
Prasetyo kemudian beristirahat dikamar maminya. Dia merebahkan badannya namun pikiranya masih terganggu oleh peristiwa yang baru saja terjadi.
Apakah aku terlalu keras pada Nadiya?
Kepalaku pusing sekali.
Prasetyo kemudian duduk karena tidak bisa memejamkan matanya meskipun ada diatas kasur.
Dia kemudian berjalan mondar-mandir disamping tempat tidur maminya.
Tapi kenapa Nadiya ingin menyewa rahim orang lain?
Jika memang dia tidak bisa memberiku anak. Aku sendiri tidak masalah. Kita bisa mengadopsi dari panti asuhan. Disana banyak anak-anak yang kehilangan kedua orang tua mereka atau mereka memang sengaja ditelantarkan oleh orang tuanya.
Bukankah lebih mudah jika mengadopsi dari panti asuhan?
Mereka juga pasti senang jika mendapatkan keluarga.
Tapi aku tidak yakin Nadiya akan setuju.
Nadiya juga melarang untuk membicarakan hal ini pada mami. Jika mami tahu, memang mami akan sedih, tapi kemudian seiring berjalanya waktu mami pasti juga akan memahami dan mengerti, jika kami tidak bisa memberikanya cucu.
Entah apa yang ada dalam pikiran Nadiya sehingga dia ingin agar anak kami dikandung oleh ibu pengganti.
Bagaimana kami mendapatkan ibu pengganti? Apakah semudah itu? Apakah ada orang yang mau menyewakan Rahimnya selama sembilan bulan? Bukankah ini sangat merepotkan?
Sembilan bulan bukanlah waktu yang sebentar.
huuuufffftttt
Prasetyo menghembuskan nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian bahunya terangkat dan dia hempaskan dengan cepat.
Tok tok tok
Ibu Monic mengetuk pintu dan dilihatnya Prasetyo berdiri sambil mondar-mandir.
"Kamu tidak tidur Pras? Bukankah kamu mau istirahat?" Ibu Monic menatapnya dengan lembut.
"Prasetyo tidak bisa tidur mami." Kata Prasetyo berdiri sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya.
"Kemarilah. Duduklah jangan mondar-mandir seperti setrikaan."
"Prasetyo bahkan masih memikirkan pertengkaran tadi." Kata Prasetyo sambil duduk disamping maminya.
"Ya. Tentu saja kau masih memikirkanya. Kalian baru saja bertengkar, dan kalian belum baikan. Artinya kalian sedang merindukan satu dengan yang lainya. Jadi saat kalian belum berbaikan dan saling mengalah satu sama lain. Maka perasaan kalian tidak akan tenang. Seperti itulah orang berumah tangga. Jika dekat kalian bertengkar. Jika jauh kalian saling merindukan."
"Mami....."
"Sekarang pergilah. Dan bujuklah Nadiya. Selesaikan masalah kalian dan jangan biarkan berlarut-larut. Ibarat api masih kecil, mudah untuk memadamkannya jika apinya bertambah besar, jangankan memadamkanya, dia akan menghancurkan seluruh rumah beserta isinya. Kemarahan itu diibaratkan seperti api. Jika apinya kecil hanya butuh sedikit rayuan sebagai airnya. Jika bertambah besar maka kalian berdua akan terbakar bersama-sama."
Prasetyo mengangguk, dan mencoba mengerti maksud maminya.
Tapi aku tetap bingung dengan apa yang mami katakan barusan. Intinya mami ingin agar kami berbaikan. Itu saja.
__ADS_1
"Sekarang pergilah. Dan selesaikan masalah kalian. Jangan sampai menginap meskipun satu malam. Menginapkan masalah itu tidak baik. Lebih cepat diselesaikan maka lebih baik. Dan hati kalian menjadi tenang kembali." Nasehat maminya karena kan sudah berpengalaman. Sedangkan Prasetyo baru menikah seumur jagung istilahnya.
"Ya udah mami. Prasetyo akan membujuk Nadiya sekarang." Prasetyo kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Ibu Monic mengangguk dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka sudah umur tapi kelakuanya masih seperti anak kecil.
Yang satu mengunci pintu dikamarnya. Yang satunya lagi bersembunyi dikamar maminya. Anak-anak jaman sekarang ada-ada saja.
tok tok tok
"Nad....."
"Buka pintunya. Aku mau istirahat."
Kemudian Prasetyo mengetuk sekali lagi.
Baru setelah itu pintu terbuka dari dalam. Nampak mata Nadiya sembab dan kemerahan.
