Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
8 Eps terakhir (bab 278)


__ADS_3

Ibu monic langsung masuk kesalon Sandra, dan Sandra saat itu sedang duduk sambil melihat layar laptopnya.


Rupanya dia sedang membaca kabar tentang Nadiya dan ibu pengganti. Masih menjadi perbincangan publik siapakah ibu pengganti itu.


Semua orang penasaran dan mencari tahu tentang sosok ibu pengganti. Namun hingga hari ini keluarga Prasetyo tidak memberikan klarifikasi dan bahkan rumahnya kosong.


Para wartawanpun kecewa karena mereka sudah menunggu bahkan seharian demi memperoleh berita selengkapnya.


Sandra kaget saat tiba-tiba ibu Monic berdiri dibelakangnya.


"Apa yang sedang kau baca?" Sandra yang sedang asyik membaca sebuah artikel itu langsung menutup laptopnya, begitu tahu siapa yang datang.


"Oma? Oma ada disini?"


"Ya, aku sengaja kemari karena ada yang perlu aku bicarakan padamu." Kata Oma pada Sandra.


Sandra mengangguk lalu mempersilahkan Oma untuk duduk.


"Bagaimana menurutmu tentang berita yang sedang ramai hari ini?" Tanya Oma pada Sandra dan melihat perubahan pada wajah Sandra.


"Saya juga kaget saat kabar itu tersebar dimedia." Kata Sandra.


"Apakah kau tahu, siapakah orang yang sudah menyebarkan berita itu?"


Sandra menggelengkan kepalanya.


"Bukankah hanya kalian bertiga yang tahu tentang hal ini. Dan satu lagi, dokter, tapi tidak mungkin dokter membuka rahasia pasiennya. Apakah kau telah menyebarkan berita ini?"


Kata Oma mencurigai Sandra. Sandra menatap Oma dengan sangat kaget, karena ternyata Oma sudah tahu tentang dia yang menjadi ibu pengganti.


"Kau jangan terkejut, aku sudah tahu segalanya. Jadi katakan, siapa yang sudah menyebarkan berita ini?" Kata Oma mendesak Sandra.


"Bukan saya yang melakukanya." Kata Sandra.


"Jika bukan kau, apakah Nadiya atau Prasetyo sengaja melakukanya dan mencemarkan nama baik mereka sendiri? Bukankah hanya ada kalian bertiga yang tahu tentang masalah ini?"


"Tapi saya tidak melakukanya. Saat itu....." Sandra lalu menceritakan kejadian dimana terpaksa dia mengatakan pada orang asing tentang rahasia nadiya karena dia disekap dan tidak berdaya.


"Jadi, ada orang lain selain kau yang tahu jika kau adalah ibu pengganti?"


"Ya Oma." Jawab Sandra pelan.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita selesaikan masalah ini. Kau yang telah membuka rahasia itu pertama kali, maka kau yang akan menyelesaikannya."


"Maksud Oma?"


"Kau harus pergi dari sini selama dua tahun."


"Pergi?" Sandra nampak terkejut.


"Bersenang-senanglah keluar negeri." Kata Oma menatap Nadiya.


"Tapi...."


"Aku akan memberikan uang untukmu selama dua tahun. Lakukan sesukamu, tapi jangan berada di negara ini. Kau tahu, orang itu akan menyebut namamu hari ini ,esok atau lusa. Dan kau akan menjawab apa? Dan masalah ini akan lebih rumit jika orang tahu jika kau adalah ibu pengganti."


"Tapi saya...."


"Kau yang sudah membuka rahasia ini pertama kali, jadi kau harus menyelesaikannya."


"Bagaimana jika saya tidak bisa pergi."


"Aku akan memaksamu. Aku bisa melakukan apapun demi putraku. Dan bukankah mereka sudah membayarmu untuk rahim yang kau sewakan. Lalu kenapa semua ini sulit bagimu. Aku bahkan memintamu untuk bersenang-senang, bukan untuk bekerja."


"Pikirkanlah! Aku akan menunggu jawabanmu dua jam kedepan. Ini kartu namaku. Jika kau menolaknya, maka jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu yang tidak kau duga." Kata Oma mulai mengancam Sandra.


"Apakah kau mengancamku?" Sandra mulai kesal karena Oma mendesaknya dan bahkan mengancamnya.


