Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Gaun seksi


__ADS_3

"Apa semuanya sudah siap? Kalau sudah ayo kita antarkan?" Tanya Andro saat dilihatnya Sasha sudah mengepak semua barangnya.


Sasha lalu menoleh kearah Andro sambil tersenyum. Dia juga menaikkan tangannya dan memberikan jempolnya.


"Assiaaappp!"


Mereka lalu mengangkat semua baju dibantu oleh satpam dan dimasukkan kedalam mobil yang terparkir dihalaman.


"Kita ke alamat yang paling dekat dulu." Kata Andro lalu melihat alamat yang paling dekat dinota yang di simpan disakunya.


"Baiklah."


"Ayo masuk. Duduklah didepan. Jangan lupa pakai seatbeltnya." Andro lalu mulai mengemudikan mobilnya.


Mereka mengantarkan pesanan satu persatu dari alamat yang paling dekat sampai alamat yang paling jauh.


"Kita makan siang dulu. Inikan tinggal punya Bu Nadiya." Kata Andro.


Sasha terhenyak dan diam sambil menatap Andro dengan bingung.


Dia sedang berfikir bagaimana caranya agar dia tidak usah masuk ke rumah Tantenya.


"Ayo turun. Kita makan dulu." Kata Andro sambil membukakan pintu untuk Sasha.


Merekapun makan siang di restoran yang paling dekat.


Setelah selesai makan, mereka melanjutkan perjalanannya kembali.


"Kita sudah sampai." Kata Andro sambil melihat Sasha.


Eeesssttttt!


Sasha meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


"Perutku tiba-tiba sakit, sepertinya aku tidak bisa turun, bisakah Mas Andro yang mengantarkannya?" Tanya Sasha dan terlihat seakan dia benar-benar sedang kesakitan.


"Baiklah. Aku akan mengantarkanya." Andro lalu turun dari mobil dan mengantarkan barang pesanan itu.


Tidak lama kemudian dia balik lagi.


"Kau sampai merosot begitu duduknya? Apakah benar-benar sakit?" Tanya Andro saat melihat Sasha menunduk dibawah jog mobil.


Sasha kaget dan terhenyak.


"Iya. Enakan begini. Sakitnya jadi berkurang." Kata Sasha beralasan, padahal dia sedang sembunyi agar tidak terlihat.


Dia juga sungkan bertemu tantenya setelah masa lalunya terungkap.


Dia juga bingung bagaimana harus bersikap meskipun sebenarnya dia tidak lah bersalah. Namun dia tetap tidak sanggup menemui keluarga yang sudah membesarkannya itu.


Apalagi saat mereka bertanya tentang masa lalunya.


Bagaimana dia akan menjelaskannya.


Sejujurnya dia tidak bisa memilih siapa yang akan melahirkannya. Dia juga tidak bisa memilih dikeluarga mana dia akan dilahirkan.


Dihati kecilnya dia juga tidak bisa menerima jika ibunya dihina dan dibenci.

__ADS_1


Seburuk apapun masa lalu ibunya. Dia tetaplah ibunya yang selalu mengasihinya.


Rasanya telinganya tidak sanggup mendengar jika ada yang berbicara buruk tentang ibunya.


Sasha lalu menarik nafas panjang.


Dan setelah keluar dari perumahan itu dia duduk kembali disamping Andro.


"Apakah sekarang sudah baikan?" Tanya Andro saat melihat wajah Sasha yang sudah kembali ceria.


Tadi wajahnya pucat pasi dan terlihat penuh kekhawatiran.


"Em, sudah lebih baik. Sakitnya sudah berkurang."


"Jika belum baik, aku akan mengajakmu kerumah sakit terdekat. Dan kita akan memeriksakanya kesana."


"Tidak perlu mas. Saya sudah baikan."


"Apakah kau mau menemui temanku yang biasa mengorbitkan model baru?"


"Boleh."


"Kau yakin perutmu sudah tidak sakit lagi?"


Sasha lalu menggelengkan kepalanya.


"Hotelnya tidak jauh dari sini. Biasanya kau akan masuk kedalam kamar dan postur tubuhmu akan diperiksa dan juga berat badanmu."


