Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Kebenaran yang menyesatkan


__ADS_3

Seperti hidup sendiri, tidak bersama siapapun dan tidak berharap pada siapapun. Hanya hidup karena nyawanya membuatnya bernafas. Tak ingin hidup karena bahkan jika dia matipun tak ada yang akan menangisinya. Rasa sesak didalam dadanya setiap kali mengingat kepahitan hidup yang pernah dijalaninya. Saat tak punya tempat tuk dituju. Bahkan kebenaran mata angin pun kadang menyesatkanya.Impian yang pernah hilang karena langkah yang tak bertuan. Membuatnya pernah putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Tapi setidaknya Tuhan memberinya rasa percaya dan iman yang kuat, sehingga semua kepahitan hidup telah dilaluinya. Yang pergi pasti kembali yang hilang akan berganti. Sekarang semua kebahagiaan sedang didalam genggamannya. Keluarga, suami, kehamilanya, karir dan hidup yang nyaman.


Nadiya melipat beberapa baju yang akan dia sumbangkan untuk anak-anak dipanti asuhan. Memesan kotak makanan dan juga beberapa peralatan sekolah yang akan dia bawa bersama baju-baju itu.


"Non, mau pergi sendiri?" Tanya asisten rumah tangganya.


"Iya bi." Jawab Nadiya. "Tapi kata tuan Non Nadiya tidak boleh pergi sendirian. Karena sedang mengandung." Kata asisten rumah tangganya mengingatkan.


"Tidak bi. Nadiya pergi dengan beberapa teman Nadiya yang lain. Nadiya tidak sendirian."


Kemudian setelah selesai berkemas terdengar klakson mobil dari luar. Teman Nadiya menghampirinya dan mereka akan pergi bersama.


"Bi, tolong bawakan semua barang-barang ini."


"Baik Non." Nadiya berjalan dan menghampiri temanya kemudian masuk kemobil. Dimobil sudah ada Dara dan anaknya juga temanya yang lain. Mereka akan bersama-sama mengunjungi Panti Asuhan Kasih Bunda.


Dua jam kemudian mereka telah sampai. Dan beberapa pengurus panti asuhan menyambut kedatangan mereka dengan senang. Beberapa diantaranya membantu membawakan barang-barang yang ada didalam mobil. Kemudian Nadiya, Dara dan beberapa temanya turun menghampiri dan menyalami anak-anak yang sudah berdiri menyambut mereka.


Rasa bahagia yang mereka rasakan juga dirasakan oleh Nadiya. Kata orang kebahagiaan yang kita bagi juga akan menambah kebahagiaan didalam diri orang yang membaginya. Dan sungguh itu nyata, terasa sekali kebahagiaan dari tawa riang anak-anak yang sedang menikmati makanan yang dibawa oleh Nadiya dan teman-temannya.


Kiara bahkan tidak mau pulang karena asyik bermain dengan mereka.


"Pulang dulu ya? Lain kali kita akan datang lagi. Dan Kiara bisa bermain lagi. Sekarang pulang dulu ya...." Dara membujuk Kiara.


Akhirnya Kiara menurut dan mau diajak pulang.


 ----------


Beberapa bulan kemudian..........

__ADS_1


Sarah mengadakan acara tujuh bulanan kehamilanya. Sarah juga mengundang kerabat dan teman-teman serta tetangga dekat. perut Sarah sudah terlihat sangat besar. Bahkan untuk berjalan pun sudah sangat kepayahan. Sarah berdiri diantara para kerabatnya dan disampingnya ada Leo yang setia menemaninya.


Diantara para tamu ada Ardy dan Nadiya yang juga turut diundang. Sedangkan tamu yang baru datang Joan dan Dara beserta putri mereka.


"Selamat ya. Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." Kata Joan sambil bersalaman dengan Leo.


"Ya. terimakasih." Joan berjalan melihat kesana kemari setelah itu manggut-manggut. Sepertinya sekarang Joan merasa tenang karena keluarga Karina tidak diundang. Jadi rahasianya masih tetap terjaga. Apalagi didepan Ardy dan Leo.


Joan berjalan mendekati Sarah. Dan matanya melihat kesana kemari. Dilihatnya Leo sedang sibuk dengan beberapa temanya.


"Hai Sarah. Akhirnya kamu hamil juga." Kata Leo pada Sarah. "Tapi setahu gue kamu belum lama balikan. Tapi perut kamu sudah sebesar ini. Kamu sudah seperti mau lahiran aja." Joan berbicara ceplas-ceplos didepan Sarah saat dilihatnya Leo tidak ada bersamanya.


