Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Kebencian Sasha


__ADS_3

Sasha berteriak keras sekali hingga Nadiya dan Prasetyo naik keatas dan melihat apa yang sedang terjadi.


Dan ternyata Sasha dalam keadaan terikat dan tertindih sebuah meja.


"Tolong Tante...." Kata Sasha yang meringkuk diatas meja.


Sementara sikembar ketakutan akan dimarahi oleh ibunya.


"Kami hanya bermain mami.... tiba-tiba..." Kata Edsel ketakutan.


"Tiba-tiba saat mereka mengikatku mereka kemudian mengangkat meja itu dan menindih tubuhku." Kata Sasha berurai air mata.


"Kami hanya bermain dan tidak sengaja mami ..." Kata Edsel dengan wajah ketakutan.


Prasetyo langsung mendekati Sasha lalu mengangkat meja yang menindihnya dan melepaskan ikatannya tali pada tubuhnya.


Sasha melirik kearah Edsel dan Eiden dengan isyarat untuk diam. Merekapun langsung diam dan tidak membela diri mereka.


"Prasetyo kemudian memapah Sasha kebawah dan menjauhkannya dari Edsel dan juga Eiden.


Sementara Nadiya sudah meradang dari tadi dengan kemarahan yang memuncak dan sedikit lagi meledak.


Namun akhirnya diapun menarik nafas panjang saat dilihatnya kedua anaknya itu menundukkan kepalanya kelantai. Mereka memainkan jari-jari tangannya dan tidak berani menatap wajah ibunya yang memerah karena marah.


"Apa yang kalian lakukan pada kakak kalian?"


"Dia bukan kakak kami, dia orang jahat!" Kata Eiden sambil tertunduk dan melirik kearah Edsel.


"Jangan berkata seperti itu tentang kakak kalian. Mbak Sasha itu sudah seperti kakak kalian, selama ini membantu mami menjaga kalian sehingga mami bisa kekantor karena kalian selalu membuat Baby Sitter kewalahan dan akhirnya mengundurkan diri. Jika tidak ada mbak Sasha siapa yang akan menjaga kalian?"


"Tapi dia jahat mami...." Kata Eiden.


"Kalian yang nakal tapi kalian mengatakan kalau mbak Sasha yang jahat. Apakah kalian sekarang juga pandai berbohong?" Kata Nadiya.


"Tidak mami. Kami tidak bohong...." Kata Edsel sambil menggenggam tangan Eiden.


"Mami tidak akan memukul kami?" Tanya Edsel menunggu dengan ketakutan kira-kira apa yang akan dilakukan maminya kali ini sebagai hukumannya.


"Tidak! Mami hanya ingin kalian bersikap baik dan jangan nakal." Kata Nadiya setelah memikirkan jika dia memukul merekapun rasanya percuma. Karena mereka tetap akan melakukan kenakalan dan malah hanya membuat mereka semakin nakal.


"Kalian tidak boleh menonton film favorit kalian." Kata Nadiya yang langsung membuat kedua anak kembarnya itu menatapnya dengan sangat kaget.

__ADS_1


"Kenapa mami?" Kata mereka merengek dan saling berpandangan.


"Karena kalian tidak bersikap baik hari ini."


Dan jika kalian bersikap baik besok, maka sore hari kalian bisa menonton film favorit kalian.


"Tapi mami.....kami tidak melakukan apapun. Tapi kenapa kami dihukum?" Kata mereka sambil menatap maminya dengan perasaan sedih.


"Sekarang mami akan duduk disini dan kalian kerjakan tugas kalian. Jangan sampai mami besok melihat kalian dimarahi guru kalian karena kalian tidak mengerjakan PR."


"Iya Mami...."


Nadiya kemudian mengambil majalah dan membacanya sambil terus mengawasi kedua buah hatinya yang sedang mengerjakan PR sambil berbisik-bisik.


Entah apa yang mereka bicarakan tapi mereka terlihat kesal dan marah.


Sementara dibawah Sasha sedang duduk bersama Prasetyo dan juga Ibu Monic.


"Bagaimana bisa semua ini terjadi Sasha?"


Tanya Prasetyo sambil menatap Sasha yang tertunduk kemeja.


"Awalnya mereka mengikatku om, setelah itu mengangkat meja dan menindih badanku dengan meja itu."


"Boleh juga mi. Jika mereka diasuh oleh dua babysitter maka mereka mungkin akan bisa lebih diawasi." Kata Prasetyo.


