membuka pesan tersebut. Dan betapa kaget, bagaikan disambar petir saat Nadiya melihat isi pesan tersebut. "Aku hamil Ar, setelah apa yang kita lakukan malam itu." Seperti itulah isi pesan Sarah yang dibaca Nadiya.
Airmata Nadiya langsung bercucuran karena shock, kaget, merasa terhianati dan sangat terluka. Dengan cepat Nadiya menghapus pesan tersebut. Kemudian Nadiya pergi keluar dan masuk kerumah Sarah. Sambil mengusap air matanya.
Ardy turun dari lantai dua dan melihat secarik kertas diatas meja. "papa makan dulu aja. Mama ada urusan penting." Ardy mengernyitkan dahinya. Kemudian makan sendirian sambil berpikir apa yang membuat Nadiya pergi mendadak tanpa mengajaknya. Ardy sebenarnya sangat khawatir karena Nadiya sedang mengandung buah hatinya.
Nadiya berlari kerumah Sarah. Saat mendekati pintu, ternyata tidak dikunci. Nadiya menarik nafas panjang dan berusaha menahan perasaanya. Segala kemarahan, kekecewaan dan tangisan hatinya ditekan kedalam relung hatinya paling dalam. Saat ini yang harus dilakukanya adalah menemui Sarah sebelum suaminya mengetahui kehamilan Sarah.
Nadiya masuk perlahan dan langsung menuju kamar Sarah. Dilihatnya Sarah sedang berbaring di ranjang melihat kearah jendela kamar Nadiya.
"Sar." Nadiya memanggil Sarah dengan suara pelan.
"Oh Nad." Sarah bangun dan duduk."Tumben malam-malam datang kesini? Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang butuh teman bicara." Nadiya mencari alasan yang tepat. Padahal Sarah sedang menunggu Ardy. Kenapa malah Nadiya yang datang? Padahal Sarah canggung jika berbicara berlama-lama dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Oh ya Sar. Waktu itu kita sempat berpapasan dirumah sakit. Kalau tidak salah kedokter kandungan. Memang siapa yang hamil Sar?" Jantung Sarah mulai berdebar kencang.
"Oh. Kapan ya Nad? Aku lupa." Sarah beralasan.
"Oh ya Sar. Aku punya kabar gembira. Akhirnya aku hamil setelah sekian lama kami menantikan kehadiran seorang bayi." Nadiya memberitahukan kabar kalau dirinya hamil.
Sarah terperanjat! Dia tak menyangka Nadiya juga hamil. Padahal tadi Sarah begitu bahagia saat sudah menemukan jalan keluar dari masalahnya. Karena dia sedang hamil anak Ardy. Ardy pasti bahagia. Tidak disangka ternyata Nadiya juga sedang hamil.
"Oh! Kamu hamil?" Kata Sarah kaget dan terbata.
"Iya Sar. Ardy sangat bahagia. Sekarang Ardy tak kan membiarkan masalah apapun menganggu janin dalam kandunganku. Kasih sayang dan perhatianya semakin bertambah dua kali lipat."
Sarah diam saja. Dan sesekali membuang muka sambil menghela nafas panjang.
"Iya terimakasih Sar. Tidak ada yang membuat kami bahagia selain kabar kehamilan ini. Dan yang paling membuatku senang adalah aku akan menjadi wanita sempurna dengan melahirkanya. Dan keluarga kami akan lengkap dengan kehadirannya. Keluarga yang utuh dan bahagia. Aku sangat mempercayai suamiku. Dia akan menyelesaikan masalahnya tanpa membuat kami terluka. Dia pasti akan mempertahankan dan menomorsatukan kebahagiaan istri dan anaknya."
Nadiya melihat Sarah mulai salah tingkah. Dan airmata menggenang dari sudut matanya. Setelah itu Nadiya berpamitan pada Sarah.
"Aku juga ikut senang Nad."
"Ya sudah ya Sar. Aku pulang dulu. Kamu adalah sahabat terbaikku. Itulah mengapa aku ingin secepatnya memberimu kabar bahagia ini. Aku sangat mempercayaimu Sar. Kamu adalah teman, sahabat, dan sudah seperti saudara Perempuanku." Kemudian Nadiya tersenyum pada Sarah dan pergi meninggalkan rumah Sarah. Nadiya bisaelihat dengan jelas perubahan wajah Sarah saat tahu dirinya hamil. Juga melihat genangan airmata dari sudut matanya.
