Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Mulai ada titik terang


__ADS_3

Vano masih menatap mata Vano dengan tatapan aneh. Lalu tidak lama kemudian dia tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha!"


"Kenapa lo malah ketawa?" Tanya Jack.


"Lucu! Lucu! Lucu banget. Ampun deh bang jago! Enyah Lo dari kamar gua." Kata Vano lalu menatap laptopnya kembali.


"Gua serius. Kali ini Lo ikut gua deh. Gua tunjukkin jika ini ada kaitannya dengan kematian Shakira." Kata Jack.


"Ya sudah ayo!" Kata Vano sambil menutup laptopnya dan berdiri.


"Ikut gua!" Kata Jack sambil berjalan dengan cepat kearah ruang bawah tanah.


"Mana?" Tanya Vano tidak sabar.


"Diam. Ada yang datang. Sebaiknya kita sembunyi." Kata Jack.


Merekapun masuk kebelakang pintu yang sedikit terbuka.


"Siapa disana?" Kata penjaga itu saat melihat pantulan bayangan orang karena sorot lampu.


"Jangan sembunyi. Saya tahu ada orang disana." Kata penjaga itu.


"Aduh gimana ini?" Tanya Jack ketakutan jika ketahuan kalau dia mengikuti penjaga asrama itu.


"Tuuuuuuuttttttt." Vano tidak bisa menahan suar kentutnya yang kenceng dan kedengaran sama penjaga itu.


"Sial! Bau banget! Makan apaan sih lo? Baunya seperti bangkai!" Umpat Jack yang berdiri tepat dibelakang Vano.


"Sorry! sorry! Gue kelepasan. Perut gua tiba-tiba mulas." Kata Vano.


"Gua udah ngga tahan. Ayo keluar dari sini. Nanti daripada gua berak di celana." Kata Vano


Akhirnya merekapun keluar dari tempat persembunyian mereka. Dan penjaga asrama itu langsung mendekati dan menegur mereka.


"Ngapain malam-malam kalian berkeliaran disini?" Tanya penjaga asrama sambil menatap mereka dengan tatapan menyelidik.


"Ini gara-gara d...." Belum sempat Vano meneruskan kalimatnya, Jack sudah memotong pembicaraannya.


"Kami ada projects besok. Dan kami membutuhkan referensi buku yang lain. Dan buku itu ada didalam." Kata Jack.


"Kenapa malam-malam? Kenapa ngga dari tadi siang?" Kata penjaga itu.


"Karena...karena tadi siang kami sangat sibuk dan tidak sempat." Kata Jack berusaha meyakinkan penjaga itu.


"Ini sudah ketiga kalinya kita bertemu. Aku jadi berfikir kamu seperti sedang mengikuti saya." Kata penjaga itu dengan menyipitkan matanya.


"Pak. Sudah dulu ya. Teman saya malah sakit perut. Lagi diare. Besok saja kalau sudah siang." Kata Jack sambil menarik tangan Vano.


Dengan cepat mereka menghilang dikegelapan malam.


***


Sasha keluar dari kamarnya bersama Rossa. Mereka akan keperpustakaan bawah tanah untuk mengambil beberapa buku yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas kuliah mereka.

__ADS_1


"Sepi sekali ya?" Kata Sasha.


" Iya nih. Semua ini karena isu itu." Kata Rossa.


"Gimana nih? Kita terusin ngga?" Tanya Sasha kepada Rossa saat mereka hampir turun ke tangga bawah tanah.


"Sebaiknya kita kekamar Jack aja. Kita minta agar dia nemenin kita." Kata Rossa.


"Ya sudah yuk! Kita kesana!" Kata Sasha sambil menoleh dan matanya menyapu sekitar tempatnya berdiri.


Sunyi.


Sepi.


Hening.


Tak ada satupun orang yang berlalu lalang.


Tak lama kemudian mereka sampai dikamar Jack. Kebetulan kamar Jack pintunya terbuka. Jack dan Vano baru saja masuk dan pintunya lupa tidak ditutup kembali.


Baru saja Jack akan duduk, tiba-tiba dia terkaget oleh kedatangan Rossa dan Sasha.


"Ngapain malam-malam kalian kesini?" Tanya Jack.


"Kita butuh temen buat keruang bawah tanah." Kata Sasha.


"Ngapain kesana malam-malam begini?" Tanya Jack.


"Gue butuh beberapa buku buat presentasi besok. Gimana mau anterin ngga?" Tanya Sasha.


"Ohh gua ngerti maksud lo. Ya udah yuk ikut gua. Kali ini pasti kita ngga bakalan ketemu sama dia. Gua jamin deh!" Kata Sasha.


Ngggeeekkkk!


Vano keluar dari kamar mandi. Diapun terkejut melihat Sasha dan Rossa ada didalam kamar Jack.


