Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Sakit namun tak berdarah


__ADS_3

Nadiya terus hanyut dalam pelukan Prasetyo dan mereka lupa diri. Mereka tidak sadar jika Freya masih ada dikamar mandi. Mereka terbuai oleh ******* masing-masing. Kerinduan yang tertahan sekian lama seperti membludak.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Melihat Nadiya dan Prasetyo sedang berpelukan dan bermesraan membuat Freya berbalik dan masuk lagi kekamar mandinya.


"Apa yang mereka lakukan? Mereka sudah tidak waras. Apakah mereka lupa jika aku masih didalam?" Keluh Freya dengan jantung yang berdebar tidak beraturan. Nafasnya tertahan dan terasa sesak melihat Prasetyo mencumbu Nadiya.


Bukan karena Prasetyo adalah miliknya, wajar saja jika mereka bermesraan. Mereka adalah suami istri. Namun Freya juga teringat bagaiman dulu dia juga pernah dicumbu seperti itu oleh Prasetyo saat mereka menjadi sepasang kekasih.


Mereka sering menghabiskan waktu bersama hingga tengah malam diapartemen. Mereka juga pernah sama-sama merasakan nikmatnya nafas masing-masing. Dan melihat kemesraan mantan kekasihnya dengan istrinya membuat hati Freya terasa sakit dan pilu.


Apakah mereka sudah berhenti sekarang? Mereka benar-benar tidak waras. Setidaknya tunggu sampai aku keluar dan tidak melihat adegan itu? Sungguh keterlaluan!


Haruskah aku terjebak dikamar mandi hingga adegan itu selesai? Ohh tidak! Jangan sampai mereka melanjutkan hubungan yang lebih intim lagi. Bisa berjam-jam aku terjebak disini, jika mereka lupa diri.


Lagian aku tidak ingin melihat hal yang lebih dari ini. Aku pasti tidak akan bisa melupakannya dan akan menggangguku Sepanjang hidupku jika aku sampai menyaksikanya.


Freya melihat bayangan Prasetyo dan Nadiya yang masih intens bercumbu mesra. Mereka sedang memadu kasih dan benar-benar lupa jika ada Freya diantara mereka.


Sebaiknya kupecahkan vas ini agar mereka berhenti.


Untunglah dikamar mandi ada vas yang terbuat dari kaca. Sehingga Freya bisa menggunakannya untuk mengagetkan keduanya.


Freya pun berjalan kemeja dan diambilnya Vas bunga itu.


Pecahkan!


Tidak!


Pecahkan!


Tidak!


Sudahlah! Pecahkan saja! Cape aku berdiri seperti nyamuk disini!


Pyaaarrr!


Beruntung pecahan kaca tidak sampai melukai kaki Freya. Freya pun melangkah mundur agar tidak menginjak pecahan kaca itu.

__ADS_1


Nadiya dan Prasetyo langsung menghentikan aksinya. Mereka kaget dan saling berpandangan. Mereka baru menyadari jika saat ini Freya masih dikamar mandi.


Nadiya dengan cepat membenahi kancing bajunya yang diterobos oleh Prasetyo. Dan juga beberapa letak bajunya yang kusut dan tidak beraturan. Sementara Prasetyo tidak membenahi kancing bajunya malah langsung melompat dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.


"Freya! Kamu tidak apa-apa?" Tanya Prasetyo saat terdengar suara benda terjatuh.


Prasetyo lalu memandang Freya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lekuk tubuh Freya nampak indah dengan kaos ketat dan celana pendek. Rambutnya yang basah terurai dan terlihat segar.


Sesaat nampak Prasetyo terpana namun kemudian langsung mengalihkan pandanganya pada lantai yang penuh dengan pecahan vas bunga.


"Hati-hati Pras! Tidak sengaja aku menjatuhkan vas bunga itu." Kata Freya sambil keluar dari kamar mandi itu.


Dan saat Freya akan keluar rambutnya tersangkut dikancing baju Prasetyo. Dan terpaksa Freya menghentikan langkahnya. Prasetyo masih berdiri dan berusaha melepaskan rambut Freya yang tersangkut.


Freyapun berjalan mundur dan saat ini tepat ada dihadapan Prasetyo. Wangi dan harum tubuhnya setelah mandi tercium oleh Prasetyo. Freya kemudian melepaskan rambutnya dan akhirnya berhasil. Freya masih berdiri seperti patung dihadapan Prasetyo. Jantungnya berdetak keras saat berdiri begitu dekat dengannya. Namun dia segera mundur dan sadar jika Prasetyo saat ini sudah menjadi milik orang lain.


Prasetyo terlihat menarik nafas panjang dan mendekati Freya.