"Tidak usah Om. Yang ada nanti baby sitternya pada minta pulang padahal belum ada satu Minggu bekerja. Biar Sasha aja yang jagain mereka. Mungkin tadi mereka sedang menirukan beberapa adegan didalam film. Jadi mereka mempraktekannya pada Sasha."


"Apakah kau yakin, kau sanggup menjaga keduanya?" Kata Prasetyo.


"Yakin Om."


"Ya sudah kalau begitu. Memang sudah lebih dari dua puluh baby sitter yang datang dan tidak sampai satu Minggu mereka minta pulang karena tidak tahan dengan kenakalan keduanya." Kata Prasetyo.


"Dulu mereka tumbuh seperti anak pada umumnya dan entah kenapa sekarang mereka menjadi sangat nakal?" Kata Ini Monic.


"Iya mi. Prasetyo juga tidak mengerti apa yang salah dalam didikan kita? Mereka sekolah disekolah terbaik. Mereka juga kita didik dengan didikan yang baik. Tapi kenapa akhirnya bisa menjadi seperti ini?" Kata Prasetyo sambil pergi meninggalkan Ibu Monic dan Sasha.


"Pras mau kemana?"


"Prasetyo mau keluar sebentar mi..."

__ADS_1


"Nadiya tidak ikut?"


"Tidak mi...lagi diatas bersama anak-anak."


"Ya sudah." Kata Ibu Monic sambil menatap wajah Sasha.


"Sasha apakah kamu tidak ingin sekolah di Amerika bersama Regan. Oma sebenarnya ingin agar kamu menjadi wanita yang sukses dimasa depan." Kata Ibu Monic.


"Tidak Oma. Sasha kuliah disi.ni saja. Lagian biar bisa bantu tante Nadiya buat jagain sikembar."


"Terimakasih Sasha, kamu sudah menjadi kakak yang sangat baik untuk kedua adik kamu." Kata Ibu Monic.


"Oma...Sasha mau kekamar dulu ya Oma?" Kata Sasha sambil naik keatas dan masuk kedalam kamarnya.


Sasha langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam. Dan tidak lama kemudian teleponnya berbunyi, Sasha kemudian berjalan dan mengambil handphone nya yang ada diatas meja.


Sasha kemudian melihat siapa yang menelpon nya. Sasha lalu tersenyum seperti menyeringai.


"Gimana? Apakah kamu sudah melakukan apa yang saya suruh?" Kata suara itu melalui telepon.


"Sudah om."


"Bagus. Lalu apa yang terjadi?"


"Dirumah ini tidak pernah damai dan selalu ada keributan. Dan tante Nadiya tidak pernah melewati hari dengan tenang Om. Selalu saja marah dan kesal karena ulah kedua bocil itu."


"Bagus. Lakukan terus dan arwah ibumu juga ayahmu akan tenang disana." Kata suara dari telepon itu.


"Iya Om. Terimakasih Om, berkat Om Sasha jadi tahu kisah yang sebenarnya dan siapa yang harus disalahkan atas kematian ayah dan ibuku."


"Kamu tenang saja Sasha. Lakukan terus agar Tante Nadiya tidak bisa fokus bekerja dikantor dan marah setiap hari. Bukankan kamu ingin membalas dendam atas kematian ayah dan ibumu?"


"Iya Om. Karena Tante Nadiya, mami sampai menjual rumah lama kami dan pergi ke Amerika. Dan ayah sedih hingga memutuskan untuk bunuh diri. Dan semua ini terjadi karena Tante Nadiya egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri." Kata Sasha kepada suara didalam telepon itu.


"Yang kamu katakan sangat benar. Jika Tante Nadiya tidak egois maka kamu dan kedua orang tuamu saat ini pasti sudah hidup bahagia dan....om jadi sedih jika ingat apa yang dikatakan ayahmu pada Om...." Kata suara itu.


"Emang apa yang dikatakan ayah Om?"


"Ayahmu sangat mencintai ibumu dan sangat mencintaimu namun Nadiya sudah menghancurkan kebahagiaanya sehingga dia harus kehilangan dirimu. Dan dia berpesan jika terjadi apa-apa dengannya maka dia menitipkan kamu kepada Om." Kata suara itu.


"Iya Om. Tante Nadiya memang jahat dan kejam. Sudah memisahkan kami dari ayah Leo." Kata Sasha.

__ADS_1


"Benar Sasha. Dan setelah mengucapkan kalimat itu ayahmu....ayahmu tertabrak kereta. Dan Om sangat sedih dan menyesal karena datang terlambat dan tidak bisa menyelamatkan ayahmu dari depresinya."


Kata suara itu dengan diiringi tangisan dan kesedihan yang dibuat-buat.


__ADS_2