Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Insecure


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian .....


Hari ini adalah kemoterapi Nadiya yang terakhir. Kulitnya memang menjadi kering dan agak kusam. Rambutnya juga rontok akibat kemoterapi. Nadiya sempat ilfil karena kondisinya. Berat badannya juga turun banyak. Sehingga Nadiya yang awalnya memang langsing menjadi sangat kurus.


Ada rasa tidak percaya diri dalam diri Nadiya. Nadiya merasa wajahnya menjadi tidak cantik lagi. Juga tubuhnya yang kurus dengan kulit yang kusam. Tapi suami Nadiya terus memberikan dukungan agar rasa percaya diri Nadiya pulih kembali.


Hari ini, Ardy mengajak Nadia ke dokter Psikologi untuk memulihkan psikis Nadiya akibat kemoterapi. Nadiya ngga menolak, karena dia memang membutuhkan untuk memulihkan kondisi psikisnya. Entah kenapa Nadiya menjadi jarang keluar rumah dan berbulan-bulan hanya dirumah saja sejak melakukan kemo.


Suaminya menjadi khawatir, karena Nadiya yang tadinya riang, sekarang menjadi pendiam dan kadang kala murung tanpa sebab.



Nadiya berdiri didepan cermin, dan melihat wajahnya dikaca. Wajahnya datar dan dia juga enggan tersenyum pada kaca yang ada didepannya. Baju yang tadinya pas dipakai olehnya, saat ini menjadi longgar dan tak nyaman. Akhirnya Nadiya mengenakan kaos yang longgar, celana longgar dan memakai topi untuk pergi menemui dokter.


"Setidaknya baju ini akan menutupi badanya yang sangat kurus." Keluhnya sambil berbicara sendiri didepan kaca.


Ardy masuk kekamarnya dan melihat dirinya sambil tersenyum.


"Berangkat sekarang?" Tanya Ardy yang melihat Nadiya sudah siap.


"Iya pa."


Ardy dan Nadiya kemudian menemui dokter. Pulang dari dokter wajah Nadiya lebih cerah dari sebelumnya. Dan sudah mau diajak makan diluar bersama Ardy. Biasanya selalu menolak dengan banyak alasan. Dan memilih untuk makan dirumah. Ardy menjadi sedih melihat perubahan sikap istrinya sejak kemoterapi.


"Enak makananya ma?" Kata Ardy.


"Iya lumayan Pa. Sudah lama ngga makan diluar rasanya perasaan mama menjadi lebih baik sekarang."


"Makan yang banyak ya ma. Biar sehat dan cepat pulih seperti sediakala."


"Iya pa."


"Apalagi mama katanya mau program kehamilan?"

__ADS_1


"Iya pa. Sudah lama rumah terasa sepi, mama rindu tangisan bayi."


"Ya berdoa saja ma. Semoga apa yang mama rindukan menjadi kenyataan."


"Amin. Sekarang kita pulang ya pa."


"Iya ma."


"Pulangnya lewat depan rumah Dara ya pa. Katanya Dara baru saja membeli rumah baru yang sangat mewah."


"Iya ma. Papa juga dengar sekarang suami Dara menjadi pemimpin di Perusahaan Alexander.


"Iya. Beruntung ya Joan baru masuk langsung jadi Manajer."


"Iya ma. Tuh dah nyampe rumah Dara. Ini adalah rumah termahal dikomplek ini ma. Papa waktu itu melihat harga yang tertera di brosur."


"Bagus ya pa rumahnya?"


"Ngga pa. Mama cuma mau lihat saja. Besok-besok saja kalau mau main."


Ardy tidak jadi menghentikan mobilnya. Nadiya tidak mau mampir dan hanya penasaran saja. Akhirnya Ardy melanjutkan perjalannya dan pulang kerumah.


Terlihat Sarah lagi mondar-mandir disamping mobilnya. Ardypun berhenti. Nadiya menanyakan kenapa Sarah mondar-mandir? Sarah mengatakan jika mobilnya ngga mau nyala. Karena sudah lama memang ngga dibawa ke bengkel. Padahal dia harus menghadiri acara dan sudah terlambat.


"Oh gitu?" Kata Ardy. "Aku juga mau kekantor mengambil berkas yang ketinggalan. Apa mau bareng sekalian?" Ardy melihat pada Nadiya.


Nadiya mengangguk. Akhirnya Nadiya turun dan kemudian Sarah naik mobil Ardy.


