Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Bertemu keluarga Vano


__ADS_3

Jeslin sedang minum teh bersama suaminya. Jeslin ingin mengatakan sesuatu namun, belum sempat dia mengatakan apapun tiba-tiba Vano muncul dari pintu utama.


"Kau darimana?" Tanya papanya.


"Kuliah."


"Papa ingin bicara sebentar." Vano lalu duduk disamping papanya.


"Nanti malam ada undangan makan dari teman papa, kau bisa ikut?" Tanya papanya.


"Jam berapa pa?"


"Jam 8 malam."


"Baiklah."


Vano lalu masuk kedalam kamarnya.


***


Malam harinya Vano dan keluarganya masuk kesebuah restoran, disana sudah ada Nadiya dan juga Prasetyo, ada juga beberapa koleganya.


Prasetyo tersenyum kepada Vano dan menyapa papanya.


"Silahkan duduk."


"Kami tidak terlambat kan?" Gurau papa Vano.


"Hhhh...tidak..Kami juga batu saja sampai." Kata Prasetyo.


Sementara Jeslin duduk didekat Nadiya.


"Kau nampak gemukan." Kata Jeslin pada Nadiya.


"Benar, sepertinya kau harus mengulang ukuran badanku."


"Hahahaha....aku tidak bisa menggunakan ukuran yang lama untuk mendesain bajumu." Kata Jesline.


"Hhhh, besok aku akan ke tempatmu. Kau bisa mengukur ulang." Kata Nadiya.


"Apakah dia putramu?" Tanya Nadiya.


"Ya, namanya Vano. Vano, ini Tante Nadiya." Kata Jeslin.


"Halo tante." Vano menyapa Nadiya dengan ramah.


"Ngomong-ngomong bukankah kau juga kuliah di Amerika?"


"Iya Tante, tadinya kuliah disana. Tapi sekarang pindah kesini?"

__ADS_1


"Kenapa begitu?"


"Tidak papa Tante, disini juga banyak universitas yang tidak kalah bagusnya."


"Ya, kau benar. Dimana kau kuliah sama saja, yang penting kau harus serius." Kata Nadiya.


"Bukankah, putramu juga kuliah di Amerika? Siapa namanya?"


"Regan."


"Uhuk!" Vano langsung terbatuk mendengar nama Regan disebut. Karena artinya ada hubunganya dengan Sasha.


"Ehm, siapa Tante?"


"Regan. Kau kenal dia?"


Vano bingung harus jawab apa.


"Ehm, ngga begitu kenal sih Tante, cuma sepertinya pernah dengar namanya." Kata Vano.


"Bukankah kau juga punya seorang putri?"


"Putri?" Nadiya sangat kaget.


"Prasetyo pernah mengatakannya." Kata Jeslin.


Nadiya nampak bingung harus bilang apa.


Jeslin tersenyum dan dia senang karena Vano ramah padanya malam ini.


***


Didalam mobil, Nadiya masih kepikiran apa yang dikatakan Jeslin tadi. Putri? Prasetyo pernah mengatakan pada Jeslin jika dia punya seorang putri.


Mungkin dia mengatakanya saat kami ingin memasukkanya kedalam kartu keluarga kami.


Tapi setelah tahu jika dia adalah anak dari mantan suaminya? Mungkinkah Prasetyo masih peduli pada Sasha?


"Kau diam saja. Ada apa?" Tanya Prasetyo saat dilihatnya Nadiya melamun.


"Ohh, aku hanya kaget anak Jeslin ternyata dia sudah sebesar Regan. Dia bahkan satu universitas dengan Regan. Namanya siapa tadi, Ehm, Vano."


"Aku juga baru melihatnya," kata Prasetyo sambil terus mengemudi.


Saat dilampu merah, tiba-tiba Prasetyo melihat Sasha ada didalam taksi disebelah mobilnya.


Sasha nampak sedang menggendong bayinya. Prasetyo mengusap matanya berulang kali dan dia memang tidak salah lihat, itu benar Sasha.


Hanya saja Prasetyo tidak berani menyebut namanya didepan Nadiya.

__ADS_1


Berarti benar apa yang dikatakan Regan, Sasha hamil dan melahirkan. Tapi kenapa dia ada disini? Bukankah dia ada di Amerika?


Tin! Tin! Tin!


"Pras jalan! Sudah hijau!"


Prasetyo kaget karena lampu sudah hijau dan mobil dibelakangnya rame membunyikan klaksonnya.


"Apa yang kau lihat tadi?" Tanya Nadiya.


"Ehm, Ohh, tidak ada."


"Kau nampak melamun. Kau bahkan tidak tahu jika lampu sudah berubah hijau."


"Sorry, aku sedang berfikir, apakah kita akan merayakan ulang tahu Edsel dan juga Eiden?"


"Ohhh, ya....aku hampir lupa kalau beberapa hari lagi ulang tahun mereka." Kata Nadiya yang baru ingat jika sebentar lagi Edsel dan Eiden akan berulang tahun.


"Kau ibunya, tapi kau tidak ingat ulang tahun putramu sendiri."


"Banyak yang aku fikirkan, sampai-sampai aku lupa jika mereka akan berulang tahun." Kata Nadiya.


"Apakah kita akan mengundang Sandra?" Tanya Prasetyo.


Nadiya sontak kaget.


"Eehhhh..."


"Ehm, Sandra?"


"Sekali-kali tidak masalah kan, kalau kita mengundangnya dihari ulang tahun putra kita." Kata Prasetyo, karena bagi Prasetyo tanpa bantuan Sandra, makan kedua anaknya tidak akan lahir ke dunia ini.


Nadiya menarik nafas panjang, dan jika dia menolaknya, maka Prasetyo akan berfikir buruk padanya.


Akhirnya terpaksa Nadiya mengangguk.


Tidak mungkin kukatakan jika Sandra sudah menyekap ku. Andai aku mengatakanya, dan Sandra membuka mulutnya tentang kelahiran Edsel dan juga Eiden, maka aku akan dipermalukan.


Seluruh stasiun Televisi dan surat kabar akan bergosip tentang diriku. Belum lagi Oma akan membenciku, karena menyimpan rahasia besar tentang kelahiran Edsel dan juga Eiden.


Aku tidak boleh mengatakan apapun. Aku hanya harus terus mengawasi Sandra dan menahanya, agar tidak terlalu dekat dengan keluargaku.


Sudah menjadi kebiasaan, jika sifat manusia bisa serakah dan mudah berubah.


"Turunlah, kita sudah sampai. Atau kau akan terus melamun disini?" Kata Prasetyo yang membukakan pintu untuk Nadiya.


Nadiya kaget, karena ternyata mereka sudah sampai dirumah.


"Jika kau ketiduran disini, mungkin aku sudah tidak kuat menggendongmu!"

__ADS_1


"Kau......" Nadiya gregetan karena Prasetyo terus menggodanya saat berat badannya terus bertambah.


Sementara Prasetyo tersenyum dan puas karena Nadiya menjadi kesal.


__ADS_2