
"Ahk Sial! Maafkan aku Diana. Aku kelepasan. Sudah yuk! Aku harus kelapangan, aku harus latihan dan harus masuk lima besar." Kata Vano sambil mengancingkan bajunya yang terbuka.
Diana lalu mengangguk. Dan Diana juga membenahi bajunya yang sedikit berantakan. Entah apa yang mereka lakukan didalam sana barusan.
Muda-mudi berduaan didalam kamar dengan alasan belajar bersama, lama-lama setanpun menjadi yang ketiga.
Saling bersentuhan dan munculah hasrat untuk memulainya. Satu sentuhan menjadi awal masuknya setan.
Awalnya takut-takut lama-lama setanpun membujuk dan dua insan tanpa ikatanpun tidak bisa menahan dirinya. Mereka seperti mabuk kepayang akibat darah muda yang bergolak.
Sasha masih berdiri dipintu kamar Vano. Namun tiba-tiba Rossa memanggilnya dan memintanya untuk datang.
"Sasha!" panggil Rossa dari kejauhan. Sasha yang sudah memegang handle pintu itupun melepaskan tangannya dan berjalan kearah Rossa.
"Apa?" Tanya Rossa setelah mereka dekat.
"Aku mencarimu. Kau kemana saja sih?" Kata Rossa sambil menarik tangan Sasha.
"Ini penting! Menteri ingin bertemu denganmu." Kata Rossa.
"Untuk apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi kau pergilah ke restoran depan kampus. Menteri menunggumu disana."
"Tapi...." kata Sasha ragu-ragu.
"Temui saja." Kata Rossa. Rossa tadi rupanya sudah menemui Menteri dan dia mendapatkan sebuah amplop putih berisi uang. Entah berapa tidak tertulis dari luar, tapi pasti jumlahnya lumayan. Soalnya itu terlihat dari wajah Rossa yang sumringah.
Rossa jadi tidak perlu kerja part time lagi untuk beberapa bulan setelah mendapatkan uang jajan dari Menteri yang lumayan banyak.
Sasha lalu berpapasan pada ketiga teman-temanya sesama pelari. Ketiga temanya itu sedang berbisik-bisik sambil terlihat memegang amplop putih.
"Darimana mereka?" gumam Sasha dalam hati.
"Hai!" Sapa Rara.
"Kau juga dipanggil kesana? Kau ingin bertemu pak Menteri bukan?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Ya. Kenapa ya, aku ngga mengerti."
"Datang aja. Dan terima aja tawarannya." Celetuk salah satu dari mereka.
"Maksud kalian apa sih? Aku ngga ngerti." Kata Sasha.
"Nanti kau juga akan paham." Kata mereka lalu berlalu.
Sasha lalu memonyongkan mulutnya dan berpikir sejenak. Akhirnya dia melanjutkan langkahnya setelah tadi sempat terhenti saat berpapasan dengan teman-temannya.
Sasha sampai didepan restoran dan menengok kesekililing, setelah itu diapun masuk kedalam.
Disana sudah duduk Menteri bersama dua ajudannya.
"Duduklah disini." Panggil Menteri sambil mempersilahkan Sasha duduk didepannya.
__ADS_1
"Terimakasih." Kata Sasha.
Menteri lalu memandang wajah Sasha dan tersenyum manis.
"Kau sudah mengerti, kenapa kau dipanggil kemari?" Tanya Menteri kepada Sasha.
Sasha lalu menatap Menteri dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak." Jawab Sasha.
"Apakah mereka tidak memberitahumu?" Tanya Menteri itu.
"Tidak."
"Baiklah. Kau mengenal Catrine?"
"Ya. Dia ikut lomba lari bersama saya."
"Dia adalah putriku. Dari kecil dia sangat suka berlari. Dan dia ingin sekali memenangkan pertandingan kali ini."
"Ya. Lalu?" Tanya Sasha penasaran dan tidak mengerti arah pembicaraan Menteri tersebut.
"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" Kata Menteri itu.
"Kesepakatan?" Sasha semakin bengong dan bingung.
"Semua temanmu sudah setuju untuk membuat kesepakatan dengan saya." Kata Menteri.
"Saya tidak mengerti." Kata Sasha.
Sasha diam sesaat dan mulai mencerna maksud dari Menteri itu mengundangnya.
Sekarang dia mulai paham, kenapa dia dipanggil dan semua teman-temannya memegang amplop.
Dan mereka terlihat ceria begitu juga dengan Rossa. Apakah Rossa juga bagian dari kompromi ini. Jika ia, Oh Tuhan....kalian semua benar-benar tidak ada bedanya dengan dia yang menggunakan kekuasaannya untuk kompromi sebuah kompetisi besar seperti ini.
Menteri sesaat tersenyum melihat Sasha.