Dara sedang membereskan beberapa baju dari dalam koper untuk dipindahkan ke lemarinya yang baru.


"Mama......" Kiara yang berusia 3 tahun langsung berlari memeluk Dara.


"Iya sayang. Sini sama mama. Mama kangen banget. Dateng sama Oma ya?"

__ADS_1


Kiarapun mengangguk. Kemudian Dara menciumi putri semata wayangnya dan menyuruh bibinya untuk membereskan barang-barangnya.


"Papa........" Kiara langsung berlari kearah papanya saat melihat ayahnya baru datang dari luar.


"Iya sayang. Sini papa gendong." Ini adalah salah satu kelebihan Joan. Dia sangat menyayangi putrinya. Bahkan saat pulang kerja, meskipun lelah dia tetap menyempatkan diri untuk bermain dengan putrinya. Pemandangan itu yang membuat Dara bertahan, meskipun suaminya berbagi cinta. Tapi demi putrinya, Dara mengesampingkan ego pribadinya.


"Papa bawa hadiah nih buat putri papa tersayang." Joan mengeluarkan sebuah bingkisan yang berisi boneka dan seekor kuda putih yang cantik.


Kiara langsung mengambil kota itu, tapi tidak bisa membukanya. Joan kemudian membantunya membuka kotak, dan mengeluarkan boneka dan kuda putih. Merekapun asyik bermain berdua, dan sesekali terdengar Kiara tertawa terkekeh-kekeh, saat Joan menceritakan cerita yang lucu.


Dara menyiapkan makan malam untuk suaminya. Sekarang mereka sudah menjadi orang kaya. Banyak asisten rumah tangga yang melayaninya. Tapi tetap saja kalau untuk makan suaminya Dara menyiapkannya sendiri.


"Makan dulu Pa." Kata Dara sambil melangkah mendekati mereka.


"Iya ma. Tunggu sebentar lagi. Nih ceritanya lagi seru."


"Yuk Kiara ikut mama. Papa biar makan dulu. Kiara juga makan ya."


Dara menggendong Kiara. Kiara menangis karena diaasih ingin bermain dengan papanya.


"Ohh cup! cup! cup! Sudah. Jangan menangis ya. Nanti papa terusin lagi ceritanya kalau papa sudah makan ya?" Akhirnya Kiara diam dan menurut.


Hari ini adalah hari dimana Joan bersama Dara selama empat hari. Dan setiap Senin-Rabu Joan bersama Karina. Dara mulai berusaha membiasakan diri dengan situasi dan keadaan yang terjadi. Selain tidak berdaya atas keinginan suaminya, Dara juga tidak mau Kiara menjadi korban.


Selama Joan bisa membagi waktu dengan adil, Dara berusaha menerima keadaan itu. Karena jika dia memilih bercerai, demi hati dan egonya terluka, hal pertama yang akan diributkan adalah hak asuh anak. Dara pasti akan kalah.


Joan pasti akan mengambil Kiara darinya dengan segala macam cara. Terlebih lagi uang bukan masalah bagi Joan. Dia bisa menyewa pengacara terbaik di kota ini untuk mendapatkan Kiara. Dan jika sampai hal itu terjadi, Dara tidak hanya kehilangan Joan, dia juga akan kehilangan Kiara. Akhirnya Dara memilih untuk berdamai dengan ego dan perasaanya.


Semua itu dia lakukan demi masa depan Kiara. Suatu saat jika Kiara sudah dewasa maka dia akan mengetahuinya. Tapi saat ini, dimasa pertumbuhanya, yang dia inginkan adalah sebuah keluarga yang hangat. Keluarga yang dimana ada Papa dan Mamanya dalam satu atap dan satu kamar.


Keluarga yang utuh akan membuat jiwanya dan emosinya tumbuh lebih baik. Hatiku mungkin sedih, terluka, kecewa dan banyak emosi negatif lainya, tapi didepan Kiara senyumku akan menjadi kekuatan baginya, untuk bertumbuh selayaknya memiliki keluarga yang normal.


Aku tak ingin Kiara menjadi gadis yang pemurung, karena melihat kesedihan mamanya. Biarlah apa yang terjadi hanya terjadi pada takdir mamanya. Selebihnya aku hanya ingin Kiara selalu tersenyum bahagia. Dara melamun sambil berbicara pada nalurinya sebagai seorang ibu. Ibu yang rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan putrinya. Ego, kesedihan, kecewa dan merasa dikhianati apalah artinya demi kebahagian putrinya.

__ADS_1


__ADS_2