Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Operasi Sandra


__ADS_3

Nadiya melihat setiap sudut ruangan itu. Dan dia tidak melihat Sandra juga Prasetyo.


"Pras...."


Tidak ada jawaban.


"Toloooong." Teriak Sandra semakin lirih dan lemah. Nadiya lamat-lamat seperti mendengar suara dari kamar mandi.


Dan saat dia melihat lantai yang dipenuhi dengan darah, membuatnya sangat panik. Terlebih lagi dilihatnya Sandra terbaring lemah dengan wajah pucat pasi.


"Apa yang terjadi? Ya Tuhan, bagaimana semua ini bisa terjadi. Tunggu lah di sini saya akan mencari bantuan." Kemudian Nadiya langsung berlari keluar kamar dan meminta bantuan kepada security dan beberapa petugas, kemudian langsung memberikan pertolongan pada Sandra.


Sampai dipintu masuk, Nadiya berpapasan dengan Prasetyo yang membawa makanan yang tadi dipesan oleh Sandra.


"Ayo kita kerumah sakit sekarang!?" Ajak Nadiya dengan muka panik.


"Kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi? Apakah Sandra akan melahirkan?" Tanya Prasetyo pada Nadiya yang tak kalah paniknya.


Nadiya terlihat bingung, panik dan wajahnya juga pucat. Nadiya masih ingat keadaan Sandra yang pucat dan darah yang membanjiri kamar mandi.


"Sandra jatuh dikamar mandi..."


"Apaa!!" Prasetyo terbelalak kaget."Lalu bagaimana keadaanya?"


"Kita kebawah Pras! Sekuriti membawa Sandra masuk kedalam mobil ambulans. Ayo cepat kita turun dan membawanya kerumah sakit!"


Prasetyo dan Nadiya kemudian berlari dibelakang sekuriti yang membawa Sandra dan Sandra langsung dimasukan kedalam mobil ambulans yang memang sudah tersedia diparkiran apartemen.


"Itu Sandra! Ayo kita masuk kedalam mobil Ambulans." Nadiya menarik tangan Prasetyo dan langsung masuk kedalam mobil duduk disamping Sandra yang semakin lemah.


"Sabar Sandra.....kita akan membawamu kerumah sakit terdekat. " Kata Nadiya sambil menggenggam erat tangan Sandra.


Huh hah huh hah


Nafas Sandra semakin berat seakan dadanya terasa sesak.


"Sabar Sandra ...tahan ya...sebentar lagi dokter akan merawatmu."


"Sakit sekali....perut saya sangat sakit....hah hah hah." Kata Sandra sambil nafas nya terengah-engah.


"Iya....ditahan dulu ya...kita sebentar lagi sampai..." Kata Nadiya sambil menangis tidak tahan melihat Sandra kesakitan.

__ADS_1


"Pras....telepon Dokter untuk mempersiapkan persalinan Sandra!" Kata Nadiya masih didalam mobil ambulans yang melaju kencang.


"Baiklah aku akan segera menelpon Dokter."


Nafas Sandra semakin terengah-engah karena menahan sakit yang tiada terkira.


"Sabar ya Sandra...kita akan segera sampai dirumah sakit. Bersabarlah sebentar lagi..." Kata Nadiya sambil menenangkan Sandra.


"Saya sudah tidak tahan lagi Bu.....sakit sekali...hiks hiks!"


"Kita sudah sampai." Kata Prasetyo sambil membuka pintu mobil ambulans dan langsung mengeluarkan Sandra yang terbaring lemah dan darah membasahi bajunya.


"Dokteeerr!" Teriak Nadiya.


"Segera bawa keruang operasi!" Perintah dokter kepada perawatnya.


Sesampainya didepan ruang operasi Sandra dibawa masuk oleh beberapa suster dan Nadiya serta Prasetyo menunggu diluar.


"Silahkan Bapak Prasetyo dan Ibu Nadiya tunggu disini." Kata Dokter sambil menutup pintu ruang operasi.


Saat ini Dokter sedang berusaha melakukan yang terbaik bagi ibu dan kedua bayinya agar semuanya bisa diselamatkan.


"Syukurlah mereka dengan cepat membawa pasien sehingga ibu dan kedua bayinya bisa diselamatkan. Jika mereka terlambat maka ibunya akan kehabisan banyak darah. Dan itu bisa berakibat fatal." Kata Dokter itu kepada suster yang membantunya.


"Selamat! Kedua bayi tampan ini sehat dan baik-baik saja." Kata dokter.


Hanya saja Ibu Sandra sepertinya kehilangan banyak darah dan dalam kondisi sangat lemah." Kata Dokter kemudian menjelaskan kepada Prasetyo juga Nadiya tentang kondisi Ibu dari kedua bayi itu.


