
Sasha kerumah sakit untuk memeriksakan kandunganya. Seorang dokter yang sudah dipesan Arya untuk merawat Sasha nampak tersenyum hangat padanya.
"Nona Sasha!"
"Iya dokter."
"Anda datang sendirian?"
"Iya."
"Baiklah, saya akan memeriksa anda, silahkan anda berbaring!"
Sasha lalu berbaring dan dokter memeriksanya.
"Bayi anda sehat. Dan dia ada diposisi yang bagus dan mapan untuk kelahiran normal." Kata Dokter itu.
"Terimakasih dokter."
Dokter itu lalu memberikan vitamin kepada Sasha.
"Kau rajin meminumnya bukan?" tanya dokter pada Sasha.
"Iya dokter, saya tidak pernah lupa untuk meminumnya."
Sasha lalu pamit dan keluar dari ruangan dokter.
Sampai diluar sudah ada Vano disana. Dia sedang berdiri dan menatap kearah lain. Sasha tidak menyangka Vano begitu perhatian padanya meskipun dia sedang hamil anak orang lain.
Sedangkan Vano merasa ada yang janggal dari kehamilan Sasha. Tentang suami yang tidak pernah menelpon atau mengkhawatirkannya.
Juga Regan yang seperti orang asing saat ini.
Vano tiba-tiba teringat vonis dokter yang mengatakan jika dia kemungkinan mandul dan tidak bisa punya anak.
Oleh sebab itulah Vano sangat perhatian pada Sasha. Apalagi saat ini Sasha tengah hamil dinegeri orang, sendirian, tanpa siapapun.
Vano sebenarnya curiga pada kehamilan Sasha, dan merasa jika Sasha sepertinya merahasiakan sesuatu darinya. Ada yang dia tutupi, namun Vano tidak berani menanyakanya, kalau Sasha tidak menceritakannya sendiri.
"Kau disini?" Tanya Sasha kaget.
"Aku ke apartemenmu, tapi kau tidak ada disana. Aku pikir kau pasti kemari. Aku lalu menyusulmu. Kenapa kau pergi sendirian? Seharusnya kau bisa meminta tolong kami untuk menemanimu?" Kata Vano terlihat khawatir.
"Tidak papa. Aku bisa sendiri. Aku hanya kontrol kandunganku saja seperti biasanya."
"Kau sudah makan?" Tanya Vano.
Sasha menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita makan disana. Setelah itu baru kita ke apartemen." Kata Vano lalu menuntun Sasha.
"Terimakasih, kau sangat perhatian padaku." Kata Sasha tertunduk malu.
Vano mengangguk.
"Sepertinya kau makin bertambah gemuk saja." Kata Vano yang banyak melihat perubahan pada wajah Sasha.
"Iya. Beratku naik 15 kg. Apakah aku terlihat jelek?" Tanya Sasha.
"Tidak. Kau tetap cantik."
"Hahahaha, kau hanya menghiburku kan?"
"Tidak. Kau benar-benar cantik." Kata Vano sambil menatap Sasha.
"Oya, kapan kau akan melahirkan?"
"Bulan depan." Kata Sasha.
"Kapan suamimu datang?"
__ADS_1
"Entahlah, dia sangat sibuk."
Vano tampak mengangguk-angguk.
***
Prasetyo hari ini tidak kekantor karena dia sedang tidak enak badan. Dia baru saja pulang dari luar kota dan sampai dirumah dia tiba-tiba demam.
Sandra sedang membuatkan bubur dan kuah ayam untuknya.
Anak-anak kebetulan juga libur karena ini hari Sabtu.
Mereka sedang asyik main diluar bersama Oma dan juga bibi Parti. Sementara Sandra memasak untuk Prasetyo.
Prasetyo sedang rebahan dikamarnya. Badanya mengingil karena demamnya tinggi. Namun dia kekeh tidak mau dibawa kedokter.
Sandra lalu mengompres keningnya. Prasetyo masih memejamkan matanya karena kelelahan dan tertidur.
Sandra menaruh sup ayam hangat didekatnya. Dia lalu memegang kening Prasetyo.
"Demamnya masih tinggi." Gumam Sandra.
"Nadiya...."
"Nadiya...."
Prasetyo terus menyebut nama Nadiya dengan mata terpejam. Dia bergumam karena demamnya sangat tinggi.