"Iya, saya mau."


Tidak lama kemudian mereka sampai dihotel yang dimaksud oleh Andro.


"Sasha kamu turun disini ya. Aku akan parkir sebentar." Kata Andro.


Sasha lalu turun dan menunggu diloby hotel.


Sedangkan Andro menghubungi temannya yang ada dihotel tersebut yang memang suka mengorbitkan model baru.


Entah apa yang mereka bicarakan Andro nampak tertawa terbahak-bahak.


Tidak lama kemudian Andro menutup teleponnya dan masuk kedalam loby.


Dia lalu nampak mencari-cari Sasha. Akhirnya dia bisa menemukanya.


"Ayo kita keatas!" Kata Andro saat dia sudah berdiri didekat Sasha.


"Baiklah." Kata Sasha tanpa curiga karena dia sudah sangat ingin menjadi model.


Dan dia percaya begitu saja pada Andro. Padahal Andro baru saja dikenalnya. Dan itupun belum lama. Hanya karena terlihat baik, dia langsung mengambil kesimpulan bahwa dia tulus dalam membantunya.


Tidak mungkin dia akan berbuat jahat. Wajahnya bukanlah wajah orang jahat ataupun seorang penipu.


Memang jika hanya melihat casingnya saja, dan belum berkenalan lama, manalah tahu karakter dan sifat yang sesungguhnya.


Sasha berjalan dibelakang Andro.


Mereka sampai disebuah ruangan kamar yang besar.

__ADS_1


Seorang teman Andro lalu menyambut Sasha.


"Masuklah. Apakah kau yang akan menjadi model?" Tanya seorang kenalan Andro.


"Iya." Kata Sasha masih ragu dan malu.


Diruangan itu sepi sekali. Hanya ada dia seorang.


"Ayo masuk Sasha!" Kata Andri lalu menutup pintunya.


"Ikutlah denganku." Kata temanya itu.


Sasha lalu ikut dengannya dan diajak masuk kesebuah ruangan. Disana hanya ada temanya dan Sasha saja.


"Andro, bisakah kau mengukur tubuhnya dan berak badanya. Aku akan mencari baju yang cocok untuk pemotretan." Kata temannya.


"Baiklah. Jika kau repot, aku akan mengukurnya."


Kata Andro lalu mengambil meteran baju dan mulai mengukur badan Sasha.


Matanya melebar dan bersinar karena bisa menatap kulit Sasha yang putih halus dari jarak dekat.


Badannya menjadi berkeringat karena darahnya mulai mendidih.


Dia lalu mulai memegang pinggang Sasha dan sedikit mengelusnya.


Awalnya Sasha merasa risih, tapi dia harus profesional, itu bisik dihatinya.


Dia juga merasakan saat tangannya mengelus pinggangnya dan bokongnya.


Padahal biasanya orang bisa mengukur tanpa mengelus dan menyentuh.


Tapi justru ini yang ditunggu oleh Andro, kesempatan untuk melihat tubuhnya dari jarak dekat, menyentuh dan memegangnya.


Apalagi bayangan saat Sasha berganti baju masih terngiang jelas dibenaknya.


Andri lalu mulai mengukur dada Sasha. Dia bahkan mengukurnya berulang kali.


"Maaf...." Kata Andro saat tanganya menyentuh buah kenyal itu.


"Tidak papa," kata Sasha karena dia pikir Andro tidak sengaja menekannya.


"Aku sedikit menekanya supaya nanti pas dan tidak kegedean. Karena gaun yang akan kau pakai sangat ketat nanti." Kata Andro beralasan.


"Iya gapapa."


Andro semakin tidak bisa menahan hasratnya.


Dia lalu memberikan kode kepada temannya.


Temannya mendekat dan memberikan gaun yang sangat seksi untuk Sasha.


"Ini....seksi sekali. Ini sangat terbuka." Kata Sasha saat melihat gaun yang harus dipakainya.


"Tapi semua model yang baru, mereka semua melakukan pemotretan dengan gaun ini." Kata temannya.


Sasha memegang gaun itu dan masih ragu untuk memakainya.

__ADS_1


__ADS_2