"Semoga ibu Sandra bisa melewati malam ini.


"Tolong selamatkan ibunya dokter, kami sangat berhutang budi pada nya."


"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik." Kata dokter itu. "Berdoalah semoga Ibunya bisa melewati masa kritis."


Nadiya kemudian berjalan dan berdiri di samping Sandra yang terbaring lemah. Sementara kedua putranya saat ini sedang bersama suster. Tidak lama kemudian suster masuk dan kedua anaknya sudah bersih dan sedang dibedong.


Keduanya masih tertidur dalam gendongan suster. Kemudian suster menaruh kedua bayi tampan itu di ranjang bayi yang sudah tersedia di samping ranjang Sandra.


Nadiya menangis karena sangat terharu dan kemudian berjalan mendekati kedua bayinya itu yang saat ini sedang membuka mulutnya, mungkin dia ingin minum susu dari ibunya.


Begitu juga Prasetyo, dia juga meneteskan air mata bahagia karena saat ini sudah menjadi seorang ayah.

__ADS_1


Prasetyo kemudian menyentuh hidung mereka secara bergantian dan sepertinya kedua bayi mungil itu tahu jika kedua orangtuanya saat ini ada di sisinya dan kedua bayi itu pun kompak menangis secara bersamaan.


"Pras... kamu membangunkannya." Kata Nadiya saat melihat kedua bayinya menangis


"Aku sangat bahagia Nadiya." Kata Prasetyo sambil memeluk Nadiya dari belakang.


"Bu....." Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil, yang tidak lain adalah Sandra yang saat ini sudah sadar dan telah melewati masa kritis.


"Sandra syukur lah kamu sudah sadar. Terima kasih kamu telah berjuang dan mempertaruhkan nyawa kamu demi anak-anak kami." Kata Nadiya sangat terharu.


Sandra kemudian mengangguk dan dari kedua sudut matanya mengalir air mata haru dan juga sedih karena Sandra merasa tiba-tiba seperti ada yang hilang dari dalam dirinya.


Dia seperti merasa begitu sepi dan hampa, biasanya dia akan berbicara kepada kedua bayi yang ada di dalam kandungannya.


Namun saat ini bayi-bayi itu sudah menjadi milik ayah dan ibunya yang sesungguhnya.


Aku merasa sepi dan entah kenapa seperti ada yang hilang dari dalam diri ku. Aku tahu aku akan merasakan perpisahan ini pada akhirnya, tapi tetap saja rasanya begitu menyakitkan, tapi apalah dayaku? Aku hanyalah ibu pengganti.


Prasetyo kemudian mendekati Sandra dan mencium keningnya. Nadiya sampai terperanjat kaget! Namun memaklumi ungkapan dan rasa terima kasih pada perjuangan Sandra yang diungkapkan oleh Prasetyo.


"Terima kasih kamu sudah berjuang demi putra-putra kami, apapun yang kami berikan tidak akan sebanding dengan perjuangan dan pengorbanan mu." Kata Prasetyo sambil menggenggam tangan Sandra.


Nadiya kemudian berjalan mendekat dan memeluk Sandra, mereka berpelukan dan tersenyum bahagia. Saat ini Sandra sudah dipindahkan ke ruangan VVIP room dan sedang dalam masa pemulihan.


Nadiya menggantikan Sandra berbaring di tempat tidur di ruangan VVIP room yang berbeda.


Semua ini dilakukan karena bagi keluarganya bukan Sandra yang melahirkan kedua putra-putranya namun Nadiya dan mereka tidak tahu tentang ibu pengganti, jadi saat ini Nadiya berbaring menggantikan Sandra.


Prasetyo kemudian menelepon keluarganya Nadiya dan juga maminya untuk datang ke negara S dan mengabarkan jika Nadiya sudah dikaruniai dua bayi kembar yang sangat tampan.


"Kamu jangan bercanda Pras! Bercandamu kelewatan!" Ibu Monic memarahi Prasetyo.


"Tidak mami.... nih Prasetya bicara serius kok Mami enggak percaya sih?"


"Ya bagaimana Mami mau percaya kalian tidak memberitahu kalau Nadiya lagi hamil kok tiba-tiba melahirkan bayi kembar."


"Mami.... ayolah Prasetyo tidak sedang bercanda, Mami datang ya?!"


"Baiklah Mami akan siap-siap. Awas ya jika sampai sana kamu berbohong, nanti mami jewer telinga kamu." Kata ibu Monic.


"Oke Mami.... Prasetyo tunggu ya kedatangan mami?"

__ADS_1


Kemudian ibu Monic berkemas dan akan membangunkan Sasha dan juga Regan yang masih tertidur pulas dikamar masing-masing.


__ADS_2