Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Catrine putus asa


__ADS_3

Begitu mendapat telepon dari anak buahnya Menteri segera tahu kemana Catrine pergi. Menteri pun langsung menelpon anak buahnya untuk mengambil mobil diparkiran dan mengikuti Catrine.


"Cepat ambil mobil dan kita kejar dia," Titahnya.


Tidak lama kemudian kedua anak buahnya sudah datang dan dengan cepat Menteri langsung masuk.


"Ikuti mobilnya." Kata Menteri sambil memakai seatbeltnya.


Ada plang bertuliskan Beach.


Catrine kemudian memarkir mobilnya didekat tebing dipinggir pantai.


Disana Catrine berdiri diatas tebing yang tinggi dan memandang lurus kedepan. Namun tatapanya kosong dan hampa. Dia terlihat begitu putus asa dan terpukul.


Dia punya harapan besar dan keinginan yang begitu kuat untuk menang. Namun sangat disesalkan saat mendekati garis finish dia justru tertinggal dari Sasha.


Menteri dari kejauhan melihat mobil Catrine yang terparkir tidak jauh dari tebing.


Anak buahnya langsung membukakan pintu dan Menteri keluar lalu melihat sekeliling.


Menteri melihat Catrine berdiri dipinggir tebing. Lalu dengan hati-hati dan pelan-pelan Menteri mendekati putrinya.


Diraihnya bahu putrinya lalu dipeluknya dengan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.


Catrine menangis sesenggukan dan bersandar di bahu papinya. Menteri pun mengusap rambut Catrine dengan penuh kasih sayang seorang ayah.


Lalu Catrine Tiba-tiba melepaskan diri dan berjalan kepinggir tebing. Diapun berdiri dan menatap dikejauhan.


"Lebih baik aku tiada papi. Aku tidak sanggup hidup lagi. Ini adalah impianku. Dan sekarang impianku sudah hancur. hiks, hiks!" Catrine menangis tersedu-sedu.


"Jangan lakukan itu. Masih ada kesempatan. Percayalah kepada papi. Papi akan melakukan segala cara agar kau menjadi juaranya."


"Pertandingan sudah selesai. Apa yang akan papi lakukan untuk merubah keadaan. Semua sudah terlambat," kata Catrine.


"Tidak! Masih ada waktu. Dan masih ada kesempatan. Percayalah pada papi. Kemarilah. Dan jangan melakukan apapun." Kata Menteri dan berjalan mendekati Catrine.


"Jangan mendekat papi. Atau Catrine akan terjun kebawah."


"Jangan! Baiklah, Papi akan berhenti." Menteri pun menghentikan langkahnya.


"Kau selalu mengatakan akan membuatku menjadi juara. Tapi mana? Sasha bahkan masih bisa berlari dan membuatku kalah."


"Nah itu yang papi bilang. Masih ada kesempatan. Dia tidak akan diijinkan mewakili universitas dengan kakinya yang cedera. Kau lah yang akan mewakili universitas dan mendapatkan gelar Juara." Kata Menteri.


"Maksud papi? Catrine tidak mengerti."

__ADS_1


"Sasha mendapatkan juara satu dan kau juara dua. Kalian hanya selisih beberapa detik saja. Dan bisa dibilang kemampuan kalian seimbang. Maka jika juara pertama tidak bisa melanjutkan kompetisi antar universitas, maka kaulah yang akan melakukanya. Papi akan berusaha agar kau yang akan dipilih oleh Pelatih untuk mewakili universitas, dengan memanfaatkan kaki Sasha yang cedera. Pelatih akan berpikir ulang untuk membuatnya maju mewakili universitas. Kaulah yang akan dipilih nanti."


"Benarkah?" Tanya Catrine.


"Papa akan membuat kau yang akan maju pertama dan temanmu hanya menjadi pelari cadangan. Kau yang akan bertanding."


"Papi yakin bisa membuat Catrine yang mewakili universitas?"


"Tentu saja. Papi adalah salah satu Donatur diuniversitas ini. Keadaan ini akan menguntungkan papi. Papi pasti akan melakukan apapun agar kau bisa mewakili universitas."


"Baiklah jika benar papi bisa melakukanya. Jika tidak aku akan tiada papiiii hiks,hiks."


"Mendekatkan. Kemarilah. Ayo kita pulang. Dan kita persiapkan semuanya. Kali ini kau akan menang."


Akhirnya Catrinepun luluh dan mempercayai perkataan papinya.


Catrine berjalan kearah papinya dan memeluknya.


"Ayo kita pulang."


***


Dikampus


Namun semangatnya untuk menang membuatnya lupa pada kondisi fisiknya. Kakinya yang nyeri dan sakitpun tidak dihiraukannya. Dia tetap berlari dan hanya menatap kedepan dan sampai akhirnya dia mencapai garis finish dan meraih juara.


