Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Bertemu diam-diam


__ADS_3

Sasha kembali keapartemenya setelah tahu jika Vano tidak ada disana. Dia memegang kunci duplikat dan dengan perlahan di membuka pintunya.


Matanya menatap sekeliling dan ruangan itu tampak kosong. Sasha lalu duduk didepan televisi dan menyalakannya. Hanya sebentar, ada berita tentang persidangan Jeslin, lalu Sasha mematikannya.


Seorang anak buah Prasetyo yang kebetulan ada acara disana tadi melihat Sasha masuk keapartemen itu, dia lalu menghubungi Prasetyo.


"Kau yakin melihatnya disana?"


"Ya pak, tadi saya melihatnya masuk kedalam sendirian."


"Baiklah. Saya akan kesana."


Prasetyo lalu mengajak Oma pergi ke apartemen. Mereka memang sangat khawatir dengan keadaan Sasha, dan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, sehingga dia pergi meninggalkan Vano dan anaknya.


Saat ini Nadiya sedang ada dipersidangan Jeslin. Edsel dan Eiden juga sedang sekolah.


"Nanti setelah dari sana, kita akan langsung menjemput Edsel dan juga Eiden." Kata Prasetyo yang menjemput Omanya dirumah.


"Ayo kita pergi sekarang! Oma sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sasha."


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di apartemen. Oma berdiri didepan pintu dan membukanya.


Sasha kaget saat ada Oma dan Omnya disana. Mereka masuk dan memeluk Sasha.


Sasha diam tak bergeming. Dia masih shock setiap kali teringat kejadian memalukan didepan Vano, suaminya itu.


"Kau kemana aja, kau tidak pulang dan tidak menghubungi kami?" tanya Oma.


"Kau tidak kangen dengan putramu? Dia selalu menangis saat mau tidur." Kata Prasetyo sambil memegang tangan Sasha.


"Apakah Aaron baik-baik saja?" Sasha menangis saat ingat putranya. Dia sebenarnya juga sangat merindukanya, tapi dia tidak siap bertemu dengan Vano.


"Ya, Vano menjaganya dengan sangat baik." Kata Prasetyo.


"Bisakah aku melihatnya, tapi aku tidak bisa kesana." Kata Sasha.


"Kenapa kau tidak kerumahnya saja. Aaron ada dirumah Vano. Papanya pergi keluar negeri, mereka pasti senang jika kau kembali." Kata Oma.


Sasha menggelengkan kepalanya. Dia masih belum bisa menemui suaminya.


"Bisakah kalian membawa Aaron kemari sebentar? Dan jangan katakan jika Sasha ada disini?"

__ADS_1


Sasha menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.


"Kau benar-benar tidak ingin menemui suamimu? Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian? Kenapa bisa jadi seperti ini?" Tanya Oma sedih melihat hubungan Sasha dan juga rumah tangga yang baru saja mereka bina.


Prasetyo berdiri didekat jendela dan melihat kebawah gedung.


Sasha diam saja dan tidak bisa menjawab apapun.


"Baiklah, aku akan membawa Aaron kemari." Kata Prasetyo.


"Oma tunggu disini saja. Aku akan datang bersama Aaron." Kata Prasetyo lalu keluar dari kamar itu dan pergi kerumah Vano.


Dilampu merah Nadiya melihat mobil Prasetyo. Nadiya lalu menelponnya dan bertanya dia sedang dimana.


"Pras, kau sedang dimana sekarang?" Tanya Nadiya dari dalam mobilnya.


"Aku....sedang dikantor." Kata Prasetyo.


"Ohh, ya sudah. Apakah nanti kita bisa bertemu untuk makan siang diluar?" tanya Nadiya masih terus mengamati mobil Prasetyo dari dalam mobilnya.


"Sepertinya hari ini aku akan sangat sibuk." Kata Prasetyo beralasan. " Bagaimana kalau besok saja."


Nadiya menarik nafas panjang dan tidak tahu kenapa Prasetyo harus berbohong padanya?


Bukankah saat ini dia sedang ada diluar, tapi kenapa dia mengatakan jika dia ada dikantornya.


