Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Jatuh dikamar mandi


__ADS_3

Arya lalu masuk dan bertemu dengan Nadiya. Sedangkan Prasetyo sudah berangkat kekantor.


"Silahkan duduk pak Arya," kata Nadiya mempersilahkan Arya untuk duduk didalam kantornya.


Nadiya menggunakan salah satu ruangan dirumahnya yang memang besar, untuk dijadikan kantor.


Sehingga meskipun dia dirumah menjaga Eiden dan juga Edsel, dia tetap bisa melakukan sebagian pekerjaannya.


Bagaimanapun dia harus memantau terus perusahaan papinya yang saat ini sedang berusaha bangkit setelah pandemi statusnya menjadi endemi.


Belum lagi perceraian Karina dan Joan. Saat ini Karina sedang mendaftarkan perceraiannya dengan Joan. Karena Joan kukuh tidak mau punya anak dan terus saja membodohi Karina dan mengambil keuntungan dari pernikahannya.


Sekarang Karina baru menyadari jika Joan tidak sungguh-sungguh mencintainya dan dia hanya dimanfaatkan saja untuk keuntungan Joan sendiri.


Sekarang Karina sudah menemukan calon pendamping hidupnya yang lebih baik daripada Joan. Dia juga bekerja di perusahaan Nadiya.


Secara tidak langsung Nadiya juga ikut terimbas dari permasalahan mereka. Karena bagaimanapun mereka satu keluarga meskipun tidak terlalu akrab dan dekat layaknya keluarga orang lain.


"Saya lihat dulu berkasnya," kata Nadiya sambil melihat berkas yang diserahkan Arya kemeja Nadiya.


Nadiya terlihat sangat serius dengan berkas yang ada di mejanya.


Sesekali dia menatap Pak Arya saat ada kata yang berbeda, lalu setelah selesai melihat semua berkas itu, Nadiya tersenyum kepada pak Arya.


Nadiya mengangguk dan menyetujui proposal pak Arya.


"Baiklah. Saya rasa proposal ini cukup lengkap dan lumayan menguntungkan. Untuk hal selanjutnya silahkan bicarakan dengan Danar dikantor." Kata Nadiya.


"Baik Bu, terimakasih.


Arya kemudian berpamitan setelah rapatnya dengan Nadiya selesai.


***


"Sasha mau kemana" tanya Nadiya saat dia lihat Sasha sudah cantik dan berdandan.


"Mau keluar Tante, bertemu teman SMA. Sudah lama kita ngga ngumpul bareng."


"Jangan pulang malam-malam. Kata Nadiya kepada Sasha."


"Iya Tante."


Nadiya lalu mencari Edsel dan juga Eiden kekamarnya.


"Kalian keluarlah. Ayo kita makan malam." Ajak Nadiya sambil mengetuk pintu yang dikunci dari dalam.


"Kenapa pintunya dikunci? Sudah berapa kali mami bilang, kalau main pintunya dibuka saja. Bahaya jika kalian terkunci didalam dan tiba-tiba ada kebakaran." kata Nadiya sambil berdiri diluar kamarnya dengan nada sedikit kesal.

__ADS_1


Bukan hanya kesal, dia juga cemas jika mereka tidak mendengarkan nasehatnya.


Pintu kamar itu terlalu kokoh untuk didobrak jika terjadi apa-apa.


"Ayo buka pintunya!"


"Sebentar mami...." kata Edsel dari dalam.


"Mana Eiden?" tanya Nadiya saat dilihatnya Eiden tidak bersama Edsel.


"Dikamar mandi." kata Edsel.


"Apa yang kamu lakukan? Ayo keluar!" Kata Nadiya dari luar kamar mandi.


"Tunggu mami, jangan masuk!" Kata Eiden dari dalam.


Eiden lalu membuka pintunya, dan karena kesal Nadiya melangkah tanpa melihat lantai yang basah oleh ulah Eiden.