Nadiya menutup pintu rumah Sarah dan berdiri disana dalam gelap. Airmatanya mengalir seperti hujan yang tercurah. Dan sesenggukan dan tak bisa menghentikan tangisannya. Bagaimana bisa membendungnya. Airmata ini bagai tertumpah dari seluruh kesedihannya. Rasa kecewa dan terluka memenuhi dan menyesakkan dadanya.
__ADS_1
Nadiya melihat kearah kamar Sarah. Dan setelah itu mengusap airmatanya. Dan sekuat tenaga menahanya agar tidak satupun menetes lagi. Kemudian Nadiya melihat kekamarnya yang sudah tidak ada nyala lampu. Tanda suaminya sudah tidur.
Nadiya masih berdiri dan berpikir keras tentang cara menyelesaikan masalahnya. Dia hamil, Sarah juga hamil. Ayah yang sama. Anak yang sangat dinantikanya. Satu dari dia dan satu lagi dari Sarah. Tapi aku adalah istrinya. Dan Sarah adalah kesalahannya. Bagaimana aku harus memperbaiki satu kesalahan suamiku sehingga tidak membuat kesalahan untuk kedua kalinya.
Ok. Suamiku bersalah telah menghianatiku. Dan aku tidak bisa mengubah kesalahannya. Itu sudah terjadi. Aku harus berfikir jernih. Saat ini aku sedang hamil. Dan aku tidak mau anaku menderita karena kesalahan suamiku. Aku memang sangat sedih. Sangat kecewa. sangat terluka. Tapi aku juga harus memikirkan perut Sarah yang semakin besar. Aku tak ingin suamiku tahu bahwa Sarah mengandung anaknya.
Bagaimanapun caranya aku akan menyimpan rahasia ini. Dan membuat Sarah tidak mengatakannya. Aku harus mencari jalan keluar dari semua ini. Oh Tuhan, Kau berikan aku kabar bahagia, tapi kau juga memberiku kabar duka.....
Nadiya membuka pintu rumahnya, kemudian langsung membereskan meja makan dan mencuci piringnya. Setelah itu Nadiya naik kekamarnya. Dilihatnya suaminya sudah pulas tertidur. Wajah yang begitu dikaguminya. Saat tidur begitu polos. Siapa sangka kamu tega berkhianat padaku Pa. Setitik tintapun tak pernah aku menduganya. Kamu melakukan ini padaku. Pada sahabatku. Bahkan benih yang kau titipkan akan menjadi seorang anak. Entah berapa kali kau melakukanya di belakangku pa. Aku tidak tahu. Tak pernah terlintas sedikitpun jika itu adalah Sarah. Apakah kau mencintainya sebagaimana kau mencintaiku. Apakah kau bercinta dengannya dan kau tidak mengingatku saat itu. Apakah sedikitpun tak terlintas dipikiranmu tentang perasaanku, saat kau bermesraan dan bercinta dengannya. Apakah kau sedang bermuka dua? Apakah pernikahan kita ini hanya sandiwara? Apakah kasih sayang dan perhatian yang kau berikan juga sandiwara? Apakah aku sudah tak berarti hanya karena saat itu aku tidak bisa memberimu anak? Apakah jika anak ini tidak ada dalam kandunganku kau akan meninggalkanku. Dan aku gak berharga dan tak kau cintai lagi?
Hari ini. Kau membuatku ragu tentang cintamu pa? Tentang perhatian dan ketulusanku. Kau juga mulai membuatku mulai mengkhawatirkan tentang kesetiaanmu jika kau jauh dariku. Yang tadinya aku begitu yakin dan mempercayaimu. Tapi sekarang kau telah mematahkan keyakinanku itu. Nadiya berbicara pada dirinya sendiri. Dan kemudian tertidur dengan airmata yang membasahi sarung bantalnya.
-----------------------
Hai, Kak! 😀😀😀
Terimakasih atas dukungan dari kalian pembaca setia dan untuk kalian yang sudah Fav, memberikan Like dan juga meninggalkan komentar.
Tanpa dukungan dari kalian apalah arti dari karya ini.....
Dan Author mengucapkan maaf pada kalian semua jika dalam penulisannya masih banyak kesalahan dan kekurangan, juga cerita dan episode yang akan lumayan panjang dan kadang membosankan.
Sekali lagi terimakasih dan salam sayang dari Author 😘😍😍
__ADS_1