Baru saja Sarah akan membalas perkataan Joan tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit. Dengan sekuat tenaga Sarah menahan rasa sakitnya. Tanganya memegang lengan Joan sekuat tenaga sambil mencengkram.


"Eh....eh....Apa ni? Kenapa ini? Ada apa Sar?" Sarah memegang lebih kencang dan terus mencengkeram Joan. Joan sampai kesakitan karena kuku Sarah yang tajam.


"Aduh! Tolongin aku! Perutku! Perutku sakit sekali!" Erang Sarah kesakitan. Dan hanya ada Joan didekatnya saat itu.


"Aduh! Gue ngga tahu! Aduh! Sakit banget! Bawa gue duduk!" Suasana begitu meriah sehingga ngga mungkin berteriak pada Leo. Dia tak akan mendengar teriakannya. Leo sengaja membuat pesta yang mewah untuk acara tujuh bulanan anak pertamanya. Sehingga masih sibuk menyambut para tamu undangan yang hadir ikut mendoakan keselamatan anaknya.


"Bawa gue kemobil!" Pinta Sarah.


"Gue?"


"Iya kamu, siapa lagi!? Cepetan gue udah ngga tahan!." Kemudian karena Sarah sudah sangat kesakitan maka dengan susah payah Joan membawa Sarah kemobil.


"Lo ada-ada aja sih. Bikin gue repot aja. Udah badan Lo berat amat. Bukanya panggil si Leo. Malah nyuruh-nyuruh gue. Gue bilang mau lahiran Lo bilang ngga."


"Udah jangan ngomel aja. Duduk didepan dan bawa gue kerumah sakit. Gue udah ngga tahan." Kata Sarah sambil menahan nafas yang ngos-ngosan menahan sakit.

__ADS_1


"Gue panggilan si Leo ya. Biar Lo ada yang nemenin?"


"Ngga usah Joan. Lo ngga denger? Gue udah ngga tahan. Cepetan!!!" Sarah berteriak didalam mobil. Kemudian Joan tanpa banyak berkomentar membawanya kerumah sakit yang dia inginkan.


"Kemana nih? Disini banyak rumah sakit."


"Itu yang sebelah kanan jalan. Gue ngga mau yang lain. Gue maunya kesitu."


"Udah kesakitan tapi rumah sakit aja masih milih-milih." Gerutu Joan.


"Aduh sakit! Gue udah ngga tahan nih! Udah mau keluar!"


"Iya! Iya....sabar dulu. Sebentar lagi gue sampai. Lo tahan dulu jangan dikeluarin didalam mobil. Bisa berabe gue. Gua lagi nanti jadi tersangka. Pake kaga dituduh iya."


"Lo cerewet amat si Joan. Bikin perut aku tambah sakit."


"Lagian Lo acara tujuh bulanan malah pergi kesini buat lahiran. Itu acara bagaimana?" Kata Joan sambil menahan panik melihat Sarah mengerang kesakitan.


"Aduh aku ngga tahu deh! Yang penting aku lahiran dulu. Itu sudah sampai. Cepetan panggil dokter." Kata Sarah dengan nafas tersengal.


"Dokteeeerrr!!!!" Dokter dengan cepat membawa Sarah keruang untuk melahirkan.


"Lo tunggu sini jangan kemana-mana!?" Kata Sarah.


"Aduh gue ngga mau deh! Bukan gue bapaknya bikin juga kagak! Masa gua yang harus tanggung jawab?"


"Joan....please. Tunggu anak gue lahir. Lo baru kasih tahu Leo. Aku mohon. Jika Lo ngga mau. Maka jika terjadi apa-apa sama aku maka kamu yang harus tanggung jawab. Please....Biarin gue lahiran dengan tenang."


"Iya-iya!"

__ADS_1


Mimpi apa gue. mau senang-senang gue malah terdampar disini. Keenakan bapaknya. Dia yang bikin, dia yang enak, gue yang disini, nungguin dia lahiran. Dulu aja suruh milih gue kagak mau. Sekarang giliran mau lahiran malah suruh gue yang nungguin. Mana gue laper, haus, belum sempat makan dan minum sekarang jantung gue malah berdebar-debar nungguin anaknya lahir. Capek gue. Mendingan gue tidur aja deh!


__ADS_2