Sebaiknya aku akan mengikutinya. Aku ingin tahu alasannya berbohong padaku .


Nadiya lalu mengikuti Prasetyo dari jarak jauh.


"Kerumah Vano? Kenapa dia datang kemari?"


Nadiya lalu memarkir mobilnya agak jauh dipersimpangan jalan yang tidak akan terlihat oleh Prasetyo.


Prasetyo turun dari mobilnya dan langsung masuk kedalam rumah Vano.


"Om?" Tanya Vano yang sedang bermain dengan Aaron.


Prasetyo menatap Vano sejenak, dan mengatakan alasanya dia datang kerumahnya.


"Aku akan mengajaknya jalan-jalan dengan eyang buyutnya, apakah bisa aku mengajaknya sebentar?" Tanya Prasetyo pada Vano.

__ADS_1


"Boleh om, kebetulan saya juga akan keluar. Om boleh membawanya." Kata Vano lalu menggendong Aaron dan menyerahkannya pada Prasetyo.


Setelah itu Prasetyo masuk dengan Aaron kemobilnya dan menuju apartemen.


Nadiya mengikuti Prasetyo dari belakang, bukan niatnya untuk tidak mempercayai suaminya. Hanya saja dia mengatakan sedang berada dikantor padahal dia berada diluar.


Lalu timbul rasa penasaran Nadiya untuk mengetahui alasan sebenarnya kenapa dia harus berbohong.


"Aku tidak mengerti, jika untuk hal sekecil ini, untuk apa dia harus berbohong?" Kata Nadiya sambil menyetir dan dia juga berhenti diapartemen dimana Prasetyo menghentikan mobilnya.


Prasetyo lalu menggendong Aaron naik keatas. Dia berjalan dengan tanpa rasa curiga jika Nadiya mengikutinya.


Nadiya mengendap-endap dibelakang suaminya agar tidak ketahuan.


"Kemana dia akan membawanya?" Bisik Nadiya lirih.


Tidak lama kemudian Sasha keluar dan menggendong Aaron. Aaron sangat senang bisa bertemu dengan maminya. Sementara Prasetyo masih berdiri didepan pintu kamar Sasha lalu menoleh kemakan dan kekiri.


Saat tidak ada hal yang mencurigakan, Prasetyo masuk kedalam. Oma sedang memasak sesuatu untuk Aaron. Seperti bubur ayam. Oma tadi keluar dan membeli bahan-bahan yang dibutuhkan di supermarket yang ada dilantai paling bawah.


Nadiya sangat kaget dan terkejut saat tahu jika Prasetyo berbohong demi bertemu dengan Sasha.


Nadiya lalu menelpon rumahnya dan menanyakan apakah mami Monic ada dirumah atau tidak. Ternyata bibi Parti mengatakan jika nyonya Monic pergi dengan Prasetyo sejak tadi pagi.


"Ternyata benar dugaanku, selama ini mereka menemui Sasha tanpa sepengetahuanku. Aku benar-benar tidak percaya mereka bisa melakukan itu dibelakangku. Meskipun sudah kukatakan jika aku tidak menyukainya, tetap saja mereka menemuinya secara diam-diam!"


Nadiya lalu mengendarai mobilnya kesekolah Edsel dan juga Eiden. Sebentar lagi mereka akan pulang.


Nadiya lalu mengirim pesan pada Prasetyo jika dia menjemput Edsel dan juga Eiden.


"Maafkan aku, aku sangat sibuk sehingga tidak sempat menjemput mereka." Kata Prasetyo yang menelpon Nadiya setelah mendapat pesan dari Nadiya.


"Apakah sidangnya sudah selesai?"


"Sidangnya ditunda Minggu depan." Kata Nadiya.


"Ohh, baiklah. Ya sudah, hati-hati dijalan." Kata Prasetyo lalu menutup teleponnya.


Nadiya sangat kesal karena dia mengatakan sedang sibuk dikantor padahal dia sedang bersama Sasha dan anaknya. Entah apa maksudnya sehingga dia harus berbohong seperti ini?


Nadiya terlihat kesal dan memendam amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2