
Pagi harinya udara masih agak dingin karena hujan semalaman. Tanah disekitar rumah juga masih basah. Hujan baru saja berhenti. Matahari masih enggan menampakan diri dan masih terselimuti oleh awan hitam. Cuaca masih mendung meskipun sudah tidak hujan.
Nadiya sudah rapi pagi-pagi sekali. Prasetyo menatap istrinya dengan heran.
Mau kemana dia pagi-pagi begini?
Prasetyo kemudian menarik selimut lagi setelah melihat kejendela hujan masih turun rintik-rintik.
Nadiya menoleh kearah suaminya. Dilihatnya suaminya masih pulas. Nadiya kemudian tersenyum dan mengambil tas kecilnya.
Dia masih tidur
Aku sebaiknya tidak usah membangunkanya. Aku akan menemui dokter sendirian.
Nadiya datang menemui dokter dan mengatakan sesuatu kepada dokter itu. Tiba-tiba saat mereka sedang berbicara tentang ibu pengganti dan akan dibayar satu milyar seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka langsung menghentikan langkahnya.
Pintu ruangan dokter tidak ditutup rapat oleh Nadiya. Sehingga pembicaraan mereka terdengar dari luar ruangan.
Orang itu kemudian berdiri tepat di pintu dan mendengarkan percakapan mereka.
Haruskah aku menjadi ibu pengganti demi mendapatkan uang?
Aku memang sangat membutuhkan uang itu.
"Terimakasih dokter." Nadiya kemudian berdiri dan berpamitan pada dokter itu.
Dengan cepat orang yang membicarakan pembicaraan mereka langsung pura-pura sedang berjalan. Sehingga tidak dicurigai bahwa baru saja dia mencuri dengar.
Setelah Nadiya pergi, orang tersebut langsung menemui dokter yang baru saja berbicara pada Nadiya.
tok tok tok
"Masuk." Kata Dokter mempersilahkan tanpa menoleh dari berkas yang ada dihadapannya.
"Ya silahkan duduk? Sudah membuat janji? Siapa nama anda?" Tanya dokter yang rame pasien sehingga tidak bisa mengingat nama-nama siapa saja yang sudah mmbuat janji denganya.
"Belum dokter."
"Baiklah. Apa keluhan anda?"
"Saya tidak sakit dokter?"
Dokter itu memicingkan matanya?
"Tidak sakit? Baiklah apakah anda ingin konsultasi. Silahkan katakan masalah anda."
"Saya tidak ada masalah dokter?" Kata wanita itu.
"Lalu apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Saya....." Berfikir sejenak. Akhirnya membulatkan tekad. " Saya ingin menjadi ibu pengganti bagi ibu yang baru saja keluar dari sini."
"Ibu pengganti?"
__ADS_1
"Iya dokter. Saya sangat membutuhkan uang itu, saya mohon dokter. Katakan kepada ibu yang baru saja keluar dari sini. Saya bersedia menyewakan rahim saya selama sembilan bulan."
"Darimana anda tahu? Apakah anda teman dari Ibu Nadiya?"
"Tidak dokter. Saya mendengar percakapan dokter dan pasien dokter tentang ibu pengganti."
"Oooo ya ya ya. Jadi kamu bersedia menjadi ibu pengganti? Baiklah. Berapa usia ibu?"
"Dua puluh tiga tahun."
"Ya. Usia anda masih sangat muda. Apakah anda sudah menikah?"
"Belum dokter?" Kemudian dokter menatapnya tajam.
"Anda tidak bisa menjadi ibu pengganti." Jawab dokter setelah mengetahui jika wanita yang berada didepanya masih gadis dan belum menikah.
"Apakah syaratnya harus sudah menikah dokter?"
"Jika anda belum menikah, dan anda menyewakan rahim anda. Lalu bagaimana anda akan menikah? Ini sangat beresiko bagi masa depan anda." Kata dokter menjelaskan alasannya.
Jika belum pernah menikah tentu nanti akan kesulitan bagi wanita yang pernah melahirkan atau menjadi ibu pengganti. Dikhawatirkan calon suaminya tidak akan bisa menerimanya, dan sulit mendapat jodoh.
"Tidak papa dokter. Saya bersedia menjadi ibu pengganti. Biarkan jika saya tidak menikah dan tidak ada yang akan mau menjadi suami saya setelah kejadian ini. Tapi saat ini saya sangat membutuhkan uang dalam jumlah besar untuk menyelamatkan kedua orang tuan saya. Tolong dokter, biarkan saya menyewakan rahim saya."
