
"Apakah hari ini kau akan pulang kerumah?" Tanya Karina.
"Sepertinya tidak. Aku akan mengunjungi Kiara, dia sedang sakit." Kata Joan berbicara dari kantor.
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama dulu. Setelah itu kau baru mengunjungi Kiara."
"Sepertinya aku sangat sibuk jadi lain kali saja." Kata Joan sambil menutup teleponnya.
"Baiklah." Jawab Karina dengan raut wajah kecewa.
"Karina!" Kata maminya yang baru saja datang.
"Mami?!" Kapan mami datang?" Tanya Karina.
"Baru saja. Oya mami denger sekarang Joan bekerja pada perusahaan Adam Karya benarkah begitu?" Tanya maminya.
"Iya mami."
"Dia bisa bekerja disana melalui mantan Nadiya. CEO Ardy yang sekarang ada didalam penjara karena kasus kecelakaan."
"Oh ya. Mami juga denger kabar itu."
"Siapa memangnya yang ada didalam mobil itu, pake dia kejar segala?" Tanya Ibu Sofia.
"Karina juga tidak tahu mami." Kata Karina sambil membuka kulkas dan mengambil minuman dingin.
"Mami mau minum?" Karina menawari ibunya.
"Tidak. Mami sudah minum." Kata Ibu Sofia.
"Mami dengar kabar katanya Nadiya sebentar lagi akan pulang." Kata ibu Sofia.
"Mami tahu darimana?" Tanya Karina.
"Mami mendengar pembicaraan papi dan Nadiya. Mungkin Minggu depan mereka sudah kembali." Kata ibu Sofia.
"Bukankah mereka seharusnya masih 3 Minggu disana?" Tanya Karina.
"Iya. Mungkin mereka berubah pikiran." Kata Ibu Sofia sambil berjalan kedapur untuk mencuci tangan.
"Karina pergi dulu mami." Kata Karina sambil membawa tas kecil dan langsung masuk kedalam mobilnya.
Dengan cepat mobil Karina melesat dan sudah tiba dikantor Adam Bakri.
Setelah menanyakan dimana ruangan Joan maka Karina diantar masuk oleh seorang pegawai.
"Siapa?" Tanya Joan dari dalam ruangan Ardy.
"Karina." Katanya sambil membuka pintu.
"Kamu?" Tanya Joan terkejut. "Ngapain kamu datang kemari?" Kata Joan kesal karena saat ini dia sedang fokus bekerja dan mencari muka didepan Ibu Elis. Sekarang istri keduanya ini akan mengganggu pekerjaanya.
"Duduklah." Kata Joan.
Kemudian Karina duduk dan sangat takjub dengan ruangan dimana Joan bekerja.
"Apakah ini ruangan kamu? Desainnya sangat klasik dan mewah." Kata Karina kagum.
"Bukan. Ini ruangan Ardy. Sementara dia dipenjara aku menggantikanya bekerja diruangan ini." Kata Joan.
__ADS_1
"Wow...Kenapa kau tidak pernah menceritakanya padaku?" Kata Karina kesal karena dia ketinggalan berita terkini.
"Kenapa kamu tidak mengatakanya padaku jika kamu menggantikan posisi Ardy dan menjadi CEO."
"sssttt...Jangan berbicara keras-keras. Nanti ada yang mendengarnya." kata Joan gregetan dengan Karina yang bawel.
"Sudah kamu pulang saja." Kata Joan sebelum kehadiranya diketahui oleh atasanya.
"Aku mau disini saja. Aku akan menunggumu bekerja sampai jam pulang kantor." Kata Karina.
"Aku akan lembur. Pekerjaan sangat banyak. Jadi lebih baik kamu pulang. Bukankah sudah kukatakan aku sangat sibuk."
"Kau mulai meremehkan aku? Karena kau sekarang bekerja disini?" Kata Karina kesal.
"Tidak sayang. Nanti jika aku sudah diangkat menjadi CEO kita akan jalan-jalan kenegara manapun yang kamu sukai. Tapi sekarang pulanglah." Kata Joan.
"Janji?" Kata Karina sambil mengulurkan tanganya.
"Yyyaaa." Kata Joan dengan kesal dan nada berat.
"Baiklah, aku pulang kalau begitu. Aku akan sangat merindukanmu. Kau cepatlah pulang jika urusan disana sudah selesai." Kata Karina.
Kemudian Joan mengangguk dan membukakan pintu untuk Karina agar dia cepat keluar dari ruangannya.
Untung dia cepat pulang. GumamJoan.
Tidak lama kemudian Elis masuk keruangan Joan.
"Pak Joan." Kata Elis.
"Ya...Bu." Jawab Joan.
Rupanya tadi Elis baru saja bertemu dengan Pengacara Ardy dan membicarakan tentang kasusnya.
Ardy tidak mungkin bisa keluar dalam waktu cepat. Hanya masa tahanan saja yang bisa dipangkas, itupun jika pihak keluarga tidak mempersulit dalam sidang nanti.
Jadi untuk sementara Joan akan diangkat menjadi CEO menggantikan posisi Ardy.
Didalam ruangan Elis, sudah duduk pak Adam, papinya.
Joan masuk dan mengangguk hormat pada pak Adam sebagai pemilik perusahaan ini.
"Silahkan duduk." Kata Pak Adam mempersilakan Joan untuk duduk.
