
Catrine lalu mencari pelatih. Dan karena tidak ada dilapangan, maka Catrine mencarinya dikamarnya.
Pintunya terbuka.
Catrine lalu berjalan pelan didepan kamarnya. Ada suara musik diputar, juga suara nyala TV. Tapi kemana perginya pelatih? Kenap dia tidak ada dikamarnya?
Catrine lalu menunduk kebawah saat sesuatu seperti terinjak olehnya.
Catrine lalu menunduk dan akan melihat, apa yang baru saja dia injak.
Ternyata sebutir obat. Obat?
Catrine lalu mengambil dan mengamati obat itu.
"Ini mirip seperti yang ditemukan dikamarnya." gumam Catrine sambil terus mengamati obat itu.
Tiba-tiba pelatih itu masuk dan menegur Catrine.
Catrine dengan cepat mengantongi obat itu disakunya.
"Catrine! Apa yang kamu lakukan disini?" tanya pelatih sambil memperhatikan gerak-gerik nya yang sedikit aneh. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ohh pak. Bapak dari mana? Saya menunggu bapak dari tadi." kata Catrine terlihat sangat gugup.
"Saya ada perlu sebentar. Ada masalah apa?"
"Ehmm...maafkan saya, karena kemarin saya tidak datang di acara. Saya ketiduran dan tidak ada yang membangunkan saya."
Catrine meminta maaf kepada pelatih karena tidak profesional. Harusnya kemarin dia datang dan ikut bertanding. Tapi kenyataanya dia tidak datang karena obat tidur yang tidak sengaja dia minum.
"Ohh, kamu ketiduran? Aneh sekali. Apakah kamu tidur larut malam?" tanya pelatih kepada Catrine.
"Tidak. Sepertinya ada yang sengaja ingin agar saya tidak datang. Ada orang yang mencampur obat tidur diminumkan saya."
uhuk! pelatih tiba-tiba tersedak.
__ADS_1
"Darimana kau tahu? Jika ada yang mencampur obat tidur diminumanmu?"
"Dari bekas gelas yang saya minum."
"Ini tidak bisa dibiarkan. Apakah kau tahu siapa pelakunya?" tanya pelatih sambil menatap lekat kewajah Catrine penuh selidik.
Catrine menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak tahu siapa yang sudah menaruh obat tidur diminuman itu." kata Catrine lalu teringat obat yang barusan dia temukan.
"Nanti akan saya selidiki, siapa yang sudah melakukan semua itu." kata pelatih kepada Catrine.
"Terimakasih pak. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Ya. silahkan."
Pelatih lalu menutup pintu kamarnya.
Semetara Catrine langsung kekamarnya dan menelpon papinya.
"Pi, Catrine menemukan obat yang sama seperti yang ada diminuman Catrine." kata Catrine kepada papinya.
Tidak lama kemudian Menteri sampai di asrama. Karena memang apartemennya tidak jauh dari asrama putrinya.
"Mana obatnya, coba papi lihat." kata Menteri.
Catrine kemudian mengeluarkan obat tidur dari sakunya.
"Ini Pi...." Catrine memperlihatkan obat tidur itu.
"Coba papi lihat."
Setelah diamati oleh Menteri, ternyata obat itu sama persis seperti yang dia temukan dikamar Catrine.
"Benar. Ini sama seperti yang digunakan untuk membuatmu tidur."
__ADS_1
"Apa?!" Catrine sangat terkejut. "Tapi itu tidak mungkin Pi," kata Catrine.
"Kenapa tidak mungkin?" Menteri jadi bingung.
"Karena Catrine menemukan obat itu dikamar pelatih. Jadi tidak mungkin pelatih yang melakukan semua ini." Kata Catrine.
Menteri nampak berfikir dan diam sesaat.
"Kau menemukanya dikamarnya?" tanya Menteri.
"Benar Pi. Tadi saat Catrine kesana, Catrine tidak sengaja menginjak obat ini dilantai. Jadi Catrine memungutnya." Kata Catrine menjelaskannya kepada Papinya.
"Tapi kenapa obat ini bisa ada dikamarnya?" tanya Menteri.
"Itulah yang Catrine bingung. Obat ini bisa ada dikamar pelatih. Dan Catrine tidak percaya jika pelatih yang melakukan semua ini. Untuk apa? Tidak ada untungnya baginya bukan, Catrine atau Sasha yang akan bertanding?"
"Hanya ada satu kemungkinan."
"Apa Pi....?" tanya Catrine penasaran.
"Dia meragukan kemampuanmu. Dan akhirnya dia membuatmu tidak datang ke acara. Karena dia ingin agar Sasha yang melakukanya. Dia ingin menang. Dan jika kau yang bertanding, dia tahu kau belum tentu akan menang." Kata Menteri menjelaskan kepada Catrine.
"Tapi tidak bisa seperti itu dong Pi, belum tentu juga Catrine akan kalah bukan? Kenapa dia harus menghalangi Catrine untuk ikut bertanding? Catrine tetap tidak terima. Papi harus membalasnya." Kata Catrine.
"Ya. Papi akan memberinya pelajaran jika memang dia yang melakukan semua ini. Papi akan membuatnya dipecat dari jabatannya." kata Menteri kepada Catrine.
***
Sementara Nadiya dan Prasetyo juga melihat wajah Sasha ada ditelevisi dan juga dimedia sosial.
Merekapun tidak sabar untuk mengucapkan selamat kepadanya.
Mereka tidak bisa pergi kesana karena Oma sedang sakit. Bahkan liburan akhir tahun pun mereka terpaksa tidak pergi keluar negeri. Mereka akan menginap dan berakhir tahun didalam negeri saja.
"Selamat Sasha....kami sangat senang mendapat kabar yang membahagiakan ini. Regan sudah mengirim pesan dan kami semua bangga padamu." Kata Nadiya dan Prasetyo melalui telepon.
__ADS_1
"Terimakasih Tante, om...." kata Sasha.
Merekapun berbicara beberapa lama didalam telepon. Dan Sasha berencana untuk pulang ke Indonesia sebelum liburan akhir tahun.