Sasha masih diam tak bergeming. Lalu tiba-tiba Sasha menaikkan tanganya kemeja dan menggeser amplop itu menjauhi dirinya.
Menteri itupun masih tersenyum dan malah menambahkan amplop berisi uang diatas meja. Jadi sekarang diatas meja ada dua amplop. Dan menggeser kedua amplop berisi uang itu kehadapan Sasha.
"Aku memberimu dua amplop. Teman-temanmu hanya mendapatkan satu amplop. Tapi khusus untukmu. Aku memberikan dua. Kau sangat berbakat. Jadi pasti tidak mudah bagimu untuk membuat kesepakatan ini. Aku bisa memakluminya."
Kata Menteri sambil mengangguk-angguk.
"Tapi saya...."
Keburu dipotong oleh Menteri.
"Tidak apa-apa. Saya tahu ini tidak mudah. Pikirkanlah lagi untung dan ruginya. Jika kau menerima ini, kau tidak perlu berjuang terlalu keras lagi. Namun jika kau menolaknya, bukankah belum tentu kau juga akan menang? Dan kau tidak akan mendapatkan apapun selain rasa lelah." Kata Menteri.
"Tapi saya minta maaf. Saya tidak bisa menerima ini. Dan saya mohon diri." Kata Sasha sambil berdiri.
__ADS_1
Menteri pun ikut berdiri dan menatap Sasha dengan raut muka yang berbeda.
"Aku memberimu kesempatan sekali lagi untuk menerima tawaranku. Dan bahkan aku mengistimewakanmu dengan memberimu dua kali lipat dari teman-temanmu." Ujar Menteri.
"Tapi sekali lagi saya minta maaf. Saya benar-benar tidak bisa menerima uang ini. Dan saya mohon diri."
Tanpa menoleh lagi Sasha langsung berlari menjauh dari restoran itu. Dia berlari tanpa menoleh kebelakang. Dadanya terasa sesak dan jantungnya berdebar-debar.
Deg
deg
deg.
"Ini gila! Ini benar-benar gila! Mereka semua gila! Mereka membuat kesepakatan dan membohongi publik! Ini sangat tidak masuk akal!" Kata Sasha sambil terus berlari dan tiba-tiba dia menabrak seseorang.
Bruuukkkk!
Rupanya dia menabrak Catrine yang entah muncul darimana.
Sasha tidak menghiraukan Catrine. Dia langsung melanjutkan larinya dan tidak mempedulikan Catrine yang terbengong melihatnya.
Apakah dia mengetahui semuanya? Apakah dia juga ikut bersekongkol bersama dengan Menteri?
Sasha terus berlari dan malah bertabrakan dengan Regan yang sudah mencarinya dari tadi.
Regan mencari Sasha kemana-mana. Lalu Rossa memberitahukan jika Sasha dipanggil Menteri direstoran depan kampus.
Mendengar hal itu Regan langsung berlari menyusulnya. Begitu bertubrukan dengan Sasha, Regan lalu memeluknya.
Sasha yang saat ini sedang membutuhkanya langsung balas memeluknya sangat erat. Saat ini Sasha benar-benar membutuhkan seseorang untuk melepas rasa sedihnya dan juga perasaan yang tidak menentu.
Pertemuannya dengan Menteri menjadikan beban dihati dan pikiranya, hingga membuat seluruh badannya terasa berat.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Regan sambil melihat Sasha dan melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Lalu Regan kembali memeluknya.
"Syukurlah. Aku sangat khawatir. Kenapa kau menemuinya tanpa memberitahuku."
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba teman-teman ku mengatakan jika Menteri ingin bertemu denganku." Kata Sasha.
"Lain kali jika kau ingin menemuinya lagi, kau harus bersamaku." Kata Regan.
"Aku tidak akan menemuinya lagi."
"Kenapa? Apakah dia menyakitimu? Atau mengancamu, atau dia melakukan hal yang buruk kepadamu?"
"Tidak. Aku hanya tidak ingin menemuinya. Untuk apa aku menemuinya. Kita tidak ada urusan apapun, benarkan?" Kata Sasha sengaja menyembunyikan kebenaranya dari Regan.
Dia tidak mau Regan khawatir. Dan dia tahu betul sifatnya. Jika sudah marah dia tidak peduli itu menteri atau apa, dia akan melawannya. Sasha juga tidak mau Regan bermasalah dengan Menteri tersebut.
Regan memang tidak mendukungnya dalam mengikuti kompetisi ini. Tapi jika ada yang mengancamku karena kompetisi ini, maka dia tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
Jangan-jangan ini alasan Regan melarangnya mengikuti lomba? Jadi mungkin Regan sudah tahu karakter dari menteri tersebut. Tapi aku tidak akan mengatakan apapun sampai aku ada digaris finish dan memenangkan lomba ini.