"Baiklah jika anda memaksa dan besok saya akan menghubungi anda untuk bertemu dengan orang yang akan menitipkan benihnya."
"Berapa nomor telepon Anda?"
"085678912344...."
"Tidak dokter. Saya sudah memikirkanya dan saya benar-benar yakin pada keputusan yang saya buat."
"Baiklah jika begitu. Saya tunggu sampai besok. Anda boleh membatalkanya jika berubah pikiran. Saya akan menghubungi anda besok siang." Kata Dokter.
"Iya baik dokter. Terimakasih."
Dokter itu mengangguk dan menghubungi Sekretaris nya.
Pasien selanjutnya ditunda setelah makan siang.
Nadiya kemudian pulang kerumah dan dilihatnya Prasetyo sedang makan dimeja makan.
Prasetyo menoleh kearah Nadiya. Ibu Monic juga ada disana.
"Nadiya kamu dari mana?" Tanya Prasetyo yang melihat Nadiya berjalan mendekati mereka.
"Eehhmm..... kesupermarket tadi ada yang lupa aku beli kemarin." Kata Nadiya berbohong karena dimeja makan saat ini Prasetyo tidak sendirian. Jika dia katakan kalau dia baru saja dari dokter, maminya akan memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Sedangkan saat ini semuanya belum jelas soal metode apa yang akan dilakukan mereka demi mendapatkan cucu sang pewaris.
"Sudah makan belum?" Tanya Ibu Monic.
"Belum." Nadiya menggelengkan kepalanya.
"Apakah sepagi ini ada supermarket yang sudah buka?"
__ADS_1
deg
Ohh iya ya....
"Ada. Kan diujung jalan sana ada Supermarket 24 jam." Kata Nadiya.
"Kau ini ada-ada saja Pras. Ya pasti adalah. Ini kan kota besar ya pasti banyak supermarket 24 jam. Dikampung-kampung saja sudah banyak apalagi ini dikota besar." Kata Ibu Monic.
"Bukan begitu mami. Kan sudah satu Minggu ada pembatasan mobilisasi. Jadi mungkin untuk sementara swalayan 24 jam dilarang."
"Ooo iya mami baru inget. Nadiya duduk sini, mami tadi masak makanan kesukaan kalian."
"Iya terimakasih mami. Mami jadi memasak untuk kami." Kata Nadiya.
"Ya ngga papa. Mami senang kok masak buat kalian. Apalagi kamu juga tidak boleh terlalu capek Nadiya."
Wah-wah ini pasti mulai membicarakan tentang kesehatan dan kesuburan. Lalu mami akan mulai membahas soal keturunan.
Prasetyo kemudian tersedak makanan yang sedang dikunyahnya.
Uhukkk!
"Pelan-pelan dong Pras kalau makan." Kata Maminya sambil memberikan tissue.
"Ooo ya bagaimana apakah kalian sudah memeriksa kesuburan kalian."
Uhhuukkk!
Kali ini Nadiya yang tersedak.
"Kalian ini kenapa sih?" Kata Ibu Monic sambil memberikan tissue pada Nadiya.
"Nadiya sepertinya sakit perut mami. Nadiya keatas dulu ya. Kalian lanjutkan saja. Perut Nadiya mual." Kata Nadiya sambil beranjak dan naik kelantai dua.
Aku harus menghindari percakapan ini, sampai aku dan Prasetyo sudah sepakat menemukan jalan keluarnya.
"Prasetyo juga mau keatas dulu mami. Prasetyo tiba-tiba tenggorokannya sakit." Kata Prasetyo langsung naik keatas menyusul Nadiya.
"Mereka ini tingkahnya makin hari makin aneh saja." Ibu Monic bergumam sambil menatap anak dan menantunya yang sikapnya aneh.
Prasetyo kemudian duduk disamping Nadiya yang sedang melamun.
"Bukankah kamu masih makan kok sudahan makanya?"
Tanya Nadiya yang kaget karena tiba-tiba Prasetyo menyusulnya dikamarnya.
"hehe....aku soalnya sudah kenyang. Kamu...kenapa kamu tidak menghabiskan makananmu? Bukankah tadi kamu bilang belum makan?" Tanya balik Prasetyo.
"Aku mual....." Kata Nadiya sekenanya.
------------
Hai, Kak! 😀😀😀
__ADS_1
Regan dewasa ada dinovel terbaru yang baru saja Author buat judulnya "Dipinang CEO"
Author penasaran dengan kisah Nadiya setelah Regan menjadi dewasa, dan Nadiya menjadi tua, hehehe....