Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Ada apa dengan Oma?


__ADS_3

Suasana dirumah menjadi sangat sepi karena tidak ada Prasetyo dan juga Nadiya. Dimana-mana terlihat berantakan. Ibu Monic yang biasanya rajin bersih-bersih pun beberapa hari ini tidak sempat melakukanya karena sudah kecapean dan kerepotan mengurus Edsel dan juga Eiden.


"Oma lelah sekali. Kalian mainlah diluar. Oma mau istirahat." Kata Ibu Monic sambil bersandar disofa.


"Iya Oma..." Kata mereka bersamaan. Mereka lalu berlari keluar rumah dan main dihalaman yang memang sangat luas.


Halamannya begitu luas bahkan bisa untuk parkir 20 mobil truk. Edsel dan juga Eiden berlarian kesana-kemari mengikuti bola yang mereka lemparkan


"Eiden kemari ambil bolanya!" Teriak Edsel sambil melihat kearah bola yang ada didepannya.


"Tunggu sebentar aku mau kencing dulu." Kata Eiden yang sudah tidak tahan untuk buang air kecil.


"Cepetan jangan lama-lama." Edsel berkata sambil menendang bola pelan-pelan.


"Iya." Kata Eiden sambil berlari karena sudah tidak tahan lagi.


"Kencing di mana sih lama amat?" Teriak Edsel karena bosan menunggu Eiden tidak muncul-muncul.


"Eiden cepetan! Aku hitung sampai 3 kalau kamu tidak keluar aku akan membuang bola ini." Kata Edsel yang memegang bola kesayangan Eiden.


"Tunggu sebentar aku lagi pup." Teriak Eiden dikamar mandi.


"Tiga, dua setengah, dua, satu setengah, satu." Teriak Edsel yang tidak mengindahkan kalau Eiden sedang buang air besar.


"Aku datang." Kata Eiden tertawa cengengesan.


"Kamu bohong kan? Kamu tidak pup kan?" Kata Edsel yang sudah tahu kebiasaan Eiden yang suka bermain air dikamar mandi.


"Hehehe." Eiden tertawa kegelian.


Akhirnya Eidenpun lari terbirit-birit mendekati Edsel.


"Lemparkan bolanya padaku." Kata edsel


"Terima ini tendangan super." Teriak Eiden.


"Wah kamu hebat sekali tendangan mu pas masuk ke gawang." Puji Edsel.


"Siapa dulu aku adalah superhero." Kata Eiden sambil menepuk dadanya.


"Apa hubungannya superhero sama pemain bola?" Ucap Edsel merasa aneh.


"Yaaa.... aku adalah pemain bola yang hebat tidak seperti kamu." Jelas Eiden.


"Kamu bilang aku jelek?" Kata Edsel mulai marah dan emosi.


"Emang kamu nggak bisa main bola." Ejek Eiden yang memang hobinya main bola. Sementara Edsel hobinya bermain alat musik.


"Berani kamu ngomong begitu lagi aku tonjok kamu." Ancam Edsel.


"Beraninya main tonjok aja." Eiden tidak mau kalah.

__ADS_1


"Ayo cepetan lemparkan bolanya ke sini." Seru Edsel.


Suasana di luar sangat cerah, matahari hari ini juga bersinar sangat terik sekali, dan mereka menghabiskan waktu di luar selama berjam-jam.


"Di mana Oma? Tumben oma nggak nyariin kita?" Tanya Eiden kepada Edsel setelah bosan bermain bola.


"Iya kita di sini sudah lama tapi oma nggak nyariin kita, ayo kita masuk." Kata Eiden kemudian mengajak Edsel untuk masuk kedalam.


"Oma...! Oma di mana?!"


Mereka pun mencari kesana kemari dan tidak menemukan Oma.


"Ayo kita naik ke atas mungkin Oma ada di atas lagi istirahat." Kata Edsel.


Edsel dan Aiden pun naik ke lantai 3 dan masuk ke kamar Oma nya.


"Eiden kok ke situ sih? Kamar Oma kan kesini bukan kesana! Itu kan kamar mami dan papi, kamarnya dikunci dari luar."


"Eh iya aku lupa." Kata Eiden cengengesan.


