
Nadiya lalu berjalan mendekati satpam lagi, setelah membayar pada tukang ojek yang sudah membantunya.
"Pak, nanti bibi yang akan memberikan uang yang saya pinjam."
"Iya Bu." Kata Satpam itu sambil mengusap airmatanya karena terharu melihat majikannya sudah kembali.
Nadiya masuk dan dia lihat tidak ada siapapun disana.
Dari dapur bibi parti melihat jika Nadiya berdiri dipintu dan matanya melihat sekeliling yang sepi.
Bibi Parti mengedipkan matanya berulang-ulang, dia lalu menutup mulutnya dengan salah satu tanganya saat dia tahu jika yang berdiri itu benar-benar Nadiya.
"Non....Non Nadiya?"
"Bi...." Nadiya tersenyum diiringi airmata bibi Parti yang berjatuhan.
Bibi Parti lalu mengusap airmatanya dan terharu melihat keadaan Nadiya.
"Akhirnya Non kembali. Rumah ini sangat sepi sejak kepergian Non...."
Bibi Parti lalu menceritakan keadaan Regan dan juga Prasetyo saat Nadiya dinyatakan hilang.
Mereka tidak pernah duduk di meja makan dan jarang makan dirumah.
Mereka lebih banyak menghabiskan waktu diluar dan dikamar mereka masing-masing.
"Ohh, ya Bu, dimana foto-foto yang biasa dipajang disini?"
Tanya Nadiya sambil melihat sekeliling ruang tamu yang nampak kosong.
"Anu, Non, fotonya ada digudang, karena kasihan anak-anak dan yang lainnya, setiap kali melihat foto non Nadiya mereka semua bersedih."
"Ohh, ya sudah, karena saya sekarang sudah kembali, nanti fotonya dipajang lagi ya bi."
"Semua orang sekarang lagi berlibur Non."
"Kemana bi?"
"Ke....kemana ya, bibi lupa. Baru berangkat kemarin. Katanya Tuan ada pekerjaan disana. Dan kebetulan anak-anak libur sekolah."
Nadiya lalu mengangguk dan mengambil uang di dilaci.
"Ya sudah. Oya, bi, tolong berikan uang ini pada Pak satpam didepan. Saya tadi meminjam uangnya." Kata Nadiya.
"Iya non," bibi Parti lalu memberikan uang itu pada satpam didepan.
***
Nadiya naik kelantai tiga dan masuk kekamarnya. Lama dia berdiri disana sambil melihat kamarnya yang tidak berubah sedikitpun.
Prasetyo sengaja tidak mengubah apapun dikamarnya, termasuk beberapa warna, gorden, sprei, dan beberapa hiasan bunga mawar.
__ADS_1
Semua itu adalah kesukaan Nadiya. Meskipun berulang kali Oma menasehatinya agar mengganti suasana kamarnya sejak kepergian Nadiya, namun Prasetyo tetap tidak mau dan seakan ada keyakinan didalam dirinya jika Nadiya pasti kembali.
Nadiya lalu tersenyum, dan duduk dipinggir ranjang. Dia melihat bayangan dirinya didalam cermin yang besar.
Wajahnya menjadi sedikit kusam karena tidak terawat. Rambutnya juga demikian. Apalagi baju yang dipakainya saat ini? Dia sendiri tidak yakin, jika dia bisa mengalami semua ini.
Nadiya lalu berdiri dan masuk kekamar mandi. Dia begitu lama berendam didalam bathtub. Dia berusaha menenangkan semua saraf ditubuhnya dengan berendam disana.
Tidak lama kemudian Nadiya keluar dan memakai baju yang biasa dia pakai. Bajunya terasa halus dan lembut dikulitnya.
Nadiya lalu menelpon sekretaris Prasetyo dan menanyakan kepergian suaminya. Nadiya lalu menyuruhnya untuk membeli tiket pesawat dan hotel yang sama dengannya.
Setelah itu Nadiya menelpon orang dikantornya sendiri untuk memesan beberapa barang elektronik dan juga televisi, dan sejumlah uang yang dimasukkan kedalam amplop, dan menyuruhnya untuk datang ke kampung ibunya Sandra, dan memberikan semua itu padanya.
Sebagai tanda terimakasih karena telah menyelamatkannya. Nadiya tidak sempat kesana karena akan kejepang menyusul suaminya.
"Kau ingat kan, apa yang tadi saya pesan?"
"Ingat Bu."
"Sampaikan juga rasa terima kasih saya karena sudah ditolong oleh mereka. Dan katakan saya keluar negeri sehingga tidak bisa pergi kesana."
