
Prasetyo sedang duduk dikamar Oma. Saat ini Nadiya sedang dikamar Edsel dan Eiden untuk mengajari mereka pelajaran yang mereka tidak tahu.
Prasetyo lalu melangkah mendekati pintu, dan menoleh ke kanan dan kekiri. Setelah memastikan tidak ada siapapun disana, Prasetyo lalu menutup pintu kamar Oma perlahan.
Prasetyo duduk didekat Oma dan menceritakan jika dia bertemu dengan Sasha.
"Apa!? Kau bertemu dengan Sasha? Dan....kau bilang, Sasha punya anak?"
"Iya...." Kata Prasetyo berbisik. Tapi jangan kencang-kencang mi, nanti terdengar Nadiya. Mami tahu kan, Nadiya belum bisa menerima kenyataan ini." Kata Prasetyo.
"Ohh, jadi dia tinggal sama siapa sekarang?"
"Sendirian Oma."
"Kasihan anak itu. Oma masih ingat saat pertama kali Oma membawanya kerumah. Dia masih begitu kecil, dan sekarang dia sudah dewasa bahkan sudah punya anak."
Kata Oma sambil menghapus airmatanya yang menggenang di pelupuk matanya yang mulai keriput.
"Ayo, besok ajak Oma menemui Sasha. Oma ingin melihat keadaanya, juga ingin melihat bayi yang dilahirkannya. Itu sudah seperti cicit untuk Oma. Pras....Oma sudah punya cicit. Andai saja, Nadiya tidak punya hubungan dengan masa lalunya, kita pasti akan berkumpul bersama."
"Besok, Pras akan mengantarkan Oma untuk bertemu Sasha."
"Iya Pras. Sekarang tidurlah. Sebelum Nadiya kemari mencarimu."
Prasetyo lalu keluar dari kamar maminya dan dilihatnya Nadiya sedang duduk didepan cermin.
***
Keesokan harinya setelah Nadiya pergi untuk mengantarkan anak-anak, maka Prasetyo masuk kekamar maminya dan mengajaknya untuk menemui Sasha.
"mami, ayo! Apa mami sudah siap?" Tanya Prasetyo pada maminya.
"Sudah, ayo buruan! Nadiya kemana?" tanya ibu Monic.
"Nadiya sudah pergi mengantar anak-anak. Dia juga mau kerumah Jeslin. Jadi Oma bisa tenang bertemu Sasha." Kata Prasetyo lalu menutup pintu kamar maminya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mereka sampai didepan rumah Sasha?
"Dia tinggal disini? Rumah ini kecil sekali. Dan tempatnya agak jauh dari kota." Kata Ibu Monic.
"Iya, dia tinggal disini."
Prasetyo lalu mengajak maminya masuk kedalam. Sasha yang lagi duduk sambil menunggu warung, kaget saat Omnya datang bersama Omanya.
"Oma....." Sasha lalu mencium tangan Omanya dan menangis karena terharu. Ternyata ada yang masih peduli padanya.
Hanya saja Sasha bingung bagaimana Omanya bisa sampai kemari? Apakah tantenya tahu?
"Kau ini, kecil-kecil udah jadi ibu. Dan tidak mengabari kami sama sekali. Jika kau takut pada tanteku, kau bisa kabari Prasetyo."
Kata Omanya sambil menggendong cicitnya.
"Dia sangat tampan. Kau bahkan belum tahu apa-apa tapi sekarang kau harus mengurusnya." Kata Omanya sambil menimang cicitnya.
"Kau tinggal disini sendirian, mengurus warung dan mengurus cicitku ini? ooohhhh....siapa namanya?"
"Nama yang bagus. Ooohhhh....dia malah tidur..."
Hahahaha semua pada ketawa. Baru saja bercanda, tapi tiba-tiba Aaron kecil sudah lelap tertidur digendongan Oma buyutnya.
Sasha lalu memindahkanya ke ranjangnya.
"Kau sudah makan? Kau tampak sangat kurus." Kata Oma sambil melihat warung Sasha.
Sasha hanya diam saja, karena selama ini dia memang sering telat makan, karena harus mengurus semuanya sendirian.
Termasuk belanja, menjaga warung, dan mengurus Aaron.
"Makanlah yang banyak. Apalagi kau menyusui, kau harus banyak makan agar bayimu juga sehat. Jika kau kerepotan, Oma akan mencari orang untuk membantumu." Kata Omanya merasa kasihan dengan Sasha yang kerepotan, terlebih tidak ada suaminya.
"Besok Oma akan mencari asisten rumah tangga untuk membantumu. Kau uruslah bayimu, biar ada orang yang menjaga warung dan membantumu bersih-bersih. Nanti Oma yang akan mengurus semuanya. Kau tenang saja."
__ADS_1
"Tapi Oma...."
"Sudah jangan tapi-tapian. Ayo Pras! Nanti Nadiya keburu pulang." Kata Omanya lalu berpamitan pada Sasha.
"Kau makan yang banyak. Mengerti?" Kata Oma sambil memeluk Sasha.
"Iya Oma." Sasha mengangguk dan memeluk Omanya juga om nya."
***
Hari ini Eiden dan Edsel pulang lebih awal karena wali kelasnya sedang ada rapat.
Nadiya bingung saat dirumah begitu sepi. Karena Nadiya menelpon kantor Prasetyo, dan dia tidak kekantor hari ini.
Nadiya pikir, Prasetyo istirahat dirumah, handphonenya juga tidak bisa dihubungi.
"Biiii kok sepi amat?" Tanya Nadiya pada Bibi Parti.
"Iya non, tadi Tuan pergi sama Nyonya."
"Pergi bersama gitu maksud bibi?"
"Iya Non. Dari tadi pagi tapi kok belum pulang juga."
"Ohh, pada kemana ya mereka? Kok ngga bilang sama saya?"
Tidak lama kemudian terdengar mobil Prasetyo masuk ke garasi.
"Nah itu mereka datang." Kata Nadiya.
Saat mereka berdua masuk Nadiya lalu bertanya mereka habis dari mana?
"Oma dan Pras, kalian darimana?"
"Dari dokter! Dari Salon!" Prasetyo dan Oma menjawab dengan jawaban yang berbeda.
__ADS_1
Nadiya melihat mereka dengan bingung, sementara Oma dan Prasetyo saling bertatapan.