Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Rencana Arya


__ADS_3

Melihat Arya terjatuh dan kesakitan sambil memegang bokongnya maka Edsel dan juga Eiden tertawa cekikikan. Hal itu tentu saja membuat Arya geram dan kesal.


"Kalian sengaja membuat Om jatuh? Kalian pikir ini lucu!?"


Mereka langsung terdiam dan berhenti cekikikan. Mereka menundukkan kepalanya kelantai dan saling menginjak kaki mereka sendiri.


"Sakit Eiden!" Teriak Edsel saat Eiden menginjak kakinya dengan kencang.


"Kamu duluan!" Teriak Edsel.


"Kamu!" Kata Eiden tidak mau kalah.


"Diam kalian!" Teriak Arya. "Apakah papi dan mami kalian tidak mengajari kalian sopan santun hah? Kalian ini kecil-kecil kerjaannya berantem saja! Kalian mau jadi mafia? Hah?!" Kata Ardy kesal sambil menahan pinggangnya yang sakit.


"Ngga om. Kami ngga mau jadi mafia." Kata Edsel dan juga Eiden.


"Bagus. Jika kalian bisa berhenti untuk tidak ribut. Kepalaku pusing!" Kata Arya.


"Kami mau main om." Ujar Edsel.


"Bersihkan dan lap lantai yang kotor." Kata Arya.


"Kok kami sih Om?"


"Lalu siapa hah? Tetangga? Kalian yang membuat lantainya kotor. Cepat bersihkan!" Teriak Arya.


Kedua bocah itupun kemudian mengambil lap dengan bibir monyong lalu mulai mengelap lantai meskipun tidak bersih dan tidak betul-betul kering.


"Sudah Om." Kata keduanya sambil memberikan lap itu.


"Bagus. Lapnya taruh sana." Kata Arya dan berjalan keruang tamu.


Sementara Edsel dan juga Eiden naik kelantai tiga dan mulai bermain dikamarnya.


Arya terus berjalan berkeliling disetiap sudut ruang tamu yang besar. Ruang tamu itu penuh dengan pajangan foto Nadiya, Prasetyo dan juga anak-anak nya.


"Keluarga yang bahagia...." Gumam Arya sambil mencibir kepada foto keluarga yang besar terpajang agak tinggi didekat tangga turun kebawah.


Arya melihat setiap foto satu demi satu dan saat ini sedang melihat wajah Sasha dan juga Regan yang sedang duduk disebuah stadion sepak bola.


"Regan...kamu sudah besar. Tapi papi tidak bisa mendekati bahkan memelukmu." Kata Arya sambil menatap foto Regan.


"Sasha...kamu juga sudah besar dan mulai beranjak dewasa. Namun aku juga tidak bisa memelukmu dan mengatakan jika aku adalah ayahmu." Kata Arya sambil mengelus gambar Sasha.


"Kalian tampak seperti keluarga yang lengkap dan sempurna. Tapi aku? Aku kehilangan segalanya. Keluarga, karir, dan bahkan identitas." Kata Arya sambil menurunkan kedua ujung bibirnya.


"Tapi saat ini Prasetyo sedang sakit dan mungkin sebentar lagi akan tinggal namanya saja, maka aku punya kesempatan untuk tinggal disini bersama Nadiya, meskipun dengan identitas yang berbeda. Hahahaha....Semoga saja malaikat mendatangi Prasetyo lebih cepat. Dan aku.....akan menggantikan posisinya. Hahahaha...."


"Om! Kok tertawanya seperti penjahat?" Kata Edsel tiba-tiba sudah ada disampingnya dan terus mengamati wajah Arya yang terlihat aneh.


"Apa kau bilang?"

__ADS_1


"Tadi om melihat foto lalu tertawa seperti ini...." Kata Edsel memperagakan mimik muka Arya.


"Dasar kamu anak nakal!" Kata Arya dan akan memegang tangan Edsel, namun dengan cepat Edsel menghindar dan berlari menjauh.


"Ayo om kejar aku kalau bisa....!" Teriak Edsel dan juga Eiden sambil berlari keluar halaman.


Tapi Arya tidak meladeninya dan malah duduk didepan tv dan mulai menyalakan tv. Tidak lama kemudian Arya sudah tertidur dan mengorok dengan kencang.


"Eiden sini!" Kata Edsel sambil menunjukan sesuatu kepada Eiden.


"Ada apa?" Tanya Eiden sambil berjalan mendekat.


"Lihat! Om itu tidurnya kayak serigala. Suaranya berisik sekali." Kata Edsel.


"Ayo kita kerjain dia." Ajak Eiden.


"Jangan Eiden. Nanti kalau omnya marah lalu pergi dari sini, gimana?"


"Iya ya. Lalu kita sama siapa?"


"Nah itu dia. Kita harus baik-baikin om ini. Jangan sampai om ini pergi dan kita sendirian. Oma sakit, Papi dan mami sakit. Hanya kita berdua." Kata Edsel.


