
Sasha masuk kedalam dan menemui temannya. Sementara Jack menerima telepon dari Vano.
Jack lalu keluar dan mengangkat handphonenya. Dia berdiri tidak jauh dari kamar dimana teman Sasha dirawat.
"Ada apa?" tanya Jack sambil melihat beberapa suster yang mondar-mandir.
"Apakah Sasha bersamamu?"
"Ya. Kenapa?" kata Jack yang menebak pasti Vano sangat khawatir.
"Kalian dimana?"
"Masih dirumah sakit." jawab Jack sambil melihat kekamar lain.
"Kapan Sasha akan keluar dari sana."
"Hari ini. Mereka tidak menginap." kata Jack yang menebak.
"Okey....."
Vano lalu menutup teleponnya.
Jack masuk kedalam dan menemui Sasha. Dia juga tersenyum pada temanya yang sedang berbaring.
"Apakah kalian akan bermalam disini?" tanya Jack pada Sasha.
"Tidak! kami akan pulang sore hari." kata teman Sasha.
"Baiklah, aku akan mengantar kalian nanti." kata Jack.
Syukurlah mereka lekas kembali keasrama. Jadi Vano bisa tenang dan tidak khawatir ketahuan, jika dia berada disini.
***
Tiga hari kemudian Vano akan menjalani operasi salah satu ***********.
Vano berusaha tegar dan kuat sebelum melakukan operasi itu. Dokter terus menyemangatinya agar pasien tidak gugup.
Sementara Jack duduk disamping Vano dengan hati berdebar-debar. Dia mengkhawatirkan kondisi sahabatnya.
Tidak lama kemudian dua suster datang dan mendorongnya keruang operasi. Vano juga sudah diganti dengan baju khusus untuk operasi.
__ADS_1
Dia tersenyum pada Jack sebelum keruang operasi. Sementara Jack menatapnya hingga mereka masuk keruang operasi.
6 jam kemudian...
Vano sudah keluar dengan selimut putih menutupi badannya. Dia saat ini berada disebuah ruangan khusus. Dia berada disana selama satu jam. Setelah kondisinya lebih baik, akhirnya dia dipindahkan keruang perawatan.
Vano masih diam dan tidak boleh banyak berbicara. Dia juga masih tidak boleh banyak bergerak.
Jack sebagai sahabatnya dengan sabar menemaninya disampingnya. Karena bosan Jack akhirnya mengambil sebuah buku yang dia bawa diranselnya.
Dia mulai membaca halaman demi halaman. Vano membuka matanya perlahan dan melihat Jack ada didekatnya.
Dia lalu tersenyum dan merasa lebih tenang karena ada seseorang disampingnya.
Dreeetttt!
Dreeeeeeeetttttt!
Handphone Vano bergetar. Ternyata papinya menelpon.
Jack kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana. Sementara Vano belum boleh banyak bergerak dan berbicara.
Namun jika tidak diangkat maka papinya pasti cemas dan khawatir.
"Halo om, ini Jack, temanya Vano. Vano lagi sakit tenggorokan sehingga suaranya hilang." kata Jack berbohong pada gubernur yang tidak lain adalah ayah Vano.
"Ohhh...dia pasti kebanyakan begadang. Ya sudah, saya titip pesan saja supaya dia menjaga kesehatannya dan jangan terlalu banyak begadang." kata gubernur kepada Jack.
"Baik, om...nanti akan saya sampaikan."
Jack menaruh handphone milik Vano diatas meja disamping tempat tidur Vano.
Vano hanya mengedipkan matanya dan tersenyum. Artinya dia senang karena Jack memberikan alasan yang tepat.
Jack lalu menatap sahabatnya dan tersenyum. Setelah itu dia mengambil kembali buku dan membacanya.
Dreeetttt!
Sasha menelponya karena dua hari Jack tidak terlihat diasrama.
"Kau dimana?" tanya Sasha.
__ADS_1
"Ehm...aku...diluar kota. Ada acara kampus."
"Ohh...aku pikir kau dimana? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Sasha karena cemas. Setelah Vano pergi dan tidak ada kabar, dia juga jadi cemas jika Jackpun akan pergi dan dia kesepian karena sendirian.
"Aku baik-baik saja." jawab Jack sambil menutup melirik kearah Vano.
Vano yang tahu jika Jack berbicara pada Sasha merasakan kesedihan dan juga sakit yang tidak bisa dijabarkan.
Apalagi saat tahu jika Sasha mencemaskan Jack. Apakah mereka benar-benar sudah saling terikat? Vano bertanya-tanya didalam hatinya.
Deg.
Jantungnya serasa berhenti berdetak. Saat dia membayangkan Sasha yang tidak mungkin dia miliki. Dia tidak cukup punya keberanian untuk menyatakan cinta dan juga tentang apa yang saat ini dialaminya.
Jack lalu menutup teleponnya dan seorang suster masuk. Suster itu memeriksa keadaan Vano.
"Kira-kira kapan pasien boleh pulang dokter?" tanya Jack.
"Tiga hari sudah boleh pulang. Jika ingin rawat jalan juga bisa. Yang penting harus rajin check up. Dan jika ada keluhan harus langsung datang, jangan pernah menundanya." kata suster memberitahukan kepada Jack selaku walinya saat ini.
Jack juga ingin tahu kapan dia bisa keluar bebas. Rasanya dia sudah bosan menemani Vano berhari-hari dirumah sakit.
Jack menoleh kewajah Vano yang diam saja dari tadi. Tentu saja tidak ada yang bisa diajak bicara membuat Jack merasa lebih bosan.
Namun semua ini dia lakukan atas nama persahabatan.
Meskipun bosan, jenuh dan tidak nyaman berada didalam rumah sakit, dia tetap tidak mungkin pergi meninggalkan sahabatnya sendirian.
***
Sasha menelpon Omnya, Prasetyo, jika dia akan pulang bersama Regan akhir pekan ini.
Sejak tidak ada Vano Sasha merasa sepi meskipun sudah ada Jack disampingnya. Sehingga saat musim liburan akhir tahun tiba, Sasha memutuskan untuk pulang dan menghabiskan liburan bersama keluarganya.
Bagitu juga dengan Regan. Begitu banyak hal sudah terjadi dan sebagian membuat dadanya sesak.
Dia juga memutuskan untuk berganti suasana dan pulang bertemu maminya dan kedua adiknya.
Siang ini juga Sasha sudah memesan tiket untuk akhir pekan biar tidak kehabisan. Karena pasti penerbangan juga sangat sibuk menjelang liburan tahun baru.
Mereka sepakat untuk pulang bersama-sama dan berganti suasana.
__ADS_1
Jack dan Vano belum tahu tentang hal ini. Sasha belum memberi tahu Jack tentang niatnya untuk pulang.