"Jadi, tidak usah menunggu hingga dua jam kedepan. Saya tidak bersedia pergi keluar negeri. Saya akan tetap disini."


"Baiklah, jika itu keputusanmu, maka jangan salahkan aku jika kau akan menyesalinya." Kata Oma lalu pergi dan meninggalkan kartu namanya dimeja Sandra.


Dalam hati Oma masih berharap Sandra merubah keputusannya. Meskipun tidak mudah pergi dari negara sendiri selama satu atau dua tahun. Namun hanya ini solusi yang terbaik.


Wajahnya akan dicari oleh seluruh masyarakat dari pelosok hingga perkotaan. Dan Oma takut jika Sandra dimanfaatkan oleh orang-orang sesama pesaing bisnis untuk menekan Prasetyo.


Itulah alasan Oma menyuruhnya pergi keluar negeri.


Oma lalu masuk kemobilnya dan menyandarkan badanya sambil memasang kacamata cokelatnya.


Oma terlihat menarik nafas berulang kali dan sopirnya tidak berani bertanya padanya. Wajahnya terlihat kesal dan nampak ada amarah dimatanya.


"Jalan sekarang! Kita akan kekantor!" Kata Oma lalu mobil itu menuju kantor Prasetyo.

__ADS_1


Jalanan tidak macet sehingga tidak membutuhkan waktu lama, Oma sudah sampai disana.


"Berhenti disini! Jangan terlalu dekat. Saya hanya akan melihat dari kejauhan. Wartawan masih berjaga disana. Aku tidak bisa masuk." Kata Oma pada sopirnya.


"Baik nyonya. Apakah saya perlu keluar dan mengambil sesuatu untuk Oma?"


Oma nampak berfikir sejenak.


"Suruh sekretaris Prasetyo keluar dan temui saya dimobil." Kata Oma pada sopirnya.


"Kau juga bisa mendengar apa yang mereka bicarakan." Kata Oma sambil melihat keadaan kantor Prasetyo yang penuh dengan wartawan dari dalam mobilnya.


Sopir itu lalu masuk kedalam kantor dan dia mendengar mereka semua penasaran tentang sosok ibu pengganti itu.


Mereka menunggu Prasetyo ataupun Nadiya melakukan klarifikasi. Mereka tidak bisa menemukan Prasetyo dan Nadiya dirumahnya, sehingga mereka menunggu dikantornya.


Sopir itu kembali dengan seorang sekretaris yang juga kebingungan karena telepon dikantornya terus saja berbunyi.


Sedangkan Prasetyo dan Nadiya tidak bisa dihubungi. Semua orang menanyakan kabar itu dan dia tidak tahu harus menjawab apa.


Sekretaris itu lalu masuk kedalam mobil yang parkir ditempat sepi dan agak jauh dari kantornya.


"Apakah ada masalah sejak berita itu keluar?" Tanya Oma pada sekretaris Prasetyo.


"Ya, kantor menjadi ramai dan suasana sangat gaduh. Mereka sepanjang hari terus duduk menunggu CEO datang. Belum lagi banyak rapat yang dibatalkan dan ditunda Minggu depan. Telepon kantor terus berdering dan sebentar lagi pemilihan CEO."


"Baiklah. Jangan katakan apapun. Aku sedang mencari cara menyelesaikan masalah ini. Jangan katakan apapun sampai pemilihan CEO yang baru."


"Baik, ibu..."


"Oh ya, apa yang mereka bicarakan dan ingin tahu dari gosip itu?"


"Mereka sangat penasaran dengan ibu pengganti. Dan apakah CEO punya istri lebih dari satu atau punya affair....mereka terus menerka-nerka."


"Hhhhh....sudah kuduga kabar akan semakin melebar kemana-mana."


Kata Oma sambil melayangkan pandangannya jauh ke wartawan yang masih duduk sambil menunggu.


"Kau boleh pergi. Aku tidak akan kekantor, begitu pula Prasetyo. Lakukan tugasmu dengan baik. Jika kau ingin berbicara dengannya, ini nomor teleponku." Kata Oma sambil memberikan kartu namanya.


Setelah sekretaris itu pergi, Oma lalu kembali keapartemenya.

__ADS_1


__ADS_2