"Iya Bu."
"Jangan lupa juga alat untuk mengiris bawang yang paling bagus. Dan kau catat jangan sampai ada yang kelewatan."
"Iya Bu."
Beberapa yang harus dilakukannya sudah dikerjakan. Sekarang dia harus bersiap untuk berangkat ke Jepang menyusul keluarganya.
***
Hari ini mereka semua sudah sampai di Jepang, mereka lalu beristirahat dihotel, sementara Prasetyo pergi rapat dengan klien.
"Kau langsung pergi?" Tanya Oma.
"Iya Oma. Ajak mereka jalan-jalan disekitar sini. Besok saya tidak kekantor."
"Ya, sebaiknya begitu. Ajaklah putra-putramu bermain. Mereka akan sangat gembira."
"Ya."
Prasetyo lalu akan melangkah pergi dan tiba-tiba Sandra menyusulnya.
"Pak, bawalah ini. Udara sangat dingin." Kata Sandra lalu memberikan baju hangat padanya.
Prasetyo mengangguk dan menerimanya.
Oma tersenyum melihat Prasetyo ada yang memperhatikanya sejak kepergian Nadiya.
Sebagai ibu, dia ingin agar anaknya bahagia. Apalagi Prasetyo adalah putra satu-satunya. Hatinya hancur setiap kali melihat mata anaknya yang penuh dengan duka.
__ADS_1
Sesaat Oma menatap Sandra begitu lama. Sandra merasa Oma sedang memperhatikannya, sehingga dia tertunduk malu.
"Apakah kau sudah punya kekasih?"
"Belum Oma."
"Kau belum pernah berumah tangga?"
Sandra menggeleng. Sedangkan Oma tersenyum senang. Sepertinya Oma merencanakan sesuatu untuk kelanjutan hidup putranya.
"Kau gadis yang baik. Kenapa kau belum menikah? Kau juga keibuan."
Sandra tersipu malu. "Belum ada jodohnya Oma."
Oma lalu tersenyum simpul. Dia menatap kedua cucunya yang mulai akrab dengan Sandra.
Perlahan-lahan, Oma juga mulai menyukai Sandra karena merawat kedua cucunya dengan baik.
***
Sementara saat ini Nadiya sedang ada di bandara dan akan berangkat ke Jepang. Dia duduk dan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka.
Beberapa wartawan nampak mengenalinya? Merekapun berjalan mendekat. Nadiya dengan cepat masuk dan menghindari mereka.
Saat ini Nadiya sedang tidak ingin mengkonfirmasi apapun sampai dia memenuhi keluarganya.
Dia ingin menemui keluarganya sebelum berita tentang kemunculannya tersebar dibeberapa media sosial maupun media cetak.
Beruntung Nadiya cepat menghindar, dan segera menutup mukanya dengan syal, dia juga memakai kacamata agar tidak ada yang mengenali dirinya termasuk pramugari.
Karena bisa saja dia kecolongan dan orang sembarangan mengambil gambarnya lalu disebarkan.
Nadiya lalu mematikan ponselnya dan memasukkannya kedalam tas kecilnya.
***
Sampai di Jepang Nadiya mencari alamat yang diberikan sekretaris Prasetyo. Namun tiba-tiba dia merasakan lapar, akhirnya Nadiya berhenti dulu disebuah restoran dan duduk disana hingga sore hari.
Dia sengaja menunggu waktu malam hari saat mereka semua tertidur. Dia ingin memberikan kejutan kepada mereka.
Nadiya lalu duduk bersantai sambil makan masakan khas Jepang.
Dia tersenyum pada beberapa turis yang menyapanya. Mereka mungkin pernah melihat Nadiya dibeberapa sampul surat kabar. Namun mereka bukanlah wartawan yang akan memotretnya dan bertanya banyak hal padanya.
Rata-rata turis asing itu menghormati pribadinya, apalagi ini ditempat rekreasi, tentu saja semua ingin rilex. Mereka hanya tersenyum dan menyapa ala kadarnya.
Nadiya lalu berjalan disepanjang taman didepan restoran Jepang yang pemandanganya sangat asri. Ada aliran sungai kecil yang bening disampingnya.
Suara gemericik air sangat menenangkanya dan bisa untuk relaksasi dan bersantai didekatnya. Nadiya lalu duduk didekat air yang suara gemericiknya begitu indah.
Matahari mulai menghilang dibalik pepohonan disekitarnya. Nadiya lalu beranjak untuk pergi kehotel, dimana Prasetyo menginap.
__ADS_1