Selain itu, dia mungkin juga sangat merindukan Nadiya sehingga dia menyebutnya terus menerus.
Sandra menghela nafas panjang. Dia lalu mengambil kain dikening Prasetyo dan membangunkanya.
"Pras....."
Prasetyo membuka matanya perlahan.
Sandra menggeleng.
"Bukan, aku Sandra."
"Oh, maaf. Aku pikir kau Nadiya."
Sandra mencoba tersenyum padanya.
"Ayo makanlah dulu, aku akan menyuapimu." Kata Sandra sambil menaruh bantal dipunggung Prasetyo. Agar dia duduk bersandar.
"Makanlah, aku akan menyuapimu. Setelah itu kau harus minum obat."
Sandra lalu menyuapi Prasetyo perlahan-lahan.
"Sudah." Kata Prasetyo saat dia baru makan beberapa sendok suapan.
"Kau baru makan sedikit."
Tapi Prasetyo menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak mau makan lagi.
Sandra lalu menaruh makananya dimeja. Dia mengambil obat dan memberikannya pada Prasetyo.
"Setelah minum ini kau akan sembuh."
Prasetyo mengangguk.
"Aku akan membawa piring ini keluar." Kata Sandra sambil mengambil nampan diatas meja.
Sandra turun kebawah dan bertemu Oma didapur.
"Apakah Prasetyo sudah makan?" Tanya Oma pada Sandra.
"Sudah." Sandra lalu menghampiri Edsel dan Eiden.
__ADS_1
"Oma! Kami haus!" Kata mereka bersamaan. Keringat bercucuran dari kening mereka.
Sepertinya mereka baru saja lari.
"Biar Tante yang ambilkan."
"Terimakasih Tante." Mereka lalu cepat menghabiskan minuman itu." Apakah papi sudah sembuh?"
"Belum. Papi kalian masih demam, dan butuh istirahat. Kalian jangan mengganggunya dulu, ya?" Kata Sandra.
"Ya. Tante. Papi paling kangen sama mami. Kami juga kangen, tapi mami ngga mau pulang!" Kata Eiden.
Oma kaget dan berpandangan dengan Sandra. Mereka juga kaget karena tiba-tiba Eiden berbicara seperti itu.
Oma lalu mendekati mereka dan memeluknya.
"Sabar ya, mami kalian nanti juga akan pulang. Sekarang kalian main dulu ya."
"Iya Oma. Tapi, kenapa sih, mami juga ngga menelpon kami?"
Oma nampak kaget dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Mami kalian nanti juga akan segera menelpon."
"Iya Oma."
***
Dikamar, Sandra lalu mengambil ponselnya dan menelpon orang tuanya dikampung.
"Bu, apakah dia masih ada dirumah?" Tanya Sandra pada ibunya melalui telepon.
"Sekar, maksudmu?"
"Oh, ya. Namanya Sekar. Apakah dia suka keluar rumah?"
"Tidak. Ibu melarangnya karena dia tidak hafal daerah sini. Nanti malah tidak bisa pulang."
"Ya Bu. Sebaiknya jangan biarkan Sekar keluar dari rumah. Sangat berbahaya jika dia keluar rumah. Anggap saja seperti keluarga kita sendiri. Semoga dia betah tinggal bersama ibu." Kata Sandra.
"Ya. Sejak dia datang, pekerjaan ibu jadi lebih ringan. Dia banyak membantu ibu."
"Tanteee..." Teriak Edsel dan Eiden dari luar kamar.
"Ya sudah bu, nanti Sandra telepon lagi."
Ibunya nampak bingung saat ada suara anak kecil didalam telepon.
Sandra lalu keluar dan menghampiri mereka.
"Ada apa?"
"Kami ingin bermain layang-layang Tante. Tapi kami tidak bisa menemukan dimana-mana."
"Baiklah. Kalian tunggu disini. Tante akan cari kegudang."
Sandra lalu pergi kegudang untuk mengambil layang-layang itu.
Digudang ada beberapa foto Nadiya dan juga Prasetyo yang sebagian tidak dipajang.
Sandra lalu menghela nafas panjang.
"Maafkan aku Bu Nadiya."
Sandra lalu keluar dari gudang dengan layang-layang ditanganya.
Sandra kaget saat ada tamu dihalaman.
Dia adalah Arya. Dia ingin bertemu dengan Nadiya.
__ADS_1