
POV Nadiya
Aku melihat kearah jendela yang masih terbuka, cahaya matahari perlahan tergeser oleh cahaya kemerahan dan cahaya lampu mulai menggantikan terangnya. Aku masih tertidur diatas ranjang dengan kaki yang masih ngilu. Kulihat Bu Iyem sudah berpamitan pulang dan diantar oleh Pak Arya.
Tidak lama kemudian Pak Arya datang dengan membawa kursi roda. Dan aku melihatnya mendorong kursi itu kearahku. Aku mencoba bangun namun sedikit tergeser saja rasanya kakiku ngilu sekali.
"Bu Nadiya, silahkan duduk disini. Bu Nadiya sudah menghias taman dengan sangat indah. Kami tidak akan makan malam tanpa Bu Nadiya." Kata Pak Arya.
"Benar Nadiya. Kau bisa menggunakan kursi ini. Dan makan malamlah bersama kami. Aku tidak ingin kamu sendirian disini." Kata Ibu Monic.
"Iya mami. Ayo mami turun. Kalau kaki mami sakit. Mami bisa menggunakan kursi roda ini. Papi akan mendorongnya. Edsel akan panggil papi." Kata Edsel bersemangat dan akan lari turun kebawah.
"Tidak! Jangan sayang. Papi kalian masih sakit. Jadi Om Arya saja yang akan mendorong mami. Oke....?" Aku mengatakan agar Pak Arya yang membantuku agar Edsel tidak mengganggu papinya.
"Baiklah kalau begitu." Kata Edsel dan juga Eiden.
"Edsel bantu mami ya?" Kata Edsel mendekati maminya.
"Tidak sayang, mami bisa sendiri." Aku berusaha bangun dengan sekuat tenaga dengan tangan sebagai penopangnya. Arya yang melihatku kepayahan akhirnya melangkah maju dan membantuku bangun dari ranjang.
"Pelan-pelan Bu...." Kata Arya.
Aku akhirnya saat ini berada dikursi roda dan Arya ada dibelakangku. Edsel dan Eiden sudah berlari terlebih dulu ketaman. Aku dengar mereka berteriak kegirangan karena aku bisa menemani mereka bermain dibawah cahaya bulan.
Sampai dibawah aku melihat Prasetyo yang sedang menyibakkan rambut Freya yang terus saja tertiup angin dan menutupi muka Prasetyo. Tanganya dengan mesra mengambil sebagian rambut Freya dan menyisipkanya dibelakang telinganya. Kepala mereka dekat sekali dan nyaris bersentuhan. Jantungku langsung berdesir melihat Prasetyo dekat dengan mantan kekasihnya.
Deg
Namun semua demi kebaikannya. Aku ingin agar ingatannya kembali pulih. Dan biarkan aku korbankan sebagian hati dan perasaanku dengan terus menatapnya bermesraan dengan wanita lain. Aku hanya ingin ingatannya kembali dan kami bisa bahagia seperti dulu lagi.
"Nadiya! Kemarilah!" Teriak Prasetyo melambai kearahku. Akupun tersenyum dan mendekatinya.
"Bagaimana kakimu? Apakah lebih baik setelah diurut?"
Akupun mengangguk dan tidak ingin membuatnya cemas.
"Ayo kita makan sekarang. Sepertinya semuanya sudah terlihat lapar." Aku berkata sambil mengalihkan pandanganku pada hiasan bunga mawar yang terhias disekeliling meja makan.
__ADS_1
"Nah, karena semuanya sudah lengkap, bagaimana kalau kita mulai sekarang?" Tanya Prasetyo.
"Ayo Freya kau bisa membantuku bukan?" Kata Prasetyo sambil menarik tangan Freya. Aku lihat Prasetyo menggenggam tangan Freya dengan erat sekali.
Freya terlihat salah tingkah, dan aku bisa memakluminya. Mereka dulu pernah dekat dan menjadi sepasang kekasih. Dan sekarang Prasetyo adalah suamiku dan dia harus berpura-pura menjadi kekasihnya hingga ingatannya kembali. Itu bukanlah hal yang mudah, apalagi jika didalam hati Freya masih menyimpan asmara untuk Prasetyo. Semoga saja tidak. Semoga Freya tidak jatuh cinta lagi pada Prasetyo.
"Mami akan duduk disini agar mudah mengawasi anak-anak." Kata ibu mertuaku.
Sementara Arya duduk di sampingku dan menemaniku dengan percakapan ringan. Jika tidak aku hanya akan menjadi nyamuk untuk melihat Prasetyo dan Freya yang terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bahagia.
Aku menatap keatas dan kulihat bulan begitu indah. Aku menjadi teringat saat-saat indah bersama Prasetyo. Aku kemudian melihat wajah suamiku itu dengan tersenyum manis. Prasetyo nampak sedang menyiapkan makan malam kami dengan sangat terampil. Tidak terlihat sedikitpun jika dia sedang sakit dan hilang ingatan.