"Kau benar. Kita harus membujuk om ini agar mau tinggal disini. Aku takut sendirian kakak." Kata Eiden.


Tidak lama kemudian Nadiya menelpon dan tidak ada jawaban.


Nadiya mencoba menelpon sekali lagi, akhirnya terdengar suara Edsel menangis ditelepon.


"Edsel! Eiden! Kenapa kalian menangis? Oma mana?" Tanya Nadiya.


"Oma sakit mami....lalu orang-orang itu membawa Oma kerumah sakit." Kata Edsel terbata.


"Sakit?...Ya Tuhan...lalu kalian sama siapa?" Tanya Nadiya panik. Mengingat dia masih lama dalam masa karantina. Sementara dia tidak mau kedua buah hatinya terpapar virus jika berdekatan atau bersentuhan dengannya.


"Kami sama Om. Om Arya...yang bekerja dikantor mami...." Kata Edsel kemudian menceritakan bagaimana mereka bisa bertemu dengan Om Arya.


"Ohhh syukurlah ada yang menolong Oma dan kalian cepat meminta pertolongan. Mana Om Arya? Mami mau bicara." Kata Nadiya.


Lalu Edsel dan juga Eiden membangunkan Arya dan mengatakan jika maminya menelpon dan ingin bicara.


"Om! Bangun Om! Mami telpon!" Kata Edsel dan Eiden bersamaan.


"Apa?! kalian ini berisik amat? Kalian berantem lagi ya?" Teriak Arya dan tertidur lagi.


"Ini mami...." Bisik Eiden ditelingan Arya.


"Apa!? Mana? Mana?" Kata Arya langsung menyambar telepon yang dipegang Edsel.


"Halo...Bu Nadiya...Ini saya...Arya." Kata Arya kepada Nadiya.


"Oh ya Pak Arya. Terimakasih sudah menolong ibu mertua saya dan juga menemani anak-anak saya." Kata Nadiya.

__ADS_1


"Iya Bu. Saya tadi kebetulan lewat. Dan mereka sedang berteriak meminta tolong." Kata Arya menjelaskan.


"Iya pak Arya. Saat ini saya dan suami saya sedang dalam masa karantina dan suami saya sedang dirawat dan masih belum sadar. Apakah saya bisa minta tolong untuk menjaga Edsel dan juga Eiden sementara saya tidak ada?" Tanya Nadiya.


"Bisa Bu...kebetulan saya juga lagi menganggur saat ini." Kata Arya.


"Baiklah kalau begitu saya minta nomor rekening Pak Arya. Nanti saya akan transfer uang untuk keperluan anak-anak." Kata Nadiya.


"Baik Bu."


"No Hp Saya ada didepan kulkas. Nanti bapak wa saja no rekeningnya. Nanti saya akan transfer secepatnya." Kata Nadiya.


"Baik Bu. No rekeningnya sudah saya wa ke no ibu." Kata Arya.


"Baiklah Pak Arya. Nanti saya akan kirim dua anak buah saya untuk menjaga rumah dan bisa membantu Pak Arya dalam menjaga Edsel dan juga Eiden."


"Baik Bu...."


"Kalau begitu saya tutup dulu. Nanti saya akan telepon kembali." Kata Nadiya, lalu telepon ditutup.


Nadiya kemudian menghubungi beberapa anak buahnya. Namun tidak satupun hp mereka yang aktif dan bisa dihubungi.


"Kemana mereka? Apakah mereka juga dikarantina seperti aku? Sudah sekali dihubungi kalau dibutuhkan!?" Gumam Nadiya.


"Ada apa Bu? Ibu tadi menelpon saya?" Anak buahnya rupanya baru saja kencing dan setelah tahu jika bosnya menelepon maka diapun menelepon balik.


"Iya. Kalian sudah amat sih dihubungi?" Tanya Nadiya sedikit kesal.


"Iya. Maaf Bu. Tadi saya lagi kencing."


"Lalu dimana teman kamu?"


"Dia lagi berak Bu." Jawab temanya.


"Yang lainya pada kemana?"


"Mereka dikarantina bu."


"Ya sudah. Saya mau sekarang kamu cari rumah sakit yang merawat ibu mertua saya. Dan jika sudah ketemu maka kasih tahu saya. Setelah itu kamu kerumah dan bantu Pak Arya jaga anak-anak." Titah Nadiya.


"Baik Bu..." Kata anak buahnya.


Telepon ditutup.


"Siapa yang menelpon?" Tanya temanya yang baru saja selesai berak.


"Bos ingin kita mencari Ibu Monic dirawat. Dan setelah itu kita harus menjaga Tuan Edsel dan juga Tuan Eiden."


"Ahk! Anak-anak nakal itu lagi. Kamu ingat ngga? Terakhir mereka membuat kepalaku memar karena lemparan bata." Kata temannya.


"Iya aku tahu. Sudah! Ngga usah diingat-ingat. Mereka kan cuma anak kecil." Kata temanya lagi. " Ayo kita cabut sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2