Kondisinya yang sedang tidak fit membuatnya limbung dan akhirnya pingsan. Semangatnya menjadi rame diperbincangkan bahkan saat diunggah dimedia sosial pun langsung banjir komentar dari netizen.


Semua menanti dan menunggu kabar dari sang juara. Semua sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana keadaanya saat ini.


Namun hingga beberapa jam setelah pertandingan itu belum ada kabar mengenai keadaan Sasha dari pelatih yang saat ini masih berada dirumah sakit.


Beberapa mahasiswa yang magang menjadi reporter pun sudah beramai-ramai datang kerumah sakit dan menunggu kabar dari Regan dan Vano yang berada didalam.


Mereka duduk disepanjang jalan diseberang rumah sakit. Mereka adalah pemburu berita dan akan mendapatkan pendapatan dari setiap berita yang berhasil menarik perhatian publik atau menghasilkan pundi-pundi uang dari jumlah viewer.


Didalam rumah sakit dokter keluar dan memberi tahu Regan jika kaki Sasha mengalami cedera. Dia berlari dalam keadaan terluka dan membuat lukanya menjadi lebih buruk. Dia harus dirawat selama satu Minggu dirumah sakit.


"Kalian boleh masuk kedalam." Kata dokter pada Regan, Vano dan juga pelatihnya.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Regan.


Sasha diam saja dan terlihat wajahnya sangat sedih karena kakinya cedera dan dia takut jika tidak bisa mewakili Universitas dalam pertandingan selanjutnya.


"Harusnya kau tidak melakukan ini." Kata pelatih itu.

__ADS_1


"Ini sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal. Kau benar-benar nekat." Kata pelatih itu.


"Maafkan saya pak. Tapi saya tidak punya kesempatan selain hari ini."


"Kau bahkan harus dirawat selama satu Minggu. Bagaimana kau akan melanjutkan kepertandingan selanjutnya jika kakimu cedera?" Kata Pelatih tersebut.


"Saya pasti akan sembuh dalam waktu cepat." kata Sasha sambil menatap pelatih dengan penuh harap agar bisa melanjutkan kepertandingan antar universitas.


"Ya sudah. Saya akan kekampus. Kau cepat sehat agar kau bisa berlari lagi. Aku suka semangatmu itu." Kata pelatih tersebut.


"Selamat! Kau mencapai garis finis dengan kecepatan yang sangat bagus."


"Terimakasih pak."


Sasha lalu mengangguk dan tersenyum, namun saat itu tiba-tiba dia memanggil pelatih sebelum pelatih itu berjalan sampai dipintu.


"Pak! Tapi saya bisa ikut turnamen selanjutnya kan?" Tanya Sasha dengan wajah cemas.


Pelatih itupun menoleh dan tersenyum sambil mengangguk.


"Terimakasih pak." Kata Sasha dengan wajah berseri nampak dari cahaya dimatanya.


Setelah pelatih itu pergi Vano dan Regan lalu mendekati Sasha dan mengucapkan selamat padanya. Karena dia berhasil mencapai garis finis dan menjadi juara satu.


"Kau hampir membuat jantungku berhenti saat tiba-tiba pingsan setelah sampai digaris finish," kata Regan.


"Terimakasih Regan, kau sudah ada disana dan mendukungku. Karena kau terus menyemangatiku hingga akhirnya aku bisa berlari cepat dan menjadi juara." Kata Sasha sambil mengusap airmata bahagianya.


"Kau juga Vano. Terimakasih sudah membuatku sampai ketitik ini dan mampu meraih impianku."


Vanopun mendekat dan bermaksud mencium Sasha. Namun tiba-tiba Regan menariknya mundur hingga Vano hampir terjengkang.


"Heh! Kau mau apa dekat-dekat begitu? Sudah salaman kan? Ya sudah, ngga usah pakai cium-cium segala." Kata Regan dan langsung duduk disamping Sasha sementara Bank dibelakangnya.


Sasha hanya tersenyum melihat Regan yang over protektif padanya.


"Apaan sih? Dasar!" Gumam Vano.


Tiba-tiba Vano mendapat telepon dari pelatihnya jika dia harus berkumpul untuk pertandingan besok.


"Sasha, sepertinya gue harus balik kekampus dulu. Gue harus berkumpul sekarang, untuk acara besok." Kata Vano sambil memasukkan handphone nya kesakunya.


"Iya. Semangat ya! Semoga lo juga paling terdepan dan menjadi juaranya. Maaf ya, besok sepertinya gue ngga bisa melihat pertandingan. Dokter tidak akan mengizinkanya," kata Sasha penuh penyesalan karena tidak bisa memberikan semangat kepada sahabatnya dan mendukungnya dipertandingan.


"Tidak papa. Yang penting lo cepat sehat ya. Gue pergi dulu." Kata Vano lalu pergi meninggalkan Sasha bersama Regan.

__ADS_1


__ADS_2