"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Prasetyo sambil memegangi kedua bahu Freya.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Freya pelan.


"Tenanglah. Aku akan menyuruh OB untuk membersihkan pecahan kaca itu." Kata Prasetyo sambil merengkuh Freya kedalam pelukanya.


Merekapun berpelukan dan dada Prasetyo yang masih terbuka akibat bercumbu dengan Nadiya terasa lengket dipipi Freya.


Bagi Prasetyo yang menghabiskan waktu diluar negeri, pelukan ini tidaklah berarti ada hubungan dekat antara keduanya. Bagi Prasetyo ini hanyalah pelukan untuk teman yang sedang cemas atau sahabat saja. Dan tidak ada perasaan lebih dari sekedar sahabat kepada Freya. Cintanya telah dia habiskan untuk mencintai Nadiya. Dan tidak ada ruang untuk dia membaginya kepada yang lainya.


Namun tidak bagi Freya.


Pelukan ini sangat berarti baginya. Dia begitu merindukan pelukan hangat Prasetyo setelah sekian lama. Bahkan sampai saat ini belum ada satu pria pun yang bisa meluluhkan hatinya. Meskipun dia sadar jika tidak mungkin bersama Prasetyo lagi. Namun setidaknya kerinduannya setelah sekian lama telah terobati dengan bersandar dipelukannya.


Perlaha Prasetyo melepaskan pelukan Freya dan saat itulah Nadiya masuk.


Nadiya nampak terkejut melihat mereka berdiri begitu dekat.


Tidak ingin ada salah paham, akhirnya Freya mundur dan berjalan keluar.

__ADS_1


"Aku akan memanggil OB. Vasnya pecah." Kata Freya sambil berlalu.


"Ooohhh pantas saja banyak pecahan kaca dilantai."


"Hati-hati Nadiya, jangan mendekat. Biarkan dibersihkan dulu." Kata Prasetyo.


"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Nadiya kesal melihat Prasetyo berdiri sangat dekat dengan Freya.


"Aku tadi ....." Prasetyo menggaruk-garuk rambut di kepalanya yang tidak gatal. Dia hanya sedang bingung harus menjawab apa.


Tiba-tiba seorang office boy masuk dengan membawa sapu dan kain pel.


"Sebelah sini pak." Kata Prasetyo sambil berjalan keluar dari kamar mandi. Prasetyo menggandeng Nadiya dan mengajaknya keluar dari kamar mandi.


Dikamar mereka lihat Freya sudah turun kebawah.


Sementara Nadiya duduk disamping Prasetyo dan menunggu office boy membersihkan lantainya yang akan mereka gunakan untuk mandi.


"Sudah pak!" Kata office boy itu sambil membawa sampah pecahan kaca keluar dari kamar.


"Ya, pak. Terimakasih." Kata Prasetyo.


"Ayo Nadiya!" Ajak Prasetyo sambil menggendongnya masuk kekamar mandi. Nadiya kemudian melingkarkan tangannya pada leher Prasetyo.


Merekapun menutup pintu kamar mandi dan berada dibawah shower yang sama. Ada kaca besar disana. Sehingga lekuk tubuh Nadiya nampak jelas terlihat tampak sehelai benangpun.


Begitu juga tubuh Prasetyo yang kekar terlihat jelas dikaca.


Prasetyo kemudian memandang wajah Nadiya, leher dan semakin turun kebawah hingga tangan Prasetyo mampir disana untuk menyentuhnya.


Merekapun berpelukan dibawah shower. Airnya terasa hangat berjatuhan menyentuh kulit mereka. Kulit mereka bersentuhan hingga tidak ada jarak bagi seekor nyamuk pun untuk menyusup diantaranya.


Prasetyo terus memeluk tubuh Nadiya dan menciuminya begitu lama. Sesaat merekapun saling berpandangan dan saling melempar senyum. Saat Nadiya tersenyum bibirnya begitu sangat menggoda dimata Prasetyo. Hingga Prasetyo tidak melewatkan kesempatan untuk menghabiskanya.


Suhu didalam kamar mandipun semakin panas oleh nafas keduanya. Satu jam mereka berada dikamar mandi dan saling menikmati satu dengan yang lainya. Lagian mereka sudah sah sebagai suami istri jadi tidak akan ada yang mengganggunya.


Arya terlihat masuk kedalam, dan melihat sekeliling. Namun saat terdengar suara dari dalam kamar mandi Arya segera tahu apa yang sedang mereka lakukan.

__ADS_1


Kemudian Arya mengepalkan tangannya dan meninju tembok didekatnya hingga tanganya memar dan berdarah.


__ADS_2