Mereka pun masuk ke kamar Oma, dan mereka lihat Omanya jatuh di lantai di pinggir tempat tidur.


"Oma bangun Oma, Oma kenapa dengan Oma?" Teriak mereka berdua panik.


Berulang kali mereka membangunkan Omanya dan Omanya tetap tidak mau bangun.


"Ayo kita pergi keluar dan minta tolong." Kata Edsel kepada Eiden.


"Bagaimana ini Eiden? Tidak ada orang yang lewat dan tidak ada yang mendengar kita." Kata Edsel.


"Iya kakak tidak ada orang yang mondar-mandir di depan rumah kita, mereka semua ada di dalam rumah gara-gara virus itu."


"Ayo kita coba lagi, kita teriak lebih kencang."


"Tolong tolong kami!" Mereka pun teriak persamaan.


Tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang berhenti saat mendengar mereka berteriak minta tolong. Kebetulan pengendara motor itu tidak memakai helm sehingga mendengar saat mereka berteriak.


Dan betapa terkejutnya pengendara motor itu saat mereka melihat bahwa yang meminta tolong itu adalah anak dari Nadiya.


Pengendara motor itu pun berhenti tepat didepan pintu gerbang rumah mereka.


"Kenapa kalian minta tolong, ada yang bisa Om bantu?"


"Iya Om, tolong kami, Oma kami pingsan di lantai atas dan dirumah tidak ada siapa-siapa."


"Di mana ayah dan ibu kalian?"


"Mereka di rumah sakit Om sedang dirawat karena terkena virus."


"Di rumah ada siapa saja?"

__ADS_1


"Hanya kami berdua Om."


"Lalu Bagaimana Om bisa masuk ke dalam, pintu ini terkunci dari dalam."


"Tangan kami tidak nyampe Om kami tidak bisa membukanya."


"Baiklah minggirlah kalian! Om akan lompat dari atas! Om akan naik dan nanti Om akan buka dari dalam."


"Iya Om."


Edsel dan Eiden pun mundur beberapa langkah dan berdiri di pinggir gerbang.


Saat itu Arya yang yang akan berusaha menolong Oma Mereka kemudian memanjat pintu gerbang itu dan setelah bersusah payah akhirnya berhasil melompati pagar itu meskipun kakinya agak sedikit sakit karena lompat dari ketinggian.


"Aduh kakiku." Keluhnya.


"Sakit ya Om?" Tanya mereka berdua.


"Sakit lah kalian pikir enak lompat dari atas ke bawah? ini kan keras!"


"Hehehe."


"Dimana Oma kalian?" Tanya Arya sambil membuka pintu gerbang.


"Mari Om. Kita tunjukan kamarnya." Kata Edsel dan juga Eiden.


Sampai diatas mereka langsung berlarian dan mendekati Omanya.


"Omaaa....huhuhu hiks hiks!" Merekapun mulai menangis lagi.


"Sudah jangan menangis." Kata Arya atau Ardy yang saat ini sudah bergabung dengan Mafia dan mendirikan banyak cafe.


"On akan panggil ambulan untuk membawa Oma kalian." Kata Arya.


Arya menelpon dokter dan memanggil ambulan. Tidak lama kemudian terdengar sirine dan ambulan sudah parkir didepan rumah Nadiya. Beberapa orang dengan baju APD lengkap masuk dan mulai membawa Ibu Monic yang saat ini sedang tidak sadarkan diri.


"Oma mau dibawa kemana om? Kok seperti mami dan papi? Huhuhu hiks hiks. Lalu kita gimana? Kami disini sama siapa?" Kata mereka berdua.


Kemudian Arya menatap kedua bocah yang saat ini menangis didepanya dengan rasa iba.


Nadiya, Nadiya....aku harus bagaimana? Baiklah mau gimana lagi? Terpaksa aku harus menemani kedua anak ini hingga Nadiya kembali.


"Ya sudah! Om akan menemani kalian."


"Om bisa masak ngga?"


"Emang kenapa?"


"Kami lapar." Kata mereka sambil memegang kedua perut buncitnya.


Kalian ini, sangat merepotkan!

__ADS_1


__ADS_2