"terimakasih." Jawab Joan.
Deg deg deg
Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Kenapa dia dipanggil? Apakah dalam pekerjaanya dia melakukan kesalahan dan akan dipecat? Gumam Joan bertanya-tanya didalam hati.
"Begini pak Joan. Karena saat ini Perusahaan sedang membutuhkan pengganti pak Ardy sementara beliau menyelesaikan kasusnya, bagaimana kalau bapak menggantikan posisi beliau untuk sementara?" Kata Pak Adam sambil menatap Joan dan Elis secara bergantian.
Dia juga tahu jika Joan sudah berpengalaman. Dan kemarin dia lihat pekerjaanya juga memuaskan. Hal itu juga diungkapkan putrinya jika Joan boleh masuk dalam daftar nama yang akan menggantikan posisi Ardy sementara.
Deg
Jantung Joan hampir terlepas dan dia sangat shock karena saking terkejutnya. Perasaan bahagia yang tidak bisa digambarkan membuatnya linglung.
"Bagaimana bapak Joan. Apakah bapak bersedia?" Tanya Tuan Adam sambil tersenyum setelah melihat anggukan Joan.
__ADS_1
"Baik pak. Saya bersedia." Kata Joan. "Terimakasih karena bapak sudah memberikan kepada saya kepercayaan untuk memimpin perusahaan ini."
"Baiklah kalau begitu silahkan bicarakan berkas2 yang harus segera diselesaikan dan beberapa proyek yang terbengkalai akibat masalah yang menimpa nak Ardy. Silahkan kalian bicarakan dengan beberapa dewan direksi dan mengadakan rapat pemegang saham untuk awal bulan depan. Saya tinggal dulu." Kata Tuan Adam berpamitan.
Kemudian Elis dan Joan berbicara empat mata hingga jam pulang kantor. Mereka membicarakan tentang pekerjaan yang harus ditangani oleh Joan dengan hati-hati. Karena ada beberapa dari mereka yang sangat sensitif terhadap isu yang menimpa Ardy. Elis tidak ingin mereka sampai merasa khawatir atas kasus Ardy dan membatalkan kerjasama yang sudah terjalin sekian lama.
"Baiklah besok kita akan mengadakan rapat." Kata Elis.
"Baiklah." Kata Joan sambil keluar dari ruangan itu.
Hatinya sedang dipenuhi oleh aura positif saat ini. Dia tersenyum kepada semua orang yang dia temui. Dia juga senyum-senyum sendiri membayangkan impiannya yang sudah menjadi kenyataan akibat kasus yang menimpa Ardy.
Kemudian dengan cepat Joan melajukan mobilnya dan langsung menuju rumah istri pertamanya, Dara.
🌹🌹🌹
Sementara dirumah sakit Sasha sudah mulai membaik namun dia tidak berhenti menangisi ibunya yang masih tidak sadarkan diri.
"Mami....hiks hiks hiks." Seorang suster datang dan mendekatinya.
"Ada apa? Apakah ada yang sakit?" Tanya suster itu.
"Mami......hiks hiks."
"Tenanglah berdoa saja agar ibu kamu lekas sadar, ya. Jangan menangis. Suster akan menemanimu disini." Kata Suster yang sedang jaga.
Sasha mengangguk.
Dan tiba-tiba suster itu mendengar dari mesin jika detak jantung pasiennya melemah dan tidak beraturan.
Dengan cepat dia memanggil dokter agar melakukan sesuatu sebelum terlambat.
Dokter datang dan langsung meriksa Sarah dan juga membuka matanya. Mesin itu berhenti dan terlihat garis dilayar yang menandakan jika detak jantung pasien telah berhenti.
Dokter akhirnya memberikan kode kepada suster bahwa pasien itu sudah meninggal. Dan hubungin polisi karena ini merupakan korban kedua dalam kecelakaan itu.
Sasha terbengong dan tidak mengerti melihat Dokter dan suster serta polisi yang mengerubungi maminya. Dia masih tidak tahu jika maminya telah tiada.
Akhirnya seorang suster mendekatinya dan menelpon seseorang.
"Baiklah saya akan datang." Suster menelpon seseorang. Tidak lama kemudian Elis datang karena mendapat kabar dari suster jika korban kecelakaan itu meninggal dunia.
Elis nampak kalut dan linglung. Dia sedih karena berharap pasien bisa sembuh dan hukuman Ardy menjadi ringan. Namun setelah mendapat kabar dari suster maka harapan untuk meringankan masa hukuman Ardy menjadi kecil. Sekarang terdapat dua korban akibat kelalaian Ardy.
Sesampainya dirumah sakit Elis langsung memeluk Sasha dan menghapus airmatanya.
"Kenapa mami dibawa pergi?" Tanyanya lirih.
Mendengar pertanyaan Sasha membuat hati Elis sedih dan kemudian tanpa memberikan jawaban Elis memeluknya.
"Jangan bersedih. Tante akan menemanimu disini."
"Tapi mami mau dibawa kemana?" Tanya Sasha.
Akhirnya dengan menahan nafas Elis terpaksa memberi tahu Sasha jika ibunya sudah meninggal.
"hiks hiks...mami......" Sasha menangis namun dia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya karena kakinya masih sakit.
"Tenanglah....." Kata Elis sambil membelai rambut gadis yang malang itu.
__ADS_1