Aku melihatnya terus tanpa jeda. Pak Arya nampak memperhatikan aku yang terus menatap suamiku. Mungkin Pak Arya sedang mengasihaniku karena aku adalah istri yang terlupakan.
"Malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya." Kata Pak Arya.
"Kenapa?" Aku bertanya dan mencoba mengalihkan perasaanku.
"Karena biasanya bintang tidak kelihatan karena tertutup mendung. Namun malam ini terlihat ceria tanpa mendung yang menutupinya." Kata Pak Arya yang melihat keatas.
"Bukan mendung yang membuat malam ini berbeda. Tapi suasana hati dan orang-orang yang kita sayangi telah membuat suasana berbeda." Aku berkata sambil melirik Prasetyo. Dan tiba-tiba mata kami beradu. Prasetyo tersenyum manis kepadaku.
"Mari kita makan...." Kata Prasetyo sambil mengambil sendok dan mengambil steak untuk Freya.
"Kau harus cicipi ini. Ini spesial aku membuat untukmu. Pasti rasanya sangat enak." Kata Prasetyo sambil memotong steak dan dia suapkan kepada Freya.
Freya membuka mulutnya dan diiringi tatapan lembut dan mesra Prasetyo.
"Bagaimana rasanya? Enak bukan?" Kata Prasetyo.
"Sangat lezat! Kau memang koki yang hebat. Kau nanti bisa membuka restoran disamping klinikku. Pasti rame sekali jika kau yang memasaknya." Kata Freya.
Dan ucapanya membuatku tersedak makanan.
Uhhuukkk!
"Bu Nadiya minumlah." Kata Pak Arya yang duduk di sampingku dan mengambilkanku segelas air mineral.
__ADS_1
"Tidak apa pak. Saya hanya tersedak." Kata Nadiya.
"Kalian akan pergi kemana?" Aku bertanya sambil menatap wajah Prasetyo yang berseri-seri.
"Kami ingin menikah secepatnya. Bukankah kami telah kehilangan tujuh tahun?" Kata Prasetyo sambil menatap Freya.
"Menikah? Bukankah ini terlalu cepat? Ingatanmu masih belum pulih." Kata Nadiya yang bingung darimana dia harus menjelaskan jika Prasetyo tidak bisa menikah dengan Freya.
Dan bagaimana mencegahnya karena bagi Prasetyo Freya adalah kekasihnya. Dan Nadiya hanyalah istri dari sahabatnya. Keadaan ini membuatnya dalam posisi yang lemah untuk bisa mencegah apa yang akan dilakukan Prasetyo.
"Tapi aku tidak sakit. Hanya ingatanku yang belum pulih." Kata Prasetyo.
"Edsel, Eiden, ayo kita makan disebelah sana? Kalian bisa makan sambil bermain disana." Ajak ibu Monic agar Edsel dan Eiden tidak terpengaruh oleh apa yang sedang kami bicarakan.
Saat ini hanya ada kami berempat dimeja makan. Dan aku ingin tahu apasaja yang difikirkan Prasetyo dan yang akan dilakukanya.
"Nadiya...kau tidak adil. Kau sudah menikah tujuh tahun dan bahkan sudah memiliki anak sebesar Edsel dan juga Eiden. Tapi saat kami ingin menikah, kau bilang kami harus menunggu lagi." Kata Prasetyo.
"Maksudku...kalian baru bertemu setelah sekian lama." Kata Nadiya mencoba menunda keinginan Prasetyo untuk menikah dengan Freya.
"Benar Pras. Kita baru bertemu. Sebaiknya kita tidak membicarakan tentang pernikahan secepat ini." Kata Freya kepada Prasetyo.
"Bagaimana jika ingatanku tidak pernah kembali? Apakah aku akan menjadi lajang seumur hidupku?" Kata Prasetyo.
"Apa yang kamu katakan Pras. Ingatanmu pasti pulih. Dokter sudah mengatakan jika ingatanmu pasti akan kembali. Dan aku tidak ingin kau menyesal jika membuat keputusan dalam masa pemulihan." Kata Nadiya.
"Kau ini kakak ipar atau kekasih gelap ku?" Celetuk Prasetyo sambil bercanda.
"Baiklah. Karena sepertinya kalian begitu menghawatirkan kondisiku maka aku akan menundanya." Kata Prasetyo sambil meraih tangan Freya dan menggenggamnya.
"Bersabarlah sebentar lagi. Jika ingatanku kembali maka kita pasti akan langsung menikah." Kata Prasetyo.
Freya hanya diam dan mengangguk sambil tersenyum kepada Prasetyo.
"Makanannya sangat lezat." Kata Nadiya.
"Benar. Makananya sangat lezat." Kata Pak Arya.
__ADS_1
"Prasetyo memang pandai memasak sejak dulu." Kata Freya.
"Benar yang dikatakan Freya. Dia bahkan lebih suka masakanku daripada beli dari restoran." Kata Prasetyo.