"Vano?" Sasha dan Rossa saling berpandangan dan terkejut melihat Vano keluar dari kamar mandi didalam kamar Jack. "Lo juga ada disini?"


"Iya. Dan semua ini gara-gara dia." Kata Vano sambil menunjuk pada Jack.


Sementara Jack diam saja dan tidak mau meladeni Vano.


"Ya udah mumpung ada kalian berdua, ayo kita keperpustakaan bawah tanah!" Ajak Sasha.


"Benar. Jika kita berempat maka kita tidak perlu takut lagi." Kata Rossa.


"Mau ngapain kalian kesana?" Tanya Vano.


"Kita butuh beberapa buku." Kata Sasha.


"Okelah." Kata Vano. Vano langsung bilang oke karena ada Sasha ikut kesana. Jika tidak dia belum tentu akan ikut ketempat yang tadi. Sasha seperti magnet baginya. Yang akan membuatnya terus mendekat dan menempel.


"Tumben Lo, langsung oke?" Kata Jack.


"Sudahlah! Ayo buruan! Sebelum gua berubah pikiran." Kata Vano.

__ADS_1


Mereka berempatpun sampai diruang bawah tanah tanpa berpapasan dengan kepala asrama.


Kuncinya tergantung didepan pintu. Dan siapapun bebas masuk kesana.


Sasha berjalan paling depan dan langsung menuju rak buku disamping gudang. Dia memang sudah hafal letak beberapa buku karena sering kesana saat siang hari.


Bahkan Sasha kalau lagi bad mood akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar duduk dan membaca buku.


Saat Sasha sudah selesai mengambil buku, dia mendengar suara rintihan dari dalam gudang.


Diapun berjalan mendekat dan melihat dari lubang kunci.


Sasha langsung mundur saking kagetnya melihat apa yang dia lihat dari lubang kunci.


Diapun langsung memanggil teman-temannya dan mengatakan apa yang baru saja dia lihat.


"Benar kan dugaan gue. Pasti ada sesuatu didalam gudang." Kata Jack.


"Tapi bagaimana kita akan membukanya. Kuncinya tidak ada disini. Biasanya kalau kita mau kegudang kita harus menemui penjaga asrama dulu. Kuncinya pasti ada dikamarnya." Kata Sasha."


"Iya kau benar. Hanya dia yang suka keluar masuk gudang. Jangan-jangan....." Kata Vano tidak meneruskan kalimatnya.


"Ayo kita naik keatas sekarang juga. Kita akan mencuri kunci itu saat dia sedang tidur." Kata Vano.


"Baiklah. Ayo buruan. Kasihan wanita itu disekap dengan mulut tertutup lakban." Kata Sasha.


"Gua ngga habis pikir. Bagaiamana gudang bisa dikunci sementara ada wanita didalam sana. Dan siapa yang tega melakukan semua ini. Dan apa motifnya. Dan siapa wanita itu?" Kata Sasha penuh dengan banyak pertanyaan.


"Jawabannya hanya jika kita bisa mengeluarkan wanita itu dari gudang. Maka semua misteri yang ramai beberapa Minggu ini akan terjawab." Kata Jack.


"Kau benar. Wanita itu akan menjelaskan semuanya. Dan jangan-jangan semua ini juga ada hubunganya dengan kematian Shakira." Kata Sasha.


"Aku juga berpikir begitu." Rossa lalu berjalan disamping Sasha.


Dan Jack juga Vano berjalan dibelakang mereka.


Apalagi saat ini mereka melewati lorong yang menjadi angker sejak kematian Shakira. Kamar Shakira menjadi lebih seram dari sebelumnya.


"Gua merinding kalau lewat sini." Kata Rossa.


"Sama. Aku juga." Kata Sasha.


"Aku sudah tidak sabar lagi untuk mengeluarkan wanita itu dan membongkar siapa dalang dibalik semua ini." Kata Rossa.


"Kau benar. Kita sudah semakin dekat dengan kebenaran. Kita pasti menemukan pelaku sebenarnya yang membuat teror dan gelisah para mahasiswa." Kata Sasha.


"Itu kamar penjaga asrama. Kita harus pelan-pelan. Dan tetap waspada." Kata Rossa.


"Biar gua didepan." Kata Vano.


"Jika ketahuan gua punya alasan. Kalian jangan mendekat. Sembunyilah ditempat yang aman. Tuh! Didekat pintu dan tong sampah itu." Kata Vano.


"Lo yakin bisa sendiri bro?" Kata Jack.


"Gua akan teriak jika terjadi hal diluar dugaan." Kata Vano.

__ADS_1


"Oke. Hati-hati bro." Kata Jack lalu mengajak Sasha dan Rossa bersembunyi ditempat yang aman dan tidak jauh dari kamar penjaga itu.


__ADS_2