Ssyyyuuuuuutttt


Bruuukkkk!


Nadiyapun terpeleset dan jatuh dilantai kamar mandi.


Mukanya menjadi merah, dan matanya melotot.


Bibi yang mendengar suara gaduh langsung naik kelantai tiga.


"Tidak papa bi, tolong bantu saya berdiri." Kata Nadiya sambil mengulurkan tangannya.


"Mari Non!"


Bibi Parti lalu membantu Nadiya berdiri dan berjalan hingga sampai diranjang Eiden.


Nadiya meluruskan kakinya dan bersandar pada sandaran ranjang.


"Maaf mami..." Kata Eiden ketakutan melihat maminya kesakitan dan membuatnya menangis.


Matanya sudah berkaca-kaca. Bagaimanapun dia sedih saat maminya merasakan sakit.


"Lain kali jangan main air dilantai. Bahaya. Bagaimana kalau kaki mami patah, kalian mau, mami tidak bisa berjalan dan tidak bisa mengurus kalian?"kata Nadiya berusaha menahan amarahnya.


Tadi Eiden memang sempat memperingatkannya, tapi dia tidak berfikir jika air itu sampai didepan pintu.


"Bagaimana jika kau yang jatuh dan terluka? Kau mau kakinya sakit dan tidak bisa berjalan. Kau mau memakai tongkat untuk berjalan?" tanya Nadiya pada Eiden.


"Tidak mau mami." kata mereka berdua dan duduk disamping Nadiya.

__ADS_1


"Kalau begitu, dengarkan nasehat mami. Jangan membantah."


"Iya mami....kami janji." kata mereka berdua.


"Ya sudah, kaki mami, masih sakit, kalian turun dan minta makan sama bibi Parti." Kata Nadiya.


"Iya mi."


Mereka lalu turun kebawah dan minta makan kepada bibi Parti.


"Eiden, Edsel!" Panggil Prasetyo yang baru saja pulang.


"Dimana mami kalian?"


Edsel dan Eiden saling berpandangan. Mereka diam seribu bahasa dan tidak berani menjawab pertanyaan papinya.


"Kok kalian diam?" tanya Prasetyo lagi.


"Non jatuh terpeleset dikamar mandi." Kata Bibi Parti.


"Terpeleset?" tanya Prasetyo kaget.


"Sekarang Non ada dikamar anak-anak," kata Bibi Parti kemudian mengambil piring untuk Edsel dan Eiden.


Sementara Prasetyo langsung naik kelantai tiga dan menuju kamar anak-anak.


"Mereka membuatmu menangis?" tanya Prasetyo saat dilihatnya Nadiya mengusap airmatanya.


Nadiya lalu memeluk Prasetyo dan berusaha menghilangkan amarahnya kepada kedua buah hatinya.


"Sakit sekali." kata Nadiya sambil memegang pinggulnya.


"Aku akan menggendongmu kekamar kita." Kata Prasetyo lalu membuka jasnya.


"Pegang yang kuat." kata Prasetyo sambil membungkuk.


Nadiya lalu berpegangan pada Prasetyo dan memegangnya dengan erat.


"Berat?" tanya Nadiya.


"Tidak. Kau masih tidak berubah. Aku masih kuat menggendongmu." Kata Prasetyo sambil tersenyum manis kewajah Nadiya yang berada di dadanya.


"Aku beruntung mempunyai suami sepertimu."


"Tentu saja. Aku tampan dan perkasa." Kata Prasetyo bangga pada dirinya sendiri.


Dan itu membuat Nadiya menjadi jengkel saat Prasetyo mulai mengagumi dirinya sendiri.

__ADS_1


Nadiya lalu mencubit lehernya.


"Aduh! Aduh! Nanti kau jatuh." Kata Prasetyo lalu membaringkan Nadiya dengan pelan diatas ranjang.


__ADS_2