Prasetyo melirik melihat matanya yang berubah jadi mata panda. Pasti Prasetyo tidak bisa menahan tawa jika saja mereka sedang tidak bertengkar, melihat penampilan Nadiya yang acak-acakan dan matanya aneh seperti itu.
Setelah membuka pintu kemudian Nadiya balik lagi ke ranjangnya dan tengkurap sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Prasetyo kemudian berjalan mendekatinya. Dengan pelan dia sentuh bahu Nadiya.
"Nad....sudah jangan menangis. Nanti kita bicarakan lagi masalah yang tadi." Kata Prasetyo membujuk istrinya.
Sebenarnya yang marah kan aku?
Yang marah aku kan tadi?
Kok malah dia yang nangis?
"Nadiya....kemarilah. Sudah jangan menangis lagi. Kalau aku salah aku minta maaf. Mungkin tadi aku terlalu emosional." Kata Prasetyo sambil membalikan tubuh Nadiya.
"Iya sudah. Aku sudah maafin kamu. Kamu tiba-tiba marah dan aku sangat sedih melihatmu marah seperti itu." Kata Nadiya.
Prasetyo merangkul Nadiya dan menyandarkan kepala Nadiya kedadanya. Kemudian Prasetyo mencium kening Nadiya dengan lembut.
Cuuuppp...
Nadiya mendongak dan mata mereka beradu pandang, senyum mengembang dari bibir keduanya.
Prasetyo dengan cepat mengangkat wajah Nadiya tepat diwajahnya. Lalu dengan lembut memetik bibir yang ranum itu. Kemarahan mereka telah sirna. Saat ini kehangatan dan desiran telah mengubah suasana hati mereka.
Berdekatan dalam kehangatan membuat perasaan mereka lebih baik dan menghadirkan ketenangan tersendiri.
Perlahan Prasetyo menuruni leher serta buah delima dengan bibirnya. Diapun mulai menikmati buah delima dan membuatnya ingin melanjutkannya ketingkat yang lebih panas.
Darahnya mulai terasa mengalir deras dan nafasnya makin memburu menginginkan lebih. Prasetyo membawa Nadiya kepembaringan dan kini Prasetyo sudah ada diatasnya dengan lututnya m bilang berat tubuhnya.
Prasetyo membuka kemejanya dan melemparkanya kesofa yang ada didekat ranjang. Sementara tanganya agresif menanggalkan baju istrinya hingga hanya selimut yang akhirnya menutupi dan menghangatkan keduanya.
__ADS_1
Nadiya merasakan sesuatu diantara kakinya. Kemudian dengan cepat Prasetyo langsung menuntaskan misi nya yang sudah tidak mampu dia tahan lagi.
Prasetyo menatap lekat mata Nadiya saat mereka tidur berhadapan dan wajah mereka beradu sangat dekat.
"Terimakasih." Kata Prasetyo sambil mencium kening Nadiya.
Nadiya tersenyum kemudian membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Dadanya terasa lengket oleh keringat yang baru saja terbakar oleh api asmara yang membara.
deg deg deg
Bunyi detak jantung Prasetyo masih terpacu begitu cepat.
Terdengar nyaring sekali ditelinga Nadiya yang sedang bersandar pada dada suaminya.
"Lagi?"
Nadiya mengernyitkan dahinya dan memicingkan matanya.
Kepalanya menggeleng.
"Ya sudah. Tidurlah. Kita lanjutkan besok pagi saja."
"Apa?" Nadiya terbelalak kemudian memukul dada Prasetyo manja.
"Aduh sakit!" Jerit Prasetyo sambil tersenyum.
"Biarin!" Kata Nadiya.
"Ya sudah kita lanjut sekarang saja ya?"
"Ya sudah aku cubit ni."
"ya....ya....ampun....." Kata Prasetyo sambil menahan kedua tangan Nadiya dengan satu tangan kekarnya.
Prasetyo kemudian membaringkan Nadiya disampingnya dan menyelimutinya hingga kedadanya.
"Tidurlah...." Nadiya mengangguk.
"Selamat malam."
Nadiya akan beranjak untuk mengambil baju tidurnya yang berserakan dilantai.
Prasetyo kemudian menahannya.
Prasetyo menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja seperti itu."
"Dingin....."
"Kan ada aku." Kata Prasetyo.
__ADS_1
Akhirnya karena dicegah sama Prasetyo, Nadiya mengurungkan niatnya dan memilih untuk mejamkan matanya hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.